Home » Review » Film » “Islam Hollywood” Pasca-9/11: Dari The Kingdom Hingga Kite Runner

(Tulisan ini telah dimuat di Majalah Madina No. 1, Tahun 1, Januari 2008)

Sesudah menara kembar itu hancur, gambaran Islam di Hollywood berada dalam bayang-bayang (perang anti) terorisme. Masih banyak prasangka, tapi ada upaya dialog.

“Islam Hollywood” Pasca-9/11: Dari The Kingdom Hingga Kite Runner

Sejak serangan terhadap menara kembar WTC itu, apalagi setelah putusan kongres AS 18 September 2001 untuk memberi otorisasi penggunaan kekuatan militer untuk “melawan teroris”, Hollywood seperti bergulat keras dengan diri sendiri dalam memahami dunia baru yang lebih keras ini. Perang Irak, keterbelahan dukungan terhadap perang itu di AS sendiri, kesadaran bahwa dunia lebih banyak mengecam AS, semua memengaruhi Hollywood.

Prasangka sudah lazim dalam gambaran Hollywood atau Barat umumnya tentang Islam, dunia Islam, dan masyarakat Islam. Sejak masa “Orientalisme” di awal abad ke-20, ketika dunia Islam digambarkan secara eksotik ala dongeng 1001 malam. Di akhir abad ke-20, pada dekade 1990-an, secara bersamaan muncul gambaran simpatik sekaligus antagonistik tentang Islam dan dunianya. Pada dekade itu, muncul film-film macam Robin Hood (1991), Malcom X (1992), The 13th Warrior (1999), dan Three Kings (2000) yang memotret karakter Islam secara simpatik.

Pada saat yang sama, kita disuguhi karakter Islam sebagai karikatur, umumnya sebagai teroris atau terbelakang secara budaya. Memang, sejak keruntuhan blok Timur komunis pada 1989, Hollywood mencari tokoh antagonis baru. Islam rupanya pas benar untuk peran itu. Begitulah premis di belakang True Lies (1994), Executive Decision (1996), Rules of Engagement (2000), dan puluhan film kelas B keluaran Hollywood yang menempatkan Amerika sebagai “sang jagoan” dan pemeluk Islam sebagai “sang teroris” atau “sang korban”.

Premis jingoistik itulah yang mendasari The Kingdom (2007), arahan Peter Berg. Berkisah tentang tim FBI di bawah pimpinan Ronald Fleury (Jamie Foxx) yang melawan putusan atasan mereka di AS, dan terbang ke Arab Saudi, memaksa untuk menyidik kasus bom bunuh diri yang memakan banyak korban tewas warga AS, termasuk sahabat Fleury. Pelakunya, tentu saja teroris Islam. Hanya dalam tiga hari, tim ini memorakmorandakan jaringan teroris itu. Sedang polisi Arab sendiri gagal dan digambarkan tak tahu harus berbuat apa dalam menghadapi teroris.

Salah satu polisi Arab yang membantu, Kolonel Al Ghazy (Ashraf Barhom), digambarkan secara simpatik, tapi juga dalam cara paternalistik: bagaimanapun, kemampuannya jauh di bawah para FBI itu. Terbaca ada upaya ingin tampak mengerti bahwa persoalan Islam-Barat saat ini sungguh rumit. Film ini melirik fakta Arab Saudi punya cengkeram kuat, secara bisnis, pada negara AS. Ia juga memandang secara antagonistik para pejabat dan politisi AS yang tampak takut pada kerajaan Arab.

Keruwetan dunia pasca-9/11 dicoba-pahami oleh The Kingdom, tapi masih dalam kerangka hitam-putih superioritas AS. Tak seperti Syriana (2005) karya Stephen Gaghan. Film ini merupakan perkembangan menarik bagi Gaghan. Ia menulis skenario Rules of Engagement yang masih condong pada pandangan penuh prasangka terhadap Islam. Namun dalam Syriana, ia menulis dan menyutradarai sebuah kisah yang menatap apa adanya kerumitan hubungan Islam-Barat.

Ada ketegangan, memang, antara kedua peradaban besar yang mewarisi konflik historis yang panjang itu. Terorisme juga kenyataan, bukan isapan jempol hasil konspirasi Yahudi. Namun, di balik semua ketegangan itu, adalah manusia-manusia dhaif dan banyak sisi. Syriana adalah salah satu yang berhasil menyajikan banyak sisi ini dengan baik. Tak ada tokoh yang lebih suci, atau lebih jagoan, dari yang lain.

Pesan ini pula yang muncul dalam film-film karya Michael Winterbottom, sejak Welcome to Sarajevo (1997), hingga tiga filmnya seputar “perang terhadap teror”: In This World (2002), The Road to Guantanamo (2006), dan A Mighty Heart (2007). Winterbottom lebih tertarik memotret ketegangan Islam-Barat sebagai fakta. Ia seperti memberi garis stabilo pada sebuah satu aspek dunia kita saat ini: sebuah dunia yang penuh pertentangan, ketakadilan, dan kekerasan; tapi juga sebuah dunia yang menyisakan harapan.

Paling tidak, harapan itu menonjol dalam A Mighty Heart. Film ini lebih banyak mendapat prasangka, hanya karena memasang Angelina Jolie yang sangat “bintang” (orang lupa, ia pemenang Oscar 1999 sebagai pemain pembantu terbaik dalam Girl, Interrupted). Di sini, Jolie mejadi Mariane Pearl, istri Daniel Pearl.

Kasus Pearl adalah kasus yang sangat merisaukan dalam sejarah media. Ia adalah wartawan Wall Street Journal yang bertugas di Karachi, diculik pada 2002, dan lima minggu kemudian ia digorok di depan kamera oleh teroris Islam dan video itu disiarkan ke seluruh dunia lewat internet. A Mighty Heart diangkat dari memoir Mariane tentang lima minggu penuh tekanan itu. Ada sebuah versi yang menyatakan bahwa Pearl yang keturunan Yahudi itu memanglah seorang mata-mata. Film ini juga menyinggung tuduhan itu, tentu dari sudut pandang Mariane.

Memang, film ini adalah kisah Mariane. Dengan sengaja, film ini memusatkan diri pada ketegaran Mariane, bukan karena ingin menonjolkan sebuah heroisme. Winterbottom tampak ingin mensimulasi sebuah harapan di hadapan dunia penuh teror ini. Bagi Winterbottom, dengan meminjam “khutbah” Mariane, harapan kita adalah pada kemampuan kita untuk tak takluk oleh teror, untuk tidak menjadi buta karena kemarahan atau ketakutan.

Mariane, di akhir kisah, masih bisa berkata pada wartawan bahwa suaminya hanya salah satu korban. Orang Pakistan sendiri lebih banyak lagi jadi korban gelombang terorisme. Ini sebuah pesan sederhana, gamblang, dan, masih saja, dicurigai atau diremehkan oleh media AS –setidaknya, jika kita membaca berbagai ulasan atas film ini.

Media AS agaknya lebih positif menerima film tentang Islam yang lain, Kite Runner, yang beredar Desember 2007 ini. Newsweek edisi 17 Desember 2007 memasang film ini sebagai cerita sampulnya. Diangkat dari novel laris manis karya Khaled Hoseini, yang telah terjual 8 juta eksemplar di seluruh dunia, film ini disutradarai oleh Marc Forster (Finding Neverland). Newsweek menyebut film ini sebagai “sebuah film global sesungguhnya”. Bukan hanya karena awak dan bintangnya beraneka latar negara, tapi dialog film ini setia pada latar geokultural itu: bahasa Inggris, bahasa Dari (sebuah dialek Afghan untuk bahasa Parsi), dan Cina.

Lebih penting lagi, seperti kata Khalid Abdalla, pemeran utama film ini (seorang Mesir yang kini tinggal di Inggris), “inilah film Hollywood pertama yang kontak utamanya dengan Afghanistan adalah dengan orang-orangnya, dan bukan dengan perang atau fanatisme.”

Kisahnya sendiri tentang sebuah tragedi di tengah negeri yang lantak, yang menghancurkan persahabatan Amir dan Hassan, dua bocah berbeda kelas dan suku di Afghan pada akhir 1970-an. Nasib keduanya diguriskan oleh sebuah kejadian keras: perkosaan terhadap Hassan. Amir, yang diam saja menyaksikan kekerasan itu, penuh penyesalan sepanjang hidupnya. Dan kesempatan menebus dosa itu pun tiba, setelah ia dewasa dan tinggal di San Fransisco.

Dengan cerita ini, Afghanistan pun mendapatkan wajah manusiawinya di Hollywood. Sebuah harapan diutarakan, sebuah dialog tengah diupayakan. Apakah upaya ini akan diterima? Sebab, walau kepercayaan publik terhadap pemerintahan Bush telah turun drastis soal perang terhadap teror ini, bayang-bayang perang itu masih menggayut di Hollywood dan AS.

***

Kutukan Film Irak

Di beberapa bioskop Jakarta, The Kingdom diputar sampai di dua studio. Film ini memang dipasang dengan­ pose sebuah film laris box office. Kenyataannya, film ini terbanting di Amerika sendiri. The Kingdom hanya mampu meraih kurang dari $ 7 juta. Bandingkan dengan I Am Legend yang meraup $ 50 juta dalam akhir pekan pertama saja. Beberapa pengulas mulai bertanya-tanya, apakah ada semacam “kutukan” bagi film-film Hollywood yang hendak merespon Perang Irak yang dilancarkan Presiden “Dubya” Bush.

Sebelumnya, In the Valley of Eelah karya Paul Haggis (sebelumnya sukses dengan Crash) yang banyak dipuji para kritikus, hanya mendapat $ 6,5 juta dalam dua bulan pemutaran. Film ini adalah kisah misteri-detektif tentang terbunuhnya seorang prajurit sepulang dari Perang Irak. Film lain, Rendition karya Gavin Hood (Tsotsie), menyentuh salah satu aspek mengerikan dari Perang terhadap Teror ala Bush: penculikan dan interogasi ter­sangka teroris tanpa proses hukum, di negara-negara mitra Amerika agar Amerika tak terkena dampak hukumnya. Film yang dipuji Roger Ebert ini hanya meraih kurang dari $10 juta. Padahal, biaya pembuatannya $ 50 juta.

Film Brian De Palma terbaru, Redacted, pun terjungkal. Film tentang pemerkosaan gadis Irak oleh tentara Amerika ini mengguna­kan pendekatan eksperimental: gabungan berbagai footage, termasuk model penayang­an ala YouTube. Jadi, bisa dimengerti kalau film ini ditolak publik mainstream (arus utama) film Amerika. Ia hanya mampu meraih $ 25.000 sampai awal Desember 2007. Jangan lupa Lambs for Lions karya Robert Redford, yang dicaci-maki kaum Republik karena kecenderungannya mengkhutbahkan pandangan kaum liberal yang anti pada Perang terhadap Teror. 

Kegagalan ini seperti mengucilkan Hollywood sendiri, yang menampilkan citra antiperang dan tak suka terhadap pemerintah­an Bush. Seperti ada penolakan besar publik Amerika terhadap film perang masa kini. Beda dengan film-film tentang perang Vietnam dulu.  

Sebagian pengamat bilang, masalahnya, film-film perang itu muncul dan mencoba menganalisa sebuah perang yang masih berlangsung. Sudhir Muralidhar dalam The American Prospect, 27 November 2007, memandang bahwa film-film itu gagal karena memang gagal bercerita. Ini bisa dipahami. Jarak yang terlalu dekat dengan­ perang membuat para pembuat film perang itu masih setengah matang dalam memahami Perang Irak dan Perang terhadap Teror. 

Atau, ada juga yang bilang, soalnya adalah: baik golongan Kiri dan Kanan Amerika memang sedang muak untuk sering-sering menghadapi perang ini. Mereka butuh hibur­an, pelarian, dan bukan renungan akan pahitnya perang ini. *

Komentar