Home » Review » Buku » Tuhan Tidak Bulat, Bukan?

(Tulisan ini telah dimuat di Majalah Madina No. 1, Tahun 1, Januari 2008)

Adalah sebuah inspirasi dari Roestam Effendi. Pada 1925, penyair Pujangga Baru ini melahirkan sekumpulan sajak Pertjikan Permenoengan. Pada 2007, penyair/esais Goenawan Mohamad mengaku terinspirasi kumpulan sajak lawas itu ketika melahirkan buku kecil Tuhan & Hal-hal yang Tak Selesai.

Tuhan Tidak Bulat, Bukan?

Ini adalah kumpulan 99 esai pendek yang berkisah pada soal-soal Tuhan, keagamaan, keberagamaan (religiositas), dan spiritualitas. Ada filsafat, ada aforisma, kadang prosa liris, kadang juga ide-ide besar yang enggan dibumikan. Dengan baik sekali Goenawan menyebut percik-percik permenungan ini sebagai tatal –“serpihan kayu yang tersisa dan lapisan yang lepas ketika papan dirampat ketam.” (Halaman 9)

Dalam khasanah sastra dunia, jenis esai-esai begini bisa dinamai banyak (esai memang jenis tulisan yang sangat lentur). Salah satunya, “musings”. Kurang lebih, artinya, adalah jenis tulisan sastrawi semacam lanturan, tentang banyak hal yang lazimnya luput diperhatikan orang banyak; atau tentang hal yang diperhatikan orang banyak, tapi dari sudut pandang tak lazim.

Goenawan tak hanya memerhatikan tatal, yang jadi bahan penyusun tiang masjid Demak karya Sunan Kalijaga pada abad ke-16. Goenawan juga melanturkan tulisannya dari picu-picu seperti Sultan Akbar dengan agama bikinannya, Mel Gibson dengan Yesusnya yang penuh kekerasan, atau Cokot –seorang petani Bali yang dianggap Goenawan adalah seorang seniman “jenius pasca-Duchamp”. Dalam 162 halaman, Goenawan bicara tentang hal-hal abstrak, tentang Tuhan dan banyak soal yang dengan samar ia sebut sebagai “hal-hal yang tak selesai”.

“Hal-hal yang tak selesai” adalah sebuah konsep yang terkait dengan uraian mengesankan dari Goenawan pada Selasa, 29 Mei 2007, di Teater Utan Kayu, “Mencari Estetika Jeda”. Malam itu, ia menyebut-nyebut karya-karya seni minimalis, yang, menurutnya, membiarkan para penikmatnya tak pernah menemui selesai dalam memaknai. Ia membandingkannya dengan karya-karya patung Aryan di Jerman yang dipuji Hitler pada Perang Dunia ke-2. Hitler memang berkata, kata Goen, saya tak mengizinkan karya-karya yang belum selesai!

Kegandrungan Goenawan pada “hal-hal tak selesai” sejalan belaka dengan pemihakannya pada “puisi suasana” pada 1980-an. Ia tak suka pada “puisi ide”, puisi yang berangkat dari kesimpulan atau berkutat dengan kejelasan makna atau filsafat. Puisi-puisi Sutan Takdir Alisyahbana, misalnya, yang berangkat dari ide dan hendak tiba pada ide, sungguh tak membuatnya betah. Kualitas samar, misterius, baginya, adalah puitika itu sendiri.

Tak heran jika Goenawan lantas tertarik pada Tuhan. (Jumlah 99 memberi aura religius, karena orang lantas teringat pada 99 nama Tuhan dalam Islam.) Kualitas puitik yang digandrungi Goenawan akan dengan mudah kita temukan dalam “Tuhan” (paling tidak, dalam apa yang kita anggap sebagai Tuhan). Itu jika kita tak memahami Tuhan sebagai sesuatu yang bulat dan selesai –sebagaimana yang agaknya dipahami kaum teolog atau kaum atheis. Bagi mereka, Tuhan adalah hal yang telah selesai: kaum teolog menyelesaikan dengan logika dan iman; kaum atheis menyelesaikan dengan logika dan ketakberimanan.

Goenawan, bagaimanapun, seorang penyair. Seperti kata sebuah komentar terhadap kumpulan esainya, Catatan Pinggir: sebagai penyair, ia menghindari kebulatan. Sebagai penyair, Goenawan menjumpai Tuhan, atau “Tuhan”, dengan kesadaran akan batas-batas bahasa. Buku ini mencatat baik perjumpaan itu, mau pun tentang batas-batas itu sendiri.

Buku ini kadang terlalu abstrak, tapi paling tidak kita bisa menikmati yang selalu jadi kelebihan Goenawan: kekayaan diksi (pilihan kata), sehingga buku ini bisa jadi bahan pelajaran Bahasa Indonesia yang baik sekali.***   

Tuhan & Hal-Hal yang Tak Selesai
Goenawan Mohamad. Penerbit: KATAKITA, 2007.
166 halaman.

Komentar