Home » Sosok » Mahaputra bagi Harun Nasution dan Kembalinya Islam Rasional
Foto: okezone.com

Mahaputra bagi Harun Nasution dan Kembalinya Islam Rasional

Ada peristiwa penting dalam peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia ke-70. Pada 13 Agustus 2015 Presiden Joko Widodo menganugerahkan tanda kehormatan kepada 46 tokoh di Istana Negara, salah satunya almarhum Harun Nasution (1919-1998).

Ini menjadi penting karena Harun Nasution adalah seorang tokoh yang bisa disebut sebagai lokomotif dan gerbong pembaruan Islam di Indonesia. Mantan Rektor IAIN (sekarang UIN) Syarif Hidayatullah, Jakarta ini secara berani mengajak umat Islam di Indonesia beragama secara rasional dan meninggalkan kebekuan berpikir yang telah menjadikan Islam terbelakang. Dia dengan gigih mengajak umat Islam bersikap kritis dan berijtihad secara rasional.

Karena sikapnya itu, Harun dituduh macam-macam oleh para penentangnya. Oleh sebagian pengeritiknya, Harun dilecehkan sebagai ‘kafir’, ‘murtad’ atau bahkan ‘agen Barat’ untuk menghancurkan Islam.

Bila kini, pemerintah Jokowi memberi penghargaan Bintang Mahaputra Utama bagi Harun, ini artinya ia dianggap sebagai tokoh yang telah memberikan jasa luar biasa dalam pengabdian dan pengorbanan di bidang budaya dan ilmu pengetahuan. Dalam keterangan pemerintah dinyatakan bahwa penghargaan itu diberikan kepada penulis buku ‘Islam Rasional, Gagasan dan Pemikiran’ ini karena jasanya sebagai tokoh Pengembang Budaya Moderat di Indonesia.

Harun adalah lokomotif dan penarik gerbong pembaruan Islam di Indonesia. Ia salah satu pionir –terutama di periode akhir 1960 dan awal 1970an– yang memperkenalkan keragaman dan kekayaan khazanah Islam dalam berbagai aspeknya. Ia menggugat cara beragama di Indonesia yang tampak sempit. Menurut Harun, ini terjadi karena pendidikan Islam di Indonesia lebih ditekankan pada pengajaran ibadah, fikih, dan tauhid menurut satu mazhab saja.

Dalam pandangan Harun, mengenal Islam hanya dari tiga aspek itu menghasilkan pengetahuan yang tak lengkap dan menimbulkan pemahaman sempit tentang Islam. Dalam buku ‘Islam Ditinjau dari Berbagai Aspeknya’, peraih gelar doktor pertama dari Indonesia bidang Studi Islam di McGill University, Montreal, Kanada ini memaparkan kekayaan khazanah Islam. Mulai dari aspek teologi, spiritual dan moral, sejarah dan kebudayaan, politik, lembaga-lembaga kemasyarakatan, mistisisme dan tarekat, falsafah, ilmu pengetahuan dan pemikiran serta usaha-usaha pembaruan Islam.

Untuk memperdalam pembahasannya ia pun menulis buku lanjutan dengan tema-tema yang spesifik terkait beberapa aspek Islam itu. Di antaranya, ‘Falsafat Agama’,‘Falsafat dan Mistisisme dalam Islam’, ‘Pembaharuan dalam Islam: Sejarah Pemikiran dan Gerakan’, ‘Akal dan Wahyu dalam Islam’, ‘Aliran Modern dalam Islam‘.

Tentang fikih, ia dengan lugas mengatakan bahwa pengajaran fikih di Indonesia menjadikan Islam terkesan  sebagai agama yang hanya melulu soal halal dan haram. Mengenal Islam dari sudut pandang fikih saja memberi gambaran yang pincang tentang Islam. Apalagi jika hanya didasarkan pada satu mazhab fikih saja. Bahkan fikih, lanjutnya, cenderung mempersempit gerak manusia dalam zaman kemajuan dan dinamisme sekarang.

Terkait tauhid, penulis buku ‘Teologi Islam, Aliran-aliran, Sejarah, Analisa Perbandingan’ ini mengatakan bahwa teologi Islam yang diajarkan di Indonesia pada umumnya dalam bentuk ilmu tauhid. Ilmu tauhid, selain kurang mendalam dan filosofis pembahasannya juga biasanya sepihak dan tidak mengemukakan pendapat dan paham dari aliran-aliran lain yang ada dalam teologi Islam.

Di Indonesia umumnya ilmu tauhid yang dikenal dan diajarkan dari aliran Asy’ariyah. Sehingga, lanjutnya, timbul kesan di kalangan sebagian umat Islam Indonesia bahwa hanya aliran itu yang ada dalam Islam.

Dalam teologi Islam terdapat lebih dari satu aliran teologi: ada aliran liberal (Mu’tazilah), tradisional (Asy’ariyah), dan yang mempunyai sifat antara liberal dan tradisional. Dalam buku ‘Teologi Islam’ selain memaparkan sejarah timbulnya persoalan teologi dan memetakan berbagai alirannya (Khawarij, Murji’ah, Qadariah dan Jabariah, Mu’tazilah, dan Ahl Sunnah wal Jama’ah), ia juga menganalisa serta membandingkan tema-tema pokok dalam berbagai aliran itu. Di antaranya seputar akal dan wahyu, free will dan predestination, keadilan Tuhan, sifat-sifat Tuhan, dan konsep iman.

Perbedaan dari berbagai aliran itu terletak pada derajat penggunaan akal. Semua aliran itu, kata Harun, sama-sama menggunakan akal dalam menyelesaikan persoalan teologi yang timbul di kalangan umat Islam. Hanya dosisnya saja yang berbeda. Perbedaan lainnya juga dalam soal wahyu. Semua aliran berpegang pada wahyu. Perbedaannya terletak pada tafsir atas teks Al-Quran dan hadis.

Dalam penjelasan Harun, teologi liberal berpegang pada akal atau rasionalitas dan bersifat filosofis sesuai dengan jiwa dan pemikiran kaum terpelajar. Sebaliknya, teologi tradisional berpegang pada arti harfiah ayat Al-Quran dan hadis serta kurang menggunakan logika. Teologi liberal sukar ditangkap oleh golongan awam. Teologi tradisional dengan uraiannya yang sederhana mudah dapat diterima kaum awam.

Berbagai corak teologi ini, menurut Harun, baik liberal maupun tradisional, tak bertentangan dengan ajaran-ajaran dasar Islam. Pilihan aliran teologi yang dianut seseorang tidak menyebabkan ia menjadi keluar dari Islam.

Bagi Harun, tiap orang bebas memilih salah satu aliran dalam teologi Islam itu sesuai dengan pendapat dan kecenderungan jiwanya. Hal ini tak ubahnya dengan kebebasan tiap muslim memilih mazhab fikih yang sesuai dengan kecenderungannya. Bagi Harun, inilah salah satu hikmah dari hadis Nabi Muhammad “Perbedaan paham di kalangan umatku membawa rahmat.”

Hanya saja, lanjutnya, dalam masyarakat yang menganut teologi liberal kemajuan dan pembangunan dapat berjalan lebih lancar. Sebaliknya, penganut teologi tradisional sukar mengikuti perubahan dan perkembangan yang terjadi dalam masyarakat modern. Rasanya tak berlebihan, lanjutnya, jika dikatakan bahwa teologi tradisional merupakan salah satu faktor yang memperlambat kemajuan dan pembangunan.

Islam Rasional

Sebagai akademisi yang pernah mengenyam pendidikan dari Timur hingga Barat, dari sekolah Belanda, Makkah, Mesir hingga Kanada, Harun lebih cenderung ke paham Mu’tazilah. Bahkan ia disebut-sebut sebagai Neo Mu’tazilah, walaupun ia sendiri konon menyebut dirinya sebagai seorang ahlusunnah yang rasional. Ia melanjutkan proyek pembaruan Islam Muhammad Abduh, Rasyid Ridha, dan kaum modernis lainnya yang mengedepankan akal dalam menyelesaikan problem teologis.

Dalam berbagai bukunya, penulis buku ‘Muhammad Abduh dan Teologi Rasional Mu’tazilah’ ini menekankan tingginya kedudukan akal. Tak hanya dalam perkembangan ilmu pengetahuan dan kebudayaan, tapi juga dalam perkembangan ajaran-ajaran keagamaan.

Dalam Al-Quran juga banyak ayat terkait penggunaan akal. Pemakaian akal yang diperintahkan Al-Quran, baginya, adalah untuk mendorong manusia agar memahami diri dan alam sekitar serta mengembangkan ilmu pengetahuan. Pemakaian akal inilah yang membuat manusia menjadi khalifah. Karena akal anugerah Tuhan yang hanya diberikan pada manusia.

Menurutnya, akal digunakan untuk memahami teks wahyu dan tidak untuk menentang wahyu. Akal memberi interpretasi terhadap teks wahyu sesuai dengan konteks dan kecenderungan serta kesanggupan penafsirnya. Yang dipertentangkan dalam sejarah pemikiran Islam, lanjutnya, sebenarnya bukanlah akal dengan wahyu, tapi penafsiran tertentu dari teks wahyu dengan penafsiran lain dari teks wahyu yang sama. Jadi yang bertentangan adalah pendapat akal ulama tertentu dengan ijtihad ulama lainnya.

Karena itu, ijtihad merupakan salah satu unsur terpenting dalam Islam. Baginya, ijtihad adalah kunci dinamika dan kemajuan Islam. Dengan mengutip Guru Besar Hukum Islam Universitas Kairo, Ali Hasballah, Harun berpendapat bahwa ijtihad itu sumber ketiga ajaran Islam setelah Al-Quran dan Hadis.

Keadaan statis bahkan kemunduran Islam di tubuh umat Islam disebabkan karena umat Islam terikat pada ijtihad yang tak lagi dapat mengakomodasi berbagai perubahan zaman. Sebagai gantinya diperlukan ijtihad baru yang sesuai dengan tuntutan zaman. Islam, menurutnya, selalu terbuka dengan inovasi selama tidak bertentangan dengan ajaran Islam yang bersifat mutlak (qat’i) seperti keesaan Tuhan.

Profesor bidang studi Islam ini juga menyarankan agar umat Islam Indonesia menganut paham keseimbangan. Menyeimbangkan oritentasi keakhiratan dengan keduniaan. Sehingga umat Islam bisa hidup dalam lingkungan sosial masyarakat dan berusaha mencapai kemajuan dalam kehidupan duniawi. Islam mengajarkan pada umatnya untuk hidup secara baik di dunia dan mempersiapkan diri untuk kehidupan yang baik pula di akhirat.

Penggembang Budaya Moderat

Bukan kali ini saja penggagas dan Direktur Program Pascasarjana IAIN (sekarang UIN) ini meraih penghargaan. Pada 2014 ia juga mendapat anugerah Bintang Budaya Parama Dharma dari Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono. Penghargaan itu sebagai apresiasi pemerintah terhadap para pengembang dan pelestari kebudayaan. Kiprah Harun juga mendapat apresiasi dalam buku ”Paradigma Baru Pendidikan Islam” terbitan Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Departemen Agama RI (2008).

”Dia mengenalkan multi pendekatan dan memperjuangkannya dengan sangat konsisten. Pengaruh pemikirannya sangat kuat di kalangan IAIN dan STAIN seluruh Indonesia dan masih dirasakan sampai sekarang.”

Kiprah Harun berbeda dengan tokoh modernis lain di Indonesia yang menelorkan dan mensosialisasikan gagasan-gagasannya lewat organisasi sosial maupun politik. Harun secara konsisten melontarkan ide-idenya dari dalam kampus. Berbagai bukunya hingga kini menjadi rujukan para mahasiswa IAIN/UIN di seluruh Indonesia juga para peminat teologi Islam.

“Selama menjadi rektor (1973-1984) dan setelahnya sampai tahun 1990-an sebagai Direktur pada program studi lanjutan pertama yang dibuka di IAIN Jakarta, Harun mengembangkan pemikiran Islam rasional dan menjadikan program S1 dan pasca sarjana IAIN Jakarta sebagai agen pembaharuan pemikiran dalam Islam dan tempat penyemaian gagasan-gagasan keislaman yang baru.”

Dalam buku itu juga disebutkan bahwa Harun berusaha melakukan pembaruan terhadap pengajaran keagamaan yang sangat normatif dan terpaku pada salah satu paham atau aliran pemikiran serta sangat fikih oriented. Pembaruan Islam perlu dilakukan karena masalah umat Islam Indonesia sampai saat ini adalah kurang berkembangnya pandangan pluralistik atau penghargaan atas perbedaan di kalangan umat.

Untuk mengenang jasanya dalam peningkatan kualitas pendidikan tinggi dan persemaian pembaruan Islam di kampus itu, namanya kini diabadikan menjadi nama salah satu gedung: Auditorium Utama Prof. Dr. Harun Nasution UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Kiprah Harun tak hanya sebatas di lingkungan kampus. Lewat berbagai gagasan dan karyanya ia menjadi tokoh garda depan kemajuan Islam Indonesia yang menyokong pengembangan budaya keagamaan yang rasional dan moderat. [Rifki]

Komentar