Home » Sosok » Mengenal Dedi Mulyadi, Bupati yang Dituduh Menikahi Nyi Roro Kidul dan akan Memindahkan  Ka’bah (2)

Mengenal Dedi Mulyadi, Bupati yang Dituduh Menikahi Nyi Roro Kidul dan akan Memindahkan  Ka’bah (2)

Jika kita mengunjungi media-media Islam konservatif, kita akan menemukan banyak tudingan dan fitnah yang dibuat media-media tersebut tentang Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi.

Jika dibaca secara seksama tampak tujuan diciptakannya semua tudingan dan fitnah itu hanya satu: agar menimbulkan kesan di benak umat Islam bahwa Dedi adalah kepala daerah yang tidak mendukung umat Islam, bahkan memusuhi umat Islam.

Setidaknya ada empat tuduhan yang berulang kali dialamatkan pada Dedi.

Pertama, sang bupati dituduh menyebarkan syirik dengan membuat dan memasang patung di sejumlah titik penting di Purwakarta (Baca: Achmad Chodjim Bupati Purwakarta Tidak Musyrik Karena Hidupkan Buday Ssunda).

Kedua, Dedi dituduh menyebarkan syirik dengan membuat kereta-kereta kencana yang ditaburi dengan bunga-bunga. Ketiga, Dedi dituduh menikahi Nyi Roro Kidul. Keempat, Dedi dituduh akan memindahkan  Ka’bah dari Makkah ke Purwakarta.

Redaksi Madina Online secara khusus menghubungi Dedi untuk meminta penjelasannya. Klarifikasi disampaikan Dedi kepada Irwan Amrizal, Joachim Rohi, dan Leonardus Wisnu di sekitar Sentul, Bogor, usai menjadi narasumber diskusi di Universitas Indonesia, Depok, (13/1).

Berikut petikan wawancara dengan sang bupati. Untuk diketahui, dalam kesempatan itu Dedi juga diwawancarai mengenai isu lain. Mengingat hasil wawancara dengan Dedi cukup panjang, Madina Online sengaja memecahnya menjadi tiga seri wawancara agar membuat nyaman pembaca. Dua seri wawancara Dedi yang lain bisa dibaca di sini (wawancara Dedi 1) dan di sini (wawancara Dedi 3).

Pada kesempatan ini, kami ingin mengklarifikasi sejumlah tudingan pada Anda. Pertama, Anda dituduh menyuburkan kesyirikan dengan membuat dan memasang patung di sejumlah titik penting di Purwakarta. Apa komentar Anda?

Patung yang saya buat pertama kali adalah patung wayang. Kenapa saya buat patung wayang? Karena saya merasa ada kegelisahan dalam diri saya. Anak-anak kita saat ini lebih mengenal sosok yang ada dalam kartun atau animasi dari luar, seperti Doraemon, Shin Chan, Superman, Batman, dan lain-lain.

Tapi anak-anak kita sekarang tidak mengenal apalagi mengapresiasi warisan kebudayaan, yaitu wayang. Anak-anak kita tidak kenal Semar, Cepot, Gatot Kaca, Jaka Tawang, Dharma Kusuma yang dari nama-namanya memiliki makna falsafah yang sangat baik bagi pembentukan karakter manusia dalam khazanah kebudayaan Nusantara.

Cara itu ternyata relatif berhasil. Anak-anak bahkan orang dewasa mulai mengenal tokoh-tokoh pewayangan itu. Bukti keberhasilannya paling tidak bisa dilihat dari banyak orang-orang yang berfoto dengan latar patung-patung itu. Di titik-titik yang dipasang itu lahirlah sebuah taman dan lingkungan yang bersih dan hijau. Padahal sebelumnya titik-titik itu adalah daerah yang kumuh. Tempat orang minum-minuman keras dan daerah prostitusi.

Tapi kenapa untuk mengenalkan nilai-nilai kebaikan tadi dengan membuat patung? Mengingat bagi sebagian kelompok patung itu adalah simbol kesyirikan…

Itu bagian dari karya seni yang bisa dinikmati oleh seluruh masyarakat. Nah, pembuatan patung itu sebenarnya bukan hal yang baru. Purwakarta itu terkenal dengan industri keramik pleret. Yang beberapa waktu ini menjadi favorit dari industri keramik pleret adalah Menong. Menong itu sejenis patung yang dibuat dari tanah. Itu karya seninya orang Purwakarta.

Sebelum saya menjabat, patung di Purwakarta itu sudah banyak. Ada patung Maung Siliwangi milik Kodim. Ada patung tentara, ada patung polisi, ada patung Lodaya, dan patung lainnya. Bahkan di perempatan Combro itu ada patung Semar. Tapi patung itu saya bongkar karena jelek.

Jika di Purwakarta itu sudah ada banyak patung, kenapa patung yang Anda buat itu memunculkan kontroversi?

Saya juga tidak tahu kenapa patung yang saya gagas itu dianggap sebagai sesuatu yang sangat berbahaya. Sedangkan patung-patung yang sudah ada tidak menimbulkan problem apa-apa. Saya tidak tahu, karena saya tidak bisa meraba hati orang itu maunya apa.

Tudingan kedua adalah Anda dianggap mensakralkan kereta kencana dengan ritual-ritual yang mengarah pada kesyirikan. Apa klarifikasi Anda?

Begini. Setiap daerah itu pasti ada lambang yang disakralkan. Indonesia itu punya lambang bendera merah-putih. Bendera merah-putih itu sakral banget kalau dikibarkan pada 17 Agustus. Waktu pengibaran pada tanggal itu, bayangkan, anak-anak yang bertugas untuk mengibarkannya harus latihan selama tiga bulan tanpa berhenti. Mereka latihan baris-berbaris, panas-panasan sampai kulitnya gelap. Itu hanya untuk diantar dalam sebuah upacara sakral kenegaraan untuk dikibarkan.

Pada saat pengibaran itu, bayangkan, berbagai spekulasi berkembang. Kalau saat pengibaran benderanya terbalik, maka itu tanda-tanda kejadian yang tidak menyenangkan akan terjadi. Tapi ketika pengibaran bendera itu sempurna, ada kebahagiaan yang luar biasa.

Kaitannya dengan kereta kencana?

Purwakarta juga ingin punya lambang yang dinantikan banyak orang. Maka dibuatlah kereta kencana itu yang bernama Ki Jaga Rasa. Ki Jaga Rasa itu maknanya adalah jagalah hati kita agar senantiasa bersih. Celik putih, celak herang….

Kereta kencana yang kedua bernama Nyimas Melati. Artinya orang yang sudah bersih hatinya itu seluruh prilaku budayanya akan melahirkan keharuman seperti bunga melati. Dan Purwakarta itu lambangnya yang terdaftar di Kementerian Dalam Negeri itu adalah bunga melati.

Kereta kencana yang ketiga adalah Bade Karaga. Artinya, orang yang mengandalkan kekuatan fisiknya dalam kerja dan harus kita hormati. Seperti tukang nyangkul, tukang bangunan, supir angkot, dan sebagainya. Kereta kencana yang keempat adalah Ki Jaka Sunda. Artinya, orang yang sehat badannya, bersih hatinya, dan harum tutur katanya. Inilah gambaran orang Sunda yang sebenarnya.

Nah, kalau di sekitar empat kereta kencana itu seperti ditaburi bunga-bunga itu bukan untuk sesajen. Kalau Anda datang ke kantor saya, setiap sudut kantor saya taburi bunga-bunga, seperti bunga kamboja dan sebagainya. Bunga-bunga itu ditabur di atas air. Kalau kita datang ke hotel-hotel kan juga seperti itu. Itu yang dinamakan aroma terapi sebagai pewangi ruangan.

Taburan bunga-bunga itu bukan sesajen?

Sesajen itu di zaman dulu sama seperti aroma terapi di zaman sekarang. Dan itu ilmiah, lho. Saya berikan contoh. Dulu, masyarakat Sunda itu di atas pintunya dipasangi cabai merah dan bawang putih.

Orangtua dulu tidak tahu apa maksud itu dipasang. Mereka hanya menurut perintah kakek moyangnya. Setelah diteliti, cabai merah dan bawang putih itu adalah penangkal virus. Nah, pintu rumah yang dipasangi cabai merah dan bawang putih itu tidak mudah terinveksi virus karena aroma keduanya menyebar ke dalam rumah. Jadi, itu semacam aroma terapi.

Saya ini tidak suka pengharum ruangan yang digital. Makanya di kantor saya semua pengharum digital itu saya ganti dengan ratus dan kayu gaharu. Karena itu, kalau Anda masuk ruangan saya itu harumnya berbeda. Tujuannya untuk aroma terapi.

Kalau kita mencuci mobil atau motor pasti kita beri cairan agar kendaraan kita itu lebih mengkilap dan cerah. Itu juga yang saya lakukan untuk empat kereta kencana tadi. Kereta kencana itu saya beri beberapa bahan baku untuk menguatkan kayunya agar tidak korosi.

Jadi, kereta kencana itu tidak diperlakukan sebagai tindakan yang mengarah pada kesyirikan?

Ya tinggal dilihat saja. Dalam keseharian, hidup saya ini paling rasional. Saya di politik tidak percaya kepada dukun. Saya hanya percaya pada lembaga riset.

Kalau saya menghormati patung dan kereta kencana itu karena warisan kebudayaan yang harus kita jaga. Dan aroma terapi itu yang menggunakan sekarang ini adalah salon. Di salon-salon kecantikan itu sekarang menggunakan ratus sebagai aroma terapi. Relaksasi di salon juga menggunakan aroma terapi. Karena itu pengunjung salon menjadi nyaman.

Saya tidak mau kenyamanan itu hanya ada di salon. Di ruang kerja saya harus juga ada aroma terapinya. Harus harum, harus menyegarkan, harus menyebarkan spirit di seluruh tempat di kantor saya. Aroma terapi di kantor saya itu dari bunga-bunga yang saya tanam di lingkungan kantor saya sendiri.

Tudingan lain yang dialamatkan kepada Anda adalah bahwa Anda menikahi Nyi Roro Kidul….

Itu juga yang membuat saya bingung. Ketika ada orang menuduh saya menikah dengan Nyi Ratu Kidul, berarti orang itu percaya dengan keberadaan Nyi Ratu Kidul? Analoginya begini. Ketika saya menuduh Anda menikahi jin, itu artinya saya percaya bahwa ada jin yang bisa dinikahi. Begitu, kan?

Saya juga menjadi bingung. Kalau saya dituduh syirik, itu artinya orang-orang yang menuduh saya itu lebih dulu percaya dibandingkan saya. Nah, ketika saya dituduh menikah dengannya, pertanyaannya saya menikah di KUA (Kantor Urusan Agama, red) mana? (Tertawa).

Kalaupun benar saya menikah dengan Nyi Ratu, yang harusnya marah itu istri saya. Bukan mereka. Kalau benar saya menikah dengan Nyi Ratu nyatanya saya selalu tidur di rumah. Tiap malam saya tidur di samping istri saya.

Tapi bukankah tuduhan pernikahan Anda dengan Nyi Ratu berasal dari pernyataan Anda sendiri?

Ceritanya begini. Waktu itu ada Sudjiwo Tedjo. Dia waktu itu menyatakan bahwa raja di Jawa itu harus menikah dengan Nyi Ratu Kidul. Menikah dengan Nyi Ratu Kidul itu bukan berarti menikah dengan makhluk bernama Nyi Ratu Kidul. Bukan menikah secara biologis.

Menikah dengan Nyi Ratu Kidul itu artinya menikah dengan pantai selatan. Menikah dengan lautnya. Jadi, menikah dengan Nyi Ratu Kidul itu artinya memperlakukan laut selatan seperti memperlakukan istri sendiri. Dirawat dan dijaga sehingga tidak ada penambangan pasir di laut. Tidak boleh ada bom ikan di laut. Tidak boleh ada kapal asing ke laut.

Dan Nyi Ratu Kidul dari tanah Pangandaran sudah membuktikan, yaitu Ibu Susi Pudjiastuti (Menteri Kelautan dan Perikanan, red.). Dimakan itu kapal-kapal asing oleh dia. (Tertawa). Jadi itu konteks pernyataan saya tentang Nyi Ratu Kidul.

Tudingan Anda tentang menikah dengan Nyi Ratu Kidul itu sebenarnya konyol. Sebab di Purwakarta itu tidak ada laut dan laut selatan jauh dari Purwakarta…

Memang Purwakarta itu tidak dekat laut, tapi saya sangat cinta laut. Saya itu paling senang kalau diajak ke laut dan ke hutan.

Kenapa hutan? Karena hutan itu inspirasi kemakmuran bagi rakyat Sunda. Dari Citarum mengalir air sampai ke Jakarta. Karena air dari hutan kita bisa swasembada pangan nasional. Karena air dari hutan juga tercipta danau. Nah untuk menjaga sakralitas hutan, nenek moyang rakyat Sunda membuat legenda bahwa hutan-hutan di Tanah Sunda itu dijaga Harimau Siliwangi.

Sedangkan laut itu lambang kekuasaan dan keindahan yang maha tunggal, seperti putri ratu yang cantik. Itulah imaginasi masyarakat tentang laut. Dalam kebudayaan masyarakat, misalnya, putri yang cantik dilambangkan dalam sosok Dewi Kuan Im. Di masyarakat Eropa dalam sosok Monalisa.

Kenapa masyarakat Indonesia tidak melakukan itu? Harusnya kita merumuskan kecantikan dalam satu sosok tertentu sebagai identitas yang kemudian bisa menjadi karya seni dan sesuatu yang mendatangkan dampak ekonomi. Bayangkan bila wisata di Pantai Selatan kita menjadikan simbol Nyi Ratu menjadi karya kreatif yang bernilai sangat tinggi dan punya dampak ekonomi. Misalnya, lukisan Nyi Ratu dibuat bagus mungkin lalu dijual di Pantai Selatan. Bisa juga dibuat boneka dan gantungan kuncinya. Jangan kalah dengan boneka Berbie dong.

Masalahnya, sosok ini dalam imaginasi banyak orang adalah sosok yang ‘mistis’…

Yang membuatnya menjadi ‘mistis’ itu mendiang Suzana (tertawa). Sebenarnya yang diperankan Suzana itu Nyi Roro Kidul, bukan Nyi Ratu Kidul. Salahnya kenapa film itu dibuat tentang sosok putri dari pantai selatan yang begitu ‘mistis’ dan menakutkan. Tidak salah juga sih karena itu bagian dari karya seni. Yang menonton film itu yang salah. Kenapa percaya film itu begitu saja.

Tudingan terakhir adalah rencana Anda yang konon akan memindahkan Ka’bah dari Makkah ke Purwakarta. Apa klarifikasi Anda?

Begini ceritanya. Saya berbicara di satu forum yang pada saat itu hadir Ketua MUI Purwakarta dan kepala kantor wilayah Kementerian Agama. Forum itu juga dihadiri calon jamah haji. Pada saat itu saya menjelaskan makna thawaf dari sisi pemahaman saya. Saya katakan mengapa saat thawaf kita melihat ke arah sebelah kiri. Itu, menurut saya, adalah melihat ke jantung yang selalu berdebar dan tidak pernah berhenti selama 24 jam.

Saat thawaf kita juga berkeliling sebanyak tujuh kali. Itu sama seperti kita menjalankan hidup setiap hari dalam seminggu. Saat thawaf, kita berangkat dari satu titik dan kembali di titik itu lagi. Kata orang Sunda, lembur matu dayeng mane pancer karang pamidaan.

Kemudian saya menjelaskan makna sa’i. Itu ialah bentuk kecintaan seorang ibu yang memberi kita makan dan kasih sayang. Saya juga menjelaskan tentang jumrah yang intinya mengusir keburukan dalam diri kita. Saya menjelaskan tentang wukuf sebagai simbol seseorang yang totality  tidak mau lagi menyakiti siapa pun. Jangankan menyakiti makhluk hidup, menyakiti daun pun tidak dibolehkan. Saya menjelaskan itu sampai ada beberapa jamaah yang menangis.

Saya katakan kepada jamaah bahwa kita patut bersyukur karena tidak semua orang bisa berhaji. Kenapa? Karena kalau pun calon jamaah haji itu punya uang, ia harus antre. Bisa sampai 20 tahun. Kalau ia baru daftar di usia 50 tahun, maka kemungkinan besar ia baru bisa berhaji di usia 70 tahun.

Karena kecintaan itu muncul imaginasi dalam diri saya. Kalau saya menjadi presiden, saya ingin pinjam Ka’bah ke Raja Arab Suadi untuk saya pindahkan ke Purwakarta sementara waktu biar lebih dekat dengan jamaah haji di Indonesia. Ungkapan itu tentu bukan ungkapan sungguhan, melainkan ungkapan kecintaan karena banyak orang yang ingin menemuinya.

Ungkapan itu sama ketika kita melihat bulan yang indah saat purnama. Pada saat itu saya bilang begini: “Aduh ingin saya pindahkan itu bulan ke pangkuan saya”. Atau ketika Anda punya anak yang cantik saya akan bilang begini: “Saya pinjam deh anaknya sebulan saja untuk tinggal di rumah saya dan untuk saya angkat jadi anak saya”. Masa orang tidak boleh berimaginasi seperti itu, walaupun itu tidak mungkin untuk dilakukan.

Itu dari makna harfiah. Namun dari makna yang substansial, Ka’bah itu harus dipindahkan ke hati kita. Agar hati kita senantiasa bersih dan mengingat Allah.

Artinya, ungkapan Anda tentang memindahkan Ka’bah itu adalah ungkapan metafor, ya? Bukan ungkapan harfiah…

Berbahasa itu ada tingkatan-tingkatannya. Ada bahasa yang bisa dimaknai harfiah, tapi ada bahasa yang sifatnya kiasan atau majazi. Dalam pernyatan saya saat itu, ‘kalau saya menjadi presiden’. Apa saya akan menjadi presiden? Saya juga tidak tahu (tertawa).

Lagi pula orang bebas untuk berimaginasi. Misalnya saya katakan, “Monas itu bagus sekali, ya. Saya mau pinjam Monas ke Pak Ahok, ah”. Ketika saya mengatakan itu bukan berarti Monas bisa saya pinjam begitu saja, kan?

Jadi, dengan mengatakan ingin meminjam Ka’bah itu bukan berarti Anda ingin membuat tempat ziarah seperti Ka’bah, kan?

Tidak. Mana bisa saya melakukan hal itu. Tapi dulu ada mitos di masyarakat Sunda, kalau sudah ziarah ke Pamijahan sebanyak tujuh kali itu sebanding dengan berhaji ke Tanah Suci. Setelah saya hitung dari sisi ongkosnya, mitos itu ada benarnya. (Tertawa).

Tuduhan-tuduhan itu pernahkah Anda klarifikasi? Sebab bila tidak diklarifikasi bisa menjadi fitnah di tengah masyarakat….

Nanti saya klarifikasi lewat buku. Saat ini saya lagi membuat buku. Karena itu pikiran ilmiah, maka kami jawab dengan ilmiah juga. Sebentar lagi insya Allah bukunya terbit. Judulnya “Guyon Kang Dedi”.  Ada teman yang merekam pernyataan saya lalu dibuat buku. Buku itu nanti isinya lebih bercanda. Tidak terlalu serius.

Sebelum Anda menjawab tuduhan itu melalui buku, apakah Anda pernah mengklarifikasinya di berbagai kesempatan? Mengingat tuduhan yang dialamatkan ke Anda itu bukan tuduhan yang main-main…

Belum saya lakukan. Bagi saya, hidup ini bukan melakukan pembelaan oleh dirinya sendiri. Biarkan saja orang lain yang melakukan pembelaan dan menganalisisnya. Dan yang melakukan pembelaan terhadap saya, alhamdulillah ada banyak orang. Sudah hampir 20 orang doktor yang menyampaikan kepada saya untuk meluruskan tuduhan-tuduhan terhadap saya melalui sosial media. []

Komentar