Home » Sosok » Mengenang Cak Nur, Sang Humanis

Mengenang Cak Nur, Sang Humanis

Oleh Moh. Shofan*

“Setiap pribadi manusia harus berbuat baik kepada sesamanya, dengan memenuhi kewajiban diri pribadi terhadap pribadi yang lain, dan dengan menghormati hak-hak orang lain, dalam suatu jalinan hubungan kemasyarakatan yang damai dan terbuka.” (Nurcholish Madjid)

Telinga bangsa ini sudah tak asing lagi begitu mendengar nama Cak Nur—panggilan akrab Prof. Dr. Nurcholish Madjid—yang beberapa waktu lalu diperingati haulnya yang ke-10 di Jakarta.

Cak Nur bukan sekadar seorang cendekiawan, tokoh pergerakan, tetapi seorang inspirator yang memberi inspirasi bagi bangsanya. Dalam sejumlah karyanya, Cak Nur, banyak berkhotbah tentang nilai-nilai kemanusiaan universal dan pentingnya investasi kemanusiaan atau etos menanam.

Nasihat-nasihat Cak Nur begitu inspiratif. Ia, misalnya, pernah berkata: ”Jadilah bambu. Jangan jadi pisang. Daunnya lebar membuat anaknya tidak kebagian sinar matahari. Bambu rela telanjang asal anaknya, rebung, pakaiannya lengkap.”

Metafora ini berulang-ulang dilontarkannya dalam berbagai kesempatan. Cak Nur juga seringkali mengingatkan tentang pentingnya etos menanam: “Kalau kita menanam jagung, kita harus berani menunggu tiga bulan, karena sebelum tiga bulan tidak akan ada buah. Menanam kelapa harus berani menunggu lima tahun. Kalau menanam manusia, kita harus berani menunggu satu generasi atau 20 tahun.”

“Etos menanam” yang diajarkan Cak Nur ini begitu melekat di hati banyak orang yang meneladani kehidupan dan mempelajari petuah-petuah moralnya. Cak Nur mengajarkan pentingnya menunda kesenangan untuk hari esok yang lebih baik.

Cak Nur bukan hanya menjadi guru inspiratif bagi keluarga, murid-murid, para jamaahnya, tetapi juga guru inspiratif bagi bangsanya. Ya, Cak Nur adalah guru bangsa yang sepanjang hidupnya terus memberikan inspirasi hingga raga menghadap ke haribaan Sang Pencipta.

Cak Nur seorang pejuang kemanusiaan yang spirit keindonesiaan dan humanismenya tak diragukan lagi. Ajaran-ajaran bijak yang dilayarkannya melintasi agama, budaya, usia, dan kelompok, membuat siapa pun yang berdialog dengannya merasa teduh. Selama hidupnya, ia tetap konsisten dengan gaya hidupnya yang sederhana. Konsisten dengan pemikiran-pemikirannya dan menolak cara-cara digunakannya kekerasan.

Tak jarang khotbah-khotbah ilmiahnya menimbulkan kesalahpahaman. Dan memang, Cak Nur, sosok intelektual berintegritas yang rentan disalahpahami. Berbagai cacian, cercaan, umpatan, hinaan, bahkan sampai hujatan yang tidak pernah dilakukannya sudah menjadi hal yang biasa diterimanya semasa hidupnya. Di sinilah letak keagungan akhlak Cak Nur. Ia lebih memilih memberi maaf kepada mereka yang menghujatnya.

Cak Nur amat menyadari—sebagaimana pepatah Arab—bahwa, “Manusia adalah musuh apa saja yang tidak (belum) dipahaminya”. Pikiran-pikiran Cak Nur dianggap baru dan memang belum dikenal secara luas oleh masyarakat, maka tak heran jika mereka cenderung menolak apa saja yang baru, yang belum dikenalnya.

Cak Nur seolah berdiri di sana di atas bukit seraya mengumandangkan perlunya menghidupkan “api” Islam yang telah lama redup; menelaah ilmu-ilmu rasional modern yang berakar dari tradisi Islam sendiri—dan Cak Nur, punya kekuatan, kemampuan, dan kelihaian mengakses sumber-sumber ilmiah di masa lalu Islam—; mendendangkan “Islam Yes, Partai Islam No”; membentangkan “Sekularisasi tanpa sekularisme”; mensabdakan “tiada tuhan selain Tuhan”; dan sebagainya.

Melalui khotbah-khotbah ilmiah itu, Cak Nur mendorong agar umat Islam memiliki rasa optimisme dan membuang jauh-jauh sikap pesimistis. Untuk tujuan itu, Cak Nur tidak jarang mengirimkan pesan cerita sukses peradaban Islam zaman keemasan. Cak Nur menuturkan bahwa orang Islam adalah peminjam yang baik (the good borrower), dan justru memang di situlah letak kosmopolitanisme Islam. Masjid, misalnya, tidak lain merupakan representasi dari pinjam-meminjam budaya yang sangat kreatif. Kubah yang tak lain pinjaman dari Bizantium. Menara dari Persi, yaitu budaya Majusi atau Zoroaster. Begitu juga dengan mihrab. Mihrab adalah pinjaman dari Kristen Bizantium. Semua itu menjadi bukti bahwa Islam adalah agama kemanusiaan terbuka, kosmopolit, dan menempatkan diri sebagai pewaris dari budaya umat manusia.

Dalam konteks keindonesiaan, Cak Nur, melayarkan impian Islam yang berkemajuan. Islam yang sejalan dengan nilai-nilai modernitas. Islam Nusantara yang menghargai keragaman (budaya, suku, bahasa, etnis, dan agama). Islam yang ramah, Islam yang menyapa, Islam yang menyalakan lilin harapan untuk membangun bersama-sama negeri ini menjadi lebih baik.

Bagi Cak Nur, di bumi Indonesia, setiap elemen masyarakat dan bangsa harus mendapat perlakuan yang setara tanpa membedakan latar belakang etnis, budaya, atau agama. Keinsafannya akan realitas pluralisme masyarakat ini bahkan melampaui dasar-dasar keyakinannya sebagai pemeluk Islam. Meskipun demikian, hal itu tidak kemudian mengubah kesetiaannya kepada Islam. Cak Nur tetaplah seorang Muslim yang taat.

Kepiawaian Cak Nur juga dapat dilihat dari bagaimana ia mengolah isu-isu keislaman dan kemodernan dengan sangat apik dan bisa mengkaitkan keahliannya dengan berbagai disiplin keilmuan mutakhir. Ia mampu mempertemukan visi teosentris yang terselubung di balik ritual-formal seluruh agama. Sehingga kajian keislaman tidak lagi terbatas pada persoalan normatif keagamaan, tetapi juga pemikiran yang mengaitkan ajaran Islam dengan berbagai persoalan sosial kontemporer dan kemanusiaan.

Dan, harus diakui, keluasannya di bidang ilmu pengetahuan, membuat ia dicintai bukan hanya oleh murid-muridnya tapi juga oleh kalangan yang beragama lain maupun berlatar belakang etnis yang berbeda. Pemikiran dan karya intelektualnya memiliki pengaruh besar dalam pembentukan tradisi intelektualisme Islam di Indonesia.

Begitulah Cak Nur, seorang humanis yang selalu menginspirasi, membuka perspektif baru, menyodorkan kesadaran dan menyalakan harapan masa depan. Ia hadir membawa suasana, memberikan arah dan greget, menggerakkan dan mengajak bangsa besar ini untuk bangun dari ketertinggalan. Meskipun untuk tujuan mulia itu ia kerap disalahpahami, dihujat, dibenci, dan dicaci-maki. Namun, sekali lagi, Cak Nur lebih memilih untuk memaafkan.

Sikap memberi maaf—seperti yang ditunjukkan Cak Nur—bukanlah tindakan kekalahan melainkan justru kemenangan. Dengan cara seperti itu, Cak Nur seolah menceritakan keteladanan kepada kita, dan kepada bangsa yang amat dicintainya, bahwa setiap pribadi manusia adalah berharga, seharga kemanusiaan sejagad. Maka barangsiapa merugikan seorang pribadi, tanpa alasan yang sah maka ia bagaikan me­rugikan seluruh umat manusia, dan barangsiapa berbuat baik kepada seseorang, seperti menolong hidupnya, maka ia bagaikan berbuat baik kepada seluruh umat—Cak Nur, sering menggambarkan ini sebagai salah satu makna amal saleh, yang terkandung dalam arti dan semangat ucapan salam dengan me­nengok ke kanan dan ke kiri pada akhir shalat.

Cerita kehidupan Cak Nur adalah cerita keteladanan. Cerita seorang cendekiawan dengan kepribadian yang humanis. Ia berpandangan bahwa setiap manusia harus dihormati sebagai seorang manusia seutuhnya, bukan karena dia itu bijaksana atau tolol, baik atau jelek, dan tanpa memandang agama, ras, suku, bahasa, atau budaya.

Humanisme adalah pilar utama agama, dan tiada agama tanpa humanisme! Agama yang humanis pastinya menempatkan harkat dan martabat yang amat tinggi pada manusia. Dan Islam, jelas Cak Nur, adalah agama yang paling banyak bercerita tentang keluhuran budi manusia. Menjadi manusia adalah undangan Tuhan untuk berbuat baik kepada sesamanya.

Cak Nur sering mengumandangkan bahwa nilai seorang pribadi adalah sama dengan nilai kemanusiaan uni­ver­­sal, se­ba­­gaimana nilai kemanusiaan univer­sal ada­lah sama nilainya dengan nilai kosmis seluruh alam se­mesta. Karena setiap “perjuangan” mengimplikasikan suatu proses, maka tidak ada jalan henti dalam hidup.

Manusia harus senantiasa mewujudkan kebaikan demi kebaikan secara lestari dan akumulatif, dari hari ke hari, dari masa ke masa. Seperti ini pula yang dikumandangkan oleh Giovanni Pico della Mirandola (seorang filsuf humanis zaman Renaissance Eropa), Hermes Trimegistus, Asclepius (seorang filsuf  Yunani kuna) tentang manusia, yang sering dikutip Cak Nur dalam khotbah-khotbah intelektualnya.

Bagaimana seharusnya kita?

Dan kita, generasi setelah Cak Nur, sejatinya dapat membebaskan diri dari ketergantungan terhadap kitab suci agama dan menolak godaan untuk tetap tinggal di suatu zona aman (agama). Jika kita dapat menghindari ketergantungan terhadap agama maka sesungguhnya kita bisa melihat dunia dengan cara berbeda. Dunia yang kita lihat menjadi cerminan diri yang tidak lagi dibatasi oleh indoktrinasi keagamaan.

Kita yang hidup di zaman modern tidak perlu mendasarkan semuanya pada teks. Jika nalar kita di(ter)belenggu oleh teks [agama], maka “Pencerahan” tidak akan pernah terjadi. “Pencerahan” mengandaikan adanya sikap kritis nalar terhadap teks.

Hemat saya, untuk sampai kepada pencerahan, kita mesti terbebas dari dominasi masa lalu. Seolah masa lalu adalah masa yang paling absah dan otoritatif dibandingkan masa sekarang [modern]. Memang, tidak ada benda tanpa waktu. Dan karena waktu hanya suatu dimensi saja dari kenyataan, maka teori-teori pun muncul bahwa sebetulnya waktu itu relatif.

Oleh karena itu, secara teoritis orang itu bisa berjalan-jalan ke waktu masa lampau ataupun masa depan melalui apa yang dalam pseudo-ilmiah disebut “lorong waktu” (time tunnel). Tapi masa lalu bukanlah segala-galanya. Ia berjalan sesuai dengan perkembangan dan kemajuan.

Saya tidak sedang menganjurkan pada pembaca agar meninggalkan agama, tetapi lebih kepada bagaimana agar kita tidak terbelenggu oleh teks agama yang pada akhirnya berujung pada dogmatisme-absolutisme. Karenanya, kita harus berani mempertahankan kebebasan pada saat kebebasan sungguh-sungguh terancam. Sapere aude! “Beranilah berpikir sendiri!”

Etos kritis merupakan satu-satunya perangkat yang tersedia untuk melawan segala bentuk dominasi. Nalar selalu cenderung untuk mencari sebuah jawaban dari setiap persoalan kehidupan untuk memperoleh kebenaran, dan menghampirinya lewat uji falsifikasi terus-menerus. Inilah yang disebut oleh Karl Popper, sebagai nalar falsifikasi. Nalar yang menggeser segala dogma, ideologi, atau ilusi karena ia terbuka bagi falsifikasi.

Nalar falsifikasi membuat kita tidak lagi bicara kepastian, melainkan kehampiran. Kebenaran tidak bisa dipastikan. Tak dapat dimungkiri, berkat falsifikasi, sains [atau bahkan teks, wahyu] pun terlepas dari jerat konservatisme dan bergandengan erat dengan kemajuan.

Dari sini, usaha yang pernah dirintis oleh Cak Nur melalui proyek sekularisasi menemukan signifikansinya. Sekularisasi merupakan perangkat yang dapat menyelamatkan ajaran agama untuk kesejahteraan umat manusia sendiri. Jika tidak ada sekularisasi, maka eksistensi agama akan menjadi hambatan yang besar terhadap kemerdekaan berpikir, keterbukaan wacana dan ilmu pengetahuan yang merupakan spirit sekularisme.

 Pengetahuan ilmiah itu bersifat faktual, bebas nilai, dan netral. Agama dapat hadir berdampingan dengan ilmu pengetahuan, tetapi ia tidak akan pernah boleh menghalangi ilmu pengetahuan. Karenanya, amat sangat mungkin, jika dalam era sekarang, di mana batas otoritas wilayah agama dan ilmu pengetahuan menjadi kabur, maka pilihan menjadi sekuler merupakan pilihan paling tepat.

Iman sekuler adalah iman kritis. Dan memang—seperti pernah dikatakan Cak Nur—salah satu ciri orang beriman jika mereka diingatkan dengan firman-firman suci, tidaklah mereka itu serta-merta tunduk-patuh begitu saja tanpa pengertian dan pemahaman yang benar. Dengan kata lain, salah satu sifat orang yang beriman ialah tidak menerima sesuatu, mes­kipun berupa ayat-ayat Tuhan, secara “membabi‑buta”, melainkan dengan penuh kepahaman dan pe­ng­ertian (Q. 25: 73)—lebih tegasnya, dengan ilmu pengetahuan.

Terima kasih Cak Nur! Jasadmu boleh terkubur, tetapi ruh pikiran-pikiranmu akan terus hidup dan menjadi inspirasi anak-anak zaman. []

*Penulis adalah Trainer Living Values Education (LVE). Bekerja di Lembaga Studi Agama dan Filsafat (LSAF), Jakarta.

Komentar