Home » Sosok » Husein Muhammad: “Belum Ada Pengganti Gus Dur…”
Haul ke 6 Gus Dur. Foto: liputan6.com

Husein Muhammad: “Belum Ada Pengganti Gus Dur…”

Per-tanggal 30 Desember 2015, KH. Abdurrahman Wahid atau yang akrab disapa Gus Dur sudah enam tahun meninggal dunia. Meski demikian, mantan Presiden RI keempat itu masih dikenang dan terus dibicarakan pemikirannya, laku hidupnya, dan cita-citanya, baik oleh keluarga, terutama anak-anaknya, para sahabat, dan para pengikutnya.

Salah satu sahabat Gus Dur yang terus menggali pelajaran dari mantan Ketua PBNU itu adalah KH. Husein Muhammad. Hasil upaya KH. Husein itu kemudian ia bukukan dalam dua judul buku. Pertama, ‘Sang Zahid: Mengarungi Sufisme Gus Dur’ (2012). Kedua dan yang terbaru adalah ‘Gus Dur dalam Obrolan Gus Mus’ (2015).

Salah satu kelebihan karya KH. Husein itu adalah selalu terselip cerita-cerita tentang Gus Dur, baik yang ia alami sendiri maupun dari pengalaman orang lain. Walhasil, apa yang ditulis KH. Husein tentang Gus Dur itu terasa lebih hidup dan punya warna. Tidak seperti umumnya buku-buku yang ditulis pengamat dari dalam maupun luar negeri yang terasa kering dan tidak ada sentuhan personal.

Perjumpaan KH. Husein dengan Gus Dur pertama kali terjadi saat keduanya menghadiri satu pertemuan di Magelang pada 1988. Usai pertemuan itu, hubungan Anggota Komnas Perempuan itu dengan Gus Dur semakin dekat. Bersama Gus Dur dan istrinya, Sinta Nuriyah, KH. Husein mendirikan Yayasan Puan Amal Hayati sejak 1997. Dan sudah tujuh tahun KH. Husein mengisi pengajian di rumah Gus Dur di Ciganjur sebulan sekali.

Bagaimana pandangan KH. Husein tentang Gus Dur? Dan apa cita-cita Gus Dur yang menurut KH. Husein belum diterjemahkan oleh pengagumnya sampai saat ini? Berikut wawancara redaktur Madina Online Irwan Amrizal dengan penerima penghargaan “Heroes to End Modern-Day Slavery” dari Pemerintah Amerika Serikat pada 2006 itu. Wawancara ini dilakukan pada Rabu (30/12) via telepon.

Anda dikenal sebagai salah seorang yang cukup dekat dengan Gus Dur. Sepanjang persahabatan dengan Gus Dur, apa hal yang tidak bisa Anda lupakan dari sosok Gus Dur?

Saya pernah menyampaikan pandangan saya tentang Gus Dur di berbagai kesempatan. Pandangan saya ini karena pergaulan saya dengan Gus Dur yang cukup panjang, termasuk dengan istri dan anak-anaknya. Kebetulan di keluarga Gus Dur saya memberikan pengajian sebulan sekali. Selesai pengajian biasanya saya menginap di rumah Gus Dur. Saya pun sering bertemu dengan Gus Dur sebagai sesama narasumber untuk memberikan ceramah di forum seminar dan lainnya.

Menurut saya, yang paling menarik dari sosok Gus Dur adalah ia orang yang tulus dalam menjalani hidupnya untuk memperjuangkan apa yang ia cita-citakan bagi perubahan sosial di tengah masyarakat. Ia tidak dikenal hanya di Indonesia, tapi juga di dunia. Ia bergaul dengan banyak orang dan pandangan-pandangannya juga menarik bagi banyak orang.

Dengan kata lain, Gus Dur adalah salah satu tokoh istimewa yang pernah Indonesia miliki, ya?

Iya. Kalau mau bicara agak lebih panjang, saya punya catatan banyak terkait kelebihan Gus Dur bila dibandingkan dengan tokoh-tokoh lain. Mungkin ini karena saya tidak punya informasi tentang tokoh-tokoh itu.

Menurut Anda, seperti apa kelebihan Gus Dur?

Kebersahajaannya. Keluasan pengetahuannya. Penghormatannya kepada siapa saja. Penghargaannya tidak saja pada orang-orang yang masih hidup, anak-anak, petani, pedagang. Siapa saja yang menemuinya ia terima dengan tangan terbuka dan selalu memberikan harapan-harapan yang baik serta tidak pernah mengecewakan orang yang mendatanginya.

Selain itu, gagasan-gagasan besarnya tentu banyak sekali. Ada banyak hal yang semula, saya kira, pikiran Gus Dur itu punya batasannya. Tapi semakin saya mendalami pikiran dan bergaul dengannya, pikirannya sangat luar biasa. Seakan-akan Gus Dur itu memadukan antara cara pandang filsafat dan sufisme.

Jadi, Gus Dur itu seperti seorang filsuf-sufi. Meskipun bahasa-bahasa yang ia gunakan Gus Dur tidak seperti filsuf maupun sufi-sufi yang sangat indah itu.

Bagi sebagian orang, kesan seorang filsuf, juga sufi, adalah sosok yang bahasanya susah dicerna dan dipahami. Lalu, bagaimana Gus Dur yang punya predikat sebagai filsuf-sufi bisa dikenal dan diterima beragam kalangan, termasuk rakyat jelata?

Inilah yang menarik bagi saya. Bagaimana Gus Dur itu bisa berbicara dengan segala level dengan menempatkan diri pada siapa dia berbicara. Seperti yang biasa saya sampaikan di berbagai kesempatan, Gus Dur itu sangat mengamalkan ajaran Nabi. Yaitu, “Berbicaralah dengan orang sesuai apa yang ia pahami” (Haditsun nassa bima ya’rifun). Hadis ini juga banyak dipegang oleh sufi-sufi besar.

Sayangnya, di era keterbukaan informasi yang terjadi di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir, banyak pernyataan Gus Dur ketika berbicara di kelompok tertentu yang level pemikirannya seperti filsuf, kemudian diketahui banyak orang. Ditulis wartawan dan masuk media lalu menimbulkan kontroversi.

Daripada berbicara di media untuk mengklarifikasi penyataan-pernyataannya yang dianggap kontroversial, Gus Dur lebih memilih menemui umat dan para kiai untuk menjelaskan apa yang ia maksudkan dengan pernyataan-pernyataannya itu. Tentu apa yang Gus Dur sampaikan kepada umat dan kiai-kiai tadi disesuaikan dengan pemahaman mereka masing-masing.

Umat, khususnya para kiai, awalnya memprotes, menggugat, dan menyayangkan pernyataan Gus Dur yang dianggap kontroversial itu. Tapi Gus Dur menemui umat dan para kiai untuk menjelaskan maksud yang sebenarnya. Ini yang saya alami sendiri di pondok pesantren saya.

Bisa Anda ceritakan lebih detail terkait hal ini?

Saat itu para kiai yang hadir di pesantren saya ingin memprotes Gus Dur terkait pernyataan-pernyataannya yang kontroversial. Para kiai itu ingin memprotes kepada Gus Dur secara langsung. Saat itu di pesantren saya sedang ada acara dan Gus Dur salah satu yang diundang. Sebagai panitia, saya ditugaskan untuk menjemput dan menemani Gus Dur selama acara.

Sebelum Gus Dur hadir, para kiai itu berencana akan mengatakan begini dan begitu kepada Gus Dur dan ingin menunjukkan bahwa dalil Gus Dur itu salah. Intinya, Gus Dur itu ingin diadili.

Saat acara dimulai, moderator merangkum semua pernyataan Gus Dur yang dianggap kontoversial. Seperti pernyataan bahwa Assalamu alaikum itu bisa diganti dengan selamat pagi; tentang keinginan Gus Dur membuka hubungan diplomatik Indonesia dengan Israel; pernah menjadi Ketua Dewan Kesenian Jakarta; pemihakannya kepada kelompok minoritas; dan banyak isu lainnya yang tidak bisa saya sebutkan satu per-satu.

Ketika diberi kesempatan berbicara, Gus Dur seakan sudah mengerti apa yang hendak ditanyakan oleh para kiai yang hadir. Untuk mengklarifikasi pernyataan-pernyataannya yang dianggap kontroversial itu, Gus Dur di awal-awal menjelaskan situasi dunia. Kemudian beliau menjelaskan situasi nasional, khususnya politik. Baru Gus Dur menjawab pernyataannya yang dianggap kontroversial.

Tentu saya tidak menjelaskan satu per-satu apa yang disampaikan Gus Dur untuk mengklarifikasi pernyataan kontroversialnya itu. Tapi yang membuat saya tidak habis pikir, setelah Gus Dur bicara tidak ada satu pun dari puluhan kiai yang hadir saat itu yang berbicara. Seakan-akan para kiai itu terhipnotis dengan apa yang disampaikan Gus Dur itu. Entah karena para kiai itu paham atau tidak paham. Saya tidak tahu. Wallahu a’lam.

Jadi, kesempatan yang semula dijadikan semacam forum “pengadilan” untuk Gus Dur itu berubah, ya?

Maksud berubah tentu saja adalah para kiai tadi tidak lagi menggugat dan menyalahkan Gus Dur. Sekurangnya diam.

Setahu Anda, apakah situasi di mana Gus Dur seolah membalik keadaan seperti di atas terjadi lebih dari sekali?

Di berbagai pertemuan, Gus Dur juga seperti itu. Jadi, para kiai yang ingin memprotes penyataan kontroversial Gus Dur sudah membawa beberapa kitab kuning yang ingin ditunjukkan untuk menyanggah pendapat Gus Dur. Ketika mengklarifikasi pernyataannya yang dianggap kontroversial itu, Gus Dur menyebut beberapa kitab yang tidak dikenal para kiai itu. Nama pengarang kitab itu pun tidak dikenal para kiai tadi.

Gus Dur juga meluruskan pengertian istilah-istilah yang umum digunakan tapi keliru pengertiannya. Nama pengarang kitab yang Gus Dur sebutkan itu, ia terangkan selintas biografinya, pemikirannya, dan aliran keislamannya. Wah, luar biasa Gus Dur itu.

Tapi tergantung juga dengan konteksnya. Kalau para kiai yang ingin mengklarifikasi, apa yang Gus Dur sampaikan disesuaikan dengan pemahaman para kiai tadi. Tergantung audiensnya.

Dalam pertemuan-pertemuan itu apakah Gus Dur mengubah pandangannya?

Gus Dur itu sebetulnya tidak ingin mengubah pernyataannya yang dianggap kontroversial itu. Tapi demi stabilitas dan ketenangan di tengah umat, Gus Dur menurut dengan apa yang disampaikan para kiai yang ia temui. Tapi esensi dari pernyataannya tidak ia ubah.

Jadi, walaupun Gus Dur merasa pernyataannya benar secara substansial, tapi secara sosial lebih memilih mengalah…

Iya, betul.

Anda juga pernah menulis buku ‘Sang Zahid: Mengarungi Sufisme Gus Dur’. Menurut Anda, sufisme Gus Dur itu seperti apa?

Ada dua pembagian terma sufisme atau tasawuf. Yaitu, tasawuf amali (tasawuf yang menekankan praktik ibadah, red.) dan tasawuf falsafi (kombinasi tasawuf dan filsafat, red.). Kalau saya membaca pikiran-pikiran Gus Dur yang elite itu, maka saya masukkan Gus Dur sebagai sufi falsafi. Pelopor sufi falsafi itu adalah Ibn ‘Arabi yang dikenal dengan pemikiran kesatuan wujud.

Tapi di dalam praktik-praktiknya, Gus Dur adalah seorang sufi amali. Karena itu saya sebut Gus Dur itu sebagai zahid. Kata ini punya makna yang beragam, tapi biasanya ditafsirkan para kiai sebagai orang yang membenci dunia dan meninggalkan aksesoris dan pakaian duniawi.

Berbeda dengan apa yang dipahami para kiai, menurut Gus Dur, zahid itu adalah orang yang mensyukuri kenikmatan duniawi yang Tuhan berikan, tapi hatinya tidak bergantung pada kenikmatan itu. Karena itu, ketika kenikmatan duniawi itu tidak ada lagi, sang zahid bisa menerima keadaan.

Karena pemahamannya itu, Gus Dur tidak pernah segan untuk memberikan apa yang dia punya. Misalnya, jika ada yang datang untuk menemui Gus Dur dan orang itu sedang membutuhkan uang, Gus Dur tanpa pikir panjang memberikan uangnya saat menjadi narasumber diskusi atau seminar kepada orang itu. Gus Dur itu sepertinya tidak pernah takut bila tidak punya uang.

Tapi bukankah Gus Dur punya rumah yang cukup luas di Ciganjur…

Saya sampai saat ini masih mengajar di sana. Dari hasil obrolan saya dengan keluarganya, Gus Dur itu sebenarnya tidak ingin punya rumah yang cukup luas itu. Gus Dur hanya ingin rumah yang sederhana. Tapi masyarakat kita masih melihat bahwa orang semakin terpandang jika rumahnya dianggap mewah. Selain itu, rumah itu dibuat luas agar bisa menampung banyak tamu yang sering menemui Gus Dur.

Nah, ketika rumah itu dibangun, Gus Dur tidak bicara. Gus Dur hanya diam saja. Karena Gus Dur tidak ingin menyakiti hati orang yang ingin membangun rumah itu.

Menurut Anda, sikap Gus Dur sebagai zahid itu tidak berubah meskipun Gus Dur menjadi presiden?

Tidak berubah. Baik ketika Gus Dur menjadi presiden maupun sebelum dan sesudahnya. Waktu menjadi presiden ada protokoler yang tidak bisa Gus Dur hindari. Mulai dari pakaian yang Gus Dur kenakan, mobil yang Gus Dur naiki, dan lain-lainnya.

Waktu Gus Dur menjadi presiden, saya sering diundang Gus Dur ke Istana Merdeka. Bahkan saya tidur di sana. Saat itu, saya melihat tidak ada yang berubah dari Gus Dur.

Sudah enam tahun Gus Dur meninggalkan kita. Apakah Anda melihat bahwa warisan Gus Dur seperti yang Anda sebutkan di awal perbincangan masih dirawat oleh bangsa Indonesia, khususnya kalangan Nahdliyin?

Tentu tergantung pada pilihan orang apa yang ia ambil dari nilai, prilaku, atau cara berpikir Gus Dur. Ada yang mengambil inspirasi dari Gus Dur karena pembelaannya kepada kelompok minoritas dan masyarakat yang terpinggirkan. Membela mereka tanpa melihat latar belakang mereka.

Gus Dur juga menginspirasi anak-anak muda yang belakangan disebut Gusdurian. Ada juga yang terinspirasi dengan ketulusan Gus Dur dalam menjalani hidup, baik ketika ada uang atau saat tidak ada uang. Kadang saking tulusnya, Gus Dur sering ditipu orang yang minta uang atau rekomendasi dari Gus Dur. Bagi Gus Dur, memberi itu ya memberi saja. Soal apakah orang yang meminta itu menipu, bagi Gus Dur, itu bukan urusan dia. Itu urusan orang itu dengan Tuhan.

Jadi, warisan Gus Dur itu masih dirawat oleh generasi setelahnya, ya?

Masih. Anak-anak muda NU, khususnya, masih merawat nilai-nilai yang Gus Dur wariskan.

Saya mau cerita sedikit. Ibu Sinta, istri Gus Dur pernah cerita ke saya bahwa suatu kali Gus Dur ingin pergi ke Surabaya. Ibu dan anak-anak Gus Dur tidak mengizinkan Gus Dur pergi malam itu karena tiket pesawat ke Surabaya sudah tidak ada lagi. Karena kondisinya begitu akhirnya Gus Dur menurut.

Besoknya tiket pesawat dapat dan Gus Dur pergi ke Surabaya. Belakangan diketahui Gus Dur pergi ke Surabaya hanya untuk menemui petani biasa, bukan petani besar. Rupanya, sebelumnya Gus Dur sudah berjanji kepada petani itu untuk berkunjung pas di hari itu. Bayangkan, Gus Dur pergi ke Surabaya hanya untuk menemui seorang petani biasa.

Sebelum meninggal, apakah Gus Dur pernah menyatakan ada obsesinya yang belum tercapai?

Secara eksplisit tidak pernah. Tapi beliau tampak sekali ingin mensejahterakan masyakarat bawah. Perantara untuk mewujudkan cita-cita Gus Dur ini, menurut saya, belum ada. Jadi, belum ada jembatan yang menerjemahkan gagasan besar Gus Dur tentang kesejahteraan masyarakat bawah.

Gagasan Gus Dur tentang kesejahteraan masyarakat bawah itu tidak lepas dari tanggungjawabnya kepada kalangan Nahdliyin yang secara umum adalah masyarakat bawah. Kalau digambarkan seperti piramida, bagian yang paling di bawah itu adalah kalangan Nahdliyin. Mereka yang hidupnya terbelakang dan masih susah.

Setahu Anda, gagasan kesejahteraan seperti apa yang ada dalam pandangan Gus Dur?

Sederhana saja. Rakyat itu harus makan. Rakyat itu harus punya rumah. Dan rakyat itu harus sekolah. Tiga hal itu adalah tiga basis kesejahteraan. Selanjutnya adalah kesehatan dan keamanan.

Konon pernah ada yang mencoba untuk menjembatani gagasan Gus Dur tentang kesejahteraan itu dengan mendirikan bank di daerah. Tapi belum ada jembatan yang setia, mampu, dan juga tulus.

Jadi, menurut Anda, belum ada kelompok yang mencoba untuk mengoperasionalisasi gagasan Gus Dur tentang kesejahteraan masyarakat bawah dengan tulus?

Memang tumbuh kelompok yang berupaya untuk memberdayakan kalangan NU di beberapa tempat. Tapi masih kecil-kecil. Di beberapa pesantren juga sudah mulai ada gerakan pemberdayaan ekonomi masyarakat. Namun sebagai satu sistem yang massif dan terorganisir belum ada. Masih bergerak di level individu-individu. Kadang-kadang juga bubar. Ada juga yang bikin koperasi, tapi belakangan bubar.

Kalau yang mengembangkan gagasan Gus Dur tentang berpikir merdeka dan toleransi sudah banyak. Salah satunya apa yang dilakukan Ulil (Ulil Abshar Abdalla, red.).

Menurut Anda, apa yang membuat Gus Dur punya kepedulian yang mendalam kepada masyarakat bawah?

Gus Dur itu sering berkunjung ke pelosok-pelosok. Dia bertemu dengan masyarakat jelata. Dari berbagai pertemuannya dengan masyarakat jelata, Gus Dur berpandangan bahwa mereka membutuhkan kehadiran seseorang yang seolah-olah membela mereka.

Mengapa Gus Dur suka berziarah ke makam-makam yang dikeramatkan? Selain menghormati tokoh-tokoh yang sudah meninggal itu, dengan berziarah Gus Dur melihat banyak masyarakat yang datang ke sana untuk mencari pengobat jiwanya agar, misalnya, mendapat berkah dan sebagainya. Karena bagi masyarakat bawah berziarah dianggap salah satu cara untuk meringankan beban hidupnya.

Dalam buku saya ‘Gus Dur dalam Obrolan Gus Mus’ saya ceritakan apa yang dilakukan Gus Dur saat berziarah. Bagi sebagian kelompok, apa yang dilakukan Gus Dur itu sering dituding musyrik. Tapi dilihat dari pendekatan kultural, kehadiran Gus Dur saat ziarah itu seperti menemani masyarakat bawah yang butuh pemimpin yang hadir dan mau membela mereka. Di sisi lain, Gus Dur mengajarkan bahwa semua hal itu berasal dari Allah dan kembali ke Allah. Itu yang dilakukan Gus Dur. []

Komentar