Home » Review » Isu Media » Pelajaran dari Perjamuan Terakhir

(Tulisan ini telah dimuat di Majalah Madina No. 3, Tahun 1, Maret 2008)

Gara-gara menafsirkan ulang karya da Vinci, Majalah Tempo diprotes. Dianggap terlalu jauh bermain-main dengan tokoh suci. Pimpinan gereja memaafkan. 

Pelajaran dari Perjamuan Terakhir

Apa kesamaan antara (mantan) Presiden Soeharto dan Yesus?

Tidak ada. Bahkan, tidak ada sama sekali.

Dan itu yang barangkali membuat sebagian umat Kristen berang melihat cover majalah Tempo (edisi 4-10 Februari). Di sana tampil wajah sang mantan penguasa Indonesia dan anak-anaknya menggantikan posisi Yesus dan para muridnya yang ada dalam lukisan asli Leonardi da Vinci, The Last Supper

Karya abad pertengahan itu memang bisa dibilang sebagai salah satu lukisan paling terkenal dalam sejarah dunia. Dalam versi aslinya, Yesus nampak diapit 12 muridnya – enam di kanan dan di kiri – dalam episode perjamuan kudus terakhir sebelum Yesus dikhianati dan ditangkap tentara Romawi.

Di Tempo, yang muncul adalah sosok Soeharto yang diapit 6 anaknya – tiga di kanan dan tiga di kiri. Mereka menghadap satu meja panjang dengan taplak putih berikut perangkat makan seperti piring, mangkuk, asbak, gelas serta cangkir. Semua perangkat itu nampak telah kosong tanpa menyisakan bekas makanan. Karya grafis ini dikerjakan oleh tim kreatif Tempo.

Akibatnya MajalahTempo dikecam di banyak tempat. Peredaran edisi yang diprotes itu pun sempat dihentikan. Kantor redaksi mereka juga didatangi perwakilan setidaknya tujuh organisasi di Jakarta yang menyuarakan keberatan mereka. Selepas acara, Pemimpin Redaksi Tempo, Toriq Hadad, menggelar jumpa pers untuk menyatakan permohonan maaf mereka secara terbuka. Di edisi Tempo berikutnya, juga termuat pernyataan penyesalan itu. ‘’Tempo tidak memiliki maksud untuk menimbulkan ketersinggungan dan ketidaknyamanan, terutama terhadap umat Kristiani,’’ ujar Toriq.

Toh, cerita tak berhenti. Beberapa hari kemudian sekelompok orang yang menamakan diri Aliansi Mahasiswa dan Pemuda Kristen (AMPK) – yang tidak bergabung dalam pertemuan di kantor Tempo — melaporkan majalah tersebut ke pihak kepolisian Jakarta. Tuduhan mereka, majalah itu telah melanggar pasal 156 KUHP tentang penodaan agama, yang ancaman hukumannya mencapai lima tahun penjara.

Beragam Versi
Para pembela Tempo berargumen bahwa karya da Vinci – berjudul asli ”Il Cenacolo” itu — itu sama sekali bukan teks suci yang harus dikeramatkan, sehinga sebenarnya sah saja diutak-atik oleh siapapun. Itu bukan firman Tuhan, dan tak ada pula yang tahu persis bagaimana wajah Yesus sesungguhnya. Dengan kata lain, kalau ada yang dipermainkan, ya sebenarnya cuma karya imajiner Da Vinci.

Apalagi sebelum ini, umat Kristen sebenarnya sudah terbiasa dengan beragam bentuk ekpresi mengenai Yesus dan Injil, kerap dalam cara yang jauh dari rasa hormat. Salah seorang seniman ‘pop-art’ terkemuka di periode 1960-an, Andy Warhol, pernah membuat sekitar 60-an karya yang memuat beragam interpretasinya atas The Last Supper dan Yesus. Dari mulai lukisan perjamuan terakhir yang berlumuran warna merah, yang mengambarkan motif army uniform, yang berwarna-warni seperti botol obat plastic, dan beragam lainnya. Karya-karya itu sampai sekarang masih terpajang di museum Guggenheim di New York.  

Segera sesudah kehebohan soal cover itu mencuat, di sebuah milis, Andre J.O Sumual, redaktur TRAX Magazine, mengirimkan rangkaian gambar versi lain dari The Last Supper. Salah satunya adalah versi kartun yang menampilkan meja hidangan dengan makanan berlimpah ruah – yang kontras dengan lukisan da Vinci yang menggambarkan deretan piring kosong. Sebagian besar lainnya, mengganti tampilan Yesus dan para murid dengan rangkaian karakter lain, misalnya sebagai tokoh-tokoh Star Wars, sebagai para pria berkulit hitam, para pria berambut gimbal, para pria bergam etnik, atau bahkan para pria “gay” dan “nyaris telanjang”.

Di Indonesia pun, sebelum ini umat Kristen tidak dikenal sebagai sensitif dengan isu-isu kebebasan berekspresi. Misalnya saja buku dan film Da Vinci Code yang kontroversial. Dalam karya Dan Brown itu, lukisan The Last Supper dikisahkan mengandung banyak kode yang bila dipecahkan akan mematahkan sejumlah doktrin mendasar dalam ajaran Kristen. Salah satu rahasia yang terpenting adalah bahwa, Yesus sebenarnya menikah dengan Maria Magdalena dan memiliki keturunan sampai saat ini.

Toh, buku dan film Da Vinci Code bebas beredar di Indonesia. Satu-satunya catatan: untuk versi bioskop, Lembaga Sensor Indonesia mempertahankan sejumlah dialog sensitif – yang menggugat keyakinan iman Kristen — dalam film Da Vinci Code tetap utuh, namun dibiarkan hadir tanpa teks bahasa Indonesia. Sebagian masyarakat Kristen memang sempat meminta agar pemerintah melarang peredaran film tersebut, namun ketika harapan itu tak terwujud, juga tak ada masalah.

Bertolak Belakang
Jadi, kenapa kali ini ada kemarahan?

Nampaknya yang dipersoalkan memang bukan hanya soal bermain-main dengan imajinasi, tapi karena mempersamakan para tokoh suci itu dengan keluarga yang terkenal sangat korup seperti Soeharto dan anak-anaknya adalah sesuatu yang terasa sangat melecehkan.

Mengganti sosok para sahabat Yesus dengan para ’gay’ barangkali menyebalkan, namun itu dianggap sekadar melucu. Ketika yang ada di meja adalah makanan berlimpah ruah, yang tertangkap adalah ironi. Tapi ketika wajah Yesus diganti dengan wajah Soeharto, itu rupanya dianggap sebagai penyamaan yang tak dapat ditoleransi.

Jurnalis senior sekaligus pendiri MajalahTempo sendiri, Goenawan Mohammad, juga mempertanyakan keputusan untuk menyejajarkan saat-saat terakhir dalam hidup Yesus dengan detik-detik menjelang kepergian Suharto. ”Tema dan suasana dalam lukisan itu adalah kesedihan, keprihatinan dan kerelaan di antara mereka yang tak punya apa-apa,’’ tulis Goenawan dalam suratnya. ’’Justru itu yang tak ada di hari terakhir Suharto.’’

Redaksi Tempo sendiri sebenarnya tak sepenuhnya terkejut dengan protes itu. Tatkala tim redaktur grafis Tempo mengajukan usulan gambar, sebenarnya sudah sempat terlontar kekuatiran. Tapi kemudian, suara itu tenggelam dengan sendirinya ketika beberapa awak redaksi yang beragama Kristen ternyata menganggap plesetan gambar itu tak bermasalah.

Toh sebagian umat Katolik menganggap isu ini sebaiknya tak diperpanjang. Ketua Konferensi Waligereja (KWI), Martinus Dogma Situmorang, juga menganggap agar kasus ini tidak dibawa ke ranah hukum. ”Permintaan maaf Tempo, bagi KWI, sudah cukup,’’ ujarnya.

Pengajar di Universitas Katolik Atmajaya dan Universitas Indonesia, Embu Henriques, juga menganggap umat Katolik tidak perlu marah karena tak ada indikasi bahwa Tempo memang ingin menghina Yesus. “Ini cuma kekeliruan atau kesalahan,” ujarnya. Ia menganggap tak perlu terlalu jauh menafsirkan bahwa dengan gambar itu, Tempo menyamakan Yesus dengan Soeharto.

Namun, Embu juga meminta agar publik tidak menafsirkan protes kolektif itu sebagai mewakili umat Katolik secara keseluruhan. “Kalau ada yang tersinggung dan marah, itu terkait dengan penafsiran,’’ ujar pengajar Filsafat Komunikasi itu. “Dan soal penafsiran itu terkait dengan pemahaman dan penghayatan terhadap agama yang diyakininya.”

Apapun akhirnya, ini merupakan pelajaran penting bagi Indonesia. Termasuk pelajaran soal cara memprotes sesuatu yang dianggap menghina keyakinan. Para pemrotes melancarkan segenap protesnya tanpa kekerasan. Mereka mendatangi kantor redaksi, berdiskusi, menerima permohonan maaf. Sebagian lain, memilih jalur hukum. Itulah cara beradab. (aa/berbagai sumber)


Komentar