Home » Sosok » Candra Malik: “Tidak Pernah Ada Larangan Hari Valentine dalam Islam”

Candra Malik: “Tidak Pernah Ada Larangan Hari Valentine dalam Islam”

Tiap jelang Valentine, 14 Februari, media sosial selalu ramai dengan perdebatan seputar haram tidaknya hari cinta dan kasih sayang ini bagi umat Islam. Sebagian ulama memang mengharamkanya seperti Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Malang.

Melalui Surat Edaran yang dikeluarkan 9 Februari lalu, MUI Kota Malang melarang umat Islam merayakan Valentine. Alasannya, perayaan Valentine dianggap tidak sesuai dengan ajaran Islam dan mengarah ke seks bebas. Ada pula yang menganggap perayaan Valentine bisa menghancurkan generasi muda dan meniru perbuatan setan dengan menghamburkan uang untuk membeli suatu barang sebagai tanda cinta.  

Hal ini mendapat respons dari Candra Malik, pengasuh Pesantren Asy-Syahada, Karanganyar, Jawa Tengah. Menurut penulis buku ‘Makrifat Cinta’ dan pemilik album musik ‘Kidung Sufi Samudera Cinta’ ini, alih-alih haram perayaan ini justru bisa menjadi kesempatan untuk mensyiarkan ajaran Islam yang penuh dengan ajaran cinta dan kasih sayang.

Berikut petikan wawancara Madina Online via telepon dengan Wakil Ketua Pengurus Pusat Lembaga Seni Budaya Muslim Indonesia, Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PP Lesbumi, PBNU) ini, Rabu (10/02):

 Menurut Anda, bagaimana umat Islam mesti menyikapi Hari Cinta (Valentine)?

Tiap umat itu sesungguhnya mempunyai hari raya masing-masing. Ketika hari raya itu mereka diberi keleluasaan oleh ajaran agama atau keyakinannya untuk merayakan hal itu. Kita harus menghormati perayaan-perayaan dari keyakinan-keyakinan yang berbeda-beda itu.

Cinta itu selayaknya dirayakan setiap saat oleh siapapun. Masih lebih baik ada hari perayaaan cinta, bukan hari perayaan benci. Jadi, silakan saja bagi mereka yang berkeyakinan Hari Raya Valentine layak dirayakan. Dan silakan juga bagi mereka yang berkeyakinan berbeda: tidak merayakan Valentine.

Yang jelas dalam Al-Quran maupun sunnah Rasul tidak ada larangan yang secara langsung menyatakan bahwa kita tidak boleh ikut senang dalam perayaan keyakinan orang lain. Yang penting bukan terlibat dalam ritual keagamaan atau ibadahnya. Lebih dari itu, hal ini hanya masalah hubungan antarmanusia saja.

Valentine atau bukan kita bisa merayakan cinta setiap saat. Kalaupun kita terlibat dalam kegembiraan masyarakat yang memiliki pandangan lain, dalam hal ini Valentine, tidak ada yang salah di situ.

Ada sebagian ulama yang berpendapat bahwa merayakan Valentine itu bid’ah bahkan ada yang mengeluarkan fatwa haram. Perayaan itu dianggap lekat dengan seks bebas, minum-minuman keras, meniru orang kafir, dan menghamburkan uang untuk membeli suatu barang sebagai tanda cinta. Komentar Anda?

Saya pikir, kurang bijaksana seandainya pemuka agama tertentu kemudian menghakimi keagamaan atau keyakinan lain berdasarkan sudut pandangnya saja. Kita juga harus memahami bagaimana sebuah agama atau ajaran keyakinan yang berbeda itu memiliki corak pandangnya sendiri-sendiri.

Kita boleh curiga terhadap suatu hal. Misalnya, bahwa sebuah perayaan akan cenderung negatif dengan seks bebas atau minuman keras atau hal lain. Tapi kita juga layak berprasangka baik bahwa tidak setiap perayaan selalu harus berarti kegembiraan yang terlalu berlebihan sampai lupa diri. Kembali lagi pada diri masing-masing bagaimana kita menjaga moralitas kita.

Kita juga harus memahami peran ulama di situ sebagai garda penjaga umat dan agama. Beliau-beliau ini memang berpendapat di wilayah itu. Sifatnya lebih pada persuasif. Mengantisipasi hal-hal buruk. Jangan pula kita kemudian meng-counter balik ulama sebagai pihak yang kurang bijaksana.

Kembali kepada kita, apakah kita akan mengambil fatwa-fatwa dari ulama itu sebagai pegangan atau kita kembali ke fatwa yang kita ambil dari hati nurani kita sendiri. Yang jelas posisi ulama di situ hanya mengingatkan saja bahwa setiap kebaikan itu mengandung keburukan. Dan setiap keburukan juga ada kebaikannya. Tinggal bagaimana kita mengambil hikmah dari masing-masing hal itu.

Di tengah Islamophobia lantaran maraknya aksi terorisme atas nama Islam, apakah agama ini mempunyai ajaran tentang cinta dan kasih sayang? Apakah Islam dekat dengan tradisi cinta kasih?  

Dalam Al-Quran (Surah Al-An’am [6]: 54, red.) disebutkan “Allah menetapkan atas diri-Nya kasih sayang”. Dalam hadis qudsi, firman Allah yang redaksionalnya disampaikan Rasulullah dengan kearifannya sendiri, disebutkan “Sesungguhnya rahmat-Ku melampaui kemurkaan-Ku”.

Setiap ayat yang kita baca dari berbagai surah Al-Quran selalu diawali dengan kalimat basmalah: “Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang”. Bahkan dalam Al-Quran (Surah Al-Anbiya [21]: 107, red.) juga disebutkan bahwa “Tidaklah Kami mengutusmu (Rasulullah) ke muka bumi ini selain menjadi rahmat bagi alam semesta (rahmatan lil ‘alamin)”.

Artinya, cinta kasih atau kasih sayang itu sesungguhnya sangat penting dan menjadi unsur yang paling utama dari ajaran Islam.

Menariknya, kehadiran Rasulullah ini sebagai rahmat bagi alam semesta. Bukan hanya rahmat untuk bagi orang-orang Islam (rahmatan lil muslimin) atau kamu beriman (rahmatan lil mukminin). Tapi rahmat bagi siapapun, bagi sekalian alam. Dengan ini seharusnya Islam dewasa dalam menempatkan diri, menghormati keyakinan yang berbeda, dan hadir di tengah-tengah mereka sebagai rahmat.

Kita tiap saat diminta oleh Allah dan Rasulullah untuk mewujudkan cinta kasih kita kepada setiap manusia. Dalam sebuah hadis Rasulullah pernah mengatakan, “Tidaklah sempurna iman atau cintamu sampai engkau mencintai orang lain sebagaimana engkau mencintai dirimu sendiri.” Itu luar biasa.

 Jadi, umat Islam sah-sah saja ikut merayakan hari cinta dan kasih sayang ini?

Kita sah-sah saja hadir di tengah-tengah kegembiraan umat agama lain. Di situ kita menjadi cahaya penerang bahwa Islam hadir sebagai cahaya. Tidak memilih siapapun untuk diberi cahaya. Cahaya ini sifatnya sangat universal. Menerangi.

Yang saya heran adalah sebagian teman-teman kita justru sibuk membid’ah-bid’ahkan atau mengkafir-kafirkan golongan lain, bahkan memurtad-murtadkan yang sudah memeluk Islam. Padahal di zaman Rasulullah, beliau beserta para sahabat susah-payah mengislamkan orang lain. Nah, sekarang giliran orang sudah Islam mengapa harus dikafir-kafirkan atau dimurtad-murtadkan?

Ranah kita di wilayah dakwah. Sedangkan Allah itu di wilayah hidayah. Jika pun kemudian seseorang mendapatkan hidayah itu semata-mata karena Allah saja. Kita di wilayah proses, bukan hasil. Jadi, serahkan hasilnya kepada Allah. Kita hanya berdakwah dengan cara yang baik.

Dakwah itu merangkul, bukan memukul. Dakwah itu mengajak bukan mengejek. Dakwah itu dengan menjadi teman bukan menjadi lawan. Dakwah itu menyenangkan bukan menegangkan. Hal-hal seperti ini yang harus terus-menerus kita syiarkan. Sehingga mereka yang merayakan Valentine pun masih merasakan Islam sebagai agama yang rahmatan lil alamin.

Janganlah kemudian kita takut-takuti, gerebek, dan kita pukuli. Kita agama penyempurna. Kalau kita mengimani bahwa kita agama yang paling benar, paling diradhai Allah, maka janganlah kemudian kita melakukan amar makruf tapi dengan cara-cara yang munkar.

Apa pesan Anda untuk sebagian umat Islam yang ikut merayakan hari cinta dan kasih sayang ini?

Kalau kita menganggap bahwa hari-hari tertentu itu sebagai kesempatan untuk berdakwah, kita bisa manfaatkan untuk syiar bahwa ajaran Islam penuh dengan ajaran kasih sayang. Walaupun tanpa hari tertentu pun sudah menjadi kewajiban umat Islam untuk mengabarkannya.

Jadi, silakan merayakan cinta dan kasih sayang dengan tetap berpegang pada ajaran-ajaran Islam. Sampaikan kepada mereka bahwa Allah itu Maha Pengasih, Maha Penyayang, Maha Baik. Dan Nabi Muhammad itu hadir di muka bumi sebagai rahmat bagi alam semesta.[]

Komentar