Home » Sosok » Tokoh » Anies Baswedan, Tokoh Islam Damai versi Majalah Madina
Sumber: aniesbaswedan.com

Anies Baswedan, Tokoh Islam Damai versi Majalah Madina

(Tulisan ini telah dimuat di Majalah Madina No. 6, Tahun I, Juni 2008 di Rubrik Laporan Utama)

Nama Anies Baswedan (39 tahun) tiba-tiba saja ramai dibicarakan setelah majalah Amerika Serikat, Foreign Policy, menempatkannya sebagai salah satu dari 100 intelektual publik dunia teratas.

Ini mengagumkan bukan saja karena FP adalah majalah prestisius, tapi juga karena nama Anies berada sejajar dengan banyak tokoh terkemuka di dunia, antara lain: Yusuf Al-Qardhawi, Habermas, Thomas Friedman, Samuel Huntington, Francis Fukuyama, peraih nobel Muhammad Yunus, Salman Rushdie, Noam Chomsky, Al Gore, dan Paus Paulus (Pope Benedictus XVI).

Anies dihargai secara internasional bukan saja karena buah pikirannya tapi juga karena keterlibatannya dalam berbagai kegiatan yang mendorong demokratisasi di Indonesia. Dengan kata lain, ia bukan saja cendekiawan yang menulis dan bersuara tapi juga terlibat aktif dalam wilayah yang dikajinya.

Anies adalah contoh pemikir muda Islam yang lingkup pergaulannya mengglobal dan berusaha menerapkan apa yang dipelajarinya untuk kesejahteraan masyarakat dari mana ia berasal.

Sejak mahasiswa, Anies terlibat dalam gelombang demokratisasi. Tatkala menjadi Ketua Senat Mahasiswa di Universitas Gajah Mada, ia menjadi satu dari sedikit aktivis yang berhadapan langsung dengan barisan serdadu pembela Soeharto, jauh sebelum sang diktator lengser pada 1998. Ia sempat dipopor oleh tentara yang menyerbu kampus saat itu.

Berkat beasiwa yang diperolehnya, Anies kemudian melanjutkan pendidikannya ke AS dan memperoleh gelar doktoralnya dari Departemen Ilmu Politik, Northtren  Illinois University. Selama di AS, ia tampil mengesankan. Ia terlibat sebagai peneliti di pusat-pusat kajian universitas, terutama yang terkait dengan studi kebijakan dan pemerintahan. Ia bahkan juga pernah menjadi manajer riset pada sebuah asosiasi perusahaan elektronik se-dunia untuk mengembangkan desain riset, instrumen survei, dan analisa data.

Anies menjadi ilmuwan yang produktif, menulis di banyak jurnal internasional dan menjadi pembicara di berbagai konferensi internasional. Ia dikenal artikulatif dan kritis, dan bicara dengan landasan teori dan data yang kuat. Sepulang dari AS, ia menjadi  penasehat bagi Partnership for Governance Reform, sebelum kemudian terlibat dalam Lembaga Survei Indonesia.

Hanya dalam waktu singkat, nama Anies melejit sebagai tokoh muda Islam yang berpengaruh di Indonesia. Tahun lalu ia diundang sebagai pembicara dalam The ASEAN 100 Leadership Forum yang mempertemukan 100 pemimpin masa depan Asia Tenggara.

Di berbagai forum itu, salah satu wilayah yang paling banyak dibicarakannya adalah soal Islam politik. Kendati kerap mengingatkan tumbuhnya dukungan atas radikalisme Islam, Anies secara konsisten menyuarakan gagasan-gagasannya tentang sebuah Islam yang damai dan serasi dengan demokrasi.

Harapan-harapannya untuk membangun kaum terdidik di Indonesia yang berpikiran kritis dan mampu bersaing di kancah internasional kini ia tumpahkan pada perguruan tinggi yang dipimpinnya, Universitas Paramadina. Terpilih tahun lalu sehingga dinobatkan sebagai rektor termuda di Indonesia, Anies dengan segera berusaha membangun cita-citanya menjadikan Paramadina sebagai universitas dengan daya saing internasional.

Anies senantiasa merujuk pada gagasan ’keislaman, keindonesiaan, kemodernan’ yang dicanangkan pendiri Paramadina, Nurcholish Madjid (alm). Dengan dasar itu, yang dibayangkan Anies bukanlah sekadar sebuah universitas yang megah, namun yang mampu melahirkan para pemimpin yang peduli dengan rakyat kecil dan memiliki integritas tinggi. Menurutnya, industrialisasi pendidikan yang berlangsung saat ini telah meminggirkan kaum miskin karena hanya mereka yang datang dari keluarga kaya yang akan memperoleh pendidikan terbaik.

Karena itulah, di Universitas Paramadina, ada sekitar 25 persen kursi diberikan pada mahasiswa yang cerdas namun tak mampu, yang didukung oleh program beasiswa penuh yang turut didanai perusahaan-perusahaan dan kaum kaya.

Buat Anies, sebuah Indonesia yang damai hanya akan dicapai tatkala ada upaya bersama untuk menanggulangi kesenjangan yang kian menganga antara kaya dan miskin. Ia berharap, dengan program itu, perguruan tinggi dapat membantu mereka yang pintar, yang bersedia bekerja keras, dan sekaligus memiliki kemampuan membuka lapangan kerja.

Di kampus Paramadina juga, Anies berusaha memerangi korupsi dengan mewajibkan mahasiswa mengikuti kuliah etika dan anti-korupsi.

Dalam istilah Anies sendiri, Islam yang dikembangkan di Paramadina adalah ”Islam Jalan Tengah” sebagai gagasan yang mempersatukan umat Islam di seluruh dunia. ”Kita tidak menginginkan perpecahan. Karena itu terminologi yang dipakai bukan Islam yang moderat, liberal, fundamental, tetapi Islam jalan tengah,” katanya. []

Komentar