Home » Sosok » Musdah Mulia: “Pendidikan Seks Harus Dikembangkan di Dunia Islam”
Foto: alodekter.com

Musdah Mulia: “Pendidikan Seks Harus Dikembangkan di Dunia Islam”

Presiden Joko Widodo baru-baru ini menyetujui hukuman tambahan berupa kebiri bagi para pelaku kekerasan seksual pada anak. Beberapa kalangan bahkan mendesak agar pemerintah segera menerbitkan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang (Perpu) tentang hukuman kebiri atau merevisi UU Perlindungan Anak dan Kitab Undang-undang Hukum Pidana.

Bagi yang setuju, mereka berharap hukuman kebiri ini dapat membuat efek jera bagi para pelakunya. Tapi tak semua setuju dengan hukuman kebiri ini. Bagi yang kontra, mereka menganggap hukuman kebiri bukan solusi untuk menyelesaikan persoalan kekerasan seksual pada anak dan tak membuat jera para pelakunya.

Di antara yang tidak setuju adalah Musdah Mulia. Menurut Guru Besar Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta ini, daripada menerapkan hukuman kebiri bagi pelaku kekerasan seksual pada anak, pemerintah mestinya mengembangkan pendidikan seksual.

Apa yang ia maksud dengan pendidikan seksual? Bukankah seksualitas itu masalah yang tabu untuk dibicarakan? Adakah landasan atau dalil tentang pentingnya pendidikan seksual dalam Islam?

Berikut wawancara lengkap Achmad Rifki dengan aktivis hak asasi manusia dan penulis buku “Mengupas Seksualitas” (2015) ini via telepon:

Bagaimana pandangan Anda terhadap hukuman tambahan berupa kebiri bagi para pelaku kekerasan seksual pada anak?

Sangat tidak setuju! Dengan hukuman kebiri ini pemerintah sebetulnya gagal total dalam memahami akar persoalan serta upaya solusi terkait masalah kekerasan seksual pada anak. Orang bisa saja tetap berbuat jahat tanpa harus dengan kelaminnya. Orang bisa saja memperkosa dengan cara lain dengan atau tanpa kelaminnya.

Kejahatan itu datang dari pikiran. Kalau pikirannya waras dia tidak akan berbuat jahat. Karena itu, hukum kebiri ini tidak membuat orang jera. Jika diterapkan hukuman mati sekali pun, hal itu tidak membuat orang jera. Yang membuat orang bisa menghindari kejahatan itu adalah kalau dia dididik dengan benar.

Jadi yang kita perlukan adalah pendidikan seksual yang komprehensif. Pendidikan seksual jangan disalahartikan sebagai pendidikan yang terkait urusan seks. Inti dari pendidikan seksual adalah bagaimana orang diajarkan untuk memahami fungsi-fungsi organ seksualnya. Dengan begitu ia bisa menghargai orang lain.

Apa yang Anda maksud dengan pendidikan seksual komprehensif itu? 

Pendidikan seksual yang komprehensif itu dimulai dari anak-anak. Bagaimana anak kecil itu diajarkan untuk menghargai tubuhnya. Dengan menghargai tubuhnya dia juga akan menghargai tubuh orang lain. Bahwa tubuh itu sesuatu yang berharga. Setelah itu diajarkan pendidikan kesehatan reproduksi yang di dalamnya juga ada pendidikan tentang organ-organ seksual.

Di satu sisi, pendidikan butuh proses yang panjang. Di sisi lain, kasus-kasus kekerasan seksual pada anak terus terjadi…  

Justru itu yang harus dilakukan pemerintah. Anak-anak itu harus diajarkan pendidikan seksual sejak awal. Memang jangka panjang, tapi dengan cara ini kita bisa memperbaiki masyarakat. Nah, untuk yang melakukan kekerasan seksual pada anak didera saja dengan hukuman yang berat. Misalnya, hukuman penjara seumur hidup. Itu akan lebih membawa manfaat. Dalam arti, menakutkan bagi para pelakunya.

Jadi, menurut Anda, hukuman penjara seumur hidup akan lebih bisa membuat efek jera bagi pelaku daripada kebiri?

Hukuman bagi pelaku memang harus berat, tapi tidak mesti dengan kebiri. Yang paling penting adalah kita melaksanakan, yang tadi saya sebut, pendidikan seksual yang komprehensif.

Kenapa Anda tidak setuju dengan hukuman kebiri? Dengan perkembangan dunia medis, kebiri tak berarti pemotongan organ vital, tapi dengan cara menyuntikkan cairan tertentu untuk menonaktifkan libido si pelaku dan suatu saat bisa diaktifkan kembali…

Saya tahu itu. Tapi apa itu akan membuat orang jera? Kalau sudah begitu memang orang tidak lagi melakukan kejahatan? Banyak kejahatan seksual yang dilakukan orang itu tidak perlu menggunakan kelaminnya. Karena memang tujuannya bukan untuk itu, tapi dia ingin jahat saja. Ingin membuat rusak korbannya. Ada banyak cara yang dia lakukan.

Dengan kebiri itu sama saja kita kembali ke hukum zaman Yunani dan Romawi Kuno. Bahkan di kerajaan Romawi abad ke-5 masehi malah orang dipakaikan celana besi yang ada gemboknya…

Sebagai pendukung Jokowi saat Pilpres 2014 lalu, apakah keberatan ini sudah Anda sampaikan ke orang nomor satu di negeri ini?

Saya sudah membicarakan hal ini ke mana-mana. Tapi Presiden Jokowi juga dikelilingi orang-orang yang hanya melihat sebelah mata dan picik.

Jadi, dalam waktu dekat belum ada kemungkinan Presiden Jokowi merevisi pernyataannya yang mendukung hukuman kebiri bagi paedofil itu?

Belum kelihatan. Untuk sementara sepertinya sulit. Hal ini karena didasarkan pada penyataan beberapa orang bahwa kejahatan seksual anak ini sudah gawat bahkan darurat nasional. Sehingga harus ada tindakan yang lebih ekstra. Tapi hukuman itu juga bukan solusi. Yang dibutuhkan itu pendidikan seksual komprehensif.

Selain itu, pemerintah masih terlalu fokus pada pembangunan ekonomi. Jadi yang lain-lain itu terdorong ke bawah. Lihat saja soal kerukunan umat beragama. Masih ada umat beragama yang tidak bisa beribadah di rumah ibadah mereka. Mereka yang beribadah di depan istana itu juga belum berubah sampai sekarang. Dari zaman Susilo Bambang Yudhoyono sampai sekarang itu masih tetap begitu. Jadi, dalam beberapa hal ini kita masih keteteran.

Beberapa kalangan mendesak Jokowi untuk menerbitkan Perpu tentang hukuman kebiri atau merevisi KUHP dan UU Perlindungan Anak. Jika itu terjadi tentu ini kebijakan Jokowi yang cukup populis dan ada kemungkinan bisa lolos di DPR. Komentar Anda?

Mereka pasti setuju dengan yang seperti ini. Ini persis seperti Undang-undang Pornografi. Kami yang tidak setuju dianggap senang yang berbau porno. Padahal apa yang terjadi? Mereka yang memperjuangkan UU Pornografi itu justru pecinta pornografi. Ada anggota DPR yang kedapatan nonton video porno di parlemen. Dia itu salah satu yang mengusung UU anti-pornografi.

Mereka melakukan itu supaya disenangi oleh masyarakat. Kalau saya tidak peduli orang senang atau tidak. Yang penting kita bicara substansi tentang sebuah perubahan dalam masyarakat. Bukan soal populis atau tidak.

Menurut Anda, apa yang sudah dilakukan pemerintah terkait pendidikan seksual bagi masyarakat?

Belum sama sekali! Bicara pun tidak. Ada beberapa sekolah swasta memang sudah melakukannya. Tapi mereka swasta.

Kalau pemerintah mau melakukannya kira-kira harus dimulai dari mana?

Bisa dimulai dari pemerintah membuat satu iklan di media sosial. Kemudian itu dimasukkan dalam pendidikan kurikulum anak-anak. Pendidikan organ-organ seksual dan kesehatan reproduksi itu bisa diajarkan mulai dari TK sampai perguruan tinggi.

Pendidikan seksual yang komprehensif itu akan membangun satu paradigma baru dalam masyarakat kita tentang bagaimana menghargai tubuh manusia dan memandang seksualitas itu sebagai suatu relasi yang sehat dan egalitarian.

Sudah ada role model tentang hal ini?

Banyak! Hal ini sudah dikembangkan di Barat. Di negara-negara maju pendidikan seksual dan kesehatan reproduksi itu sudah menjadi kewajiban.

Kalau di Timur Tengah?

Tidak ada. Membicarakan organ-organ seksual bagi orang-orang di Timur Tengah itu dianggap sebagai pornografi. Salah satu teman saya dari Arab Saudi yang dulu sama-sama menerima International Women Encourage Award dari Menteri Luar Negeri AS, Samia Al-Moudi, itu seorang dokter. Dia menjelaskan di media Saudi tentang bahaya kanker payudara lalu dia ditangkap karena dianggap bicara porno. Terbayang tidak?

Dia akhirnya diberhentikan dari pekerjaannya. Bahkan dia dipecat dari jabatannya sebagai Wakil Dekan di College of Medicine and Allied Science di Universitas King Abdul Aziz. Dia menerima award itu karena dia tidak pernah mau berhenti untuk mengkampanyekan bahaya kanker payudara walau sudah diancam. Bahkan walau sang suami menceraikannya, dia tetap gigih memperjuangkan itu. Dia bilang: “Semua orang harus tahu tentang penyakit kanker payudara. Penyakit ini sebenarnya bisa dikelola kalau kita mengetahuinya secara dini.”

Di dunia Islam, pendidikan seksual belum terlalu berkembang, ya?

Sudah mulai dibicarakan dan harus terus dikembangkan. Bahkan di Organisasi Kerjasama Islam (OKI) yang tadinya akan bersidang di Ankara, Turki, bulan lalu itu salah satu agendanya membahas tentang hak reproduksi. Kebetulan saya juga diundang. Tapi gara-gara ada bom meledak acara itu ditunda dan akan dilaksanakan pada 2 Desember mendatang. Saya sendiri kaget. Tidak salah nih OKI undang saya untuk sebuah konferensi internasional hak reproduksi?!

Mungkinkah hasil atau keputusan konferensi OKI nanti itu menjadi acuan berbagai negara Timur Tengah termasuk Indonesia?

Mudah-mudahan saja. Tapi ada banyak hasil yang progres dari OKI tetap saja Timur Tengah tidak pernah memandang itu penting. Karena kebijakan lokalnya tidak memungkinkan hal itu diterima. Jadi susah.

Menurut Anda, kenapa masih terjadi kasus kekerasan seksual pada anak?

Karena sebagian masyarakat menganggap itu bukan masalah. Apalagi relasi seksualitas itu mereka anggap sebagai sesuatu yang selalu menyenangkan. Misalnya, saat terjadi kasus perkosaan. Komentar mereka: “Lho, bukannya kamu senang?” Ini pandangan gila. Ini pandangan yang memposisikan perempuan itu tidak ada harganya.

Jangankan masyarakat biasa, setingkat hakim dan jaksa saja kalau mengadili kasus perkosaan itu malah banyak membela mereka yang memperkosa. Gila, kan? Jadi, mereka tidak menghargai sama sekali soal hak tubuh perempuan.

Perkosaan itu adalah perilaku yang sangat keji. Perkosaan akan menghabisi masa depan seorang manusia. Menzalimi kehidupan seorang manusia. Tapi pemahaman seperti ini tidak sampai karena mereka tidak memahami tentang seksualitas.

Jadi, pendidikan seksual itu penting di hampir semua lapisan, ya?

Iya, karena itu harus kita mulai. Mungkin yang sudah tua-tua agak sulit untuk diubah, tapi buat anak muda ini penting sekali. Pendidikan seksual ini harus dimulai dari anak-anak. Dan dimulai dari rumah tangga. Harus dimulai dari bagaimana pendidikan dalam keluarga. Karena kejadian-kejadian kekerasan seksual itu umumnya terjadi di rumah tangga dan dilakukan oleh orang yang korban itu kenal. Bisa pamannya, kakeknya atau bahkan bapaknya sendiri. Rumah tangga itu seringkali bukan tempat yang aman buat anak-anak. Ini kalau kita bicara soal kejahatan terhadap anak. Jadi jangan main-main.

Jika dilihat dari berbagai pernyataan tadi, Anda sepertinya pesimistis dengan berbagai persoalan terkait pendidikan seksual serta hak dan kesehatan reproduksi. Mungkinkah ada kemajuan dan perubahan terkait hal ini?

Masyarakat kita belum punya pandangan yang benar tentang seksualitas. Perkosaan dianggap tidak masalah dan orang yang melakukan inses (incest) tidak diproses hukum. Selama itu masih terjadi, saya pesimistis adanya sebuah perubahan dalam perilaku masyarakat.

Apa yang dilakukan masyarakat kalau terjadi inses? Korban inses malah dikawinkan dengan orang lain. Selesai perkara. Yang melakukan inses, apakah dia kakeknya, bapaknya, pamannya, itu tidak pernah diproses hukum. Bahkan sebisa mungkin ditutup-tutupi sebagai sebuah aib.

Saya pernah menangani kasus inses di Lampung. Seorang ayah memperkosa seluruh putrinya yang berjumlah empat orang. Dan itu dilakukan di depan ibunya. Namun hal itu tidak dianggap masalah. Masyarakat menganggapnya biasa-biasa saja. Coba bayangkan? Mestinya bapaknya sudah harus dibunuh. Saya sendiri menolak hukuman mati. Seharusnya hukuman buat bapak itu setara dengan pembunuhan.

Ini terjadi di masyarakat kita. Banyak kasus mereka yang dilecehkan sama paman atau kakaknya seperti ini tidak diungkap. Kalau ada yang mengungkap itu dianggap sebagai mempermalukan keluarga.

Inses itu biasanya terjadi terhadap anak perempuan. Dan itu lebih dari paedofilia.

Masih banyak pekerjaan rumah di negeri ini, ya?

Iya, karena tidak pernah dikerjakan. Kalau tidak pernah dikerjakan, ya, jangan berharap apa-apa. Belum lagi soal hukum dan kultur masyarakat. Soal hukum itu ada tiga unsur yang bermain. Pertama, konten hukum kita lemah. Kedua, struktur hukum kita amburadul. Polisi, jaksa, hakim belum memihak terhadap persoalan ini. Meskipun korban sudah melapor, sebagian mereka bilang: “Lho, ini bukannya persoalan keluarga. Kenapa lapor?” Ketiga, budaya hukum kita. Budaya hukum kita ini tidak maju-maju. Hal ini karena tidak pernah ada pendidikan seksual yang komprehensif.

Bagi sebagian umat Islam, membicarakan seksualitas dan tubuh itu sesuatu yang tabu. Adakah basis Islam untuk pendidikan seksual?

Tentu! Justru Islam itu sangat peduli pada pendidikan seksual. Tapi malah tidak terbangun kesadaran publiknya di sini. Saya heran…!

Adakah dalil untuk itu?

Dalam Surah Al-Nur ayat 30-31 disebutkan: “Katakanlah kepada kaum laki-laki yang beriman: ‘Hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat. Katakanlah kepada kaum wanita yang beriman: ‘Hendaklah mereka menahan pandangannya dan kemaluannya.’”

Ini bagian dari ayat yang mengajarkan tentang pentingnya menjaga organ-organ seksual. Jadi, tidak boleh dipakai sembarangan. Harus melalui perkawinan.

Jadi, ayat itu bukan hanya untuk perempuan, tapi juga bagi laki-laki? Bahkan laki-laki disebut lebih dulu…

Ya, di ayat itu justru malah laki-laki yang paling dulu disebut dan dikasih tahu. Ini jelas sekali.

Tapi sekarang malah dibalik, ya?

Itu dia masalahnya…

Dalam kasus kekerasan seksual perempuan biasanya yang menjadi korban. Karena itu beberapa kalangan menganjurkan agar perempuan harus menutup auratnya agar tidak memancing syahwat laki-laki. Komentar Anda?

Kalau ada pelecehan seksual di bus, misalnya, sebagian orang mengatakan: “Oh, memang pantas karena dia pakai rok mini.” Padahal setelah perempuan menutup aurat memangnya ada jaminan bahwa dia tidak diperkosa? Justru yang diperkosa di Saudi itu orang yang menutup auratnya. Jadi perkosaan tidak ada hubungannya sama sekali dengan aurat.

Jadi, salah kaprah pemahaman seperti itu?

 Oh, sangat!

Terkait paedofilia, sebagian umat Islam merasa punya landasan untuk menikah dengan anak di bawah umur dari perilaku Nabi Muhammad. Bahkan ada kalangan yang menyebutkan bahwa Rasulullah adalah seorang paedofil yang mengawini Aisyah saat di bawah umur. Komentar Anda?

Ini namanya menyalahgunakan Islam sebagai pembenaran bagi tindakan paedofilia. Di antara mereka mengatakan bahwa boleh kok kawin dengan anak-anak kecil. Ini mengerikan sekali!

Menurut Anda, apakah Nabi Muhammad itu seorang paedofil?

Bagi saya, tidak. Ini kesalahan interpretasi. Dalam hadis-hadis Sunni itu memang disebutkan bahwa Nabi nikah dengan Aisyah itu saat umur enam atau sembilan tahun. Tapi kalau merujuk pada penjelasan dan hadis-hadis Syiah tidak demikian.

Syiah itu lebih banyak menggunakan penafsiran rasional (aqliyah). Jadi, mereka menghitung umur Aisyah ketika meninggal, lalu tahun berapa ia menikah dengan Nabi. Ternyata dapatnya 16 tahun, bukan 9 tahun. Dan itu lebih logis.

Umur 16 tahun bukan anak kecil lagi, ya?

Di Indonesia saja sampai hari ini di abad 21, usia minimal perkawinan itu 16 tahun.

Terakhir, terkait pendidikan seksual dan kesehatan reproduksi, apa yang sudah Anda lakukan?

Saya baru-baru ini menulis buku berjudul ‘Mengupas Seksualitas’ (2015). Isinya tentang paedofili, kekerasan terhadap anak, bagaimana menghargai tubuh manusia, tentang kesehatan reproduksi, dan lainnya. Selain menulis, saya juga mengajar dan ceramah tentang hal-hal seperti ini di mana-mana.

Perkara orang suka atau tidak saya akan terus bicara. Saya akan terus lakukan karena ini penting. Yang saya lakukan ini adalah public awareness. Bagaimana membangun kesadaran publik tentang pentingnya relasi seksual yang aman, nyaman, dan bertanggung jawab. Relasi seksual itu bukan sesuatu yang kotor, tapi harusnya positif dan konstruktif. Harus dibangun yang seperti itu.

Selain public awareness, saya juga melakukan pemberdayaan masyarakat (community empowerment), dan ikut mengubah kebijakan publik. Yang terakhir ini sulit. Jika tidak dilakukan secara sistemik susah. Tapi tetap saja saya akan lakukan terus-menerus sampai para pemegang kebijakan itu menyadari pentingnya sebuah perubahan. []

Komentar