Home » Review » Isu Media » Dai yang Menolak Ceramah di Tabligh Akbar yang Dipolitisasi
Foto saat Nurul Huda Haem atau Ustad Enha tengah berceramah. Sumber foto: santrionline.net

Dai yang Menolak Ceramah di Tabligh Akbar yang Dipolitisasi

Rasanya sudah terlalu sering kita mendengar kabar tentang penyalahgunaan khutbah Jumat, pengajian, tabligh akbar, dan kegiatan-kegiatan keagamaan lainnya di Jakarta untuk kepentingan politik praktis. Sebaliknya, rasanya jarang terdengar ada dai (penceramah) yang menolak permintaan ceramah seraya mengkampanyekan salah satu pasangan calon dalam pilkada yang dibungkus dengan simbol-simbol keislaman.

Tapi jarang bukan berarti tidak ada sama sekali. Di Facebook setidaknya kita bisa menemukan satu cerita positif tentang seorang dai yang menolak permintaan itu. Dan itu dia ungkapkan sendiri melalui status yang ditulis di akun Facebooknya sendiri.

Dai itu adalah Nurul Huda Haem. Di Facebook atau sosial media akunnya atas nama Enha. Ustad Enha, begitu dia biasa dipanggil, inilah mungkin dai yang pertama kali menolak dan mengungkapkannya.

Dalam postingan tertanggal 11 April lalu, sosok kelahiran Jakarta 1975 itu menuturkan peristiwa dialog antara dia dan seorang panitia tabligh akbar via pesan pendek. Sedianya acara itu diselenggarakan oleh pengurus Musala Yasir, Pisangan Timur, Jakarta Timur, untuk menyambut Ramadhan yang jatuh kurang dari dua bulan lagi. Dan untuk itu panitia mengundang Enha sebagai penceramah.

Enha tentu antusias dapat undangan sebagai dai dari panitia tabligh akbar itu. Bagi alumni Fakultas Dakwah IAIN Jakarta (sekarang UIN Jakarta) itu, acara-acara keagamaan seperti tabligh akbar selalu dia manfaatkan untuk menyampaikan ajaran-ajaran keislaman yang damai dan mencerahkan.

Meski antusias, namun Enha diberatkan dengan syarat yang diajukan panitia. Panitia meminta agar ia menyisipkan pesan yang sarat nuansa politik praktis. Politik sektarian persisnya.

“Ini event sekaligus menyambut pelaksanaan pilkada ust. Jadi kami berharap ceramah nanti mengarahkan jamaah agar memilih pemimpin muslim,” tulis Enha dalam postingannya mengutip pesan pendek yang dikirim panitia.

Enha merespon pesan pendek itu dengan mengatakan agar panitia mengundang Calon Gubernur DKI Jakarta nomor urut 3 Anies Baswedan untuk hadir langsung dan berkampanye. “Langsung undang mas anies aja, kampanye tak usah malu2, biar langsung sampai pesannya,” balas Enha.

Alih-alih menyambut saran Enha, panitia terkesan tersinggung dengan saran tersebut. “Justru ust yg harus sampaikan, bukankah ust penyambung pesan Allah?” kata panitia itu menggurui.

Dialog antara Enha dan panitia terus berlanjut. Berikut petikannya:

“Aku (Enha) menjawab lagi, “Apakah semua jamaah pendukung Anies?”

“Panitia menjawab, “Tidak semua, justru melalui event ini kita serangan terakhir agar kaum muslimin sadar bahwa memilih pemimpin non muslim itu haram.”

“Aku menyampaikan saran dan bertanya balik, “Oh kalau begitu silahkan cari penceramah yg lain, saya akan tetap menyampaikan sesuai tema, bukankah mempersiapkan jiwa menjelang ramadhan itu sangat penting?”

“Panitia menjawab, “Ya memang penting ust tapi kalau sampai Jakarta dipimpin non Muslim, habislah kita. Jelas2 Cina Kristen punya agenda terang2an menghancurkan umat.”

“Aku bertanya lagi, “Satu periode ini Jakarta dipimpin oleh Pak Ahok, apakah masjid kita habis? Apakah uang kita di BAZIS habis? Apakah sholat jamaah kita semakin habis? Apakah ada larangan2 dari Pemda yg menghabisi umat? Kebijakan Pemda yg mana yang menghancurkan umat?”

“Cukup… cukup ust… nanti kita bicarakan lagi dengan panitia yg lain,” tulis panitia itu menyela pertanyaan-pertanyaan Enha yang belum selesai dikatakan.

“Okay, saya tunggu konfirmasi terakhirnya,” tulis Enha menutup percakapan itu.

Tiga malam kemudian, pesan pendek diterima Enha dari panitia tabligh akbar tersebut. Intinya, rencana mengundang Enha untuk berceramah dalam kegiatan itu dibatalkan. Alasan yang disampaikan “karena tidak ada kesepakatan”.

Enha sebenarnya sangat sepakat dengan tema menyambut Ramadhan dalam kegiatan itu. Tapi praktisi motivasi itu tidak sepakat terhadap politisasi masjid/musala atau politisasi panggung tabligh akbar itu yang menyuguhkan ujaran kebencian kepada kelompok sosial yang lain.

Masih dalam postingannya itu, Enha tampak kecewa dengan sikap panitia yang sulit menerima perbedaan. Panitia seolah mengabaikan niat ribuan jamaah yang hadir di acara tersebut dengan harapan untuk memperbaiki hati setelah lelah membaca berita situasi pilkada yang seringkali melukai rasa persaudaraan di antara sesama umat.

“Mengapa panitia tabligh akbar tidak belajar dari Panitia Istighotsah Kubro kaum Nahdhiyyin di Sidoarjo kemarin. Lautan massa berkumpul tanpa caci maki, tanpa ujaran kebencian, tanpa perasaan gelisah dan curiga, semua tenang berdzikir, munajat kepada Allah untuk kedamaian bangsa. Mengapa justru event berkumpul umat dijadikan ajang memaksakan kehendak? Mengapa?” tulis Enha terdengar getir.

Sikap Islam moderat yang ditunjukkan Enha dalam postingannya itu mendapat apreasiasi dari pengguna Facebook. Sampai saat ini (14/4) sudah lebih dari 1,5 ribu akun Facebook yang me-like, love, dan seterusnya. Postingan ini juga sudah disebar lebih dari 500 kali.

Ada beberapa komentar positif terhadap postingan ini yang penting dikutip di sini.

“Semoga panjenengan dan keluarga selalu dilimpahkan nikmat kesehatan jasmani dan rohani Pak Kyai”

“Tetap semangad, yayi. Amanah Allah nyatanya tidak diberikan pada sembarang orang. Insya Allah, antum jauh lebih disayang Allah dengan ujian hal2 begini. Barakallaahu fiik.”

“Hikmah Ramadhan dikalahkan hanya oleh pesan pilkada ?! Naudzubillah…. Benar dawuhnya Rasulullah…. Terbuktilah sekarang umat Islam hanya seperti buih di laut”

“Salam takdzim ustad, semoga selalu diberi kesehatan dan kekuatan untuk menyampaikan kebenaran dan menyuarakan Islam yang merahmati.”

Sebaliknya, respon berupa bantahan dan makian juga terlihat dalam list komentar yang masuk.

“Pemimpin kafir boleh, seruan untuk kaum muslimin agar memilih pemimpin muslim dianggap hate speech, intoleran. Jika cerita arogansi Banser pripun gus Enha, saget fasih ugi nopo mboten? nuwun.”

“Istighosah NU di Sidoarjo memang damai dan bagus, tapi dalam Aksi di Jakarta yang berkali-kali itu juga bagus dan damai. Entah bagaimana beliau menilai “penuh caci maki”, kalaupun iya, kepada siapa caci maki itu diberikan?”

“Cendol ah, kalo enggak mao di panggil buat dakwah, bilang ajah, enggak usah sok gembosi kaum muslimin. Kenapa sidang ahok di undur???? Tidak lain ini pemaksaan dan intimidasi terhadap penegak hukum. !.”

Sebelum mengakhiri postingan itu, Enha menyampaikan permintaan maaf kepada jamaahnya tidak bisa hadir dalam tabligh akbar itu. Pasalnya panitia sudah menyebar baliho yang memperlihatkan foto dan namanya.

Enha juga berpesan agar jamaahnya menyiapkan diri menghadapi Ramadhan seraya “meneguhkan kembali komitmen persaudaraan di bumi Nusantara yang kita cintai ini.” []

Komentar