Home » Sosok » Tokoh » Ary Ginanjar, Tokoh Islam Damai versi Majalah Madina
Sumber: republika.co.id

Ary Ginanjar, Tokoh Islam Damai versi Majalah Madina

(Tulisan ini telah dimuat di Majalah Madina No. 6, Tahun I, Juni 2008 di Rubrik Laporan Utama)

Saat terpuruk, ia mendapat ilham dan energi luar biasa menyelesaikan buku ESQ. Saat ini, ia percaya sedang mengubah Indonesia.

Suatu ketika, Ari Gynanjar sedang mengalami himpitan hidup yang menyesakkan. Ia baru bercerai dari istri pertama, dan mengalami kegelisahan juga di bidang bisnis yang ia geluti selama itu. Dalam himpitan itu, ia mendapat ilham gagasan menggabungkan pendekatan ilmiah dan ilahiah untuk sebuah teori manajemen dan kepemimpinan baru. Ia menuliskan draft bukunya hingga tuntas, secara obsesif, dengan tangan dan pulpen. Jadilah buku ESQ (Emotional & Spiritual Quotient): Rahasia Sukses Membangun Kecerdasan Emosi dan Spiritual.

Buku itu, disusul dengan “sekuel”-nya, ESQ Power, kemudian mencatat angka laris 500 ribu eksemplar. Untuk dunia buku kita yang punya standar 3000 eksemplar saja per judul, tentu saja ini prestasi ”wow”. Buku yang mencoba menggabungkan teori psikologi dan spiritualitas ini penuh motivasi dan inspirasi untuk mengubah nasib dan meraih sukses. Tentu saja ini sungguh pas dengan perasaan umum masyarakat Indonesia yang sedang dirundung krisis multidimensi sejak 1997. Masyarakat kita kini memang sedang sangat membutuhkan harapan.

Dan harapanlah yang kemudian menjadi bidang bisnis Ary, dengan mendirikan lembaga pelatihan bisnis dan kepemimpinan ESQ. Menurut catatan mereka sendiri, pelatihan ESQ telah diikuti 250 ribu orang di Indonesia, termasuk para pejabat tinggi negara dan intelektual terkemuka negeri ini. Pelatihan serta cabang lembaga ESQ bahkan sudah merambah ke Belanda, Inggris, Brunei Darussalam, dan manca negara lainnya.

Salah satu ciri kuat pelatihan-pelatihan ESQ adalah kesan penggunaan multimedia yang ciamik dan tempat di hotel-hotel mewah. Pendekatan yang dilakukan dalam pelatihan-pelatihan itu, untuk tahap awal, boleh dibilang adalah versi canggih (multimedia) dari kegiatan muhasabah (merenung, menghitung-hitung dosa). Dalam berbagai pesantren kilat semasa 1990-an, metode ini sering dilaksanakan secara sederhana (seorang mentor atau ustad memimpin perenungan bersama). Biasanya, acara muhasabah akan dianggap berhasil jika para peserta sampai menangis terisak-isak. Ada efek kelegaan seperti nikmatnya terangnya kamar setelah dibersihkan, pada para peserta yang menangis dalam acara itu.

Kesadaran multimedia dalam pelatihan ESQ memang dahsyat. Apalagi jika peserta ditangani langsung oleh Ary yang ternyata macan panggung juga. Tentu, tak semua peserta bisa mempertahankan efek itu –seperti tampak dalam kritik-kritik di milis-milis dari mantan peserta pelatihan ESQ.

Ary dan para pendukungnya tampak menyadari itu, sehingga para alumni ESQ disediakan berbagai kegiatan komunal, sehingga mereka bergerak sebagai sebuah komunitas khas di masyarakat. Mereka yang “militan” dalam melanjutkan aktivisme ESQ biasanya punya rasa percaya diri yang besar. Mereka juga biasanya punya kebanggaan sangat kuat akan metode ESQ.

Rasa percaya diri itu agaknya memang ditularkan, pertama-tama, dari Ary sendiri. Di samping macan panggung, Ary adalah orang yang sepenuhnya percaya bahwa ESQ adalah sesuatu yang dibutuhkan Indonesia saat ini. Ia percaya, Indonesia bisa lebih baik jika SDM (Sumber Daya Manusia)-nya meningkat kualitas mereka menjadi lebih baik. Kerja, misalnya, akan menjadi sesuatu yang sangat konstruktif dan produktif jika dipandang sebagai ibadah. Itu yang ditunjukkan Ary sendiri, yang bisa bekerja sampai jauh larut malam dan langsung bekerja sesudah Subuh.

Ia sangat passionate terhadap ESQ. Ia memberi harapan, dengan caranya sendiri. Paling tidak, umat Islam Indonesia bisa belajar dari passion itu. []

Komentar