Home » Review » Film » Layang-Layang dan Sebuah Dosa

(Tulisan ini telah dimuat di Majalah Madina No. 2, Tahun 1, Februari 2008)

Sebuah film yang memandang positif bukan hanya Islam, tapi juga negeri koyak Afganistan. Di Afganistan sendiri, film ini dilarang.

Pada layang-layang, kita titipkan impian kita untuk terbang. Pada film ini, kita dibawa terbang mengikuti impian itu. Marc Forster (Finding Neverland), membawa kita ke langit, mengikuti layang-layang meluncur dan menukik.

Layang-Layang dan Sebuah Dosa

Mengapakah banyak dari kita memimpikan bisa terbang? Dan apakah terbang? Galibnya, terbang adalah keadaan melampaui gravitasi. Kita ber­pijak di bumi dalam sebuah kemutlakan gravitasi. Gaya berat bumi memancang kita tetap di tempat kita, tidak melayang ke mana-mana. Kita terikat pada bumi, dan kita hanya mampu menjalani bumi ini perlahan.

Bagi banyak orang, saat ini, mungkin terbersit pikiran: celakalah jika bumi tempat kita terpancang adalah negeri kekeras­an macam Afganistan! Betapa sukarnya mengatasi kemutlakan bumi di negeri semacam itu –perlu upaya keras dan tragis untuk bisa membebaskan diri dari ikatan bumi macam Afganistan. Beberapa laporan media (kebanyakan media Barat, tentu) menyebutkan Afganistan sebagai salah satu tempat paling “panas” di muka bumi saat ini. Kematian mengintip di setiap sudut dan setiap saat, tak ada kepastian hidup.

Tapi, ada masa ketika Afganistan tak berbau bangkai dan mesiu. Sebelum Uni Soviet datang, sebelum Taliban, sebelum Amerika juga, langit Kabul dipenuhi oleh layang-layang. Dua bocah, Amir (Zekiria Ebrahimi) dan Hassan (Ahmad Khan Mahmoodzada), asyik bersahabat: saling membantu bermain layangan, menoreh nama di batang pohon, Amir yang “lembek” untuk ukuran anak Afgan mendongengi Hassan cerita dari sebuah buku merah yang tebal. Kabul, 1978. Dunia gersang yang kalem, memikul sebuah sejarah panjang Islam dan perseteruan suku-suku.

Hassan, anak Ali yang telah jadi pembantu keluarga Amir sejak ayah Amir masih kecil, berdarah Hazara. Amir dan kelas dominan di Kabul adalah dari suku Pashtun. Suku ini menganggap Hazara ras rendahan. Masalah ras ini yang membawa Hassan pada sebuah tragedi di sudut gelap Kabul: perkosaan oleh sekelompok anak kaya gang Pashtun. Peristiwa itu membekas sepanjang hayat mereka berdua, terbawa jauh ke masa depan mereka.

Memang, film ini dimulai di masa depan kedua anak itu. Amir, pada 2000 tinggal di Amerika, mendapat telepon dari sahabat ayahnya, Rahim Khan. Suara dari masa lalu, menawarkan sesuat­u yang menggelitik: “Ada cara untuk menjadi baik kembali,” kata suara di telepon itu.

Untuk bisa menjadi “baik kembali”, Amir harus pergi ke Pakistan, kemudian ke Afganistan yang dikuasai Taliban, berkalang nyawa di sana. Mengapa? Amir telah melakukan kesalahan besar di masa kecilnya: ia, selalu diam saja melihat Hassan yang loyal diper­kosa. Kesalahan itu mencabik-cabik hati Amir, sehingga ia pun melakukan sesuatu untuk mengusir Hassan dari rumahnya.

Plus, ada sebuah rahasia besar antara mereka berdua, yang memaksanya harus kembali ke Afganistan. Di sana, Amir diuji apakah ia bisa melakukan sesuatu yang tak pernah ia lakukan: menghadapi ancam­an, mempertahankan prinsip.

Film ini diangkat dari novel laris yang telah terjual lebih dari delapan juta kopi di seluruh dunia (terjemahan Indonesia telah diterbitkan kelompok Mizan). Pengarangnya, Khaled Hosseini, turut aktif menjaga otentisitas gambaran Afganistan sejak pra-Uni Soviet hingga masa kekuasaan Taliban. Terutama gambaran era Taliban di bagian akhir film bisa dicurigai sebagai terlalu “ke-Amerika-an”. Rezim ultra-Islamis ini digambarkan hanya busuk belaka. Tapi, lanskap dan bahasa yang tampil cukup berhasil memberi kesan otentik itu.

Film ini dipuji-puji di Amerika Serikat, tapi juga dicerca oleh orang-orang ultra- nasionalis dan ultra-konservatif AS yang keberatan Islam dan orang Islam diberi wajah manusiawi. Film ini juga dilarang diputar di Afganistan. Menurut edisi on line The New York Times, 16 Januari 2008, Menteri Kebudayaan Afghanistan mengeluarkan larangan ini tanpa alasan yang jelas. Di samping pelarangan, film ini sempat diundur masa edarnya, menunggu agar aktor-aktor cilik di film ini lulus sekolah dan dapat pindah dari Afganistan. Kini, mereka tinggal di Emirat Arab.

Secara filmis, film ini berhasil bukan pada gambar-gambarnya yang ciamik, tapi pada keberhasilannya mencuatkan “isi”. Film ini seolah kembali pada “cerita”, pada pesan (positif) –sesuatu yang menyegarkan, di tengah arus film-film yang membawa angst, kemurungan masa posmodern kini.

Dua pemain cilik di sini bermain cemerlang. Demikian juga pemeran Amir dewasa, Khalid Abdalla. Tapi orang-orang tua Afganistan di film inilah yang terutama memberi kredibilitas pada film ini. Misalnya, Hamayoun Ershadi yang bermain sebagai ayah Amir –hanya disebut panggilannya, “Baba”, sepanjang film. Wajahnya mulia, penuh pikiran mendalam. Ia seorang sekuler dan anti-komunis yang sangat menyayangi Amir dan Hassan.

Dengan anggun, Baba memberi wejangan untuk menepis fatwa-fatwa para mullah yang memandang seolah segala di dunia ini dosa. Hanya ada satu dosa, kata Baba, yakni mencuri. Selebihnya, lanjutnya, hanyalah variasi-variasi belaka dari dosa mencuri itu. Membunuh, adalah merampas hak hidup orang yang dibunuh. Dan saat Baba bicara itu, Amir telah merampas sesuatu dari Hassan: persahabatan, kesetiaan, dan kasih sayang.

Dan ke jantung Afganistan-lah Amir berusaha menebus dosanya. Dan pada layang-layanglah, Amir menitipkan harap­annya. Jauh di langit, layang-layang menghidupkan kenangan, dan keinginan bebas dari gravitasi bumi yang makin panas ini.

***

AFGANISTAN, di Mata KAMERA

Salah satu titik panas di bumi sejak Perang Dingin, Afghanistan menarik minat banyak pembuat film. Mung­kin agak kikuk juga Hollywood melihat epitome jagoan Amerika, Rambo, bersisian dengan para pejuang Afganistan yang di zaman Bush jadi epitome terorisme.

The Living Daylights
(seri James Bond), 1987.

Dibintangi Timothy Dalton (dianggap “James Bond” tergagal kedua, setelah George Lazemby) dan disutradarai oleh John Glenn. Musuh besar sang spion super di film ini adalah Rusia, tentu. Di masa Reagan, para pejuang Afganistan adalah sahabat Barat –orang-orang gagah yang perlu ditolong melawan “setan Rusia”. Memang, mereka bukan Taliban. Tapi pelatihan-pelatihan jihad yang didukung Amerika saat itu turut menyemai benih-benih kaum jihadis yang banyak menyumbang aksi di Al-Qaeda atau organisasi serupa. Dan Bond? Ia lebih gagah dari para pejuang Afganistan yang mulia itu, beraksi fantastis dalam situasi-situasi musykil, dan memboyong gadis Rusia nan seksi. Afganistan hanya jadi properti bagi porto­folio kegagahan Bond.

Rambo III, 1988.
Film ini tercatat pada Guiness Book of Records edisi 1990, sebagai film dengan angka kekerasan tertinggi: 221 aksi ke­kerasan, 108 kematian. Sylvester Stallone, memerani tokoh ikonik 1980-an ini: seorang, ah, “sebuah” mesin pembunuh yang konslet otaknya. Afga­nistan menjadi ladang pembantaian tentar­a Rusia bagi­nya. Dengan kata lain, lagi-lagi, hanya peleng­kap portofolio kegagahan sang jagoan dari negeri Reagan saat itu. Seperti Bond, Rambo bersahabat dengan para mujahidin, yang kini dimusuhi para jagoan Hollywood.

Kandahar, 2001.
Sutradara Iran, Mokhsen Makhmalbaf, membuat kisah seorang perempuan kelahir­an Afganistan tinggal di Kanada yang harus menembus negeri Taliban setelah membaca sebuah surat dari saudari­nya. Dalam surat itu, saudarinya yang kehilangan kaki karena ranjau, dan waktu kecil tertinggal sewaktu keluarga mereka lari keluar Afganistan, menyatakan akan bunuh diri. Perjalanan mencari sang saudari itu membawa sang perempuan, Nafas, bermusafir dengan bermacam-macam orang yang hendak kembali ke Afganistan. Dan ia pun mulai memahami, apa dampak rezim Taliban pada rakyat Afganistan.

In This World, 2002.
Salah satu karya terbai­k Michael Winterbottom. Memadukan dengan piawai unsur fiksi dan dokumenter. Winterbottom dan awaknya mengikuti perjalanan Jamal mengungsi dari Afghanistan ke Inggris. Cerita yang diusung, fiktif. Tapi perjalanannya, nyata. Pemeran utamanya, Jamal Udin Torabi, memang melakukan pengungsian itu. Sebuah upaya yang menarik dari seorang sutradara Inggris dalam memahami kerumitan masalah Afghan dan dunia Islam. Ia tidak menga­dili, tak mereduksi, tapi memotret saja apa adanya. Afganistan juga jadi latar film Winterbottom yang lain, The Road to Guantanamo.

Charlie Wilson’s War, 2007.

Apakah satu orang bisa menghentikan perang? Menurut film yang disutra­darai Mike Nichols ini, ya. Uniknya, ini didasar­kan pada kisah nyata. Senator Charlie (Tom Hanks) dari Texas adalah tokoh flamboyan, penggemar perempuan, dan peminum. Ia dibujuk oleh sosialita cantik, Joanne Herring (Julia Roberts) untuk menghentikan perang Afghanistan.

Charlie kasak-kusuk secara rahasia, di sela-sela pemerintahan Reagan yang jadi idola kaum neo-konservatif AS. Ia berhasil (paling tidak, menurut versi cerita historis di sini), dan Amerika pun mena­nam benih masalah di kemudian­ hari. *

Komentar