Home » Review » Film » Layar Ayat
(Tulisan ini telah dimuat di Majalah Madina No. 1, Tahun 1, Januari 2008) 
 
Masih banyak kesulitan berdakwah lewat film. Masih ada pertanyaan
tersisa.

Dalam konferensi pers film Ayat-ayat Cinta, 4 Agustus 2007, Hanung Bramantyo sang sutradara sedikit bergetar suaranya saat menceritakan mengapa ia membuat film ini. Membuat film religius, kata Hanung, adalah cita-cita saya sejak lama. Ia pernah diminta oleh ibunya, kalau sudah bisa bikin film nanti agar membuat film agama (Islam). "Baru sekarang," ungkap Hanung, "saya bisa memenuhi permintaa­n itu."

Layar Ayat

 
Hanung, sutradara terbaik FFI 2007 untuk film Get Married (yang juga salah satu film terlaris 2007), mengaku dalam blog-nya, ia baru menyadari betapa berat permintaan itu. Bahkan mulanya, permintaan itu tak masuk akal bagi Hanung. Dulu, Hanung memiliki kesan bahwa film agama “tidak lebih dari sekadar petuah-petuah yang membosankan.” Setelah melalui berbagai diskusi dan pergulatan ide (lihat boks wawancara dengan Hanung), ia mulai bisa membayangkan bagaimana memenuhi permintaan itu. Ketika akhirnya ia membuat Ayat-ayat Cinta, ia menemui kenyataan lain: alangkah berlikunya membuat film ini!
 
Jadual yang berubah-ubah, juga lokasi yang tak sesuai rencana, berbagai penghematan, kesulitan produksi mau pun proses pascaproduksi, menebalkan kesan itu: memang tak mudah bikin film agama. Bahkan dari segi definisi saja, masih banyak perdebatan keras.
 
Jangan kira soal definisi ini masalah abstrak. Dalam soal “film Islam”, ini menyangkut investasi yang bisa milyaran rupiah. Salah satu perdebatan awal tentang definisi “film Islam”, dan segala konsekuensinya, adalah ketika Chaerul Umam dan Imam Tantowi membuat Fatahillah pada 1997. Film ini menguras biaya sangat besar pada masanya, yakni Rp. 3 milyar (menurut Katalog Film Indonesia karya JB. Kristanto, et. al.), seluruhnya dari kocek Pemda DKI Jakarta.
 
Memang, film ini di-cantel-kan de­ng­an ulang tahun Jakarta ke-479. Maklum, Fatahillah dianggap sebagai pendiri kota Jakarta. Film ini juga sempat dibesar-besarkan sebagai “lokomotif kebangkitan film nasional”, bahkan sebelum film ini dibuat! Bisa dipahami, mungkin perlu ada rasionalisasi untuk dana sebesar itu. Tapi yang menarik, dari para pembuatnya, khususnya Chaerul Umam, ada kehendak untuk membedakan diri dari film nasional selama ini. 
Pelik-pelik film Islam
Film ini menonjolkan kepahlawanan tokoh Islam. Apa bedanya dari, misalnya, Tjoet Nja Dhien (karya Eros Djarot, 1986) atau Sunan Kalijaga (karya Sofyan Sharna, 1983)? Dari Chaerul Umam, ada semangat besar menjadikan film ini sebagai film dakwah. Karenanya, film ini lebih bisa dibandingkan dengan karya Chaerul Umam lainnya, Nada dan Dakwah (1991, dibintangi Rhoma Irama dan “da’i sejuta umat” KH. Zaenuddin MZ).
 
Ada sebuah adegan menarik dalam Nada dan Dakwah. KH. Zaenuddin MZ menerangkan di papan tulis hitam, stra­tegi dakwah Islam ke masyarakat. Sang da’i menerangkan dalam bentuk bagan yang mirip dengan yang biasa diterapkan oleh para “da’i kampus” pada masa itu. Chaerul Umam sendiri memang agaknya meminati konsep “dakwah melalui film”. Pada Fatahillah, Mamang (panggilan akrab Chaerul Umam) merekrut banyak kalangan aktivis dakwah kampus saat itu (yang banyak didominasi oleh kelompok harakah yang terilhami modus dakwah Ikhwanul Muslimin).
 
Misalnya, ia mengangkat Igo Ilham sebagai pemain utama memerani Fatahillah. Igo saat itu bukan pemain film. Ia dipilih karena hapal Qur’an. Setelah reformasi, Igo aktif di Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Mamang juga menyertakan konsultan untuk urusan fiqh dalam pembuatan film ini dari kalang­an yang sama. Dalam film ini, semua tokoh utama perempuan memakai jilbab. Bersentuhan tangan antara lawan jenis dihindari.
 
Lebih menarik lagi, saat film ini diedarkan. Film ini sebetulnya nyaris jadi box office. Kalangan harakah memobili­sasi massa untuk menonton film ini. Beberapa studio 21 di-booking penuh, dan muncul beberapa kejadian unik. Banyak sekali akhwat berjilbab di bioskop, memberi sensasi aneh saat itu -ketika bioskop masih jadi sesuatu yang dihindari oleh para aktivis harakah. Di dalam bioskop, ada “panitia” yang meng­atur agar ikhwan dan akhwat duduk tak bercampur.
 
Dalam perhitungan terakhir, Fatahillah gagal jadi box office, dan karenanya gagal pula jadi “lokomotif film nasional”. Situs PKSpedia (dalam pks-anz.org) mencatat sebuah isu yang beredar saat itu: tiba-tiba saja wakil pre­siden Try Sutrisno menitahkan agar film ini ditarik dari peredaran. Konon, ini gara-gara ada “surat kaleng” kepada wapres, menyatakan bahwa ada muatan SARA dalam film ini.
 
Namun, tanpa isu SARA itu, apakah Fatahillah memang berhasil sebagai film? Sebelum beredar, kritikus Salim Said, dalam tulisan di majalah Ummat (almarhum) edisi 31 Maret 1997, mempertanyakan kemampuan Fatahillah jadi lokomotif kebangkitan film nasional. Bagi Salim, “kebangkitan film nasional” hanya terjadi jika film-film kita dibuat “serius” oleh “SDM yang siap dengan modal yang cukup serta peralatan yang up to date” –sesuatu yang tak ia lihat ada pada Fatahillah.
 
Fatahillah memang film yang buruk dari segi mutu filmis: terlalu berkhutbah, verbalistis, tidak greget. Justru karena itulah, timbul pertanyaan pertama tentang bentuk “film dakwah”. Apakah “mutu” mesti dikalahkan demi “isi”? Apakah dakwah dalam film harus “verbalistik”? Apakah sebuah “film Islami” memiliki batasan-batasan syari’ah bukan hanya dari segi cerita, proses pembuatan, tapi juga dalam proses menontonnya? (Karena ada upaya pemisahan penonton lelaki dan perempuan ketika menonton film ini.)
 
Pertanyaan-pertanyaan ini mencuat kembali saat pembuatan Ayat-ayat Cinta. Film ini, walau inisiatif pembuatan dari MD Entertainment yang dimiliki non-Muslim, menggandeng Muhammadiyah. Ada diskusi, pencarian tolok ukur, tentang apa yang boleh dan tak boleh dalam pembuatan “film Islami”. Di luar para pembuatnya, misalnya di milis-milis dan blog-blog bernuansa “Islami”, sebagian kalangan yang percaya betul bahwa novel Ayat-ayat Cinta adalah perwujudan “novel Islami” sejati merasa tak genah dengan proses pembuatan filmnya.
 
Bahkan pilihan pemain pun ditanggapi negatif oleh sebagian, dan jadi perdebatan cukup hangat. Pasalnya, Fedi Nuril, pemeran tokoh utama Fahri yang “super” Islami, dianggap kurang Islami. Begitu juga, ada yang bertanya, kok di­pilih pemain macam Rianti Cartwright atau Carissa Putri. Seorang pemilis me­ngeluh, “begitulah kalau sutradaranya ‘orang umum'(sic!).” Beberapa memperdebatkan soal penggambaran adegan mesra dalam novelnya, bagaimana akan difilmkan? Walau konteksnya antar suami istri, tapi bukankah para pemainnya bukan muhrim? Lagi pula, apakah pantas kemesraan suami-istri ditampil­kan dalam film?
 
Toh banyak juga yang berharap baik. Saskia Mecca, salah seorang pemeran dalam Ayat-ayat Cinta, bercerita, “Di Malaysia saja, aku tuh punya teman dan sudah 60 orang bilang mereka menanti penuh harap atas film ini.” Menurut Saskia, teman-temannya itu sudah jenuh dengan tontonan-tontonan yang ada, dan berharap bisa melihat film Islami seutuhnya. Saskia juga bercerita bahwa Bang Din (maksudnya, Din Syamsuddin, ketua umum Muhammadiyah saat ini) memang mendampingi pembuatan film ini. “Bang Din ngasih pesan buatku, agar aku tetap menjaga, jangan sampai jilbab­ku lepas dalam film ini.”
 
Bagi Saskia, ada soal penting dalam membuat film Islami. Kelemahan film Islami kita selama ini adalah tak seluruhnya dibuat oleh orang Islam. Kalau sutradaranya muslim, pemainnya muslim, eh, produsernya bukan muslim. Atau sutradaranya bukan muslim. Saskia mencontohkan, mengapa sinetron-sinetron bermerk “Islam” banyak yang serbahoror. Produsernya, sutradaranya, pemainnya bukan muslim –kata Saskia. Bagaimana (muatan) Islamnya mau benar, tanya Saskia.
 
Bintang muda yang melesat karirnya setelah berjilbab ini masih optimis terhadap prospek film Islami. “Pokoknya, selama masih ada Pak Haji Deddy Mizwar, semua akan aman, semua akan oke bagi film-film Islami.
Deddy Mizwar,
juga alternatif lain
Deddy Mizwar memang sebuah fenomena. 2007 praktis jadi miliknya. Ketika terpilih sebagai ketua BP2N (Badan Pertimbangan Perfilman Nasional), untuk masa bakti 2007-2009, ia menggebrak dengan membatalkan piala Citra FFI 2006 untuk Ekskul. Pada FFI 2007, Desember lalu di Pekan Baru, Riau, Deddy meraih piala Citra kelima sebagai aktor terbaik. Filmnya di 2007, Nagabonar Jadi 2, menjadi film terbaik FFI 2007.
 
Nagabonar Jadi 2 juga adalah salah satu film terlaris 2007. Di televisi, kiprahnya pun semakin cemerlang. Sinetron seri Para Pencari Tuhan menjadi “kuda hitam” rating tontonan Ramadhan, meraih perolehan penonton tertinggi walau diputar di waktu yang tak lazim untuk rating tertinggi: menjelang Subuh. Sinetron ini, seperti seri Kiamat Sudah Dekat, juga dipuji berbagai kalangan sebagai sinetron dakwah yang menyentuh, membumi, dan enak ditonton.
 
Film-film layar lebar karya Pak Haji (sekarang ia lebih suka dipanggil begitu) kental bernuansa dakwah Islam: Kiamat Sudah Dekat (2003), Ketika (2005), dan Nagabonar Jadi 2 (2007). Seringkali dakwah itu terasa verbal, tapi tetap menuai pujian. Mengapa? Ada beberapa sebab. Deddy tampak sangat percaya pada skenario. Karena itulah, ia selalu meminta penulis skenario Musfar Yasin (juga penulis skenario Get Married) untuk film-filmnya. Dengan skenario yang kuat, Deddy bisa menajamkan dialog dan karakter.
 
Kelebihan lain, Deddy cenderung pada humor dalam dakwahnya. (Tak ada humor dalam Fatahillah dan Nada dan Dakwah.) Ia mencipta tokoh-tokoh cerita yang langsung bisa diingat, bahkan diidentifikasi, oleh para penonton.
 
Semua itu adalah jurus Deddy untuk menyampaikan pesan. Inilah keistimewa­an Deddy yang utama: ia dengan sadar membidik masalah-masalah sosial bangsa ini. Ia cukup peka terhadap apa yang sedang terjadi dalam masyarakat kita. Kalau tidak, mana lah mungkin ia bisa menampilkan adegan Nagabonar memarahi polisi lalu lintas karena tak bisa menjelaskan alasan pelarangan bajaj masuk jalan protokol Jakarta, lalu memberikan buku La Tahzan kepada si polisi begitu ia melihat tampang memelasnya.
 
Tapi, apakah kita hanya punya Deddy?  Catatan karir Deddy sendiri menyirat­kan adanya keragaman bentuk film Islam. Pada 1983, Deddy berperan sebagai Sunan Kalijaga. Filmnya sendiri menampilkan model (dakwah) Islam yang penuh takhyul dan klenik. Lalu, salah satu peran paling dikenang dari Deddy adalah sebagai Ramadan dalam Kejarlah Daku Kau Kutangkap (1985).
 
Kejarlah disutradarai Chaerul Umam, dari skenario Asrul Sani. Duet ini pernah menghasilkan Al Kautsar (1977), Titian Serambut Dibelah Tujuh (1982), dan Nada dan Dakwah (1992). Setidaknya dua film pertama dikenang sebagai film yang kental bernuansa Islam, dan ber­mutu tinggi. Walau tak menggunakan pendekatan humor seperti film-film Islam Deddy, kedua film itu memiliki kelebihan serupa: karakterisasi yang kuat, keinginan menyentuh masalah sosial yang dianggap relevan, punya perspektif khusus terhadap masalah yang diangkat.
 
Pada 2005, di samping Ketika, ada film lain bernuansa Islam yang menarik: Rindu Kami Pada-Mu karya Garin Nugroho. Dibanding film Garin lainnya, Rindu… adalah yang paling komunikatif. Film ini mengangkat realitas sebuah pasar tradisional di pojokan Jakarta secara piawai: setting pasar yang sangat meyakinkan, walau dalam studio; karakter-karakter unik yang menempati dunia pasar itu; dan persoalan-persoalan kecil, sederhana, di dalam dunia pasar itu.
 
Garin menyatakan bahwa film ini sengaja ia buat sederhana, penuh tawa. Sebab, jelasnya, ia melihat kebanyakan film-film yang menampilkan Islam di dunia saat ini (yang ia lihat dalam festival-festival di seluruh dunia) kebanyakan berurusan dengan masalah besar, serius, seperti perang atau feminisme.
 
Garin dengan film kecilnya ini (sebagaimana dengan film-filmnya yang lain) ingin mengisi khasanah film dunia, menyumbang pada peradaban dunia. Agaknya, belum banyak (atau tak ada?) sutradara lain yang punya kesadaran ini dalam membaut film bertema agama.
 
Garin memotret sebuah dunia kecil umat Islam Indonesia, tapi tak menyebut filmnya sebagai “film Islam”. Ia mengategori­kan filmnya sebagai film religius.i”? *
FILM-FILM INDONESIA DENGAN TEMA ISLAM
 
Walau tak menyebut diri sebagai “film Islam” atau “film Islami”, cukup banyak film kita yang mengang­kat tema religi Islam. Ada yang menarik: para pelopor film nasional kita banyak tergabung dengan Lesbumi (Lembaga Seni dan Budaya Muslim Indonesia) NU. Sebut saja Usmar Ismail dan Asrul Sani. 
 
Titian Serambut Dibelah Tujuh
Skenario oleh Asrul Sani, pertama kali difilmkan oleh Asrul Sani sendiri (1959). Pada 1982, difilmkan ulang oleh Chaerul Umam dengan bintang El Manik. Mengambil tempat sebuah desa, ceritanya diilhami kisah Nabi Yusuf ketika digoda Zulaikha. 

Tauhid
Film ini dibuat pada 1964. Sutradara dan skenario oleh Asrul Sani, hasil kerja sama Departemen Penerangan, Departemen Agama, dan Persari. Dimaksud­kan sebagai film penerangan sekaligus dakwah tentang haji. Pada tahun itu pula, dibuat juga sebuah semi-dokumenter tentang ibadah haji, berjudul Panggilan Nabi Ibrahim

Atheis
Adaptasi novel Achdiat Kartamihardja, dengan skenario dan sutradara: Sjuman Djaya. Tentang pergulatan batin Hasan, anak pesantren yang sempat kehilangan kepercayaan pada Tuhan. Film ini disupervisi oleh Buya Hamka. Mendapat banyak pujian dalam berbagai resensi, gagal di pasaran. 
Para Perintis Kemerdekaan
Diilhami novel Hamka, Di Bawah Lindungan Ka’bah, film dibuat 1977. Skenario dan sutradara: Asrul Sani. Menurut JB. Kristanto, dalam Katalog Film Indonesia 1926-2005, gagasan dasarnya: perjuangan fisik tanpa landasan moral agama akan jatuh tak bernilai.
 
Al Kautsar
Dibuat 1977 dari skenario Asrul Sani, dengan sutradara Chaerul Umam, dan pemain utama Rendra. Banyak dipuji. Berkisah tentang pertentangan kaum muda dan tua dalam peru­bahan sosial. 
Film-film Rhoma Irama
Sejak film pertamanya, Darah Muda (1977), Rhoma Irama mengidentikkan musik dangdut dengan Islam. Film-filmnya dipenuhi petuah-petuah verbal, termasuk kutipan hadits atau ayat Qur’an.
 
Tiga Film Walisongo
Pendekatan film-film ini separuh “dakwah” separuh fantasi/legenda. Sunan Kalijaga (1983), dengan sutradara dan skenario: Sofyan Sharna. Deddy Mizwar sebagai Sunan Kalijaga diperlihatkan bertapa, dan sakti. Deddy melanjutkan perannya ini dalam Sunan Kalijaga dan Syech Siti Jenar (1985), disutradarai Sofyan Sharna dan Ackyl Anwari. Di film ini, Syech Siti Jenar (Ratno Timoer) digambarkan sebagai tokoh kebatinan dengan kesaktian mirip “ilmu hitam”. Pada 1985 juga diedarkan Sunan Gunung Jati.
Film-Film Deddy Mizwar
Tiga film layar lebar Deddy Mizwar, de­ngan tokoh utama diperani Deddy juga. Kiamat Sudah Dekat (2003), yang jelas-jelas mengambil tema Islam. Dua lainnya, Ketika (2004) dan Nagabonar jadi 2 (2007) lebih mengangkat isu sosial umum. 
Rindu Kami Pada-Mu
Film Garin Nugroho tahun 2004 ini  diakui sebagai yang paling komunikatif, dengan tema sehari-hari yang akrab. Berkisah tentang sebuah pasar di pojok Jakarta dengan aneka manusia dan persoalan mereka, pada saat menjelang Idul fitri. 
 

Komentar