Home » Review » Isu Media » Teuku Wisnu, Zaskia Mecca, dan Keterbatasan Pengetahuan Selebritis Pendakwah

Teuku Wisnu, Zaskia Mecca, dan Keterbatasan Pengetahuan Selebritis Pendakwah

Oleh Ade Armando

Nama Teuku Wisnu dan Zaskia Mecca pekan lalu tiba-tiba saja mengemuka dalam pembicaraan masyarakat. Yang jadi gara-gara bukan gosip perselingkuhan atau perceraian –yang biasa terkait dengan kehidupan kaum selebritis– melainkan soal muatan dakwah yang mereka sampaikan di Trans TV.

Yang diributkan adalah apa yang diutarakan dua bintang sinetron itu di program Berita Islami Masa Kini, 1 September 2015. Mereka bicara soal hukum mengirimkan bacaan Al-Fatihah untuk orang yang sudah meninggal.

Menurut mereka, yang tampil sebagai pembawa acara sekaligus pendakwah di acara itu, praktik mengirimkan Al-Fatihah itu tidak dikenal dalam Islam, dan dapat dikategorikan sebagai bid’ah (peribadatan yang tidak dicontohkan Nabi Muhammad semasa hidupnya dan karena itu tidak boleh dilakukan).

Berikut adalah sebagian transkrip pembicaraan antar keduanya sebagaimana dilaporkan media online muslimmoderat.com:

Zaskia: “Terus terang saya baru tahu sekarang kalau yang namanya Al-Fatihah, saya sering banget membacakan surat Al-Fatihah untuk orang-orang yang sudah meninggal biasanya habis shalat, tapi ternyata Rasulullah tidak menjalankannya.”

Teuku: “Nah itu dia… Poin yang paling penting sebenarnya adalah ada dua syarat diterimanya amalan oleh Allah Ta’ala. Yaitu, yang pertama, ikhlas, dan yang kedua sesuai dengan anjuran Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Nah ini dia ketika ada yang menyampaikan sesuatu kita harus tanya dulu ada dalilnya atau nggak. Nah, misalnya, kita hadir sebagai jamaah di suatu majelis yang ustadznya membaca Al-Fatihah untuk orang yang telah meninggal, kita punya hak untuk bertanya kepada ustadz: ‘Ustadz, afwan, kira-kira ada dalilnya begitu?

Zaskia: “Jangan sampai ketika melakukan sesuatu dengan niat yang baik tapi justru kita malah melakukan bid’ah.”

Pernyataan Teuku Wisnu dan Zaskia ini dengan segera memperoleh reaksi keras. Di banyak media online, muncul gugatan kepada pernyataan pasangan selebritis itu. Wakil Katib Syuriah Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (dikutip muslimmoderat.com) Muhammad Ma’ruf Khozin, menunjukkan rujukan penjelasan ulama klasik yang sering dijadikan dalil amaliah pengiriman Al-Fatihah untuk orang yang sudah meninggal.

Teuku dan Zaskia pun merespons. Pada tayangan 3 September 2015, mereka berdua menyatakan bahwa mereka meminta maaf bilamana yang mereka sampaikan menyinggung sebagian penonton. Teuku dan Zaskia dengan rendah hati menyatakan mereka masih terus belajar dan mengharapkan masukan untuk perbaikan di masa datang.

Bagaimanapun, Teuku dan Zaskia tetap tidak mencabut atau mengoreksi pernyataan mereka bahwa mengirimkan Al-Fatihah adalah bid’ah.

Kasus Teuku dan Zaskia ini memberi pelajaran menarik tentang dakwah melalui televisi di Indonesia.

Televisi swasta adalah lembaga bisnis yang hidup dari pemasukan iklan. Di sisi lain, pemasang iklan hanya mau memasang iklannya di acara-acara yang memilki daya tarik tinggi bagi penonton. Karena itu bahkan acara dakwah agama pun harus dikemas dengan cara seatraktif mungkin.

Ini yang menjelaskan mengapa acara dakwah televisi swasta seringkali dianggap tidak memiliki kedalaman isi, melainkan lebih mengandalkan daya tarik pemberi dakwah. Jadi kalau di masa TVRI dulu, ulama yang lazim tampil di layar kaca adalah tokoh seperti Buya Hamka; kini di televisi komersial, yang sering hadir adalah para ustad-ustadzah yang mampu mengocok perut seperti ustad Maulana dan Mama Dedeh. Kedalaman isi tidak penting. Yang utama, menarik.

Kehadiran Teuku dan Zaskia harus dibaca dalam konteks itu. Mereka sebetulnya belum pantas menjadi pendakwah karena pengetahuan agama mereka tentu masih terbatas. Kalau saja mereka hanya hadir sebagai penanya kondisinya pasti lain. Masalahnya, mereka diposisikan sebagai pihak yang menyimpulkan dan memberikan pencerahan pada penonton.

Nama Teuku, dibanding Zaskia, lebih banyak dibicarakan publik karena dia memang telah menjadi sosok kontroversial dalam setahun terakhir ini. Teuku terkesan sebagai seorang artis yang sebelumnya tidak mendalami agama tapi seperti menemukan Islam secara cepat melalui guru-guru dan bacaan-bacaan tertentu. Ia menjadi seperti seorang muslim yang baru lahir kembali. Ia terkesan ingin mengubur kehidupan lamanya dengan kehidupan baru sebagai Muslim yang taat sepenuhnya pada apa yang ia percaya sebagai perintah Allah dan ajaran/teladan Nabi Muhammad.

Dalam setahun terakhir, Teuku mengalami transformasi diri yang mengejutkan. Ia sengaja memanjangkan jenggotnya, memakai celana cingkrang, atau menolak menyuarakan adzan pada anaknya yang baru lahir. Di acara Sarah Sechan Show (NET TV), Teuku menolak untuk bersalaman dengan Sarah.

Dan itu semua ia lakukan dengan anggapan bahwa itulah yang merupakan teladan Nabi. Misalnya, di sebuah media, ketika ia ditanya mengapa menolak mengadzankan anaknya, Teuku menjawab: “Soal adzan memang ada beberapa pendapat. Satu pendapat itu diadzankan dan tidak diadzankan. Saya pikir yang diadzankan itu hadistnya lemah, jadi enggak diadzankan.” (Tribun News, 10/9/2014)

Masalahnya, itu semua dipelajari Teuku melalui proses belajar instan. Nampak sekali Teuku –dan Zaskia– tidak cukup banyak baca atau mempelajari sendiri kepustakaan tentang Islam dan hukum Islam yang sangat kaya. Mereka mungkin hanya baca sedikit buku atau sekadar mengandalkan apa yang dikatakan ustadnya yang begitu saja mereka terima. Mereka mungkin menganggap Islam itu hanya satu, tunggal penafsiran, dan itu sudah mereka ketahui sepenuhnya. Yang ini haram, yang itu halal. Sesederhana itu.

Gaya beragama Teuku menunjukkan kecenderungan menafsirkan Islam yang sempit dan sederhana. Ini, misalnya, terlihat dalam keyakinannya soal beradzan, berjenggot, dan mengenakan celana cingkrang. Teuku masih ada dalam tahap yang mengira bahwa berislam adalah menjiplak mentah-mentah perilaku Nabi sebagaimana yang terekam dalam salah satu aliran Islam saja. Padahal kalau saja ia menyempatkan diri membaca kepustakaan Islam dari para ulama yang menghargai keberagaman, kemungkinan besar ia akan paham bahwa ada banyak tafsiran lain tentang bagaimana menjadi Muslim yang baik tanpa mereplikasi gaya hidup di Arab abad ke-7 Masehi.

Tentu saja, kalau ini hanya diterapkan Teuku pada kehidupan sehari-harinya masalahnya mungkin tidak serius. Persoalannya, Teuku ditempatkan sebagai pesohor yang dipercaya mendakhwahkan Islam   kepada jutaan penonton.

Dan persoalan semacam ini tidak menjadi bagian kepedulian stasiun televisi yang menganggap bahwa yang terpenting adalah menarik penonton. Bagi pengelola stasiun televisi, agama adalah komoditas. Kalau ternyata yang disampaikan salah, itu adalah persoalan biasa-biasa saja. Mereka tidak peduli.[]

Ade Armando adalah Pemimpin Redaksi Madina online dan Dosen Komunikasi FISIP Universitas Indonesia.

Komentar