Home » Slide » Haji untuk Memuliakan Perempuan
Foto: ikasatibasa.wordpress.com

Haji untuk Memuliakan Perempuan

Oleh Achmad Rifki.

Jemaah haji dari berbagai negara mulai berdatangan ke Tanah Suci. Ibadah tahunan bagi umat Islam yang ‘mampu’ ini tak bisa kita lepaskan dari sejarah seorang perempuan. Bahkan bisa dikatakan bahwa salah satu tujuan haji untuk mengenang seorang perempuan budak berkulit hitam asal Ethiopia.

Namanya Siti Hajar. Sejarah hidupnya diabadikan dengan bangunan yang terletak di sebelah utara Ka’bah bernama Hijir Ismail. Tiap orang yang melaksanakan tawaf tak boleh melewatkan bangunan yang berbentuk tembok rendah setengah lingkaran itu atau biasa disebut juga Al-Hatim. Mengelilinggi Ka’bah (tawaf) menjadi tak absah jika tidak diikuti dengan memutari Hijir Ismail.

Hijir Ismail adalah tempat Hajar merawat dan membesarkan anaknya, Nabi Ismail. Dulunya bangunan dari batang kayu yang beratap pelepah itu dibangun Nabi Ibrahim untuk tempat tinggal dan berteduh mereka.

Budak atau hamba sahaya yang acapkali dipandang orang paling rendahan, manusia setengah hewan yang boleh diperlakukan apa saja, ternyata memiliki tempat khusus di sisi Allah. Hanya Hajar dan Ismail yang dikebumikan di sebelah pusat arah kiblat umat Islam sedunia itu. Hajar (juga Ismail) adalah ‘tetangga’ Allah di Rumah Suci-Nya.

Tapi sebaliknya, di Kota Suci itu banyak tenaga kerja wanita (TKW) dari Indonesia maupun negara lain malah diperlakukan seperti budak oleh majikan mereka. Mereka tak hanya disiksa, tapi juga ada yang diperkosa. Bahkan tak sedikit jemaah haji perempuan pun mengalami kekerasan seksual saat menunaikan rukun Islam kelima itu (baca: Kekerasan Seksual telah Mengusik Kesucian Haji).  

Laku Hajar, Rukun Haji

Hajar adalah seorang budak Sarah, istri Nabi Ibrahim. Selama bertahun-tahun Ibrahim-Sarah belum juga mempunyai anak. Ibrahim kemudian menikahi Hajar atas persetujuan Sarah. Hajar pun menerima pinangan Ibrahim. Dari pernikahan ini lahirlah Ismail.

Kelahiran Ismail disambut suka dan duka. Ibrahim juga Hajar sangat senang dengan kehadiran Ismail. Tapi tak demikian dengan Sarah. Ia kemudian meminta Ibrahim untuk memindahkan Sarah ke daerah lain yang jauh dari tempat tinggal mereka.

Ibrahim membawa Hajar dan Ismail yang masih sangat belia ke hamparan padang pasir. Sebuah bukit yang tandus dan tak ada sumber air. Tak ada tanda-tanda kehidupan di situ. Mirip lembah maut.

Ibrahim meninggalkan Hajar dan Ismail di tempat itu dengan bekal ala kadarnya. Sebelum pergi Ibrahim mendirikan sebuah pondok darurat yang kini tempat itu bernama Hijir Ismail atau Al-Hatim.

Hajar sangat sedih saat Ibrahim hendak meninggalkan mereka berdua di daerah asing dan tak berpenghuni itu. Hajar berulangkali mengungkapkan kepedihannya kepada Ibrahim. Tapi Ibrahim tetap bergeming.

Saat Hajar bertanya kembali, “Apakah ini perintah dari Allah?” Dengan singkat dan lugas, Ibrahim menjawab: “Ya.” Hati Hajar seketika itu menjadi tenteram. Ia yakin Allah melindungi dirinya dan buah hatinya.

Ibrahim memasrahkan kehidupan anak dan istrinya kepada Allah. Dalam perjalanan pulang ia berdoa: ”Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati. Ya Tuhan kami, (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat. Maka, jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan berilah mereka rezeki dari buah-buahan. Mudah-mudahan mereka bersyukur.” (Q.S. Ibrahim [14]: 37).

Di bawah terik matahari yang menyengat di hamparan sahara, saat perbekalan habis, kerongkongan Hajar dan Ismail sangat kering. Ismail menangis dan meronta lantaran dahaga luar biasa. Untuk bertahan hidup Hajar harus mencari air untuk dirinya dan anaknya. Taruhannya ajal bagi keduanya jika tak menemukan air minum. Keadaan ini tak membuat Hajar menyerah pada maut.

Sengatan terik di hamparan padang pasir menciptakan bayangan genangan air (fatamorgana). Hajar berlari untuk menghampiri fatamorgana itu. Ia bolak-balik dari Bukit Safa ke Bukit Marwa dan sebaliknya.

Jika berada di Bukit Safa, fatamorgana itu terlihat di Bukit Marwa. Begitu pun sebaliknya. Berkali-kali ia bolak-balik tapi yang ia jumpai hanya fatamorgana. Tak juga ada aliran air yang sebenarnya.

Saat ketujuh kali, peristiwa menakjubkan terjadi. Hentakan kaki Ismail yang sedang menangis dengan keras itu menciptakan mata air (Zam-zam). Dengan itu dimulailah kehidupan baru. Sampai kini, mata air Zam-zam terus mengalirkan air.

Peristiwa ini diabadikan dalam salah satu rukun haji: Sa’i. Yaitu, berjalan dan berlari-lari kecil bolak-balik dari Safa dan Marwa dan sebaliknya sebanyak tujuh kali. Ritual ini adalah tapak tilas laku Hajar.

Darinya banyak pelajaran yang dapat kita petik. Pertama, perempuan bukan manusia lemah. Hajar adalah simbol perjuangan bahkan kepemimpinan seorang perempuan dan ibu. Di pangkuan Hajar, Ismail ia besarkan seorang diri di hamparan padang pasir yang tak berpenghuni. Ismail kemudian tumbuh menjadi remaja yang tampan, cerdas, pemberani, dan saleh.

Kedua, cinta kasih seorang ibu yang tiada tara terhadap anaknya. Hajar tak henti ‘bekerja’ keras –walau ia yakin Allah akan melindungi dan membantunya– untuk mencari makan, merawat, membesarkan, dan mendidik anaknya seorang diri. Ismail tumbuh dengan kasih sayang.

Ketiga, tak ada beda laki-laki dan perempuan di hadapan Allah. Tak ada posisi tinggi-rendah, sebagaimana dalam berbagai ritual haji semuanya lebur. Setara. Hanya kadar keimanan, takwa, dan kepasrahan diri pembedanya.

Keempat, penghormatan terhadap perempuan bahkan budak. Cendekiawan Muslim asal Iran, Ali Syariati, dalam bukunya Hajj: Reflection on Its Rituals menulis: “Di antara semua manusia Dia memilih perempuan. Di antara semua perempuan Dia memilih seorang budak. Di antara semua budak, seorang sahaya yang berkulit hitam.”

Allah begitu memuliakan perempuan dan Hajar menjadi salah satu contoh paling nyata.***

 

 

Komentar