Home » Review » Isu Media » Ketika Voa-Islam Menghina, Gereja Dibuat untuk Bermaksiat pada Allah

Ketika Voa-Islam Menghina, Gereja Dibuat untuk Bermaksiat pada Allah

Oleh Ade Armando*

Media online Voa-Islam agaknya dapat disebut sebagai salah satu sumber penyebab konflik antar umat beragama di Indonesia. Bila Anda membaca tulisan-tulisannya, terbaca dengan sangat jelas betapa media ini dibuat untuk menyebarkan kebencian terhadap kalangan yang berbeda pandangan dengan mereka.

Voa-Islam memang menggunakan nama ‘Islam’. Namun apa yang ditampilkannya seringkali jauh dari Islam. Banyak isinya yang sangat picik, penuh hasutan dan penyebaran kebencian.

Sangat ironis di bulan Ramadhan yang suci ini, menjelang Idul Fitri, Voa-Islam kembali menurunkan tulisan yang isinya sangat keji dan memecahbelah bangsa Indonesia.

Santri Ponpres Al-Qadir saat tampil bersama jemaat. Foto: http://www.voa-islam.com

Santri Ponpes Al-Qadir saat tampil bersama jemaat. Foto: http://www.voa-islam.com

Tulisan tertanggal 12 Juli 2015 itu berjudul “Menyedihkan, Bulan Ramadhan Ponpres Al-Qadir Ikut Resmikan Gereja di Sleman”. Tertera bahwa penulisnya adalah mantan penginjil dan Sekjen Mualaf Center Indonesia, bernama Hanny Kristianto.

Si penulis tampaknya marah sekali dengan fakta bahwa di Sleman, ada sebuah pesantren (Al-Qadir) mengirim para santrinya untuk turut mengisi acara dan merayakan peresmian gereja Santo Fransiskus Xaverius. Dalam tulisan itu ditampilkan foto keterlibatan para santri dalam acara  peresmian dan foto karangan bunga yang dikirim pesantren sebagai tanda sukacita atas peresmian gereja.

Bagi Voa-Islam, sikap bersahabat para santri itu dengan umat Kristen rupanya dianggap sebagai kejahatan yang busuk dan tidak termaafkan. Tulis Voa-Islam:  “Apa yang ingin diperbuat pemimpin dan pengurus serta santri Ponpes Al-Qodir untuk dinul Islam dan umat Islam?”

Sampai di sana tulisan ini mungkin masih dapat diterima. Adalah hak Voa-Islam untuk menyetujui atau tidak menyetujui inisiatif pesantren tersebut. Ini adalah masalah perbedaan penafsiran keagamaan yang biasa dalam demokrasi.

Yang jadi masalah, Voa-Islam kemudian menulis: “Sesungguhnya Gereja itu dibangun semata-mata untuk menyekutukan dan bermaksiat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.”

Setelah itu, media online ini pun menyajikan rangkaian ayat Al-Quran dan hadis yang seolah-olah mendukung penghinaan keji mereka.

Dengan melakukan ini, Voa-Islam sebenarnya dengan sengaja memelintir ajaran Islam sehingga Islam nampak sebagai sebuah agama yang seolah-olah berisikan kebencian pada umat Kristen,  mengajarkan pelarangan pembangunan rumah ibadat Kristen, dan memerintahkan umat Islam untuk tidak mau hidup berdampingan apalagi bekerjasama dengan umat Kristen.

Voa-Islam jelas menghina Kristen. Dengan menyatakan ‘gereja dibangun untuk bermaksiat kepada Allah’ maka Voa-Islam sudah menyamakan pembangunan rumah tempat umat Kristen beribadat dengan, misalnya, pembangunan pusat perjudian, pusat seks komersial atau pusat penjualan obat bius.

Media online seperti Voa-Islam adalah contoh media yang memanfaatkan demokrasi untuk kepentingan mereka menghancurkan Indonesia. Tulisan-tulisan semacam ini, di satu sisi, akan terus menyuburkan kebencian di dalam diri kalangan Islam picik untuk membenci umat Kristen dan, di sisi lain, juga berpotensi membangun rasa tidak percaya umat Kristen terhadap umat Islam.

Konflik berbasis kebencian keagamaan telah banyak berlangsung di muka bumi, termasuk di Indonesia. Kita jangan pernah lupa, di awal era reformasi dulu, berlangsung konflik yang memakan ribuan jiwa umat Islam dan umat Kristen di Ambon dan Poso. Konflik semacam itu hadir karena kita membiarkan tumbuhnya rasa kebencian  antar umat yang terus dipupuk oleh kalangan picik seperti yang sekarang didemonstrasikan secara terang-terangan oleh Voa-Islam.

Para pengelola Voa-Islam harus sadar bahwa apa yang mereka lakukan jauh dari ajaran Islam yang damai dan penuh rahmat.[]

*Ade Armando adalah Pemimpin Redaksi Madina Online dan Dosen Komunikasi FISIP Universitas Indonesia

 

Komentar