Home » Review » Berita » NU dan Muhammadiyah akan Gugat Gerakan Anti Syiah di Bogor

NU dan Muhammadiyah akan Gugat Gerakan Anti Syiah di Bogor

Pencatutan logo NU dan Muhammadiyah oleh Aliansi Nasional Anti-Syi’ah (Annas) bakal berbuntut panjang. Kedua ormas jangkar Islam moderat di Indonesia itu akan tidak tinggal diam dengan kelakuan buruk ormas intoleran itu. Langkah hukum pun akan ditempuh agar membuat kapok Annas dan ormas intoleran lainnya yang kerap kali mencatut logo dan nama besar NU dan Muhammadiyah.

Seperti diketahui, beberapa hari yang lalu tersebar undangan deklarasi dan pengukuhan pengurus ANNAS Bogor Raya. Dalam undangan itu disebutkan bahwa deklarasi dan pengukuhan itu akan berlangsung pada Minggu, (22/11), pukul 08.00 sampai 11.30 WIB, di Balai Kota Bogor.

Jumat kemarin (20/11) undangan itu mulai ramai tersebar di sosial media. Namun, dalam undangan itu disebutkan bahwa lokasi deklarasi dipindah ke Aula KONI Kota Bogor di Jalan Pemuda No. 4, GOR Padjajaran Bogor.

Dalam selebaran itu tampak sejumlah logo resmi ormas Islam terpasang. Seperti logo NU, Muhammadiyah, Al-Irsyad, Hidayatullah, MUI, Persis, Front Pembela Islam, Majelis Mujahidin, Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia, Forum Umat Islam, Majelis Az Zikra, dan lainnya.

Tampak juga foto Walikota Bogor Bima Arya Sugiarto dan Ketua Dewan Syuro Annas Bogor Didin Hafiduddin sebagai pembicara kunci.

Dalam konfirmasi yang dilakukan penggiat kebebasan beragama dan Ketua GP Anshor Kota Bogor terkait kehadiran Bima dalam acara itu, Bima menyatakan tidak akan menghadiri acara itu dan tidak akan mengirim perwakilannya. (baca: Bima Arya Tidak Mengizinkan Deklarasi Anti Syiah di Bogor).

Terkait pemasangan logo NU dalam undangan itu, Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Bogor sangat keberatan. Pasalnya, tujuan diselenggarakannya deklarasi itu adalah untuk menumbuhkan kebencian terhadap komunitas Muslim Syiah. Itu terlihat dari tema diskusi yang termasuk dalam deklarasi itu. Tema-tema itu adalah “Syiah Bukan Islam”, “Bahaya Syiah terhadap NKRI”, dan “Bahaya Syiah terhadap Umat Islam”.

Karena itu, Ketua PCNU Kota Bogor Ifan Haryanto mendesak agar Annas merevisi undangan yang terdapat logo NU itu. Sebab, Annas sudah mencatut nama NU itu sebagai bagian dari gerakan mereka.

Sebelumnya, dalam aksi deklarasi anti Syiah di Masjid Agung At-Taqwa Balikpapan pada Maret 2015 lalu, organisasi yang diketuai tokoh Wahabi KH Athian Ali itu juga mencatut nama NU. Padahal PCNU setempat sudah menegaskan menolak kegiatan tersebut.

“Jika Annas tidak merevisi undangan tersebut, PCNU Kota Bogor mempertimbangkan untuk melaporkan organisasi tersebut ke pihak yang berwajib,” kata Irfan seperti yang dikutip nu.or.id, Kamis (19/11) malam. (Lagi, ANNAS Catut NU untuk Musuhi Kelompok Lain).

Ketua Lembaga Penyuluhan dan Bantuan Hukum (LPBH) Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Royandi Haikal tidak kalah sigap. Ia akan membentuk tim investigatif untuk mengumpulkan semua bukti yang diperlukan terkait pencatutan logo NU dalam undangan deklarasi Annas itu. Apalagi diketahui bahwa PCNU Kota Bogor juga akan melakukan hal yang sama.

Untuk itu, LPBH PBNU, sambung Royandi, akan berkoordinasi dengan Pengurus PCNU Kota Bogor agar LPBH PBNU dan PCNU Kota Bogor bisa saling melengkapi bukti yang dimiliki masing-masing sebelum diserahkan kepada pihak kepolisian.

“Senin besok, saya dan tim saya akan bertemu untuk menyusun gugatan hukum,” kata Royandi kepada Madina Online, Sabtu (21/11) via telepon.

Gugatan hukum yang dilayangkan LPBH PBNU kepada Annas tidak main-main. Royandi menyatakan akan menggugat Annas secara pidana, tidak perdata. Dengan begitu, Royandi berharap siapapun yang bertanggunjawab terhadap deklarasi Annas Bogor Raya itu bisa dikenai hukuman berat, seperti kurungan penjara.

Tuntutan secara pidana itu bukan tanpa maksud. Itu, tambah Royandi, agar menimbulkan efek jera bagi kelompok intoleran manapun yang ingin menarik-narik NU terlibat dalam tindakan intoleransi dengan mencatut nama baik NU di masa mendatang.

Dalam wawancara terpisah, Seketaris Majelis Hukum dan HAM (Kumham) Pengurus Pusat (PP) Muhammadiyah Fajar Riza Ul Haq menyayangkan pencatutan logo Muhammadiyah yang terdapat dalam undangan deklarasi Annas Bogor Raya itu.

Fajar mengingatkan bahwa selama ini PP Muhammadiyah tidak pernah mengeluarkan fatwa yang menyebut bahwa Syiah itu sekte sesat, apalagi menyatakan Syiah bukan bagian dari Islam. Karena itu, tidak alasan bagi PP Muhammadiyah untuk anti terhadap Syiah.

Bahkan dalam muktamar di Makkasar kemarin, Fajar menambahkan, Muhammadiyah menghasilkan sejumlah rekomendasi yang penting bagi kerukunan umat beragama di Indonesia. Salah satunya adalah rekonsiliasi antara Islam Sunni dengan Islam Syiah.

“Jadi, secara kelembagaan saya tegaskan bahwa PP Muhammadiyah tidak terlibat dalam acara itu dan dalam gerakan Annas,” kata sosok yang juga menjabat sebagai Direktur Eksekutif Maarif Institute itu kepada Madina Online Sabtu (21/11).

Tapi Fajar mengakui bahwa Muhammadiyah itu organisasi yang berjenjang. Itu artinya, pemasangan logo Muhammadiyah dalam deklarasi Annas Bogor Raya itu mungkin sebagai akibat dari keterlibatan oknum tertentu di Muhammadiyah dalam gerakan Annas. Entah itu pengurus Muhammadiyah Kota Bogor atau anggota biasa.

Karena itu, Fajar akan mendalami kasus pencatutan logo Muhammadiyah itu. Ia juga membuka kemungkinan untuk mengkonfirmasi kebenaran informasi itu kepada pengurus Muhammadiyah di Kota Bogor.

Lebih dari itu, Fajar akan membawa kasus pencatutan ini dalam forum yang lebih formal di internal Muhammadiyah. Kebetulan, kata Fajar, ia dan seluruh pengurus PP Muhammadiyah saat ini tengah mengikutii rapat kerja di Yogyakarta. []

Irwan Amrizal

Komentar