Home » Sosok » Tokoh » Abdullah Gymnastiar, Tokoh Islam Damai versi Majalah Madina
Sumber: Antara

Abdullah Gymnastiar, Tokoh Islam Damai versi Majalah Madina

(Tulisan ini telah dimuat di Majalah Madina No. 6, Tahun I, Juni 2008 di Rubrik Laporan Utama)

Ketika pada November 2002, Time, menurunkan laporan khusus mengenai AA Gym, majalah prestisius AS itu menggunakan judul yang mencerminkan kekaguman pada pendakwah asal Bandung ini: Holy Man.

AA Gym tentu saja bukanlah manusia suci. Tapi memang ada banyak pihak yang memandangnya dengan penuh harap sebagai sosok yang bisa mewakili Islam dalam citra yang penuh damai dan kasih.

Bukan saja Time yang membuat laporan khusus tentang pria yang bernama lengkap Abdullah Gymnastiar ini. Dalam waktu yang berdekatan ketika itu, jaringan stasiun televisi besar di AS, NBC, serta surat kabar New York Times juga meliputnya. Kurang lebih semangat mereka sama: kalaulah ada lebih banyak ulama seperti AA Gym, Islam memang bisa menjadi agama yang dipercaya membawa perdamaian.

Beragam media internasional itu terutama menekankan keberhasilan AA Gym sebagai pendakwah kontemporer yang mampu bicara pada puluhan juta umat Islam di Indonesia dengan cara yang khas. Ia tidak tampil sebagai ulama yang nampak serius dan berjarak, dan juga tidak sebagai cendekiawan yang melangit. Ia bicara dengan pendekatan yang populer dan renyah; gayanya teatretikal, kerap lucu, flamboyan dan memukau.

Namun lebih penting dari itu, adalah pesan-pesannya. Ia dianggap konsisten menyebarkan pesan-pesan tentang arti penting pengendalian diri, moralitas, kepercayaan yang penuh pada Tuhan namun juga toleransi pada sesama.

Dan semua pesan itu sepenuhnya relevan dengan kondisi Indonesia saat itu – dan sampai saat ini — yang dilanda berbagai persoalan mendasar sebagai sebuah negara dan bangsa: konflik etnik, kekerasan atas nama agama, konflik politik dan penyalahgunaan kekuasaan, keterpurukan ekonomi, sampai aparat keamanan yang korup. Dalam kesemrawutan itulah, seperti ditulis Time, beragam kelompok militan dan teror menemukan lahan yang subur untuk berkembang. Tokoh seperti AA Gym adalah contoh tokoh yang dapat mengerem skenario muram tersebut.

“Kita hanya akan maju kalau kita mau mendengarkan hati nurani kita,” kata AA Gym. ”Tak ada satupun partai politik atau kelompok yang akan sanggup mempersatukan Indonesia. Itu semua harus datang dari hati nurani kita.”

Salah satu hadis yang kerap dikutipnya adalah ucapan Nabi soal hati. “Nabi mengatakan dalam tubuh kita ada sebuah organ yang kalau itu baik, baik jugalah seluruh manusia itu. Tapi, kalau ia busuk, busuk pulalah seluruh manusia itu,” katanya mengutip. “Organ itu adalah hati.”

AA Gym memang sangat menekankan arti penting hati. Ia misalnya menawarkan konsep Manajemen Qalbu, yakni sebuah gagasan untuk senantiasa memahami hati atau kalbu diri sendiri agar mampu mengendalikan diri. Dengan senantiasa melihat kembali ke dalam kalbu, apa yang nampak secara fisik akan hadir sebagai sesuatu yang sementara.

Karena itulah, perbedaan antar kelompok bukanlah sesuatu yang seharusnya memecah belah bangsa. Dengan bahasanya yang sederhana, ia berulang-ulang mengingatkan pernyataan Nabi Muhammad bahwa perdebedaan adalah rahmat. Dalam berbagai ceramahnya,ia senang memberi contoh tentang bangunan beton. ”Beton campurannya terdiri atas semen, besi, batu krikil, dan air, tapi bisa berdiri dengan kokoh dan kuat, karena bahan-bahan yang di dalamnya tidak saling menonjolkan diri,” ujarnya. ”Demikian juga bangsa ini bisa kokoh dan kuat serta tidak bisa diadu-domba dan dijajah oleh bangsa lain, jika kompak dan tidak suka menonjolkan diri.”

Karena pesan-pesan damainya itu, AA Gym diterima oleh beragam kalangan. Saat kerusuhan di Poso berlangsung, AA Gym terbang ke sana. Di Palu ia melakukan tablig akbar yang dihadiri lebih dari sepuluh ribu jamaah di Masjid Agung Darussalam. Seusai itu ia berceramah di hadapan komunitas Kristen di Tentena. Di kedua tempat ia bicara soal ketiadaan mata hati sebagai biang kerusuhan dan konflik di Indonesia. Di kedua tempat itu, ia dielu-elukan.

AA Gym tidak sekedar berceramah. Ia mengembangkan komunitas Daarut Tauhid (DT) yang diharapkannya dapat menjadi contoh masyarakat Muslim yang bersatu, saling membantu dan hidup mandiri secara ekonomi. DT — yang berarti perkampungan atau rumah bagi orang-orang yang bertekad mengabdi hanya kepada Allah – mengembangkan berbagai unit usaha bersama dan mengembangkan kemampuan manajemen dan kewirausahaan dalam masyarakat Islam.

Selain sebagai pondok pesantren, DT juga mengembangkan percetakan, penerbitan, stasiun radio, tabloid, penyewaan gedung, rekaman VCD dan kaset, supermarket. DT juga mendirikan koperasi dan panti asuhan.

Ironisnya, pendakwah yang senantiasa menggaungkan pesan-pesan penuh kasih itu justru menjadi sasaran boikot dan pembunuhan karakter segera setelah ia mengumumkan pernikahan keduanya pada Desember 2006. []

Komentar