Home » Review » Isu Media » Temuan Riset PPIM: Salafi Lebih Agresif Berdakwah melalui Radio
Radio Suara Muslim saat bersiaran

Temuan Riset PPIM: Salafi Lebih Agresif Berdakwah melalui Radio

Kemajuan teknologi dalam bidang komunikasi dan informasi yang sangat pesat saat ini telah mendorong terciptanya berbagai media baru yang belakangan dimanfaatkan untuk kepentingan dakwah. Satu contoh yang tampak jelas di depan mata adalah sosial media. Tapi kehadiran media baru itu tidak lantas mematikan media konvensional yang sudah lama dimanfaatkan sebagai sarana dakwah, khususnya radio.

Radio memang tidak seperti sosial media yang dinilai lebih interaktif dan cepat mengabarkan informasi terbaru yang dianggap penting. Tapi bagi segmen masyarakat tertentu, khususnya kalangan Muslim, radio masih dipandang sebagai media dakwah yang efektif, memiliki daya jangkau yang lumayan luas, dan yang terpenting murah.

Melihat masih pentingnya radio sebagai media dakwah, Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM), satu lembaga penelitian otonom di bawah Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah, Jakarta, melakukan riset lapangan di sembilan kota tentang radio dakwah sejak akhir 2014 lalu. Sembilan kota itu adalah Bogor, Cirebon, Tasikmalaya, Solo, Yogyakarta, Banjarmasin, Makkasar, Batam, dan Mataram.

Meski hasil riset itu belum resmi dirilis, Din Wahid, ketua tim riset, sudah memberikan informasi umum awal tentang hasil riset itu dalam satu kesempatan wawancara. Peraih gelar doktoral dari Utrecht University itu mengatakan sebagian besar kelompok Muslim sudah memilik radio dakwah (umumnya radio komunitas). Cuma satu kelompok Muslim yang belum ditemukan memiliki radio dakwah, yaitu Ahmadiyah.

Dari sisi konten, radio dakwah lebih mengandalkan program seperti ceramah dan pembacaan al-Quran (hasil rekaman audio qori/pembaca al-Quran ternama) sebagai mata acara utamanya. Lantuan musik, biasanya berupa qasidah, sebagai mata acara tersendiri menjadi pembeda mana radio dakwah yang dikelola kelompok Muslim yang moderat dengan kelompok yang konservatif.

Dari konten tersebut, mudah diketahui bahwa program-program yang disiarkan radio dakwah umumnya adalah rekaman. Porsi untuk program yang disiarkan secara live hanya kiasaran 20 sampai 30 persen. Program yang disiarkan secara live biasanya adalah program ceramah.

Peneliti dengan minat Pemikiran Modern dalam Islam dan Gerakan Islam Kontemporer itu mengakui ada kontentasi antar kelompok Muslim di ruang udara yang tak terelakkan. Pendirian radio dakwah milik satu kelompok Muslim tidak hanya dimaksudkan untuk menyiarkan pandangan keislaman versinya sendiri, tapi juga untuk melindungi umatnya dari pandangan keislaman yang berbeda, bahkan berseberangan, yang disiarkan melalui radio juga.

Berikut petikan lengkap wawancara Din Wahid kepada Redaksi Madina Online Irwan Amrizal terkait temuan riset PPIM tentang radio dakwah. Wawancara dilakukan di kantornya di gedung PPIM lantai 2, pada Senin (25/5) lalu.

Apa yang menarik dari radio dakwah sebagai objek riset?

Untuk berdakwah itu kan banyak caranya. Salah satunya adalah berdakwah melalui radio. Kalau kita lihat sejarah dakwah melalui radio itu sebenarnya sudah dilakukan sejak tahun 80-an dan 90-an. Pada saat itu ada nama Ustad Kosim Nurseha dan Kiai Zainudin MZ yang berdakwah melalui radio. Belakangan kita melihat ada fenomena menarik munculnya radio dakwah. Radio yang mengkhususkan kepada dakwah atau radio yang porsi dakwahnya lebih banyak ketimbang yang lain.

Perlu dibedakan antara dakwah di radio dan radio dakwah.  Dakwah di radio pada zaman itu sudah dilakukan, misalnya, di RRI (Radio Republik Indonesia; red). Bahkan hampir semua radio pada masa itu ada program dakwahnya. Itu sebagai cara untuk meraih pasar.

Sementara radio dakwah itu adalah radio yang isinya murni dakwah. Radio ini secara umum dikelola kelompok-kelompok Muslim. Yang menonjol dan relatif kuat adalah radio dakwah milik Salafi. Bahkan belakangan ini hampir semua pesantren Salafi mendirikan radio dakwah, selain Radio Rodja yang sudah terkenal.

Ada alasan mengapa kelompok Salafi menggunakan radio sebagai media dakwah mereka?

Menyebarkan dakwah melalui radio itu dianggap lebih gampang. Saya kutipkan pernyataan salah satu ustad Salafi di Batam tentang mengapa mereka berdakwah melalui radio saat saya mewawancarainya. Katanya, “Berdakwah melalui radio itu paling murah. Masuk hotel tanpa bayar dan tanpa mengetuk pintu. Masuk ke rumah-rumah tanpa harus mengucapkan salam. Masuk ke mobil-mobil juga tidak bayar.”

Selain itu, berdakwah di radio bisa menyasar pendengar yang lebih luas. Berdakwah di radio bisa menyasar orang yang sedang menyetir mobil atau ibu-ibu yang sedang masak di rumah. Kalau berdakwah melalui televisi, si audiens kan harus fokus pada tayangan yang disajikan.

Kelompok Salafi juga dikenal kuat dengan dakwah literasinya. Mereka membuat banyak laman dan dikunjungi nitezen yang tidak sedikit. Dari dua medium ini, anda melihat lebih massif yang mana?

Bicara massif, jelas yang literasi. Selain membuat website, mereka juga membuat banyak bahan bacaan cetak. Tapi berdakwah melalui radio itu bisa menjangkau wilayah-wilayah yang tidak bisa disambangi oleh ustad dan ustadzah Salafi. Kalaupun di daerah itu tidak ada jaringan internet, radio mereka bisa menjangkau daerah itu karena menggunakan frekuensi publik. Jadi, kata orang Salafi sendiri, kesibukan mereka dan keterbatasan waktu mereka yang mendorong mereka untuk mendirikan radio dakwah.

Selain alasan murah dan bisa menyapa tanpa batas, adakah alasan lain mengapa kelompok Salafi mendirikan radio dakwah?

Yang kami temukan cuma dua alasan itu. Tapi bagaimana pun berdirinya radio dakwah itu adalah bagian dari gerakan sosial-keagamaan yang nuansanya terlihat berbeda dari kelompok yang lain.

Ada pandangan yang menyatakan mengapa kelompok Salafi menggunakan radio sebagai media dakwahnya karena itu sebagai “pelarian” mereka akibat tidak terlalu diterima di ruang non-virtual. Terkait pandangan ini, apa komentar anda?

Sekarang semakin banyak yang tertarik dengan Salafi, terutama anak-anak muda Muhammadiyah dan Persis. Mereka tertarik karena ada kesamaan spirit, yaitu al-ruju ilal Quran wal Hadis (kembali ke al-Quran dan Hadis). Bedanya, bila Muhammadiyah dan Persis masih memberikan ruang pada rasio, sementara Salafi tidak memberi ruang pada rasio.

Di pengajian Salafi, kita bisa melihat bagaimana mereka sangat rajin menginformasikan hal-hal yang mereka anggap penting untuk diketahui jamaahnya. Mobilisasi informasi di kalangan mereka cukup massif. Karena itu, jika karena alasan temu darat tidak diterima lalu mereka mendirikan radio, saya kira itu tidak tepat. Justru dakwah di ruang virtual seperti radio itu lebih terbuka karena bisa didengar oleh banyak orang ketimbang pengajian di sebuah masjid.

Dengan kata lain, dengan berdakwah melalui radio kelompok Salafi justru ingin menyapa pendengar yang lebih luas ya…

Iya, dan itu berbahaya bagi kelompok lain. Karena berpotensi mengambil jamaah dari kelompok yang lain.

Selain itu, sebenarnya gaya berdakwah kelompok Salafi sekarang tidak se-provokatif dulu. Mereka sekarang memilih untuk menggunakan yang bahasa tidak mengundang reaksi negatif dari kelompok yang mereka serang. Mereka, misalnya, sudah menghindari pengunaan kata bid’ah. Mengatakan bid’ah untuk satu ritual atau amalan yang dilakukan kelompok tertentu, terutama bagi NU, itu kan bisa memerahkan telinga.

Untuk menghindari pengunaan kata bid’ah, mereka mengunakan frasa “amalan yang tidak dicontohkan pada masa Nabi Muhammad dan para sahabat”. Jadi, terdengar lebih wise ketimbang mengatakan bid’ah. Esensinya sama, tapi cara menyampaikannya berbeda.

Ada preseden tertentu yang membuat kelompok Salafi menjadi lebih wise dalam berdakwah?

Banyak. Di berbagai daerah kita mendengar terjadi konflik antara kelompok Salafi dengan kelompok lain. Hampir semua wilayah yang di sana muncul gerakan Salafi lalu model dakwah mereka provokatif seperti itu menyebabkan ketegangan secara horizontal dengan sesama kelompok Muslim.

Dalam riset ini apakah ditemukan ada radio dakwah yang didirikan oleh kelompok selain Salafi?

Ada. Bahkan ada kelompok yang sengaja mendirikan radio dakwah untuk menandingi radio dakwah milik Salafi. Di Cirebon, misalnya, ada dua radio yang bernama Radioku dan Radio al-Kisah. Dua radio ini didirikan oleh komunitas NU untuk menandingi radio milik Salafi.

Di daerah lain juga ada radio dakwah milik HTI, FPI, Syiah, dan Muhammadiyah. Di Solo dulu ada radio milik FPI. Tapi saat kami turun ke lapangan, tenyata radio itu sudah tidak ada lagi. Di Banjarmasin, ada radio milik Muhammadiyah yang sangat kuat. Tapi di Martapura, tidak jauh dari Banjarmasin, ada radio milik Salafi. Di Solo dan di Jogjakarta juga ada radio milik MTA (Majelis Tafsir Al-Qur’an; red).

Dengan kata lain, munculnya berbagai radio dakwah itu tidak lepas dari respon sebagian umat terhadap radio yang didirikan oleh kelompok dakwah transnasional, khususnya Salafi. Jadi, ada kontentasi juga di ruang udara.

Adakah perbedaan antara radio dakwah yang dimiliki berbagai kelompok Muslim dari sisi konten?

Radio milik Salafi itu cenderung monoton. Isinya umumnya ceramah dan tartil al-Quran. Kalau pun ada program yang interaktif dan live, di Radio Rodja, terutama, adalah program “Doa by Request”. Pada program itu pendengar diajak untuk meminta informasi tentang bacaan doa tertentu kepada ustad yang menjadi penyiarnya. Sementara radio dakwah yang dikelola non-Salafi, terutama NU  itu relatif lebih berwarna. Selain ceramah dan tartil al-Quran, juga ada program musik, terutama qasidah.

Meski dari sisi konten terkesan monoton, tapi radio kelompok Salafi, terutama Radio Rodja, diduga banyak pendengarnya dibandingkan radio milik kelompok Muslim lainnya. Apa temuan riset ini mengafirmasi itu?

Kelompok Salafi itu lebih agresif dan progresif dalam upaya dakwahnya. Radio Rodja itu tidak hanya bisa didengar melalui radio dari frekuensi AM, tapi juga melalui streaming. Jadi, meskipun saya, misalnya, sedang di luar negeri, saya bisa mengakses radio itu selama ada jaringan internet. Belakangan model radio dakwah secara streaming ini diikuti kelompok yang lain. Selain itu, di website Radio Rodja ada materi-materi audio yang bisa diunduh untuk didengarkan secara offline melalui program Winamp dan lainnya.

Radio Rodja juga ditemukan di berbagai daerah. Seperti franchise, radio-radio Salafi yang didirikan di sejumlah daerah menggunakan nama yang sama, yaitu Rodja. Beberapa kontennya diambil dari Rodja pusat di Cileungsi. Meski radio milik Salafi itu banyak, tapi Radio Rodja itu adalah barometer radio Salafi di Indonesia. Itu karena di Radio Rodja ada banyak ustad Salafi yang mengisi, didukung SDM yang mumpuni, dan daya jangkau pendengar yang luas.

Yang menarik, saya menemukan fakta ada satu pesawat radio yang dibuat hanya untuk bisa menangkap satu kanal, yaitu Radio Rodja.

Mereka berpikir sampai sejauh itu ya…

Saya tidak pernah mengalami, tapi satu saat seorang teman bercerita bahwa ada kerabatnya yang membeli pesawat radio itu. Kemudian pesawat itu diberikan kepada teman saya itu. Saat memberikan pesawat radio itu, kerabatnya berpesan agar tidak membuang pesawat radio itu jika tidak suka. Katanya lebih baik diberikan ke orang lain ketimbang dibuang. Jadi, mereka sudah berpikir sejauh itu.

Dan jangan salah sangka. Segmen pendengar radio dakwah mereka bukan hanya kalangan mereka saja. Di Cirebon saya kenal dengan seorang dosen IAIN Cirebon. Dia bukan seorang Salafi, tapi dalam perjalanan pulang dia mendengarkan radio itu. Dia beralasan daripada mendengar siaran radio yang tidak jelas, mending mendengarkan bacaan al-Quran yang disiarkan radio Salafi.

Sampai mereka membuat pesawat radio sendiri, menurut anda itu apa maknanya?

Itu menandakan mereka betul-betul literate dengan teknologi. Perlu diingat, banyak dari mereka dengan latar pendidikan di bidang teknik. Lalu, itu menunjukkan upaya serius mereka dalam berdakwah. Menurut saya, apa yang mereka lakukan itu luar biasa. Dan saya kira belum ada kelompok Muslim lain yang memikirkan hal itu.

Tadi anda menyebut radio dakwah milik MTA. Nama MTA belum familiar terdengar. Bisa digambarkan corak pandangan organisasi ini?

MTA itu sama seperti Salafi, tapi dalam beberapa hal mereka jauh lebih ekslusif. Di Jogja dan Solo radio MTA cukup luas jangkauannya. Yang menarik, di Jogjakarta muncul radio komunitas tandingan yang didirikan pengurus NU setempat untuk merespon radio ini. Kalau tidak salah ingat, ada 5 radio komunitas milik NU yang didirikan untuk menandingi MTA.

Kabarnya ada satu radio milik kelompok Salafi di Batam, yaitu Hang FM, yang dirusak oleh FPI dan NU karena muatan dakwahnya. Bisa dijelaskan apa yang terjadi?

Intinya, FPI dan NU merasa muatan dakwah di Radio Hang FM menyerang ajaran dua kelompok itu, terutama soal amalan-amalan yang disebut bid’ah. Karena FPI dan NU tidak terima, maka terjadilah aksi pengrusakan di kantor Radio Hang FM. Peristiwa itu tentu disayangkan.

Kemunculan radio dakwah Salafi itu biasanya belakangan. Awalnya, di satu daerah, misalnya, mereka muncul lalu mereka berkembang. Setelah itu mereka membuat pengajian, mendirikan pesantren dan madrasah. Baru setelah itu radio. Artinya, radio itu didirikan belakangan. Nah, dalam kasus di Batam itu situasinya berbeda. Radio Hang itu muncul lebih dahulu, komunitasnya baru terbentuk belakangan.

Di daerah yang lain, resistensi terhadap kelompok Salafi sudah terjadi ketika mereka masih komunitas kecil dan belum mendirikan radio dakwah. Ketika kelompok Salafi di satu daerah sudah mapan dan mereka mendirikan radio dakwah, warga sekitar tidak terkejut. Terlebih karena ketegangan antara mereka dengan kelompok lain di awal kehadiran mereka, mereka belajar untuk berdakwah dengan lebih lembut.

Selain kasus ini, apakah ditemukan juga kasus serupa dari riset itu?

Kalau hanya karena siaran radio, selain kasus Radio Hang tidak ada.

Melihat maraknya radio dakwah milik kelompok Salafi di berbagai daerah dalam temuan riset ini sepertinya bisa dimengerti bila sikap keberislaman di Indonesia belakangan ini terkesan yang konservatif. Terkait hal ini, apa komentar anda?

Salah satu faktornya memang karena kehadiran radio dakwah seperti itu. Tapi seperti yang saya katakan sebelumnya, muncul kontestasi di ruang udara. Di Cirebon ada dua radio Salafi, yaitu Ihya al-Sunnah dan As-Sunnah direspon kalangan NU dengan mendirikan radio dakwah untuk meng-counter wacana yang disebarkan radio Salafi itu.

Tujuan kalangan NU untuk mendirikan radio tandingan itu tentu saja untuk membentengi akidah mereka, melindungi jamaah mereka, dan menjaga tradisi mereka. Jangan sampai tahlilan berkurang, bahkan hilang. Itu artinya, ada adu argumentasi di udara. Dan ini pada satu titik menunjukkan bahwa otoritas keagamaan sudah terdesiminasi.

Kabar baiknya, meski sebagian kelompok Muslim terancam dengan kehadiran radio dakwah kelompok Salafi tapi itu tidak disikapi dengan cara-cara kekerasan seperti yang dialami Radio Hang di Batam ya..

Ya, kita harus bersikap cerdas merespon hal ini. Bila ada kelompok-kelompok lain yang terancam dengan kehadiran radio Salafi, ya tandingi dengan membuat radio dakwah juga. Yang perlu dipikirkan kemudian bagaimana membuat muatannya yang lebih bagus dan atraktif dari radio Salafi. Setelah itu berkontestasi. Saya kira ini cara yang cerdas dan elegan. []

Komentar