Home » Sosok » KH Ahmad Rifai: Kyai yang Melawan Penjajahan Tanpa Kekerasan (2)
KH. Ahmad Rifa'i dikukuhkan sebagai Pahlawan Nasional pada 2004

KH Ahmad Rifai: Kyai yang Melawan Penjajahan Tanpa Kekerasan (2)

OLEH MUHAMMAD HUSNIL

Sejarah Islam Nusantara sangat luas. Ada banyak tokoh, gerakan atau peristiwa keislaman di Nusantara di abad-abad sebelum kemerdekaan Indonesia yang selama ini tidak diketahui dan dipahami masyarakat. Kali ini Madina menurunkan tulisan berseri dari Muhammad Husnil tentang K.H. Ahmad Rifai, seorang kyai di Jawa Tengah pada abad 19 yang melawan kejahatan Belanda dan kemunafikan priyai dan penghulu melalui tarikat.

Sempitnya penjara tak membuatnya kapok untuk sengit kepada Belanda. Tak memfatwakan perlawanan fisik. Dia diasingkan ke Ambon dan wafat di tanah Celebes.

Begitu pulang dari Makkah dan melihat kondisi di tanah air yang tak banyak berubah sejak 1833, kebencian K.H. Rifai kepada Belanda dan kaki tangannya semakin tebal. Saat itu dia kembali mengajar di almamater dan pesantren milik kakak iparnya, K.H. Hasyim Asyari, di Kaliwungu. Tak kapok dengan pengalaman penjaranya sebelum berangkat haji, dia tetap menyerukan sikap untuk memusuhi mereka. Akibatnya, dua kali dia dijebloskan ke jeruji besi; pertama di Kendal, kedua di Semarang. Kelar dengan hukumannya, K.H. Rifai memilih pindah ke daerah pedesaan di Kalisalak, Batang, Pekalongan, Jawa Tengah.

Di sana dia membangun pesantrennya sambil tetap menulis. Meski membenci Belanda, gerakan K.H. Ahmad Rifai ini tak menimbulkan gerakan perlawanan fisik seperti halnya H. Abdul Karim, Haji Tb. Ismail, dan lainnya dalam perlawanan petani di Banten pada 1888. Gerakan Rifaiyah ini memusuhi mereka dengan cara menjauhi mereka. Bahkan, meskipun “Perang Sabil”, salah satu mantra yang kerap terdengar dalam Perang Jawa, disebutkan dalam kitabnya, Nazam Wikayah, dia tetap tak menghendaki perlawanan fisik:

Slamete dunya akherat wajib kinira// nglawan raja kafir sekuasane kafikira

tur perang sabil lewih kadene ukara //kacukupan tan kanti akeh bala kuncara

Keselamatan dunia-akhirat wajib diperhitungkan// melawan raja kafir semampunya perlu dipikirkan

Juga perang sabil lebih dari pada ucapan// cukup tidak menggunakan pasukan yang besar

Karena kecenderungannya untuk menghindari pemerintah Belanda itulah kebanyakan pusat kegiatan Rifaiyah terletak di daerah pedesaan, seperti Kalisalak, Batang, Jawa Tengah. Terletak di pedalaman dan jauh dari pemerintah justru membuat gerakan Rifaiyah lebih kukuh. “Akibatnya, ia memiliki keleluasaan untuk mengobarkan sikap anti-pemerintah, bahkan mampu membentuk kekuatan rakyat kecil, yakni santri Kalisalak dengan cirinya melakukan isolasi dengan kebudayaan kota yang berbau pemerintah,” tulis Djamil.

Di Kalisalak ini dia menekuni pengajiannya dan menulis ajaran-ajarannya. Dalam kitab-kitabnya, ia semakin tajam menyerang pemerintah. Dalam Abyan Hawaij, ia menulis:

Ratu Islam maring raja kafir anutan// Bupati Demang Ngawula asih-asihan

Maring raja kafir anut parintahan//

Ratu Islam menganut raja kafir// Bupati, Demang sama-sama mengabdi

Kepada raja kafir seraya mengikuti perintahnya//

Selain menulis kitab, Ahmad Rifai juga menulis surat teguran keras kepada bupati dan pemimpin agama. Dia mulai kebanjiran santri yang datang dari berbagai daerah. Dengan menyebutkan secara subur kata-kata kafir, fasik, zalim dalam kitab-kitabnya yang ditujukan kepada Pemerintah Belanda dan para pembantunya, K.H. Rifai membuat pemerintah gerah.

Empat kali Residen Pekalongan, Franciscus Netscher melaporkan secara rahasia kegiatan Rifai ini kepada Gubernur Jenderal Duymaer van Twist dan kemudian Gubernur Jenderal Charles Ferdinand Pahud. Franciscus juga meminta Rifai diasingkan, tapi pemerintah enggan menanggapi permintaan ini karena tak memenuhi syarat. Selain Franciscus, beberapa pejabat Bumiputera juga melaporkan hal yang sama. Wedana Kalisalak, misalnya, melaporkan kepada Bupati Batang tentang pengajian K.H. Rifai yang makin banyak pengunjung dari berbagai daerah tanpa melalui izinnya. Tak lupa, mereka menyertakan kitab-kitab anggitan K.H. Rifai yang berisi penolakan terhadap Belanda. Tak serta merta laporan-laporan ini membuat Kyai Rifai dipanggil.

“Namun, ketika Wedana Kalisalak dan atasannya, Bupati Batang, kembali mengajukan keluhan yang sama pada bulan April 1859 tentang keresahan yang ditimbulkan oleh Ahmad Ripangi terhadap komunitas Islam dan sikapnya yang tidak menghormati polisi setempat, pengadilan pun segera digelar,” tulis Michael Francis Laffan dalam Islamic Nationhood and Colonial Indonesia. K.H. Rifai dikenal juga dengan nama Ahmad Ripangi.

Demi memenuhi persyaratan pengasingan, tulis Adib dalam disertasinya, pada 6 Mei 1859 Franciscus memejahijaukan K.H. Rifai di Pengadilan Pekalongan. Pengadilan ini pula yang mengeluarkan surat keputusan tertanggal 19 Mei 1859 untuk pembuangannya ke Ambon, Maluku. Dalam surat keputusan itu pemerintah berkesimpulan bahwa K.H. Rifai mengajarkan Islam dengan semangat yang mengandung unsur permusuhan terhadap pemerintah Belanda. Dia dianggap mengganggu stabilitas negara. Bagaimana pun, dia seorang tokoh Islam populer. Pada 1881, Asisten Bupati Yogyakarta memperkirakan bahwa dalam puncak popularitasnya K.H. Rifai memiliki sekitar dua ribu pengikut. Dengan jumlah ini, kekhawatiran pemerintah Belanda sangatlah beralasan.

Maka, ia dijauhkan dari umatnya. Di Ambon, ia masih sempat menulis. Meski K.H. Rifai diasingkan, gerakan Rifaiyah tetap berkembang. Kitab karangannya tetap dikaji santri-santrinya. Dia tetap mengirimkan kitab-kitabnya ke Jawa. Ia juga berwasiat kepada menantunya, Kiai Maufuro, dan santrinya agar tak bekerja sama dengan Belanda dan pembantunya.

Beberapa tahun di Ambon, ia dipindahkan ke Sulawesi hingga akhir hayatnya pada 1870. Dia dikebumikan dalam kompleks makam Kyai Maja, di sebuah bukit sekitar satu km dari Kampung Jawa Tondano, Minahasa, Manado, Sulawesi Utara. Berkat semangat perlawanannya atas penjajahan ia diganjar Pahlawan Nasional pada 2004.[]

Komentar