Home » Review » Isu Media » Citra Islam Memburuk di Mata Rakyat AS — Media Menjadi Penyebab Utama

(Tulisan ini telah dimuat di Majalah Madina No. 1, Tahun 1, Januari 2008)

Riset terbaru menunjukkan bahwa rakyat Amerika semakin negatif memandang Islam. Media sangat memengaruhi pandangan itu.

Citra Islam Memburuk di Mata Rakyat AS — Media Menjadi Penyebab Utama

Rakyat Amerika terbelah dalam banyak isu. Saat ini, perhatian mereka terhadap Islam semakin meningkat. Islam menjadi salah satu isu nasional Amerika saat ini, dan agaknya Islam memerlukan aksi kehumasan lebih baik.

Survei nasional terbaru oleh Pew Centre of Research for the People & the Press dan Pew Forum on Religion & Public Life, yang dilaksanakan pada 1-18 Agustus 2007 terhadap 3002 orang dewasa, menemukan bahwa orang Amerika yang bersikap positif terhadap Islam memang masih lebih banyak dari pada yang bersikap negatif.

Secara umum, empat dari sepuluh orang Amerika (43%) menyatakan bahwa mereka berpendapat simpatik terhadap kaum Muslim, sementara 35% menyatakan pandangan negatif tentang Islam. Namun jika dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya, jelas bahwa sikap negatif itu meningkat. Pada 2004, jumlah yang memandang simpatik pada Islam lebih tinggi, 48%. Sedang jumlah orang Amerika yang memandang negatif pada Islam lebih rendah, 32%.

Seperti hasil riset-riset sebelumnya, kebanyakan orang Amerika memiliki kesan positif pada kaum Muslim warga Amerika (53%) dari pada pada kaum Muslim umumnya (43%). Namun jika dibanding dengan 2005, ketika jumlah orang yang memandang secara negatif kaum Muslim warga Amerika adalah 25%, jelas terjadi peningkatan pandangan negatif menjadi 29% pada saat ini.

Salah satu ukuran pandangan negatif itu adalah pilihan kata yang dianggap mewakili pensifatan Islam di mata para responden. Ketika riset ini meminta para responden menggambarkan Islam dalam satu kata, 30% mengungkapkan pernyataan negatif seperti “fanatik”, “radikal”, “teror”. Ini dua kali lipat dari jumlah orang yang mengungkapkan kata-kata positif tentang Islam, seperti “taat” (devout), “damai” (peaceful), “mengabdi” (dedicated).

Berbagai pendapat rakyat Amerika itu rupanya bergantung pada latar usia, tingkat pendidikan, agama, serta pilihan politik para responden. Kaum muda dan orang berpendidikan tinggi menunjukkan kecenderungan lebih positif dalam memandang Islam. Yang cenderung memandang negatif Islam adalah golongan tua dan kurang berpendidikan.

Dari segi golongan politik, 66% kaum demokrat liberal memandang simpatik terhadap Islam. Ini angka yang tinggi di antara latar demografis dan politis mana pun. Sebaliknya, seperti dengan mudah kita tebak, hanya 26% kaum republik konservatif yang memandang positif Islam.

Di antara kelompok agama di Amerika, yang paling menonjol dalam hal memandang negatif kepada Islam adalah golongan Protestan evangelis. Hanya 24% dari mereka yang memandang Islam secara positif. Sementara 48% kaum Katolik dari kalangan kulit putih menungkapkan pandangan positif mereka terhadap Islam, dan 51% dari kalangan Protestan non-evangelis, mengungkapkan pandangan positif mereka terhadap Islam.

Yang menyolok adalah meningkatnya pandangan kaum non-Muslim di Amerika yang membedakan agama mereka dari Islam. Pandangan yang menganggap bahwa ada persamaan antara Islam dan non-Islam adalah sebuah modal bagi dialog antaragama. Modal itu kini anjlok nilainya. Saat ini, 70% kaum non-Muslim menganggap agama mereka berbeda jauh dari Islam. Hanya 19% yang menganggap agama mereka memiliki persamaan dengan Islam.

Bandingkan dengan angka pada tahun-tahun sebelumnya. Pada 2005, 59% kaum non-Muslim yang menganggap Islam sama sekali tak sama dengan agama mereka sendiri. Pada November 2001, sebulan sebelum serangan ke menara kembar WTC, hanya 52% yang berpandangan demikian. Bisa dipahami, memang, jika kaum non-Muslim Amerika semakin tak ingin dipersamakan dengan Islam. Ada citra buruk tentang Islam yang sukar diterima sebagai “kelayakan” beragama menurut pemahaman awam.

Misalnya, citra Islam sebagai agama yang sangat mungkin mendorong umatnya pada kekerasan. Opini publik di Amerika tentang hal ini mengalami fluktuasi. Pada 2005, 47% penduduk Amerika dari latar beragam mengatakan bahwa Islam tidak mendorong pada kekerasaan lebih dari agama-agama lain; hanya 36% yang menyatakan bahwa Islam mendorong pada kekerasan. Saat ini, perimbangannya berbalik. 45% orang Amerika dari berbagai latar menyatakan bahwa Islam sangat mungkin mendorong pada kekerasan, sementara 39% tak sepakat. Perimbangan terbaru ini mirip dengan yang terjadi pada 2003 dan 2004.

Pada survei tahun ini, lulusan kuliah yang menyatakan bahwa Islam mendorong pada kekerasan meningkat 17%, dari 28% pada 2005 menjadi 45% saat ini. Ini berarti bahwa para lulusan kuliah itu kini sama saja dengan mereka yang tak mengecap pendidikan tinggi dalam memiliki pandangan negatif ini. Namun secara umum, lulusan pendidikan tinggi lebih positif dalam memandang Islam. Secara umum, 54% dari mereka memberi pandangan positif terhadap Islam, dibandingkan dengan 28% yang memberi pandangan negatif.

Kaum muda dan kelompok demografis usia produktif secara konsisten, sampai kelompok usia 64, menunjukkan prosentase lebih besar yang memandang simpatik pada Islam. Paling tinggi, kelompok usia 18-29, yakni 51% berpendapat simpatik pada Islam dan 30% sebaliknya. Sedangkan pada kelompok usia tua, di atas 65 tahun, 45% berpandangan tak simpatik pada Islam dan hanya 28% berpandangan simpatik.

Apakah pandangan dan opini publik yang negatif terhadap Islam dibentuk oleh perjumpaan langsung, pribadi, dengan Islam atau seorang Muslim? Menariknya, tidak. Menurut riset ini, 18% responden memiliki pengalaman pribadi dengan Islam –entah berjumpa atau punya kenalan Muslim, atau pengalaman pribadi lainnya. Dalam kelompok yang punya pengalaman pribadi dengan Islam tersebut, hanya 8% dari keseluruhan responden yang memiliki pandangan negatif tentang Islam. 28% dari mereka berpandangan positif. Sementara kelompok warga Amerika yang hanya mendapat pengaruh gambaran Islam dari media Amerika (32%) menyumbang angka sangat tinggi dari total kelompok yang memandang Islam secara negatif: 48%! Hanya 20% dari kelompok ini yang memandang Islam secara positif.

Media bisa dibilang jadi unsur penting dalam membentuk citra negatif Islam di Amerika.***

 

Untung Ada BBC

Sumber kecurigaan terhadap Islam memang bisa bermacam-macam. Salah satunya adalah apa yang disebut sebagai penelitian semi-ilmiah (pseudo-scientific) yang kerap dilakukan lembaga-lembaga think-tank di banyak negara.

Salah satu yang terbaru adalah penelitian yang dilakukan Policy Exchange (PE), sebuah lembaga ter­kemuka yang dikenal menjadi pemasok rekomendasi bagi kubu konservatif di Inggris.

Pada Oktober 2007, PE menerbitkan laporan penelitian tentang komunitas Muslim di Inggris. Dalam laporan yang berjudul, ”The Hijacking of British Islam: How extremist literature is subverting mosques in the UK” (Pembajakan islam Inggris: bagaimana literatur ekstremis mensubversi masjid-masjid di Inggris), lembaga tersebut berusaha menunjuk­kan betapa masjid adalah tempat penyebaran gagasan-gagasan Islam radikal.

Menurut laporan itu, empat peneliti – Pakistan, Somalia, Bangladesh dan Arab – selama enam bulan mengunjungi hampir 100 masjid di Inggris untuk mempelajari apakah buku-buku yang mendorong kebencian terhadap non-Islam memang dapat ditemukan di tempat-tempat ter­sebut.

Temuan lapangan itu kemudian dikompilasi oleh Denis MacEoin, seorang doktor studi Islam lulusan Universitas Cambridge. Dalam laporan tersebut, ter­tera daftar nama dan alamat masjid, yang diikuti dengan pembahasan mengenai apa yang dianggap sebagai materi-materi ‘ekstremis’ yang ditemukan.

PE  mengklaim penelitian tersebut merupakan survei akademik paling komprehensif yang pernah dilakukan di Inggris mengenai ekstremisme Islam di Inggris, dan ditangani oleh sejumlah tim periset spesialis. 

Salah satu temuan utama penelitian adalah, di banyak masjid di Inggris  memang berlangsung penyebaran buku-buku ekstremisme yang mendorong aksi jihad, mendorong kebencian terhadap Kristen, Yahudi dan  kaum homoseksual; serta menganjurkan komunitas Islam untuk hidup terpisah. PE juga menegas­kan bahwa sebagian besar literatur ekstremis itu diterbitkan dan disebarkan oleh lembaga-lembaga yang terkait deng­an pemerintah Saudi Arabia.

Media pun mengangkatnya secara besar. ”Banyak masjid menyebarkan pesan-pesan kebencian,” tulis berita halam­an satu koran Daily Telegraph. Berbagai pihak segera bereaksi dan mendorong pemerintah Inggris untuk lebih ketat mengawasi masjid, memantau komunitas dan sekolah-sekolah muslim, serta mewaspadai hubungan dengan pemerintah Saudi Arabia.

Hasil temuan PE ini sebenarnya akan tetap dijadikan rujukan kalau saja tidak ada Newsnight, sebuah program berita di stasiun televisi terkemuka Inggris, BBC. Para pengelola program itu curiga deng­an hasil penelitian PE, mengingat lem­baga tersebut memang dikenal tidak independen dan sering membawa agenda partai konservatif.

Tapi alih-alih sekedar curiga, yang mereka lakukan kemudian adalah melakukan penelitian ulang. Hasilnya mengejutkan. Newsnight menemukan bahwa sangat mungkin para peneliti PE melakukan ‘kecurangan’. Misalnya saja ada dugaan kuat bahwa, antara lain berdasarkan tim uji forensik, peneliti memalsukan bukti pembelian buku atau  bahwa peneliti sebenarnya tidak melaku­kan pendataan yang benar mengingat adanya sejumlah kesalahan alamat masjid. 

Para wartawan Newsnight juga tidak bisa menghubungi para peneliti PE yang turun  lapangan.  Alasan pimpinan PE adalah bahwa identitas para peneliti itu harus dijaga kerahasiaannya mengingat jiwa mereka bisa terancam bila sampai dikenali kelompok-kelompok radikal. Ketika para jurnalis Newsnight mendesak,  alasan baru dikemukakan: para peneliti itu sedang berlibur ke Mauritania! 

Newsnight menyimpulkan, bukti-bukti yang diajukan PE sama sekali tidak bisa diandalkan. PE tentu saja tidak terima. Pimpinan lembaga itu, Charles Moore menuduh Newsnight terlalu membesar-besarkan soal kesahihan bukti pembelian seraya mengabaikan masalah yang lebih besar, yakni soal ‘ancaman ekstremisme Islam’.

Tentu saja, jawaban PE jauh dari memuaskan. Masalahnya, dalam tradisi penelitian ilmiah, begitu sebagian bukti diragukan keterandalannya, kesimpulan penelitian itu lazim diragukan kebenar­annya. Apalagi kemudian terungkap bahwa  MacEoin, yang memimpin dan melakukan analisis akhir studi, tidak memiliki reputasi keilmiahan dalam studi Islam yang memadai. Selama hampir 20 tahun terakhir, MacEoin menyibukkan diri dalam menulis novel, bukan peneli­tian ilmiah!

Muslim Council of Britain (MCB) berterima kasih pada BBC yang telah mengungkap kebenaran. “Newsnight layak mendapat penghargaan karena telah mengekspos kurangnya kredibilitas dan metodologi yang meragukan dari laporan Policy Exchange, ” kata Inayat Bunglawala, asisten sekretaris jenderal MCB.  


Komentar