Home » Sosok » Mengenal Dedi Mulyadi, Bupati Purwakarta yang Dibenci dan Dimusuhi FPI (3)
Dedi Mulyadi saat menjadi narasumber di Univeritas Indonesia. Foto: depokpos.com

Mengenal Dedi Mulyadi, Bupati Purwakarta yang Dibenci dan Dimusuhi FPI (3)

Selain Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok, Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi tampaknya masuk dalam daftar nama kepala daerah yang paling dimusuhi Front Pembela Islam (FPI).

Asumsi Itu tidak berlebihan jika merujuk kabar yang diberitakan media bahwa FPI seringkali menggelar demonstrasi dan penolakan kehadiran Dedi di beberapa acara di sejumlah daerah. FPI seperti berusaha untuk memperlakukan Dedi sebagai “tahanan kota”.

Kasus yang terbaru adalah saat Dedi menghadiri acara diskusi di Universitas Indonesia, Depok, (13/1). Massa FPI mendatangi kampus UI dan menekan petinggi UI untuk menolak kehadiran Dedi. Ironisnya, petinggi universitas kelas dunia itu takluk dengan tekanan FPI. (Baca: Ditekan FPI Petinggi UI Persingkat Kehadiran Ded Mulyadi)

Usai acara itu, Madina Online wawancarai Dedi Mulyadi. Dedi menyatakan bahwa dirinya tidak gusar dengan sikap FPI itu. Dedi tetap mendatangi lokasi acara bila ia diundang. Saat acara maulid di Bogor, misalnya, Dedi mengaku hadir dan diterima masyarakat dengan baik. Bahkan Dedi dijemput masyarakat dengan kuda.

Berikut petikan wawancara Irwan Amrizal, Joachim Rohi, dan Leonardus Wisnu dengan Dedi Mulyadi. Untuk diketahui, pada kesempatan itu Dedi juga diwawanacarai mengenai isu lain. Mengingat hasil wawancara dengan Dedi itu cukup panjang, Madina Online sengaja memecahnya menjadi tiga seri wawancara agar membuat nyaman pembaca. Dua seri wawancara Dedi yang lain bisa dibaca di sini (Wawancara Dedi 1) dan di sini (Wawancara Dedi 2).

Kebijakan politik Anda yang berbasis kebudayaan itu diapresiasi banyak kalangan. Anda, misalnya, mendapat anugerah dari Federasi Teater Indonesia. Anda juga diundang sebagai pembicara di konferensi PBB. Tapi sebagian masyarakat menolak kebijakan Anda itu. FPI, misalnya, dengan keras menentang kebijakan Anda itu karena dianggap menampilkan ikon-ikon kebudayaan non-Islam di Purwakarta yang mayoritas umat Islam. Apa tanggapan Anda?

Itu hak mereka. Karena, mungkin, sudut pandang mereka itu bukan sudut pandang saya. Sudut pandang mereka itu pada kaidah-kaidah yang menurut pemahaman mereka. Sedangkan saya menggunakan sudut pandang substantif dalam kerangka pemahaman yang saya miliki. Sesungguhnya perbedaan di antara saya dan mereka ada pada tataran pemahaman semata.

Nah, perbedaan pemahaman itu hal yang dibolehkan dalam sistem negara kita. Konstitusi negara kita didasarkan pada Pancasila. Bukan pandangan atau mazhab satu golongan tertentu. Karena setiap orang punya mazhabnya sendiri dan punya gurunya sendiri, ya kita hormati masing-masing mazhab dan guru kita itu.

Apa yang saya lakukan selama ini kan tidak menurut pandangan saya saja. Saya tanyakan terlebih dahulu ke kiai yang saya ikuti.

Masalahnya, kelompok itu tampaknya tidak terbiasa dengan pikiran berbeda. Bahkan mereka “mencekal” Anda ke manapun Anda mendatangi lokasi acara…

Saya tidak mendapat putusan pencekalan dari pengadilan dan kepolisian. Kalau saya adalah warga negara yang berhak pergi ke mana pun, maka sudah tugas negara untuk melindungi saya. Dan ini sudah dibuktikan oleh polisi. Tadi polisi mengamankan acara. Acara juga bisa berjalan dengan lancar. Itu sudah tugas negara untuk melindungi warganya yang dalam status tidak dicekal oleh negara.

Tapi yang terkesan adalah Anda itu seperti tidak bebas untuk datang ke mana pun?

Tidak juga. Tergantung acara yang mengundang saya itu di-posting di sosial media atau tidak. Biasanya yang ribut itu yang di-posting di media sosial. Tapi yang tidak ada promonya, saya bisa hadir dan tidak ramai. Misalnya, saya bisa pergi ke Karawang. Di sana saya diterima.

Beberapa waktu yang lalu saya hadir di satu acara di Bogor. Acara maulid yang diadakan masyarakat. Yang ceramah Ustad Solmed. Saya bisa masuk ke lokasi acara.

Anda tidak ditolak anggota FPI setempat?

Tidak. Masyarakat di sana bisa menerima saya dengan baik. Bahkan saya dijemput pakai kuda. Tidak ada problem. Beberapa waktu yang lalu ada rombongan dari Sukabumi yang menemui saya. Ada sekitar 15 bus yang mengantar. Jumlah yang datang ada sekitar 1500 orang. Itu artinya, masyarakat secara umum tidak ada masalah dengan saya.

Tapi memang ada pihak tertentu yang menganggap apa yang saya lakukan itu problem. Ya itu hak mereka. Mereka punya hak, saya juga punya. Tinggal tugas negara melakukan pengaturan terhadap dua pihak ini.

Dengan apa yang terjadi di UI tadi, ada kesan bahwa negara yang diwakili oleh pihak kepolisian tampak takluk dengan massa pengacau itu. Anda yang seharusnya mengikuti acara sampai selesai tapi dipaksa tidak menghadiri acara secara penuh. Dalam pikiran kami, bila Anda sebagai pejabat publik saja tidak bisa dlindungi negara, apalagi kami yang hanya rakyat jelata ini…

Bagi saya, itu bukan karena negara takluk. Tapi itu namanya efektivitas. Buat apa saya lama-lama di sebuah acara kalau saya tidak memberikan manfaat apa-apa. Yang penting saya bisa mengikuti acara dan keluar dari lokasi acara dengan baik. Tidak ada problem bagi saya. Senang juga saya sekarang kalau saya pergi ke satu tempat saya didampingi kombes (tertawa).

Kalau Anda hadir ke tempat undangan selalu ditemani pengawal?

Tidak. Kadang saya sendiri. Tergantung situasinya. Tadi saya ke UI hanya dengan supir dan ajudan. Tidak ada kawal-kawalan. Yang lain adalah staf humas yang lebih dahulu datang ke lokasi undangan. Saya itu orangnya rileks. Kan ada polisi, buat apa takut.

Tapi dalam beberapa kasus polisi terkesan takluk. Untuk kasus tadi, rundown acara akhirnya dikompromikan…

Bukan. Yang mengkompromikan jadwal acara itu bukan polisi. Tapi pihak keamanan kampus. Kalau polisi menjamin akan melindungi saya sampai acara selesai.

Menghadapi kasus-kasus seperti ini apa perasaan Anda?

Saya santai saja. Saya nikmati. Saya menyakini bahwa segala sesuatu itu ada maknanya. Saya tidak merasa putus asa pada satu hal. Waktu di TIM, misalnya, waktu saya diharuskan pulang, ya saya pulang. Tapi bagi saya, saya bisa masuk ke TIM dan lokasi acara penyerahan anugerah itu juga kebahagiaan.

Saya sampai berpikir, kok saya bisa ya masuk ke TIM dan melewati sweeping. Saya itu masuk ke lokasi penyerahan anugerah itu sampai dua kali, lho. Yang terakhir, karena pertimbangan keamanan saya diharuskan pulang.

Meski FPI memperlakukan Anda dengan tidak baik dan tidak pantas, Anda justru bersikap sebaliknya. Anda, misalnya, menyampaikan rasa duka cita dan ikut mendoakan atas wafatnya salah satu petinggi FPI Habib Selon melalui fan page Facebook Anda baru-baru ini. Mengapa Anda melakukan hal itu?

Orang dibolehkan berbeda pendapat. Tapi ketika orang yang berbeda pendapat dengan kita mengalami musibah, kita tidak dibolehkan untuk tidak ikut mendoakannya. Itu prinsip saya.

Saya itu pernah diludahi. Saya juga mengalami ditunjuk-tunjuk sambil dikafir-kafirkan. Ketika orang yang melakukan itu sakit dan harus masuk rumah sakit, saya yang mengeluarkannya dari rumah sakit. Apa setelah itu saya menerima kata terima kasih dari orang itu? Tidak. Orang itu malah mengatakan, “Siapa yang menyuruh kamu membantu saya?” Apakah saya marah? Tidak.

Kenapa Anda mau membantu orang itu?

Tugas kemanusiaan. Dalam diri saya, ketika ada orang yang menghujat, saya tidak pernah benci dengan orang itu. Ketika orang itu masuk rumah sakit dan dia memerlukan uang untuk itu, ya saya bantu. Bila bantuan saya itu tidak diterima, bagi saya, ya tidak apa-apa. Saya juga tidak berharap sesuatu.

Dulu saya pernah difitnah. Dibuat skenario bahwa saya menghamili seorang PSK (perempuan seks komersial, red.) saat saya dalam kondisi mabuk karena mengkonsumsi shabu-shabu. PSK itu disuruh bikin konferensi pers untuk mengatakan hal itu. Tujuannya agar nama saya hancur. PSK yang melakukan itu dijanjikan rumah dan disuruh menghilang dari sorotan masyarakat.

Saya temui PSK itu. Saya tanya, apakah dia pernah bertemu dan mengenal saya. Dia mengatakan tidak. Saya tanya siapa yang menyuruhnya melakukan hal itu. Dia sebutkan nama dalangnya. Ketika PSK itu melahirkan, biaya rumah sakitnya saya yang bayar. Setelah saya bayari biaya rumah sakitnya, isu yang berkembang semakin menegaskan bahwa syaa yang benar-benar menghamili PSK itu. Ketika orang-orang berkata seperti itu, apakah saya marah? Tidak. Buat apa?

Apa motif dalang fitnah itu?

Saya tidak tahu. Waktu saya ketemu, dia meludah. Saya marah? Tidak. Buat apa? Malah saya katakan ke dia, “Kalau mau meludah jangan ke tembok. Ke badan saya saja. Sayang nanti temboknya jadi kotor”. Saya juga pernah ketemu orang yang bersalaman dengan saya tapi setelah itu dia mencuci tangannya. Katanya, saya itu najis. Saya tidak terlalu memikirkan hal-hal yang seperti itu. Yang penting seberapa banyak manfaat yang bisa kita berikan kepada orang lain. []

Komentar