Home » Sosok » Ketua Lesbumi-NU: ‘Bakar Patung di Purwakarta Tindakan yang Mengada-ada’
Patung Arjuna di Purwakarta yang tinggal kenangan

Ketua Lesbumi-NU: ‘Bakar Patung di Purwakarta Tindakan yang Mengada-ada’

Beberapa waktu lalu, pembakaran patung terjadi di Purwakarta. Patung Arjuna di kota itu dibakar kelompok massa yang tak jelas identitasnya.

Pembakaran ini sebenarnya bukan pertama kali terjadi. Pada 2011 ada empat patung dihancurkan. Yakni patung Semar dan Gatot Kaca yang berlokasi di Jalan Basuki Rahmat, patung Bima di Jalan Ibrahim Singadilaga, dan patung Antareja di Jalan RE Martadinata.

Ini semua terkait dengan ketidaksukaan kelompok-kelompok Islam atas Bupati Puwakarta Dedi Mulyadi. Sejak menelorkan kebijakan untuk membangun patung di beberapa ruang publik kota Purwakarta, Dedi  tidak henti dihujat oleh kelompok Islam radikal di kotanya.

Dedi berulangkali menyatakan, tujuannya membangun patung tersebut adalah untuk menghias kota Purwakarta agar bisa menjadi tempat rekreasi bagi warga Purwakarta. Bukan untuk disembah olah warganya.

Tapi para penghujat itu tidak mau tahu. Dedi dianggap sedang menyuburkan kemusyrikan. Bagi mereka, patung adalah simbol kemusyrikan. Mereka menganggap dalam Islam, melukis apalagi membuat patung sesuatu yang hidup adalah haram. Secara khusus Majelis Ulama Indonesia (MUI) Purwakarta mengirim surat kepada Dedi. MUI meminta agar Dedi menghancurkan patung-patung yang telah dibangun itu.

Dedi bergeming. Dia tetap mempertahankan patung-patung itu. Karena itulah aksi penghancuran patung ini terjadi.

Agus Sunyoto, Ketua Lembaga Seni Budaya Islam Nahdlatul Ulama (Lesbumi-NU), menyayangkan pembakaran patung-patung tersebut. Menurut Agus, terlalu berlebihan menganggap patung-patung itu akan dijadikan sesembahan. Karena dalam budaya Indonesia tidak ada tradisi menyembah patung.

Untuk mengetahui pendapatnya tentang pembakaran patung di Purwakarta dan bagaimana posisi patung dalam sejarah budaya dan agama di Indonesia, secara khusus Warsa Tarsono mewawancarai penulis buku Atlas Walisongo tersebut. Wawancara dilakukan melalui telepon pada Selasa (16/2). Berikut petikannya.

Belum lama ini patung Arjuna di Purwakarta dihancurkan oleh kelompok massa yang tak dikenal. Komentar Anda?

Mengada-ada. Takut menjadi musyrik? Musyrik apa? Sejak zaman Wali Songo mereka percaya tidak mungkin masyarakat Indonesia menyembah patung. Tidak ada tradisinya.

Di Jakarta banyak sekali patung. Dari yang dibuat pada masa Orde Baru, Orde Lama, bahkan zaman Belanda. Tidak ada satu pun dari berbagai patung itu yang disembah-sembah oleh masyarakat Jakarta. Tidak ada orang yang melakukan tabur bunga di situ. Tidak ada orang yang meminta-minta karamah di tempat patung-patung itu.

Saat ini bukan lagi zaman purba. Masyarakat memahami patung itu sebagai hiasan. Tidak lebih dari itu. Jadi, menurut saya, tindakan itu terlalu berlebihan.

Anda mengatakan di Indonesia tidak ada tradisi menyembah patung. Bisa Anda jelaskan lebih jauh?

Sebelum Islam masuk ke sini, masyarakat Indonesia adalah penganut agama Kapitayan. Agama Kapitayan adalah pemuja Dewa Sang Hyang Taya. Sang Hyang Taya itu digambarkan sebagai sesuatu  yang kosong, suwung, hampa. Tidak tergambarkan. Karena itu penganut agama Kapitayan kalau beribadah menghadap gua. Menghadap ke arah yang kosong.

Mereka membuat rumah ibadah yang mereka namakan sanggar. Sanggar itu seperti “langgar” (semacam surau, red.) yang kita kenal saat ini. Sebuah bangunan yang di dalamnya ada mihrab. Mereka beribadah menghadap ke mihrab tersebut, bukan ke arah  patung.

Sebelum Islam masuk, bukankah masyarakat Indonesia menganut agama Hindu atau Budha? Dan patung menjadi simbol sesembahan mereka?

Iya, ratusan tahun masyarakat Indonesia dikuasai oleh kerajaan yang beragama Hindu dan Budha. Tapi para penganut Hindu dan Budha itu hanya orang-orang kerajaan saja. Hanya orang-orang keraton saja. Rakyat kebanyakan tetap menganut agama Kapitayan. Mereka tidak mau menjadi Hindu atau Budha. Mereka tidak mau menyembah patung-patung.

Banyak patung dibuat saat itu, tapi tidak ada satu pun dari patung-patung itu yang mereka sembah. Masyarakat anggap hal itu sebagai hiasan saja.

Ketika datang ke sini, Islam menawarkan konsepsi Tuhan yang abstrak. Tuhan tidak berwujud dalam arti yang sifatnya material seperti bentuk patung dan sejenisnya. Karena itu Islam lebih cocok dengan masyarakat Indonesia. Itu yang membuat masyarakat Indonesia lebih mudah menerima Islam.

Selain dianggap sebagai simbol kemusyrikan, alasan penolakan patung oleh kalangan Islam puritan ini karena menggambar itu haram dalam Islam. Apalagi membuat patung makhluk hidup. Bagaimana pendapat Anda?

Itu cara berpikir Timur Tengah. Karena menemukan hadis yang melarang gambar manusia dan makhluk hidup, seniman di Timur Tengah hanya menghasilkan seni lukis diametral, geometri dan seterusnya seperti Kaligrafi dan semacamnya. Di Indonesia beda. Kita tidak seperti itu.

Nah, perdebatan terkait larangan menggambar manusia atau makhluk hidup itu juga terjadi saat zaman Wali Songo. Sunan Kalijaga, Sunan Giri, dan Sunan Bonang berdebat tentang itu. Dari situ terciptalah wayang. Mereka melakukan modifikasi dengan membuat gambar yang bukan gambar manusia. Hidung yang bukan seperti hidung manusia. Wajah yang tidak seperti wajah manusia.

Wayang bukan gambar manusia, tapi ketika itu dimainkan orang menganggap itu manusia. Nah, adaptasi seperti itu lumrah dilakukan. Apalagi sekarang zaman sudah berubah. Kalau gambar saja tidak boleh, bagaimana dengan gambar yang hidup seperti di video.

Para Wali tahu ada hadis yang melarang untuk membuat gambar makhluk hidup. Kenapa mereka tetap menyiasatinya dengan membuat wayang walaupun tidak persis menyerupai manusia?

Kita tidak bisa menceritakan sesuatu yang tidak ada bentuknya. Selalu dibutuhkan ada gambaran-gambaran. Nah, para Wali mencoba untuk menciptakan figur-figur sebagai contoh orang yang baik atau buruk melalui tokoh-tokoh wayang itu. Jadi, selalu diperlukan gambaran-gambaran untuk mewakili  sesuatu yang abstrak.

Jadi, menurut Anda, tidak relevan lagi melarang umat Islam menggambar makhluk hidup?

Faktanya kita sulit menolak itu. Kita menonton televisi, bioskop, membuat rekaman dan film. Itu gambar yang hidup bukan lukisan lagi. Masih mau kita tolak? Kalau kita tolak, habis kita secara peradaban.

Kembali ke masalah pembakaran patung, menurut Anda, siapa kira-kira pelakunya dan dari kelompok mana?

Yang mempunyai kebiasaan menghancurkan simbol-simbol kebudayaan saat ini adalah Islamic State of Iraq and Syiria (ISIS). Mereka yang menghancurkan museum di Iraq dan tempat-tempat lainnya. Mungkin pelaku itu para simpatisan ISIS.[]

Komentar