Home » Review » Film » Misteri Makam Yesus

(Tulisan ini telah dimuat di Majalah Madina No. 2, Tahun 1, Februari 2008)

Sebuah film dokumenter mengganggu keyakinan kebergamaan umat Kristen. Tak ada kemarahan yang membuta. Yang dilakukan, konferensi ilmiah.

Misteri Makam Yesus

Selama empat hari bulan Januari lalu, Jerusalem menjadi pusat perhatian dunia Kristen. Tidak, ini tak ada kaitannya dengan soal isu politik Timur Tengah. Yang menjadi inti soal kali ini adalah sesuatu yang mendasar dalam keimanan Kristen: benarkah Yesus meninggal disalib?

Pada 13-16 Januari itu, lebih dari 50 pakar dunia berkumpul di kota bersejarah itu dalam sebuah konferensi yang diselenggarakan Princeton Theological Seminary. Disiplin ilmu mereka beragam: arkeologi, sejarah, studi Injil, DNA, bahasa kuno dan  statistik. Perhatian dipusatkan pada temuan penelitian yang menghebohkan tahun lalu, yakni soal apa yang dikenal sebagai Tomb of Jesus (Makam Yesus).

Isu ini meledak pada Maret 2007, ketika stasiun televisi berlangganan asal AS, Discovery Channel, menyiarkan program dokumenter  satu jam, The Lost Tomb Of Jesus. Acara ini menjadi sangat menarik perhatian publik bukan hanya karena diproduseri oleh James Cameron (sutradara yang membuat film terlaris sepanjang masa, Titanic) dan promosinya yang gencar tapi juga karena muatannya.

Film tersebut menyajikan hasil penelusuran sutradara Israel, Simcha Jacobivici, yang menunjukkan bahwa di pemakaman kuno di Talpiyot, bagian selatan Israel, terdapat makam Yesus dan keluarganya. Lebih mengejutkan lagi, menurut Jacobivici, yang dimakamkan di sana bukan hanya Yesus, bunda Maria, tapi juga istri dan anak Yesus. Lebih membelalakkan mata, yang dikatakan sebagai istri Yesus adalah Maria Magdelena, tokoh wanita yang memang dikenal dalam Injil sebagai salah seorang murid yang sangat disayangi Yesus.

Temuan itu menimbulkan banyak reaksi keras. Selama ini, berdasarkan Kitab-kitab Perjanjian Baru yang diyakini sebagai kebenaran oleh umat Kristen, seharusnya tidak ada yang dinamakan sebagai tulang belulang Yesus. Menurut keyakinan dalam arus utama Kristen, setelah disalib dan meninggal, Yesus memang sempat dimakamkan. Namun kemudian ia dibangkitkan kembali oleh Tuhan tiga hari sesudah kewafatannya.  Ia kemudian berada di muka bumi selama 40 hari sebelum hijrah ke Surga dengan disaksikan puluhan saksi, dan menunggu umatnya sampai di akhir zaman nanti. Ini merupakan keyakinan sentral dalam teologi Kristen, sebagaimana termuat dalam Kitab Perjanjian Baru.

Yang sama mengganggu adalah tentu saja, kesimpulan mengenai hubungan Yesus dan Maria Magdalena. Umat Kristen umumnya percaya bahwa Yesus adalah putra Tuhan yang tidak pernah menikah, tidak pernah berhubungan seks dan tidak pernah memiliki keturunan. Maria Magdalena adalah seorang pelacur yang diselamatkan karena kasih Yesus. Kesimpulan Jacobovici menjungkirbalikkan segenap keyakinan tersebut.

Jacobivici menyatakan, sebagai hasil penelitian, kesimpulan ia tentu saja bisa dipersoalkan. Namun, data yang terkumpul membuat ia percaya  bahwa kecil sekali kemungkinan itu  bukan makam Yesus.

Ditemukan pada 1980

’Makam Yesus’ yang diributkan itu adalah satu dari ribuan makam keluarga kuno yang berasal dari sekitar abad ke satu Masehi di daerah Jerusalem. Di dalam setiap makam terdapat kotak-kotak batu yang disebut sebagai osuari yang berisikan tulang belulang mereka  yang meninggal. Di setiap kotak  lazimnya terdapat catatan identitas orang tersebut.

’Makam Yesus’ ditemukan pada Maret 1980 oleh para pekerja dalam projek pembangunan kompleks apartemen di Talpiyot, Jerusalem. Namun ketika itu,  pemerintah Israel  tidak pernah mengangkatnya sebagai sebuah temuan yang perlu ditindaklanjuti secara serius. Akibat tekanan kaum ultra-ortodoks, hasil penggalian tersebut bahkan dikubur kembali, dan segenap penelitian yang terkait dengan makam-makam tersebut tak pernah dilanjutkan. Temuan tersebut hanya dicatat secara resmi, disimpan secara rapih, dan selesai.

Catatan ini yang lebih dari 20 tahun kemudian mendorong Jacobivici untuk membongkar kembali osuari-osuari tersebut. Ia sangat tertarik dengan sebuah makam berisikan sepuluh osuari, dengan salah satu di antaranya beridentitas Yesus (atau Yosua) putra Yusuf.

Tentu saja data itu bisa tidak berarti apa-apa. Di abad ke satu Masehi, nama Yosua adalah nama yang lazim. Namun, ini menjadi istimewa, karena sembilan osuari yang lain pun memiliki catatan yang mengingatkan Jacobivici pada tokoh-tokoh dalam Injil. Ia kembali menelusuri tumpukan data historis yang selama ini tersimpan di bawah kendali pemerintah Israel. Ia bahkan harus kembali menggali bekas makam yang berlokasi di bawah sebuah apartamen Jerusalem.

Film dokumenternya menggambarkan bagaimana Jacobivici bak seorang detektif  dengan sabar mengumpulkan informasi penggal demi penggal sampai apa yang dianggapnya sebagai ‘kebenaran’ ditemukan. Dan di ujung cerita, kegigihan Jacobivici berbuah. Ia menyimpulkan, ia memang telah menemukan makam Yesus.

Karena implikasi temuannya sangat serius, bisa dipahami bila reaksi dari dunia akademik dan dunia Kristen sangat besar. Amos Kloner, ahli arkeologi Israel dengan sinis menyatakan bahwa kesimpulan film dokumenter itu tak memenuhi standard keilmuan tapi memang memiliki nilai jual tinggi bagi televisi. ’’Mereka cuma mengejar uang,’’ ujar Kloner.

Jacobivici dan Cameron memang bukan peneliti. Mereka adalah pembuat film dan karena itu dianggap tidak lazim mengikuti metode ilmiah yang ketat. Apalagi latarbelakang keduanya pas menunjukkan profil orang-orang yang memiliki bias anti-Kristen: Jacobivici adalah aktivis Yahudi sementara Cameron mengaku sebagai agnostik (percaya Tuhan tapi tidak menganut agama apapun).

Cameron sendiri  meminta agar temuannya tidak dibaca sebagai bantahan atas keyakinan Kristen.  ‘’Saya bukan teolog, saya bukan arkeolog. Saya adalah pembuat film dokumenter,’’ ujarnya. Karena itu ia meminta pengkritiknya tidak berprasangka apa-apa. ’’Ini temuan yang sangat besar. Kami sudah melakukan pekerjaan rumah kami; kami sudah menunjukkan temuan kami; dan sekarang waktunya kita berdebat.’’

Pihak Discovery Channel juga merasa perlu meminta sebuah tim ahli statitistik untuk meneliti tingkat kemungkinan bahwa makam yang ditemukan tersebut memang makam keluarga Yesus. Hasilnya, tim itu mendukung keyakinan Jacobivici.

Tak Ada Kesimpulan pasti

Dalam konteks perdebatan itulah, konferensi di Jerusalem itu diselenggarakan. Perdebatan berlangsung dengan sangat hangat. Jacobivici dan Cameron datang sebagai pengamat. Nyatanya, puluhan ilmuwan yang hadir tak bisa tiba pada kesepakatan definitif. Di hari akhir, disajikan presentasi lima panelis penyimpul. Dua orang menolak dan dua orang menganggap ’sangat mungkin’ itu adalah makam Yesus.  Pimpinan konferensi bersikap netral dengan menyatakan bahwa ‘’kita harus terbuka pada kemungkinan bahwa makam itu terkait dengan keluarga Yesus.’’

Hasil pertemuan itu melegakan Jacobivici. Paling tidak, ia merasa ada cukup banyak ilmuwan yang ternyata mengakui temuannya, sehingga kerja kerasnya tidak bisa lagi dinilai sebagai tidak saintifik dan sekadar sebagai karya amatiran. Ia berharap kesimpulan simposium itu dapat mendorong pemerintah Israel membuka  peluang bagi penelitian lebih lanjut di Talpiyot.

Sang sutradara juga memperoleh hadiah mengejutkan dalam simposium tersebut.  Ruth Gat, janda mendiang Yosef Gat, arkeologis Israel yang pertamakali menemukan makam di Talpiyot tersebut tampil sebagai pembicara di hari terakhir. Ruth menyatakan bahwa Gat sebenarnya sejak lama juga menduga bahwa makam yang ditemukannya adalah makam Yesus. Namun, Gat – yang meninggal tak lama setelah penggalian pada 1980 itu — tak mau mengungkapkan dugaannya kepada publik karena sebagai orang yang selamat dari kekejaman Holocaust di Perang Dunia II, ia kuatir bahwa itu akan memprovokasi kebencian anti-Yahudi di kalangan umat Kristen. ’’Puji Tuhan bahwa, kekhawatirannya kini tak terbukti,’’ ujar Ruth.
       
Bisa dibilang, kasus ini kembali menunjukkan kerumitan yang mungkin akan selalu menyertai hubungan antara temuan ilmiah dengan keyakinan keagamaan, terutama ketika keduanya nampak sebagai bertentangan. Discovery Channel sendiri merasa perlu mengeluarkan siaran pers yang menjelaskan bahwa isi program tersebut tidak membantah kebenaran Kristen.

Menurut mereka,  kalaupun temuan ini benar, ini tidak berarti menyalahkan Injil melainkan lebih ke arah mempertanyakan kembali penafsiran tentang kebangkitan ke Surga yang selama ini diyakini umat Kristen. Umumnya pemeluk Kristen percaya bahwa yang berangkat ke surga adalah tubuh dan jiwa Kristus. Film dokumenter ini sekadar menunjukkan bahwa mungkin ada cara pandang lain soal konsep ’kebangkitan’ tersebut: yang bangkit hanyalah jiwa dan roh Yesus, sementara sisa-sisa jasadnya tetap ada di bumi. Dengan kata lain, temuan baru ini hanya bertentangan dengan kepercayaan tentang kebangkitan fisik namun tidak kebangkitan spiritual.

Para ahli dalam konferensi itu sendiri mengingatkan bahwa kesimpulan akhir tidak mungkin dicapai dengan segera. Ahli arkeologi Profesor Shimon Gibson dari Universitas North Carolina sekaligus memuji dan menyindir Jacobivici. ’’Apa yang dilakukannya adalah sebuah karya yang baik,’’ kata Gibson. ’’Tapi seorang jurnalis akan membuat satu karya dan kemudian pindah ke karya yang lain. Kami, para sejarawan dan arkeolog, akan menghabiskan sisa usia kami untuk mempelajari informasi yang akan terus dikumpulkan.’’

Tokoh yang mengorganisir pertemuan ini sendiri adalah seorang pendeta dan pakar Kitab Perjanjian Baru, Prof. James Charlesworth. Menurutnya, kendati memang mengejutkan, temuan ini tidak akan menggoyahkan keyakinan sebagian besar umat Kristen mengenai ajaran Kristen. ’’Kristen adalah sebuah agama yang kuat, yang didasari kepercayaan dan pengalaman,’’ ujarnya yakin. ’’Dan saya tidak yakin apakah sebuah penemuan arkeologis akan mengubah itu.’’

Komentar