Home » Review » Film » Film Mencari Hilal: Dakwah Perdamaian yang Indah dan Mengharukan 

Film Mencari Hilal: Dakwah Perdamaian yang Indah dan Mengharukan 

Sineas Indonesia memang tidak ada matinya. Mereka terus memproduksi karya-karya yang bukan saja menyenangkan hati tapi juga mengajak penonton berpikir tentang persoalan-persoalan bangsa dan agama.

Satu film terbaru yang akan diedarkan pertengahan Juli ini adalah Mencari Hilal, yang disutradarai Ismail Basbeth.

Judul film ini merujuk pada isu penentuan awal bulan Puasa dan Idul Fitri yang memang kadang membuat ketegangan tak perlu dalam umat Islam di Indonesia. Lewat kisah pencarian Hilal yang dilakukan pasangan ayah dan anak yang berbeda pandang, sutradara mengajak penonton untuk memahami keberagaman dalam kehidupan beragama. Tidak dengan cara menggurui.

Film bergaya pop yang menghadirkan rangkaian gambar indah ini adalah film layar lebar perdana Ismail. Selama ini ia memfokuskan diri pada penyutradaraan film-fim pendek yang ia buat untuk masyarakat penonton internasional. “Ini adalah persembahan perdana saya untuk masyarakat Indonesia,” katanya.

Film ini diproduksi sebagai rangkaian kampanye Gerakan Islam Cinta dan Indonesia Tanpa Diskriminasi. Kisah film yang merupakan kerja kolektif MVP Pictures, Studio Denny JA, Dapur Film, Argi Film dan Mizan Productions ini jauh dari klise.

Tokoh utama Mencari Hilal adalah Mahmud (Deddy Sutomo), pria tua yang telah mendedikasikan dirinya untuk selalu berdakwah. Bagi Mahmud tak ada yang lebih mulia selain tulus berjuang menerapkan perintah Islam secara kaffah dalam semua aspek hidup.  Bertahun-tahun lamanya Mahmud berdakwah agar setiap orang percaya bahwa Islam adalah satu-satunya  solusi semua persoalan hidup.

Mahmud terganggu dengan kabar bahwa sidang Isbat Kementerian Agama untuk menentukan hilal yang memastikan datangnya Hari raya Idul Fitri ternyata memakan biaya Rp 9 miliar. Mahmud teringat lagi tradisi mencari Hilal yang dilakukan pesantrennya dulu – perjalanan yang sarat makna spiritual, tapi sudah lama tak dilakukan lagi sejak pesantrennya bubar puluhan tahun lalu.

Di penghujung umurnya yang menua, Mahmud ingin mengulang tradisi itu untuk membuktikan kepada semua orang bahwa ibadah tidak dibuat untuk  memperkaya diri. Hilal bisa ditemukan tanpa harus menelan biaya milyaran.

Keinginan Mahmud sempat dihalangi oleh Halida (Erythrina Baskoro), anak perempuannya. Halida  khawatir atas kesehatan Mahmud yang menurun. Tapi Mahmud tetap bersikeras pergi. Akhirnya Halida membolehkan Mahmud pergi dengan syarat harus ditemani Heli  (Oka Antara), anak bungsu Mahmud yang sudah sejak lama pergi dari rumah karena selalu bertentangan dengannya.

Heli sang aktivis lingkungan hidup ini kerap kali membuat Mahmud gerah karena sangat kritis terhadap agama. Heli sendiri sebenarnya menolak menemani Mahmud. Namun dia terpaksa menuruti permintaan Halida agar kakaknya yang bekerja di kantor imigrasi itu membantunya mengurus paspornya yang kadaluarsa bertepatan dengan libur lebaran. Dia butuh secepatnya keluar negeri membantu para aktifis dunia berjuang melawan perusakan lingkungan di Nikaragua.

Dengan terpaksa, kedua bapak-anak ini melakukan perjalanan bersama. Di perjalanan bapak dan anak ini sering berselisih paham dan bertemu banyak peristiwa.  Puluhan tahun Mahmud meninggalkan tempatnya dahulu melihat hilal. Kini nama daerahnyapun sudah berubah. Karena itu Mahmud dan Heli harus menemui seorang yang tahu sejarah daerah itu, yang ternyata seorang pendeta.

Di sini Mahmud dan Heli harus berhadapan langsung dengan persoalan ketegangan antar umat beragama. Mereka menjadi saksi bagaimana kebaktian yang dipimpin sang pendeta di halaman rumah dibubarkan dan diserang oleh kelompok muslim. Heli sendiri sempat menjadi korban kekerasan massa. Tanpa rencana, Mahmud dan putranya terpaksa terlibat dalam membantu jemaat gereja untuk memperoleh rumah ibadat. Di sini mereka harus menghadapi kepelikan persoalan beragama, dari urusan parkir, kekuatiran Kristenisasi sampai kehadiran para provokator yang memang sengaja ingin mengadu domba.

Di bagian penghujung film, pasangan bapak dan anak ini melanjutkan perjalanan, berbekal peta dan motor yang dipinjamkan oleh sang pendeta. Mereka sebenarnya sekadar mencari hilal. Tapi perjalanan mereka mengajarkan mereka lebih banyak hal daripada sekadar penentuan kapan Idul Fitri dimulai.

Mencari Hilal adalah sebuah film dakwah yang indah, menggetarkan dan di banyak bagian mengharukan.

Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin yang ikut menyaksikan penayangan perdana film Mencari Hilal memujinya sebagai  film yang sangat inspiratif untuk menyikapi keberagaman yang ada di Indonesia.

“Realitasnya masyarakat itu beragam, tidak hanya beragam antar generasi antara orang tua dengan anaknya, tetapi juga sesama anggota masyarakat. Perbedaan yang ada mulai dari perbedaan tradisi, budaya termasuk paham keagamaan,” ujar Lukman,  5 Juli 2015.

Menurut Lukman, perbedaan jangan disikapi dengan pemaksaan kehendak tapi sikapi dengan kearifan. Film mencari Hilal cukup baik mengajarkan itu. “Film ini mengajarkan bahwa cara terbaik menyikapi keragaman adalah dengan kearifan,” lanjut Lukman.

Skenario film ini ditulis oleh Salman Aristo dan Bagus Bramanti, dengan para produser Raam Punjabi, Hanung Bramantyo, Putut Widjanarko dan Salman Aristo. Akan tayang 15 Juli 2015.

Sebuah film yang layak ditonton.

(Warsa Tarsono)

Komentar