Home » Sosok » Tokoh » Ahmad Syafii Maarif, Tokoh Islam Damai versi Majalah Madina
Sumber: detik.com

Ahmad Syafii Maarif, Tokoh Islam Damai versi Majalah Madina

(Tulisan ini telah dimuat di Majalah Madina No. 6, Tahun I, Juni 2008 di Rubrik Laporan Utama)

Ahmad Syafii Maarif  (73 tahun) adalah salah satu tokoh yang paling konsisten menyuarakan secara  terbuka pembelaan terhadap keberagaman dan perdamaian di Indonesia. Melalui tulisan-tulisannya yang tajam, ia mengecam segenap radikalisme: dari George Bush sampai Front Pembela Islam, dari kaum radikal Kristen sampai radikal Islam.

Tiga tahun yang lalu, misalnya, ia memperkenalkan istilah “preman berjubah” yang ditujukannya pada kelompok-kelompok Islam yang senang menggunakan jubah putih saat melakukan penyerangan atas kalangan yang mereka tidak sukai. Baginya, kelompok-kelompok radikal itu hanyalah kaum yang haus kekuasaan, tak memiliki masa depan dan tak menawarkan apa-apa bagi umat manusia.

Sebaliknya, ia juga mengecam terbuka pemerintah AS yang menurutnya justru menjadi pelaku dan penyebab tumbuhnya terorisme di dunia. Ketika George Bush datang, Syafii mempertanyakan secara terbuka manfaat kunjungan sang Presiden AS ke Indonesia. Tahun lalu, terkait dengan perang Irak, ia menggambarkan George Bush sebagai “predator” yang “sulit sekali membuka telinga untuk mendengar seruan kebenaran”.

Banyak pihak mengagumi mantan Ketua Muhammadiyah (1996-2005) ini karena rangkaian kualitas yang dimilikinya. Hidupnya sederhana, penampilannya bersahaja. Ia tegas, pikirannya tajam dan memberi contoh terbaik tentang ilmuwan berintegritas.  Ia tidak segan-segan mengkritik sebuah kekeliruan, meskipun yang dikritik itu adalah temannya sendiri.

Syafii konsisten menyuarakan penghargaan atas perbedaan. Tahun lalu, sebuah tulisannya yang berbicara tentang kesamaan umat Islam dan Nasrani dan Yahudi di mata Allah, memperoleh banyak kecaman. Maarif menegaskan bahwa, Allah akan memberi ganjaran pada semua orang – terlepas dari agamanya – yang beriman pada Allah, Hari Kemudian dan beramal saleh. Nyatanya, banyak orang tak terima. Ia memperoleh sms yang berbunyi: ”Pak Syafii pindah ke Nasrani saja, kan enak ibadahnya cuma 1 X seminggu.”

Di pihak lain, Syafii juga dengan terbuka mengecam gerakan Kristenisasi. Suatu kali ia menulis dengan judul sangat keras; “Stop Sel Kanker Penginjil Dunia”. Kali lain ia menulis bahwa Bush adalah fundamentalis Kristen yang ingin mengkristenkan dunia.

Bagi Syafii, baik fundamentalisme Islam ataupun Kristen adalah sama-sama bermasalah. Dalam tulisannya, ia mengimbau: ”Kepada teman-teman Kristen di Indonesia, mari sama-sama kita kawal negeri yang sama kita cintai ini, jangan sampai menjadi ajang pertempuran segala macam bentuk fundamentalisme, Muslim garis keras atau para penginjil yang haus kekuasaan dengan dukungan dolar.”

Bisa dibilang Syafii memiliki latar belakang pendidikan yang lengkap. Lahir di Sumpurkudus, Sumatera Barat, sejak kecil ia hidup dalam lingkungan keislaman yang kental. Baik pendidikan dasar dan menengahnya diperoleh dari lembaga-lembaga pendidikan Islam. Setelah menempuh perguruan tinggi di IKIP Yogyakarta, ia meraih gelar pasca sarjana di Amerika Serikat.

Keyakinannya akan gagasan-gagasan Islam yang terbuka dan kritis menguat terutama ketika ia mengambil gelar doktor di University of Chicago. Di sini ia terlibat secara intensif melakukan pengkajian terhadap Al-Quran, dibimbing oleh seorang tokoh pembaharu pemikiran Islam, Fazrul Rahman. Di sana pula, ia kerap terlibat diskusi intensif dengan Nurcholish Madjid dan Amien Rais yang sedang mengikuti pendidikan doktornya.

Meski menulis sejumlah buku dan hadir di berabagi acara diskusi dan seminar, pikiran-pikiran Syafii terutama dikenal masyarakat luas melalui kolom rutinnya di harian Republika. Bahwa sebenarnya harian tersebut dikenal cenderung konservatif, tak menghambatnya untuk berbicara dengan nada sangat terbuka.

Tatkala kontroversi Ahmadiyah merebak, ia mengecam habis mereka yang menyerang kelompok lain atas nama agama. Orang-orang semacam itu digambarkannya sebagai jenis manusia yang punya hobi “membuat kebinasaan di muka bumi”. Baginya, para kelompok Islam yang menyerang tempat-tempat ibadah dan rumah-rumah mereka yang berbeda agama atau mereka yang dianggap sesat dengan menggunakan fatwa MUI, adalah sama buruknya dengan Bush yang menyerang Afghanistan dan Irak. “Dalam retorika politik, mereka seperti bermusuhan. Tapi, dalam kelakuan, mereka bersahabat.”

Syafii merasa perlu menyatakan menolak 200 persen ajaran Ahmadiyah. Namun tulisnya, pula: ”Saya akan membela sepenuhnya posisi Ahmadiyah jika mereka dizalimi, hak milik mereka dirampok, dan keluarga mereka diusir. Ini perbuatan biadab karena pengikut Ahmadiyah itu punya hak yang sama dengan warga negara Indonesia yang lain menurut konstitusi Indonesia.”

Syafii berulangkali mengingatkan bahwa umat Islam seharusnya ingat bahwa dalam Al-Quran dikatakan bahwa “Tidak ada paksaan dalam agama.” Dengan geram Syafii menulis: ”Jika Tuhan tidak mau memaksa hambanya untuk memeluk atau tidak memeluk agama, mengapa kita manusia mau main paksa atas nama Tuhan? Sikap semacam inilah yang bikin kacau masyarakat. Oleh karena itu, Al-Quran jangan dibawa-bawa untuk menindas orang lain. Kekerasan atas nama agama adalah pengkhianatan yang nyata terhadap hakikat agama itu sendiri. ” []

Komentar