Home » Sosok » Tokoh » Arief Rahman, Tokoh Islam Damai versi Majalah Madina
Sumber: dream.co.id

Arief Rahman, Tokoh Islam Damai versi Majalah Madina

(Tulisan ini telah dimuat di Majalah Madina No. 6, Tahun I, Juni 2008 di Rubrik Laporan Utama)

Ia adalah pengajar yang menawan. Mereka yang pernah menyaksikan presentasinya di dalam kelas maupun di ruang seminar, lazimnya akan memujinya sebagai guru yang pintar menyampaikan materi dan membangun motivasi. Tapi, lebih dari itu, Arief Rahman Hakim adalah seorang pendidik dalam arti sesungguhnya: ia bukan hanya senang mentransfer pengetahuan, tapi juga peduli dalam hal mengembangkan kepintaran dan kepribadian anak didiknya.

Arief dikenal sebagai salah seorang tokoh pendidikan terpenting di Indonesia dalam beberapa dekade terakhir ini. Namun yang mungkin tak banyak diketahui orang, di masa mudanya ia adalah aktivis politik yang sempat dipenjara baik di zaman pemerintahan Soekarno maupun Soeharto. Kesalahannya? Terlalu patuh pada hati nurani untuk mempertanyakan para penguasa itu.

Mantan kepala sekolah Lab School Jakarta ini memang terbiasa bicara apa adanya. Ketika ia ditunjuk sebagai wakil dunia pendidikan dalam pertemuan dengan Presiden George Bush saat berkunjung ke  Indonesia dua tahun lalu, ia menyatakan harapan yang agak unik. Kepada Bush, ia meminta agar pemerintah AS dapat mengalihkan anggaran yang disiapkan untuk membeli persenjataan kepada keperluan peningkatan pendidikan dunia, termasuk di Indonesia.

Pria murah senyum ini sangat peduli pada soal pemerataan pendidikan di negara ini. Ia bersedih melihat bagaimana apa yang disebut sebagai peningkatan kualitas pendidikan cuma dinikmat oleh segelintir murid kaya di Indonesia. Karena itulah, bila dulu ia menjadi kepala sekolah Lab School yang dikenal diisi oleh banyak siswa kaya, ia kini mendedikasikan dirinya antara lain dengan mengembangkan sekolah-sekolah yang diperuntukkan bagi kaum papa.

Ia mengkritik sekolah-sekolah unggulan yang hanya mau menerima para calon siswa yang memiliki nilai rata-rata tinggi, yang umumnya datang dari keluarga dengan tingkat pendidikan ekonomi di atas rata-rata. Baginya, pola semacam itu tentu saja mempermudah kerja para guru, namun itu hanya akan menajamkan kesenjangan antara mereka yang mampu dan tidak mampu. ”Di mana anak-anak yang biasa-biasa saja akan mendapat kesempatan pendidikan yang baik?’ tanyanya.

Sampai saat ini pun, Arief tidak berhenti menjadi juru bicara mereka yang terpinggirkan. Arief secara terbuka mengecam sikap pemerintah yang berkukuh menjalankan Ujian Akhir Nasional. Dalam pandangannya, UAN bukanlah tawaran yang bermanfaat bagi peningkatan kualitas pendidikan di Indonesia. Alih-alih membantu, ujian nasional itu justru menjadi beban finansial yang berat, baik bagi para orangtua murid, maupun pada pihak penyelenggara pendidikan itu sendiri.

Ketua Pelaksana Harian UNESCO untuk Indonesia ini juga berharap pemerintah hendaknya tidak hanya memperhatikan anak-anak pandai dan berprestasi saja. Pendidikan semestinya juga mengakomodir anak-anak miskin, anak-anak cacat dan lambat berpikir. Perguruan Diponegoro, di mana ia menjadi pembina, memang membuka peluang bagi anak-anak dengan kebutuhan khusus terutama anak-anak cacat, misalnya, cacat secara fisik, tuna rungu dan tuna wicara.

Pendidik yang pernah dicekal pemerintah sehingga selama sekitar 12 tahun tidak bisa naik pangkat ini, mengkhawatirkan semakin menjauhnya sistem pendidikan Indonesia dari cita-cita meningkatkan kesejahteraan bangsa. Pendidikan, katanya, semakin hanya mengembangkan pencapaian yang mengukur potensi intelektual semata. Padahal,  pendidikan yang tidak didasari moral dan ahlak yang baik, justru akan membuat masyarakat semakin terperosok.

Karena itu, menurutnya, para pendidikan harus menumbuhkan kultur sekolah yang didasarkan pendekatan keagamaan. Sekolah seharusnya menjadikan anak semakin dekat dengan Tuhan. Para murid harus dididik menjadi para penganut agama yang baik. Sebagai contoh, di Lab School yang pernah dipimpinnya, terdapat tempat Ibadah bagi murid Islam maupun non-Islam. “Anak Katolik, harus jadi Katolik yang baik,” ujarnya.

Bagi Arief, pendidikan ahlak dan budi pekerti tidak pernah boleh disepelekan. Menurutnya, di sekolahnya, tak ada satu pun murid perempuan yang akan mengenak rok di atas lutut atau bersikap kurang ajar pada guru dan orangtua. “Itu terbangun atas kesadaran si murid karena memperoleh pelajaran ahlak yang baik.”

Bagaimanapun, untuk itu semua memang dibutuhkan guru-buru yang baik. Sebagai kepala sekolah, Arief dikenal selalu datang lebih pagi dari mayoritas muridnya, dan di setiap pagi itu pula ia lazim menyapa murid-muridnya di gerbang sekolah. Para muridnya selalu mengenangnya sebagai bapak yang memandang murid-muridnya dengan cara bersahabat.

Sayangnya saat ini ada banyak guru yang mengajar tidak dengan hati. ”Ada guru yang malas, datang ke kelas, terus memerintahkan, ’buka halaman sekian, baca dan kerjakan’”. Ditambah pula dengan jumlah siswa yang terlalu banyak, hubungan erat antara guru dengan anak didik akhirnya tidak terbangun.

Ia juga menganggap bahwa daya kritis anak Indonesia harus terus diasah. Menurutnya, anak didik di Indoensia perlu terus diajarkan untuk tidak menerima begitu saja sebuah jawaban tunggal terhadap pertanyaan-pertanyaan yang ada. Sebagai contoh, anak didik diajarkan bahwa kalau guru bertanya, ’How are you?” maka jawabannya adalah ”fine, thank you.” Padahal jawabannya bisa juga, ’so so’, atau ’I don’t know’.” []

Komentar