Home » Review » Film » Bercermin pada Orked

(Tulisan ini telah dimuat di Majalah Madina No. 1, Tahun 1, Januari 2008)

Di negeri jiran, Yasmin Ahmad memotret masyarakat Melayu yang sedang berubah. Memancing kontroversi, tapi juga refleksi.

Bercermin pada Orked

Di sela-sela adegan-adegan yang meletupkan tawa ikhlas dan lepas pada film Mukhsin, ada sebuah adegan yang sedikit aneh. Seluruh keluarga Orked (tokoh utama, seorang gadis 10 tahun) plus dua pembantu mereka terbengong-bengong menatap sesuatu di tanah. Kamera bergerak perlahan, dan berhenti pada tukang kebun yang nyeletuk, “Bujang, betul kau ini memang pencemar budaya!”. Cut to gambar berikutnya: rupanya yang dikomentari adalah si Bujang, kucing kesayangan Orked, “membunuh” seekor anak ayam.

Tentu saja penonton tertawa atas absurdnya hubungan antara komentar dan yang dikomentari. Tapi yang mengerti konteks ucapan itu, akan tertawa lebih lepas lagi. Mukhsin adalah salah satu mutiara yang paling menghibur di dalam Jakarta International Film Festival (JIFFEST) 2007, 7-16 Desember 2007. Film ini adalah yang ketiga dari trilogi Orked (sebelumnya, Sepet dan Gubra) karya sutradara Malaysia, Yasmin Ahmad. Dua film sebelumnya diserang habis-habisan oleh pers Melayu, dianggap melanggar banyak tabu budaya Melayu. Film pertama Yasmin, Sepet sempat disebut “pencemar budaya”. Nah, Yasmin membalas label itu dengan adegan Bujang.

Kontroversi Yasmin adalah sebuah cermin sebentuk ketegangan hubungan masyarakat Islam dan budaya pop. Kita tahu, terutama di Malaysia, Melayu = Islam. Namun, persamaan ini pun sebetulnya mengandung masalah. Baik “Melayu” atau “Islam”, keduanya adalah definisi yang masih terus bergerak. Mengidentikkan keduanya jelas problematis juga, karena dalam kata “Melayu” lebih banyak terdapat nuansa “adat istiadat”.

Yasmin sendiri, dalam wawancara dalam Rumahfilm.org, mengaku bahwa ia membuat film untuk mencari Tuhan. Salah satu ciri khas Yasmin adalah memulai filmnya dengan tulisan Bismillah, yang muncul secara kreatif. Dalam film terbarunya, Muallaf, kata Basmallah itu muncul dalam tulisan Cina! Namun Yasmin juga adalah seorang yang berani mengangkat wajah Malaysia yang sedang berubah, dan karena itu menantang bayangan yang telah ajeg tentang identitas Malaysia/Melayu. Cercaan, pencekalan, bermacam tuduhan yang menimpa Yasmin jadi sesuatu yang tak mengejutkan, sebetulnya.

Sepet bercerita percintaan seorang gadis Melayu, Orked (dewasa, diperankan Sharifah Amani), dengan seorang pemuda Melayu, Jason (Ng Choo Seong). Topik ini saja sudah kontroversial bagi Malaysia. Dalam sekuelnya, Gubra, ada adegan kecil di awal film: seorang marbot sedang menuju mushalla yang ia urus, suatu subuh, berpapasan dengan seekor anjing kecil, dan bermain-main dengannya. Adegan ini pun jadi kontroversi. Mukhsin diseru agar tak diputar, karena bisa membawa masalah sosial kebebasan seksual di kalangan remaja Malaysia, oleh Persatuan Kebangsaan Pelajar Islam Malaysia.

Muallaf, yang menggambarkan Sharifah Amani menggunduli kepalanya, memancing kehebohan lagi. Mufti Selangor, Datuk Mohd Tamyis Abdul Majid, menyatakan haram seorang perempuan menggunduli kepalanya. Muallaf sendiri menggambarkan isu keagamaan secara lebih langsung: keresahan religius dua tokoh muslim dan seorang Cina Kristen. Semua isu nonfilm ini membuat film-film Yasmin masih tak sepenuhnya dihargai di negerinya sendiri.

Selama 2006-2007, lima festival film internasional mengadakan retrospeksi karya-karya Yasmin. Mereka adalah The Tokyo International Film Festival (2006), penghormatan khusus di University of Hawai (2006), Osaka Asian Film Festival (2007), The Thessaloniki Internatioanl Film Festival di Yunani (2007), dan The Golden Horse International Film Festival di Taipei (2007). Sebagian tokoh pencerca Yasmin di Malaysia menepis penghargaan internasional pada film-film Yasmin sebagai bersifat politis.

Tapi marilah kita lihat filmnya sendiri. Paling tidak, di JIFFEST lalu, Mukhsin diputar tiga kali. Selalu penuh. Dari penonton ABG hingga paruh baya, semua tertawa dan terharu. Di dalam film itu, kita lihat ada Nina Simone dan keroncong, juga Bismillah. Bukankah ini mirip dengan wajah Islam yang kita alami sehari-hari?***

 


Komentar