Home » Sosok » Tokoh » Azyumardi Azra, Tokoh Islam Damai versi Majalah Madina
Sumber: republika.co.id

Azyumardi Azra, Tokoh Islam Damai versi Majalah Madina

(Tulisan ini telah dimuat di Majalah Madina No. 6, Tahun I, Juni 2008 di Rubrik Laporan Utama)

Saat ini, Azyumardi Azra adalah salah satu juru bicara Islam Indonesia yang paling dikenal dan dijadikan rujukan di dunia internasional. Pria 53 tahun kelahiran Lubuk Alung, Sumatra Barat, ini memang lazim diundang sebagai pembicara di berbagai forum dan menjadi pengajar tamu di berbagai pusat studi Islam di banyak negara. Buah pikirannya pun tersaji melalui rangkaian tulisan di banyak jurnal dan media.

Secara konsisten, Azyu – demikian ia lazim dipanggil – menyuarakan arti penting keberagaman dalam Islam. Baginya, penafsiran atas Islam tidak pernah bersifat tunggal. Karena itu, Azyu senantiasa mendorong umat Islam untuk berani menafsirkan kembali warisan intelektual dan tradisi Islam selama ini, dalam bingkai analisis yang kritis dan sistematis.

Azyu berpengaruh karena ia produktif dan menempati posisi strategis. Sebagai ilmuwan, ia telah menerbitkan sekitar 20 buku yang membuka mata banyak orang tentang tradisi keterbukaan dalam khasanah pemikiran dan  sejarah Islam. Karena begitu banyaknya karya Azyu, ia pernah memperoleh penghargaan sebagai Penulis Paling Produktif dari Penerbit Mizan (2002).

Sejak muda, ia memang percaya pada kekuatan menulis. Selama hampir enam tahun (1979-1985), ia menjadi wartawan majalah Islam prestisius, Panji Masyarakat. Belakangan, ketika ia kembali dari AS setelah menuntaskan pendidikan doktornya di Columbia University, ia mendirikan dan menjadi pemimpin redaksi Jurnal berbahasa Inggris tentang studi Islam di Indonesia, Studia Islamika. Sebelumnya, ia juga menjadi anggota Dewan Redaksi Jurnal Ulumul Qur’an dan Islamika.

Di sisi lain, ia menempati posisi strategis di dunia pendidikan. Selama tujuh tahun (1998-2005), ia menjabat sebagai Rektor Institut Agama Islam Nasional (IAIN), persis pada saat perguruan tinggi prestisius itu mentransformasikan diri menjadi Universitas Islam Nasional. Kini, ia menempati posisi direktur pasca sarjana di universitas yang sama.

Pada dasarnya Azyu adalah ahli sejarah. Melalui penguasaannya atas disiplin ilmu itu, ia menyebarkan pandangan bahwa Islam di Asia Tenggara dan Nusantara sebenarnya dikembangkan dengan penghargaan yang tinggi atas keberagaman. Bagi Azyu, radikalisme dan eksklusivisme Islam tidak pernah memiliki akar kuat di Indonesia.

Pikiran-pikirannya juga didengar di banyak negara. Ia menjadi pengajar tamu di Pakistan, Filipina, Malaysia sampai AS dan Eropa Barat. Komunitas akademik di banyak sekolah bergengsi di Barat, seperti Harvard, Leiden, Columbia, Oxford, juga beruntung berkesempatan mendengarkan Azyu tampil di sana.  Salah satu penghargaan yang diberikan padanya adalah posisi sebagai dewan redaksi jurnal prestisius Quranic Studies (SOAS London).

Ia selalu percaya pada potensi kaum Muslim di Indonesia untuk berperan besar dalam pembangunan sosok Islam yang lebih humanis dan sekaligus kritis. Secara konsisten, ia menekankan arti penting pembaharuan Islam sehingga ia kerap juga dituduh sebagai bagian dari kaum yang menyesatkan umat Islam dari ajaran dasar mereka. Bagi Azyu, tuduhan itu tak berdasar karena pembaharuan yang dilakukan justru harus didasari dua syarat utama: komitmen kuat atas tradisi Islam serta keahlian melakukan penafsiran yang rasional dan peka terhadap kitab suci dalam konteks kultural dan historis masyarakat modern.

Azyu mencanangkan UIN yang sempat dipimpinnya sebagai pusat pendidikan yang mengintegrasikan keislaman, keindonesiaan, dan kemanusiaan. “Kecintaan kita terhadap Islam seharusnya tidak mengurangi kecintaan kita terhadap Indonesia, dan kecintaan kita kepada keindonesiaan juga tidak mengurangi kecintaan kita kepada kemanusiaan,” katanya suatu kali. “Dan karena keindonesiaan itu juga tidak eksklusif milik orang Islam, maka kecintaan kita kepada keindonesiaan sama dengan kecintaan kita juga kepada kemanusiaan yang universal”.

Dalam sebuah dunia yang terbelah oleh perbedaan etnik dan agama, Azyu dikenal sebagai duta Islam Indonesia yang aktif menyuarakan persatuan umat manusia. Saat berposisi sebagai rektor, ia mengundang banyak mahasiswa, pengajar, maupun diplomat asing untuk datang ke UIN dan mempelajari Islam di sana. Ia juga mendorong para mahasiswanya untuk mengatasi sekat-sekat antar agama dan antar budaya.

Dengan transformasi itu, Azyu berusaha menjadikan UIN sebagai perguruan tinggi yang menghasilkan lulusan yang tidak memisahkan ilmu agama dengan ilmu umum, tidak memahami agama secara literer, menjadi Islam yang rasional — bukan Islam yang madzhabi atau terikat pada satu mazhab tertentu saja.

Azyu mengaku cara pandangnya sangat dipengaruhi oleh disiplin ilmu sejarah yang ditekuninya. “Dalam kehidupan sosial, kita tidak bisa melihat dunia dengan hitam putih karena di dalam sejarah perjalanan kehidupan manusia itu banyak sekali faktor yang mempengaruhi orang untuk bertindak,” ujarnya. []

Komentar