Home » Review » Film » Menantikan Dakwah yang Menyihir
(Tulisan ini telah dimuat di Majalah Madina No. 1, Tahun 1, Januari 2008)
 
Sinetron bikin heboh, dikaitkan pemurtadan dan sihir. Antiklimaks yang menyisa­kan pertanyaan. 

Sinetron Sebuah Penantian mungkin program televisi yang paling membuat repot RCTI. Akibat film itu, stasiun televisi tertua di Indonesia itu terpaksa harus menjelaskan kanan-kiri soal tuduhan 'Kristenisasi' dan 'pemurtadan' yang dialamatkan pada mereka.

Menantikan Dakwah yang Menyihir

 
Kisahnya dimulai di pekan kedua Desember 2007 lalu. Entah dimulai dari mana, tersiarlah kabar tentang akan hadirnya sebuah acara televisi yang berpotensi memurtadkan orang-orang Islam. Program itu bernama Sebuah Penantian yang akan dihadirkan pada 15 Desember sore, di RCTI. Melalui rantai SMS dan surat elektronik, tersebar peringatan bahwa kalau penonton tidak kuat iman, mereka dapat terhipnotis dan berubah memeluk Kristen.
 
‘Matikan TV Anda pada 15 Desember 2007’, kata sebuah SMS. “Kalau Anda mau menyaksikannya, maka tontonlah sambil berzikir,” demikian pesan sebuah email. ”Hati-hati, di India jutaan orang masuk Kristen karena terhipnotis saat menonton film ini,” bunyi pesan yang lain.
 
Sebuah Penantian akhirnya ditayang­kan. Nyatanya, setelah diputar, tak ada lagi protes berarti. Tidak ada bukti peng­hipnotisan. Tidak ada kabar perpindahan agama secara massal. Tidak ada juga kabar bahwa rating acara tersebut tinggi.
 
Bagaimanapun, kasus ini menunjuk­kan betapa ada persoalan serius dengan hubungan antar umat beragama di Indonesia. ”Ini tanda-tanda bahwa masyarakat kita sedang risau, merasa terancam, tidak percaya diri,” ujar Eduard Lukman, pengajar di Pasca Sarjana Depertemen Ilmu Komunikasu UI. 
Bagi Lukman, yang paling me­nguatirkan adalah bahwa ada banyak orang terpengaruh dengan pesan-pesan itu. ”Bagaimana mungkin orang bisa percaya bahwa dengan menonton film, kita bisa terhipnotis dan pindah agama?”  kata ayah seorang  putri ini. ”Dan kalau memang ada begitu banyak yang percaya, itu benar-benar menandakan betapa lemahnya keyakinan umat Islam di Indonesia.”
Memang Dakwah Kristen
Benarkah itu sebuah film dakwah Kristen? RCTI, dalam siaran persnya, secara tidak langsung membantah dan menegaskan bahwa acara itu merupakan inisiatif organisasi bernama Harapanku Indonesia. Menurut RCTI, mereka menyetujui untuk memproduksi FTV tersebut karena diharapkan memberikan nilai moral yang baik untuk masyarakat, yakni tentang arti penting keharmonisan keluarga. ‘‘FTV ini diproduksi penuh di Indonesia, dan tidak merupakan adaptasi dari penayangan suatu program di luar negeri,”  tulis siaran pers RCTI.
 
Hanya saja, lembaga Harapanku Indonesia itu ternyata memang organi­sasi Kristen. Mereka  memproduksi empat sinetron, termasuk Sebuah Penantian. Keempatnya disiarkan menjelang dan sesudah Natal, di RCTI, Trans TV dan TVRI. Bahkan dalam situsnya, mereka mengimbau umat Kristen untuk beramai-ramai menyaksikan tayangan-tayangan itu. ”Ajak rekan serta kerabat untuk menyaksikan dan mohon sebarkan tayangan yang memberikan harapan,” tulis situs tersebut.
 
Lebih dari itu, terungkap juga bahwa Harapanku Indonesia adalah organisasi yang terlibat dalam sebuah projek besar yang pemrakarsa utamanya adalah sebuah organisasi Kristen yang sangat berpengaruh di Amerika Serikat, The Billy Graham Evangelistic Association. Graham, sang pendeta karismatik, percaya bahwa penyebaran agama di abad ke-21 ini harus dilakukan dengan meman­faat­kan budaya pop yang me­landa dunia.  Acara televisi dalam hal ini dilihat sebagai semacam pengganti kaum misionaris yang harus berkelana ke berbagai belahan dunia untuk mewartakan Injil di abad-abad lalu.
 
Graham juga percaya pada pendekatan yang menghargai keragaman budaya. Alih-alih menyiarkan satu program ke seluruh dunia, Graham melakukan lokalisasi: program yang sama diadaptasi dalam beragam cara sesuai dengan budaya masing-masing. Nama program aslinya adalah My Hope. Di Indonesia, gagasan yang sama muncul dalam beragam bentuk di tiga stasiun tadi.
 
Stasiun televisi yang menyiarkan program tersebut bisa jadi melakukannya semata-mata dengan pertimbangan bisnis.  Harapanku Indonesia –beserta gereja-gereja pendukung– membeli jam siar dan menyediakan dana bagi stasiun televisi untuk memproduksi program sesuai dengan gagasan besar My Hope.
 
Di RCTI, film itu dibuat oleh rumah produksi milik MNC –induk perusahaan RCTI, Global TV dan TPI . Produsernya adalah Presiden Direktur MNC sendiri, Hary Tanoesoedibjo. Yang terlibat di dalamnya adalah grup yang pernah melahirkan sinteron Mujizat Itu Nyata, antara lain Nana Mirdad dan Rudi Salam. Versi di Trans TV juga dibuat oleh studio in-house stasiun tersebut.
Menyihir Penonton
Sejak mulai dikembangkan pada Juli 2002, Projek My Hope sudah diterapkan di banyak negara lain. Namun Indonesia adalah langkah pertama Graham di dunia Islam. Dan yang tentu membuat banyak kelompok Islam kuatir adalah data mencengangkan tentang kesuksesan acara tersebut menarik penonton untuk menjadi pemeluk Kristen di berbagai dunia lain. Misalnya saja, sebuah situs menulis, program tersebut ”telah berhasil memenangkan jutaan orang di India ke pangkuan Yesus Kristus.”
 
Klaim-klaim kisah sukses di negara lain pun berlimpah. Di Uruguay (2007), 67 ribu orang dikabarkan memutuskan masuk Kristen setelah acara tersebut ditayangkan selama tiga hari. Di Meksiko, angkanya bahkan mencapai hampir 500 ribu orang. Totalnya, sejak program itu diluncurkan pada 2005 lalu, diklaim bahwa pemeluk Kristen bertambah 8,8 juta orang.
 
Berbagai publikasi juga menggambarkan betapa acara tersebut didukung habis-habisan oleh organisasi-organisasi Kristen di setiap negara. Sebagai contoh, di Filipina, proses penayangan program tersebut diberitakan melibatkan sampai 21.000 gereja.
 
Rangkaian promosi itu rupanya membuat kuatir sebagian kelompok muslim. Seorang pendakwah terkenal, Ary Ginanjar, misalnya, sempat dikabarkan –dan kemudian dibantah– sebagai orang yang memprakarsai penyebaran SMS peringatan pemurtadan itu.
 
Terdengar pula kabar bahwa sebenarnya yang harusnya menjadi pemeran utama pria adalah Roy Martin. Tapi, tiba-tiba saja, menjelang proses pembuatan dimulai, aktor tampan itu mengundurkan diri. Peristiwa ini ditafsirkan sebagian pihak sebagai ‘campur tangan Tuhan’, mengingat tak lama kemudian Roy ter­nyata ditahan karena tuduhan pengguna­an obat terlarang.
 
Begitu juga dengan cerita tentang hipnotis. Dikabarkan bahwa dalam proses pembuatan sinteron tersebut, para penggarapnya melakukan puasa penuh selama 30 hari. Dengan kekuatan spiritual yang diperoleh dari puasa itu, film ini dipercaya akan memiliki kekuatan untuk ‘menyihir’ para penonton.
 
Untungnya, segenap keriuhan ini segera menjadi sunyi setelah Sebuah Penantian akhirnya benar-benar disiarkan. Film TV –yang bercerita tentang pintu maaf anak pada ayah yang mengkhianati keluarga– memang menyentuh, tapi nampak sebagai kisah drama menjelang natal yang biasa.
 
Sentuhan kekristenan dalam cerita ini memang terasa. Si ibu yang berulangkali dikhianati sang suami memilih tetap tidak bercerai karena keyakinan keagama­annya. Saat sang ayah menyesal ia dengan getir menyebut, ia memperoleh petunjuk Yesus. Acara pernikahannya pun berlangsung, tentu saja, di gereja.
 
Sebagian penonton bahkan mengata­kan acara itu tidak atraktif. Dalam sebuah blog pribadi tertulis begini: ”…tidak ada greget, tidak ada sentuhan,  membosan­kan,…”
Lima Teori
Jadi, Sebuah Penantian berakhir deng­an antiklimaks. Tapi, tetap ada pertanyaan: mengapa keriuhan ini terjadi?
 
Teori pertama, kontroversi ini dengan sengaja dibuat untuk menarik perhatian publik. Berdasarkan teori ini, kehebohan sengaja diprovokasi agar rating penonton meningkat. Teori kedua, soal persaingan antar stasiun televisi, karena ada yang tidak kebagian dana My Hope.
 
Teori ketiga, juga persaingan stasiun –namun dalam hal ini, acara tersebut sekadar dimanfaatkan untuk memba­ngun imej buruk mengenai, terutama, RCTI. Teori keempat, memang ada seseorang yang kuatir tatkala melihat bahwa My Hope yang dikabarkan sukses di banyak negara sekarang akan disiarkan juga di Indonesia. Teori kelima, memang ada pihak yang sengaja mendorong kecurigaan antar umat.
 
Teori manapun yang benar, kasus ini menunjukkan betapa besarnya potensi kecurigaan antar umat beragama di negara ini. ”Umat Islam harus belajar menghadapi dunia yang semakin ter­buka,” saran Lukman. ”Anggap saja film itu sebagai iklan –dia membujuk, tapi semua kembali pada kita.” *

Komentar