Home » Review » JK “Cerewet”, Masjid dan Mushala Mulai Tertib
Foto: metrotvnews.com

JK “Cerewet”, Masjid dan Mushala Mulai Tertib

Oleh Warsa Tarsono

Rupanya keberatan Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) terhadap suara orang mengaji atau himbauan untuk sahur dari speaker masjid dan mushala direspon positif oleh para pengurus masjid maupun mushala. Walaupun belum semuanya mengikuti himbauan JK suara bising pada Ramadhan kali ini sudah mulai berkurang. Penulis sendiri yang saat ini tinggal di daerah Jati Padang Jakarta Selatan merasakan perubahan itu.

Di sekitar tempat tinggal penulis ada dua mushala dan satu Masjid dengan jarak yang tidak terlalu jauh. Sebenarnya untuk Masjid, tahun sebelumnya juga sudah lebih tertib. Tadarusan sampai pukul 22.00, sementara himbauan untuk sahur hanya sesekali dilakukan. Mereka mulai melakukan himbauan mulai dari pukul 03.00 WIB. 10 sampai 15 menit kemudian mereka mengulanginya. Sekitar pukul 03.30 WIB mereka mengakhirinya.

Mushala pertama pada tahun sebelumnya melakukan tadarusan sampai pukul 12, tapi Ramadhan tahun ini hanya sampai jam 10. Untuk himbauan sahur, mushala ini pada tahun sebelumnya sudah melakukan seperti yang dilakukan di masjid.

Yang bermasalah memang mushala kedua. Pada tahun sebelumnya mereka melakukan tadarusan sampai pukul 24.00 bahkan sering sampai pukul 01.0 WIB. Himbauan untuk sahur mereka lakukan mulai dari pukul 02.30. Lebih bermasalah mereka melakukannya tanpa henti. Teriak-teriak membangunkan orang, diselingi dengan shalawatan. Baru berhenti sekitar pukul 04.00 WIB. Suara yang dikeluarkanpun sangat keras, sampai kadang tidak jelas apa yang diucapkan.

Tahun ini ada perubahan, walaupun tadarusan masih sampai pukul 24.00 WIB suara yang dikeluarkan tidak terlalu keras. Perubahan pun dilakukan saat melakukan himbauan untuk sahur. Mereka mulai membangunkan pukul 03.00 WIB. Diulangi sekitar 10 sampai 15 menit kemudian, dan berhenti sekitar pukul 03.30 WIB.

Seperti kita ketahui, menjelang Ramadhan, saat JK memberikan sambutan pada pembukaan Ijtima Ulama Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) di Pondok Pesantren Attaudidiyah, Tegal, Jawa Tengah, Senin (8/62015) JK menyampaikan keberatan atas suara membaca Al-Quran yang berasal dari kaset. Menurutnya suara mengaji itu menjadi polusi suara, sehingga dia meminta MUI membuat fatwa menghentikan kebiasaan itu.

“Permasalahannya yang ngaji cuma kaset dan memang kalau orang ngaji dapat pahala, tetapi kalau kaset yang diputar, dapat pahala tidak? Ini menjadi polusi suara,” ucap JK.

Keberatan JK atas suara mengaji dari kaset memicu banyak orang kembali membicarakan suara speaker dari mushala dan masjid yang sering sahut-sahutan dengan suara yang keras.  MUI pun akhirnya memutuskan untuk mengagendakan pembahasan tentang itu. Hasilnya beberapa MUI daerah melakukan himbauan kepada masjid-masjid dan mushala untuk tidak keras membunyikan suara speakernya.

Sejak 1978 Sudah Ada Aturan

Pada Ramadhan tahun-tahun sebelumnya JK sebenarnya sudah sering menyampaikan keberatannya atas suara pengeras di mushala dan masjid. JK menyampaikan itu dengan kapasitas sebagai Ketua Dewan Masjid Indonesia (DMI).  Sebelumnya pada 2012 Wakil Presiden Boediono juga pernah menyampaikan himbauan untuk tidak  terlalu keras membunyikan spaaker saat adzan. Tapi himbauan-himbauan itu dianggap angin lalu saja oleh para petugas atau pengurus masjid dan mushala. Mereka tetap membunyikan speaker dengan suara keras.  Hanya sedikit yang mematuhi. Tahun ini ada perubahan, mudah-mudahan ini menjadi momentum untuk tahun-tahun berikutnya.

Sebenarnya masalah pengeras suara di masjid dan mushala adalah masalah lama, pada akhir tahun 70-an persoalan ini pernah mengemuka. Sampai akhirnya Kementrian Agama membuat peraturan  tentang hal itu. Aturan itu dikeluarkan oleh Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam (Bimas Islam) pada 1978,  dengan nomor Kep/D/101/1978 tentang Penggunaan Pengeras Suara di Masjid, Langgar, dan Mushalla.

Dalam surat yang ditandatangani Kafrawi, Dirjen Bimas Islam saat itu, terdapat sejumlah aturan mengenai pengunaan pengeras suara di masjid, langgar, atau mushalla.  Berikut adalah aturan-aturannya:

1. Perawatan penggunaan pengeras suara yang oleh orang-orang yang terampil dan bukan yang mencoba-coba atau masih belajar. Dengan demikian tidak ada suara bising, berdengung yang dapat menimbulkan antipati atau anggapan tidak teraturnya suatu masjid, langgar, atau musala

2. Mereka yang menggunakan pengeras suara (muazin, imam salat, pembaca Alquran, dan lain-lain) hendaknya memiliki suara yang fasih, merdu, enak tidak cempreng, sumbang, atau terlalu kecil. Hal ini untuk menghindarkan anggapan orang luar tentang tidak tertibnya suatu masjid dan bahkan jauh daripada menimbulkan rasa cinta dan simpati yang mendengar selain menjengkelkan.

3. Dipenuhinya syarat-syarat yang ditentukan, seperti tidak bolehnya terlalu meninggikan suara doa, dzikir, dan salat. Karena pelanggaran itu bukan menimbulkan simpati melainkan keheranan umat beragama sendiri tidak menaati ajaran agamanya

4. Dipenuhinya syarat-syarat di mana orang yang mendengarkan dalam keadaan siap untuk mendengarnya, bukan dalam keadaan tidur, istirahat, sedang beribadah atau dalam sedang upacara. Dalam keadaan demikian (kecuali azan) tidak akan menimbulkan kecintaan orang bahkan sebaliknya. Berbeda dengan di kampung-kampung yang kesibukan masyarakatnya masih terbatas, maka suara keagamaan dari dalam masjid, langgar, atau musala selain berarti seruan takwa juga dapat dianggap hiburan mengisi kesepian sekitarnya.

5. Dari tuntunan nabi, suara azan sebagai tanda masuknya salat memang harus ditinggikan. Dan karena itu penggunaan pengeras suara untuknya adalah tidak diperdebatkan. Yang perlu diperhatikan adalah agar suara muazin tidak sumbang dan sebaliknya enak, merdu, dan syahdu.

Instruksi tersebut juga mengatur tata cara pemasangan pengeras suara baik suara saat shalat lima waktu, shalat Jumat, juga saat takbir, tarhim, dan Ramadhan.

Sebagai warga Negara yang baik, tidak ada alasan untuk mengabaikan aturan ini. Mari kita mentaatinya.

Komentar