Home » Sosok » Perginya Fatima Mernissi, Ulama yang Menginspirasi Perempuan Dunia
Fatima Mernissi, tokoh perempuan pembaharu Islam Foto: h24info.ma

Perginya Fatima Mernissi, Ulama yang Menginspirasi Perempuan Dunia

Dunia Islam kehilangan salah seorang ulama terbesarnya. Fatima Mernissi, pionir feminis Islam terkemuka asal Maroko meninggal dunia pada 30 November 2015 lalu. Fatima meninggal dalam usia 75 tahun.

Semasa hidupnya, selain sebagai aktivis, Fatima juga dikenal sebagai penulis dan pemikir produktif. Terbukti lebih dari 15 Judul buku berhasil dia tulis. Hampir semua bukunya bicara tentang isu perempuan dalam Islam dan kritiknya pada dominasi laki-laki.

Bagi kalangan aktivis perempuan, Fatima adalah sosok yang sangat berpengaruh. Dia menjadi inspirasi untuk berani melakukan kritik dan memberikan alternatif penafsiran  terhadap tafsir-tafsir Al-Quran dan hadis yang merugikan perempuan.

Hal itu diakui oleh Ida Ruwaida Noor, aktivis perempuan yang sekaligus dosen sosiologi di Universitas Indonesia.

Menurut Ida, dalam budaya masyarakat Islam, kedudukan dan peran perempuan dibatasi oleh norma dan nilai yang menempatkan perempuan di wilayah domestik. Peran domestik ini yang tidak jarang membatasi akses perempuan ke pendidikan. Ranah publik menjadi identik dengan ranah pria, bahkan pasar sebagai lokus ekonomi pun seolah tabu untuk perempuan.

“Di tengah budaya Arab yang seringkali ditautkan atau dijustifikasi sebagai budaya Islam, Fatima berani mengkritik pemikiran yang sudah sangat mapan itu,” ujar Ida kepada Madina Online.

Bagi Ida, gagasan dan pemikiran Fatima tidak hanya menjadi inspirasi di Maroko, tapi juga menyebar ke banyak negara lainnya. Terutama negara-negara Islam.

“Untuk konteks Maroko, pemikiran progresif Fatima mampu mendorong terbangunnya ‘ruang’ interpretasi baru tentang hak-hak perempuan. Di luar Maroko, Fatima menjadi figur inspiratif. Misalnya di Indonesia, para aktivis di sini menjadi berani melakukan telaah hadis dari perspektif perempuan,” ujarnya.

Fatima lahir di Fez, Maroko, pada 1940, bertepatan dengan keberhasilan gerakan nasionalis Maroko merebut kekuasaan dari pemerintahan kolonial Prancis. Ini satu keberuntungan tersendiri bagi Fatima, karena perubahan kekuasaan tersebut memberi harapan akan adanya persamaan hak bagi semua, sebagaimana mereka janjikan. Termasuk persamaan bagi perempuan untuk memperoleh kesempatan pendidikan yang sama dengan laki-laki.

“Jika saya dilahirkan dua tahun lebih awal, saya tidak akan memperoleh pendidikan. Saya lahir pada waktu yang sangat tepat,” ujarnya, dalam bukunya The Harem Within: Tales of a Moroccan Girlhood.

Tapi bukan berarti perjalanan hidup Fatima berjalan mulus. Fatima tinggal dan dibesarkan di sebuah harem, bagian rumah terpisah khusus untuk kaum wanita, bersama saudara-saudara perempuannya yang lain, ibu dan neneknya. Harem tersebut dijaga ketat oleh seorang penjaga sehingga dia dan perempuan lain di dalam harem itu tidak bisa keluar.

Fatima merasa langkahnya dibatasi. Ia hanya bisa memandang langit dari dalam lingkungan halaman harem. Dia juga hanya bisa melihat dunia luar dengan mengintip dari lubang pintu. Fatima berontak dengan perlakuan tersebut. Dia pun sering mempertanyakan kondisi tersebut kepada neneknya, Yasmina.

Menurutnya, kalau disepakati ada batas antara perempuan dan laki-laki, kenapa yang harus ditutupi dan  dibatasi itu perempuan. Mendapat pertanyaan itu Yasmina tidak bisa menjawab. Menurut Yasmina, itu pertanyaan berbahaya.

Tetapi dalam keterbatasan itu Fatima tetap bersyukur karena dia masih diberi kesempatan untuk memperoleh pendidikan. Dia pun tidak menyia-nyiakan kesempatan itu;  semua jenjang pendidikan dia lewati.

Ia mendapatkan gelar di bidang politik dari Mohammed V University di Rabat, Maroko. Fatima kemudian melanjutkan studinya ke Universitas Sorbonne di Paris, dan ia meraih gelar doktor di bidang sosiologi pada tahun 1974 di Brandeis University, Kentucky. Disertasinya, Beyond the Veil, menjadi buku teks yang menjadi rujukan dalam pustaka Barat.

Kegelisahan dan Penelusuran Teks Agama

Fatima mulai merasakan kegelisahan terkait teks-teks agama saat dia memasuki usia remaja. Saat itu ia mendapati hadis riwayat Bukhari yang menyamakan perempuan dengan anjing dan keledai.

Hadis itu berbunyi, “Anjing, keledai dan perempuan akan membatalkan salat seseorang apabila    menyela di antara orang yang salat dan kiblat.”

Fatima terluka mendapati hadis itu. Perasaannya saat itu dia tuangkan dalam bukunya Women and Islam: A Historical and Theological Enquiry.

“Perasaan saya amat terguncang mendengar hadis semacam itu. Saya hampir tak pernah mengulanginya, dengan harapan, kebisuan akan membuat hadis ini terhapus dari kenangan saya. Saya bertanya, ‘Bagaimana mungkin Rasulullah mengatakan hadis semacam ini, yang demikian melukai  saya?’ …Bagaimana mungkin Muhammad yang terkasih, bisa begitu melukai perasaan gadis cilik, yang di saat pertumbuhannya berusaha menjadikannya sebagai pilar-pilar impian-impian romantisnya.”

Memasuki usia dewasa, Fatima kembali tergoncang jiwanya. Terutama saat Fatima bertanya kepada seorang pedagang sayur langganannya tentang pemimpin perempuan. Fatima bertanya: “Bisakah jika seorang perempuan menjadi pemimpin kaum muslimin?“

Mendengar pertanyaan itu pedagang sayur tersebut berseru: “Na’uzu billah min zalik! (Kami berlindung pada Allah dari perkara itu) dengan penuh rasa kaget. Kemudian seseorang menyerangnya dengan mengatakan, “suatu kaum yang menyerahkan urusan mereka kepada seorang wanita tidak akan memperoleh kemakmuran.”

Fatima terdiam. Dia meninggalkan toko dengan marah. Sejak peristiwa itu dia membulatkan tekad untuk mengumpulkan dan mengkaji mengenai ayat-ayat Al-Quran dan hadis terkait perempuan agar bisa dipahami dengan benar.

Hasil penelusurannya menyimpulkan bahwa agama telah dijadikan pembenaran bagi penindasan politik dan kekerasan terhadap perempuan. Menurutnya, terjadi campur aduk antara yang profan dan yang sakral, antara Allah dan kepala negara, antara Al-Quran dan fantasi-fantasi imam. Agama harus dipahami secara progresif untuk memahami realitas sosial dan kekuatan-kekuatannya.

Fatima kemudian menggugat penafsiran ayat-ayat Al-Quran seperti dalam Surah Al-Ahzab ayat 53, yang oleh para ulama dijadikan dasar pelembagaan hijab. Berdasarkan pemahaman ini terjadi pemisahan, bahwa hanya laki-laki yang boleh memasuki sektor publik, sedangkan perempuan hanya berperan di ranah domestik.

Menurut Fatima, penafsiran semacam ini harus dibongkar dengan mengembalikan maknanya berdasarkan konteks historisnya. Penutupan wajah dengan cadar dan pengucilan perempuan (hijab) dari masyarakat bukan merupakan sejarah Islam, tetapi merupakan konstruksi sosial dari masyarakat patriarkhi, karena tidak satupun dalam nash yang tegas menyebutkannya.

Begitu juga penafsiran hadis yang berkenaan dengan kepemimpinan perempuan yang, menurutnya, rangkaian sanadnya, seperti Abu Bakrah harus diteliti latar belakang kehidupannya. Di samping itu kecurigaannya terhadap tindakan diskriminatif Abu Hurairah terhadap perempuan juga harus diteliti kembali. Dan banyak lagi yang lainnya.

Fatima menuangkan hasil penelusuran dan kajiannya terhadap Al-Quran dan hadis dalam beberapa buku yang dia tulis. Hampir semua bukunya sudah diterjemahkan ke bahasa Indonesia. Buku The Veil and Male Elite, diterbitkan oleh penerbit Dunia Ilmu, Surabaya (1997), dengan judul Menengok Kontroversi Keterlibatan Wanita dalam Politik.

Buku Women and Islam: A Historical and Theological Enquiry, diterjemahkan ke bahasa Indonesia oleh penerbit Pustaka, Bandung dengan judul Wanita dalam Islam.

Buku lainnya The Forgotten of Queen in Islam, diterjemahkan dengan judul Ratu-ratu Islam yang Terlupakan (Mizan, Bandung, 1994). Sementara Islam and Democracy, diterbitkan LKiS, Yogyakarta (1994) dengan judul Islam dan Demokrasi: Antologi Ketakutan.

Kini Fatima telah tiada. Namun gagasan dan pemikirannya akan terus berpengaruh dan menjadi inspirasi  bagi banyak perempuan di dunia untuk memperoleh hak-haknya.

“Sikap kritis dan aksi nyatanya menjadi bukti bagaimana Fatima bukan hanya pemikir tetapi juga aktivis yang konsisten,” ujar Ida.[]

Warsa Tarsono

Komentar