Home » Review » Film » Film Nabi Muhammad: Upaya Dakwah yang Dikecam  Al-Azhar
Foto: Majid Majidi sutradara film Muhammad: The Messenger of God

Film Nabi Muhammad: Upaya Dakwah yang Dikecam  Al-Azhar

Sutradara kenamaan asal Iran, Majid Majidi, baru saja merilis film terbarunya tentang sosok Nabi Muhammad. Ini bukan film pertama tentang biografi Nabi Muhammad. Moustapha Akkad, pada l976, lebih dulu membuat film The Message (Al-Risalah).

Film tentang  Nabi Muhammad selalu menuai kontroversi dan kecaman.Tak banyak yang berani untuk membuatnya. Akkad sendiri, misalnya, tewas dalam serangan bom bunuh diri pada 2005 di Amman, Yordania. Kendati tak diketahui penyebabnya, tapi banyak kalangan menduga serangan itu ada kaitannya dengan film yang ia sutradarai itu.

Sebagaimana The Message,  film berjudul Muhammad: The Messenger of God ini sama sekali tak menampilkan wajah Nabi Muhammad. Film yang direncanakan sebagai trilogi itu  hanya menampilkan tangan dan kaki nabi saat bayi dan bagian belakang kepala dan punggungnya saat remaja.

Kendati demikian, film yang dibuat selama lebih dari tujuh tahun itu tetap saja menimbulkan kecaman, khususnya dari kalangan Sunni. Bagi sebagian ulama, penggambaran sosok Nabi Muhammad dianggap haram.

Di antaranya, ulama dari Universitas Al-Azhar, Mesir. Dekan Fakultas Teologi Islam di kampus itu, Abdul Fattah Alawari, mengatakan haram hukumnya menggambarkan sosok nabi.

“Hal ini sudah ketetapan syariah. Syariah melarang penggambaran Nabi,” katanya. Apalagi, lanjutnya, seorang aktor yang memerankan nabi selalu mendapat peran yang berbeda dan saling bertentangan dalam tiap filmnya.

“Kadang menjadi mabuk buta, mata keranjang dan kemudian berperan sebagai nabi. Ini tidak diperbolehkan dalam Islam,” ujarnya.

Senada dengan Abdul Fattah,Abdul Dayyim Nosair,juga mengungkapkan keberatannya.Bagi penasihat kepala Al-Azhar Ahmed al-Tayyeb ini, menggambarkan nabi dalam seni seperti itu sama saja dengan meremehkan status kerasulan nabi. Hal ini berlaku tak hanya gambar wajah nabi tapi juga suaranya.

“Aktor yang berperan (nabi) ini kemudian dapat memainkan penjahat, dan pemirsa dapat mengaitkan karakter (nabi) ini dengan kriminalitas,” katanya, seperti dikutip AFP.

Tak semua setuju dengan pandangan Abdul Fattah dan Abdul Dayyim. Sebagian kalangan menganggapnya sebagai persaingan ‘politik’ antara kekuatan Sunni dan Syiah. Salah satunya dari penyanyi soundtrack dalam film itu: Sami Yusuf.

Menurut bintang rock Islam terbesar versi Majalah Time ini, sebagian besar reaksi terhadap film itu bermuatan politik.

“Saya yakin orang-orang di Al-Azhar dan lain-lain yang mengkritik film ini belum menontonnya. Mereka menentangnya hanya karena itu adalah ekspor budaya Iran,” kata pria yang sohor lewat debut album Al-Mu’allim ini, seperti dilansir Reuters (28/8).

Ia melanjutkan, “Anda tidak bisa belajar bagaimana hidup Muhammad dan tidak jatuh cinta dengan dia kalau tidak kenal. Film ini membuat masyarakat dunia tahu nabi kita itu lebih baik sehingga mereka bisa melihat bagaimana sosok dan karakternya. Kami telah melakukan tugas kami,” kata penyanyi yang sudah mendunia ini.

Bagi Majidi, sang sutradara,  film yang menghabiskan dana $40 juta dan termahal di Iran ini dibuat  untuk menambah daftar film tentang Nabi Muhammad yang sangat minim jumlahnya.

“Kami merasa bersalah kita kurang memperkenalkan pada dunia wajah nyata dan benar dari nabi. Ada 200 film tentang Yesus Kristus, 100 film menampilkan Musa langsung atau tidak langsung, 42 tentang Buddha, tapi hanya dua tentang Muhammad,” ujarnya, seperti dilansir The Guardian (28/8).

Majidi sendiri menyayangkan kurangnya pengetahuan masyarakat dunia tentang Islam dan ajaran yang dibawa Nabi Muhammad selama 40 tahun terakhir, khususnya di Barat. Sehingga terjadi phobia terhadap Islam. Karena itu ia percaya pendekatan yang lebih proaktif diperlukan dari pembuat film Islam untuk melawan phobia terhadap Islam dan tindak terorisme yang berlandaskan agama.

“Saya memutuskan untuk membuat film ini untuk melawan gelombang Islamophobia di Barat. Interpretasi Barat tentang Islam itu penuh kekerasan dan lekat dengan terorisme,” imbuhnya, seperti dikutip Hizbullah Line, sebuah media Iran.

Kaum ekstrimis dan jihadis Islam, lanjutnya, telah mencuri nama Islam. Ia ingin memperbaiki pemahaman orang lain di seluruh dunia tentang Islam.

“Kami melihat ini sebagai tugas kita untuk mengenalkan Islam dan Nabi Muhammad sebaik mungkin.Tidak ada propaganda di balik ini,” kata sutradara yang karyanya memenangkan beberapa penghargaan internasional seperti Penghargaan Khusus di Montreal untuk mempromosikan persatuan di antara agama-agama.

Majidi sendiri mengaku telah mengantongi dukungan dari ulama Sunni maupun Syiah terkait interpretasi masa kanak-kanak nabi di wilayah Hijaz. Riset film ini pun memakan waktu empat tahun untuk menggali berbagai sumber. Mulai dari hadis hingga buku-buku sejarah dan biografi (sirah) Nabi Muhammad.

Pembuatan film ini, katanya, mengupayakan pandangan yang disepakati di dunia Islam tentang sisi-sisi kehidupan Nabi. Walau begitu, Majidi memprediksi beberapa negara berbasis Islam akan menolak film ini.

“Beberapa negara seperti Arab Saudi akan memiliki masalah dengan film ini. Tapi banyak negara Islam, termasuk Turki, Indonesia, Malaysia, dan banyak negara di Asia Tenggara telah meminta film ini,” jelasnya.

Pertarungan Makna?

Dalam beberapa tahun ini film bertema religi memang sedang bangkit dan bergairah. Tahun lalu, misalnya, film Noah berhasil meraup pendapatan kotor $ 362.6 juta dan Exodus sebesar $ 268 juta.

Film The Messenger of God ini adalah bagian pertama dari trilogi biografi Nabi Muhammad. Film ini menggambarkan bagaimana peristiwa jelang kelahiran hingga masa remajanya, sebelum ia menjadi nabi. Tak hanya itu, footage 52 jam film ini juga direncanakan akan diedit untuk menjadi mini-seri televisi.

Pengambilan gambar film ini kebanyakan dilakukan di Iran dan juga Afrika Selatan, setelah India menolaknya untuk menghindari reaksi dari negara-negara Muslim.

Film-film Majidi sendiri tak asing di Indonesia. Saat perayaan hari besar Islam, televisi nasional kita lazim memutar beberapa filmnya. Dua di antara belasan filmnya yang masyhur di sini, Baran dan Children of Heaven. Keduanya meraih penghargaan “Best Picture” di Festival Film International Montreal. Yang pertama juga masuk nominasi Film Berbahasa Asing Terbaik di Academy Awards tahun 1998 dan temasuk dalam 10 film  terbaik tahun 2000 versi Majalah Time. Yang kedua juga masuk nomonasi European Film Academy Award.

Di berbagai filmya Majidi banyak mengangkat isu sosial-agama dan perdamaian. Baginya, Islam adalah agama damai, persahabatan, dan cinta. Ia mencoba untuk menunjukkan ini dalam film tersebut.

Film yang dibintangi banyak aktor top Iran dan melibatkan pekerja film ternama, baik nasional maupun internasional yang pernah memenangi Academy Award dan Oscar (seperti Scott E. Anderson, AR Rahman, Vittorio Storaro, dan Milijen Kreka Kljakovic) ini diputar perdana pada Rabu (26/08)di 143 bioskop di seluruh Iran. Dan kemudian ditayangkan dalam pembukaan Festival Film Montreal, Kanada.

Kabarnya, seluruh tiket nonton perdana ludes terjual. Pengelola salah satu bioskop di Teheran bahkan mengatakan film itu yang paling populer saat ini. Dan sebagian besar penonton kabarnya puas usai menyaksikan film itu.

“Film ini sangat menyentuh,” kata Mahsa Rasoulzadeh, 40 tahun, yang sudah menonton bersama ibunya dan putrinya di bioskop Kourosh, Teheran, seperti dikutip Merdeka.com.

Film Majidi ini pun mendapat tanggapan dari Qatar. Negeri mayoritas Sunni ini juga akan memproduksi tujuh film tentang nabi. Mulai dari Ibrahim hingga Nabi Muhammad dengan angka yang fantastis. Sekitar $ 1,2 miliar.

Di bawah payung perusahaan swasta al-Noor selama enam tahun, prospek seri ini juga digawangi produser Lord of the Rings Barrie Osborne yang berperan sebagai penasihat/dewan pertimbangan.

Produser Azahar Iqbal yang juga hadir dan menyaksikan film Majidi di Montreal menegaskan bahwa timnya terbuka akan kemungkinan kerjasama dengan Majidi. “Kita di sini bukan untuk berkhotbah. Kami benar-benar ingin bekerja pada sesuatu yang terkait dengan hiburan,” kata Iqbal, sepertidilansir The Guardian.

Menanggapi hal itu, Majidi mengatakan: “Kami berharap tim Qatar akan membuat interpretasi yang benar dari Islam,” imbuhnya.

Majidi sendiri mengapresiasi usaha Qatar itu. Jika karya-karya tentang nabi ini dibuat lebih banyak lagi, katanya, tentu ada gambaran yang lebih baik tentang Islam dan Nabi Muhammad SAW di dunia.

“Semakin banyak film yang dibuat tentang kehidupan nabi, semakin baik sebagai pelajaran agar tidak ada penyudutan agama tertentu,” kata Majidi.

Produser “Muhammad” Mark Joseph mengatakan bahwa film akan menjadi ujian yang menarik bagi muslim Sunni dan Syiah.

“Masih harus dilihat bagaimana dunia Islam akan menyikapi masalah ini, dan khususnya bagaimana reaksi yang berbeda dalam masyarakat Sunni dan Syiah,” katanya, seperti dilansir Foxnews.Com.[]

Achmad Rifki

Komentar