Home » Review » Film » Ketika Hanung Dituduh Menyebarkan Kemurtadan dan Kesesatan

Film `Tanda Tanya' dikecam habis oleh kelompok-kelompok garis keras. Voice of al-Islam (VOA) menulis komentar bahwa film tersebut layak diberi judul "Sang Murtadin".

Ketika Hanung Dituduh Menyebarkan Kemurtadan dan Kesesatan

Film yang mulai beredar pada 7 April 2011 ini memang sejak awal sudah diduga akan menimbulkan kontroversi. Sang sutradara, Hanung Bramantyo, sadar betul akan hal itu. Dalam wawancara dengan Jakarta Globe (8 April 2011), Hanung menyatakan bahwa kalau ia hendak dikenang, ia ingin diingat sebagai sutradara yang “berperang melawan kebodohan dan kemasabodohan.”

Hanung sebelumnya sudah beberapa kali menggarap film bertema agama. Setelah `Ayat-ayat Cinta’ yang sukses besar, film Hanung lain adalah `Perempuan Berkalung Surban’ yang juga dikecam sejumlah ulama konservatif karena ia dianggap lancang menggambarkan sisi gelap kehidupan pesantren. Tahun lalu, ia melahirkan `Sang Pencerah’ yang menghadirkan sosok KH Ahmad Dahlan yang berperang melawan kepicikan beragama di masanya.

Dalam filmnya ke 14 ini, Hanung menyertakan sejumlah artis Muslim dan Kristen: Reza Rahardian, Revalina S Temat, Agus Kuncoro, Endhita, Rio Dewanto, Hengky Sulaeman, David Chalik, dan bahkan penyanyi Glenn Fredly. Penulis naskahnya adalah seorang pemeluk Kristen: Titien Wattimena.

Seperti tiga film yang sudah disebut, `Tanda Tanya’ juga sarat pesan. Bahkan ia melangkah lebih jauh. Hanung seperti ingin menyatakan betapa bodohnya masyarakat untuk terkotak-kotak dalam perbedaan sementara kebersamaan dan keberagaman membawa kebahagiaan. Dan Hanung memang berani masuk ke wilayah yang sangat sensitif yang mungkin tak berani dijamah oleh sineas manapun sebelumnya.

Di situ ada tokoh Rika yang pindah agama dari Islam ke Kristen karena suaminya yang terkesan penganut Islam taat ternyata berpoligami. Hanya saja, Rika tetap membiarkan putranya untuk mengaji, salat dan berpuasa. Bahkan dalam salah satu adegan, tatkala ia diminta oleh pastur yang akan membaptisnya menggambarkan Tuhan, yang keluar dari dirinya adalah nama-nama indah Tuhan dalam Asma’ul Husna. Di adegan lain Rika mengajarkan putranya untuk melafalkan niat puasa.

Di situ ada keluarga beretnik Cina yang memiliki restoran makanan Cina yang sangat toleran terhadap karyawannya yang beragama Islam. Sang ayah selalu memberi izin dan mengingatkan karyawan Muslimnya ketika waktu salat tiba. Restoran itu menghidangkan babi, tapi si pemilik memisahkan segenap alat memasak babi dengan alat memasak non-babi. Di restoran itu juga bekerja Menuk, yang berjilbab dan tak keberatan bahwa restoran itu menjual babi.

Di situ ada tokoh Surya, yang digambarkan sebagai Muslim taat, tapi bersedia untuk berperan sebagai tokoh Yesus Kristus dalam drama Natal yang diselenggarakan gereja. Sebaliknya ada tokoh pemuda Kristen yang marah ketika tahu tokoh Yesus akan diperankan seorang Muslim.

Lalu ada tokoh ustaz dan pastor yang senantiasa menenteramkan umatnya dengan ajaran yang menghargai keberagaman. Ada Banser NU yang setiap Natal bersedia menjaga gereja dari ancaman terorisme. Dan segenap karakter ini hadir dalam sebuah jalinan cerita yang membawa penonton di penghujung film pada keindahan menghargai perbedaan. Tagline film itu sendiri berbunyi: “Masih Pentingkah Kita Berbeda?”

Namun, seperti dapat diduga, film ini dengan segera membuat marah kelompok-kelompok garis keras. Film ini, kata VOA (8 April 2011), menghantarkan umat pada pendangkalan akidah dan jembatan menuju neraka. Hanung, kata VOA lagi, menggambarkan Islam dalam stereotipe yang “lebay, tendensius dan fatal”.

Menurut VOA, dalam film ini, Hanung banyak menggunakan “simbolik-simbolik sensasi murahan yang didramatisir, yang berpangkal dari sebuah kemarahan terpendam”. Kata VOA, alur cerita film tersebut tidak sistematis, tergesa-gesa, vulgar, sarkasme, sekedar simbolik untuk mendramatisir kisah yang penuh amarah, dan jauh dari kualitas. Film Hanung, tulis VOA, tak ubahnya “sampah” yang melukai hati umat Islam.

VOA menggambarkan rangkaian isi film yang menurut mereka `melukai umat Islam’:

– Adegan penusukan pendeta, yang meski tidak jelas latarbelakangnya, namun nampaknya (menurut VOA) diarahkan Hanung untuk menggiring stereotipe buruk mengenai Islam.

– Kelompok pemuda Islam bersarung dan berpeci yang mencerca tokoh Hendra dengan sebutan `Cina’

– Kehadiran tokoh Muslimah yang berjilbab namun merasa nyaman bekerja di rumah makan yang menyajikan daging babi. VOA mempertanyakan mengapa sang Muslimah tersebut tidak nampak galau, “seolah daging babi bukan sesuatu yang diharamkan.

– Tokoh Rika yang pindah agama dari Islam menjadi Kristen. Apalagi Rika menyatakan bahwa walau ia pindah agama itu tidak berarti ia mengkhianati Tuhan. Menurut VOA: “Pesan yang disampaikan dalam film ini adalah manusia berhak menjadi murtad, dan itu adalah hak asasi yang patut dihargai.”

– Tokoh Surya, seorang pemuda Islam yang bersedia diajak bermain drama di sebuah gereja pada perayaan Paskah, dan berperan sebagai Yesus Kristus. Apalagi, Surya juga digambarkan pun mengaji dan melafadzkan QS Ikhlas di masjid seusai berperan sebagai Yesus. Adegan ini dikecam VOA karena seolah-olah “memerankan Yesus bukan ancaman yang bisa mendangkalkan akidah keislaman seseorang”. VOA menyimpulkan bahwa dengan adegan tersebut, Hanung menghantarkan seorang Muslim menjadi hipokrit dan bahkan syirik.

– Tokoh Ustadz yang, menurut VOA, memberikan jawaban yang “sesat dan menyesatkan” kepada Surya yang bimbang ketika hendak menerima tawaran berperan menjadi Yesus. Sang Ustadz menjawab bahwa menjaga keimanan bukan terletak pada fisik, melainkan hati.

– Adegan penyerangan rumah makan Cina yang sudah mulai beroperasi pada hari kedua Lebaran. VOA mengabaikan begitu saja konteks adegan penyerangan tersebut yang dalam film tersebut sebenarnya digambarakan Hanung sebagai terkait dengan kecemburuan tokoh Soleh terhadap istrinya yang bekerja di restoran itu. Ali-alih, VOA menggambarkan Hanung sebagai “lebay dan tidak waras” dengan menggambarkan umat Islam sebagai “mahluk yang bengis dan biadab”.

– Adegan Banser NU yang menjaga gereja yang digambarkan sebagai `pahlawan’.

VOA juga mengecam Hanung yang dianggap `pura-pura bodoh’ karena tidak mengakui bahwa film itu berniat mengkampanyekan pluralisme.

VOA memuat pernyataan Ketua Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII) yang sekaligus adalah salah seorang ketua MUI, Dr. Adian Husaini yang menggambarkan film `Tanda Tanya’ sebagai `Kampanye Pluralisme yang Vulgar’.

Kemarahan Adian terutama ditujukan sikap Hanung untuk menggambarkan perpindahan agama Rika sebagai sebuah kewajaran yang layak diterima. Menurut Adian, dalam Islam, perpindahan agama bukan hal main-main. “Jelas sekali film ini sangat merusak dan melampaui batas.”

Menurut Adian, semua yang digambarkan Hanung dalam film itu jelas paham Pluralisme yang sangat ditentang dalam Islam. Karena itu, Adian menilai, pesan film Hanung merusak konsep tauhid, mengajarkan syirik, dan kufur.

Adian bahkan menyamakan Hanung dengan `setan dan jin’ yang “membisikkan perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu manusia”, sebagaimana diperingatkan Tuhan.

Pandangan negatif serupa dilontarkan KH Cholil Ridwan, yang menjabat sebagai Ketua MUI bidang budaya. Menurutnya: “Film ini sangat vulgar, sangat kasar, dan sangat melukai hati umat Islam yang menontonnya, terutama yang memiliki akidah tauhid yang benar.”

Menurut Cholil, film `Tanda Tanya’ adalah sebuah film yang menyebarkan ajaran pluralisme yang sesat dan menyesatkan. “Film ini lebih berbahaya dari Perempuan Berkalung Surban. Ini arahnya pluralisme agama, yang ujung-ujung nanti, tidak beragama pun dianggap sah-sah saja,” katanya sebagaimana dikutip VOA (8 April 2011)

Indikasi faham pluralisme ini, jelas Cholil (VOA, 7 April 2011) , terlihat dalam narasi di bagian awal: “Semua jalan setapak itu berbeda-beda, namun menuju ke arah yang sama: mencari satu hal yang sama dengan satu tujuan yang sama, yaitu Tuhan.”

Dengan pandangan seperti itu, ujar Cholil, pihak pembuat film jelas memposisikan dirinya sebagai seorang non Muslim penganut faham netral agama, karena semua agama dipandang sama-sama merupakan jalan yang sah menuju Tuhan yang sama. “Cara pandang seperti ini menunjukkan bahwa pembuat film ini berdiri pada perspektif bukan sebagai seorang Muslim, tetapi sebagai seorang yang netral agama, yang memandang semua agama adalah menyembah Tuhan yang sama,” ujarnya.

Dalam pandangan akidah, lanjut Cholil, film ini sama sekali tidak bisa dibenarkan. Setelah menelaah keeluruhan isi film, Cholil menyimpulkan bahwa Hanung belum memahami Islam. “Saya menyarankan agar Saudara Hanung sebaiknya mengaji yang baik, dan dengan sukarela menyatakan bahwa filmnya memang keliru dan mengelirukan,” imbau Cholil. “Lebih baik lagi, film ini ditarik dari peredaran,” pungkasnya.

Hanung sendiri, yang datang dari keluarga dengan orangtua berbeda agama, mengaku tidak ingin berpretensi menjadi ahli tentang Islam. Bagi Hanung, melalui `Tanda Tanya’, ia hanya ingin menyajikan tafsiran personal dan jujur terhadap kondisi keagamaan di Indonesia. “Islam saat ini terlalu mudah dikaitkan dengan ketidaktoleranan terhadap mereka yang berbeda keyakinan, dengan tindak terorisme dan bahkan teologi kekerasan,” ujarnya.

Hanung ingin mengubah gambaran salah itu. “Dari apa yang saya pelajari, Islam adalah agama yang membawa pesan perdamaian, kebenaran dan kebaragaman. Islam adalah agama terbuka yang kokoh, indah dan elegan. Dalam film ini, saya ingin menunjukkan bahwa ketidaktoleranan bisa menghancurkan itu semua.”

Dalam konferensi pers saat pemutaran perdana film, Hanung menyatakan bahwa `Tanda Tanya’ merupakan film idealis. “Ini sebuah film yang menceritakan kegelisahan saya dan masyarakat Indonesia pada umumnya. Saya ingin berstatement dalam bentuk film,” kata Hanung. “”Kalau Islam agama yang toleran, kenapa tiba-tiba ada penusukan pastur, ada pelarangan orang untuk pergi ke gereja oleh mereka yang mengaku dirinya sebagai Ormas Islam?”

Hanung tampaknya memang akan dikenang sebagai seorang sutradara yang melahirkan film yang mencerahkan. Tentu tak semua pihak akan bahagia dengan karyanya. Namun film ini kembali mengingatkan bahwa, terlepas dari berbagai tindak kekerasan atas nama agama dalam terhadap perbedaan keyakinan, Indonesia pada dasarnya adalah negara yang subur bagi sebuah Islam yang damai dan menghargai keberagaman.

Salah satu fakta penutup yang menarik adalah bahwa film ini diproduksi oleh Mahaka Picture. Ini menjadi penting mengingat Mahaka adalah perusahaan yang menerbitkan harian Republika yang selama ini justru dikenal bersikap konservatif dalam menyikapi gagasan-gagasan pluralisme. Alhamdulillah.

Sumber Foto: 

Komentar