Home » Review » Buku » Setelah Revolusi, Setelah Chic- Lit Berkibar

(Tulisan ini telah dimuat di Majalah Madina No. 1, Tahun 1, Januari 2008)

Ada pergeseran trend, karena pasar didefini­sikan sudah berubah. Latah masih jadi penyakit utama.

Ketika di layar bioskop jelas terpampang buku Laa Tahzan (Jangan Bersedih) karangan Syekh Aidh al-Qarni, diberikan oleh supir bajaj kepada Nagabonar dan kemudian oleh Nagabonar kepada polantas berwajah tertindas, sedang terjadi dialog antarmedia.

Setelah Revolusi, Setelah Chic- Lit Berkibar

Buku Laa Tahzan itu memang salah satu buku terlaris di Indonesia. Kehadirannya dalam film Nagabonar Jadi 2 merupakan salah satu serapan sang film atas hal-hal yang sedang hangat dalam masyarakat kita. Sebaliknya, dengan menampilkannya di layar, buku itu dikenalkan lagi kepada penonton yang kebetulan belum membacanya. Di Hollywood, sudah lazim product placing macam begini –memasukkan sebuah produk ke dalam cerita, dalam rangka pemasaran. Contohnya, film-film James Bond yang jadi etalase mobil Aston Martin atau handphone Nokia.

Pada saat Nagabonar Jadi 2 di­buat dan beredar, Laa Tahzan adalah sebuah fenomena penerbitan buku Islam yang luar biasa. Belum ada angka pasti yang bisa dipegang, tapi ada fakta unik: buku ini diterbitkan oleh beberapa (Pikiran Rakyat, 12/3/2006, bahkan menyebut “puluhan”) penerbit yang berbeda-beda, masing-masing berhasil men­cetak buku itu lebih dari satu kali.

Buku yang mengalami “nasib” seperti ini biasanya karya-karya dengan hak cipta yang diabaikan. Pada akhir 1990-an hingga awal 2000-an, misalnya, ada masanya buku-buku Kahlil Gibran diterbitkan oleh puluhan penerbit besar atau kecil. Buku-buku Gibran itu sering diguna­kan sebagai jurus capital gaining penerbit kecil: untuk cari modal awal jadi penerbitan “serius”, diterbitkanlah buku-buku Gibran dengan modal ala kadarnya. Mutu penerbitan jangan ditanya –rata-rata dengan terjemahan bermutu rendah, juga mutu produksi rendah.

Syekh Qarni yang pernah datang ke Indonesia pada 2006 memang punya logika penerbitan berbeda dari para penulis Barat. Ia tak merisaukan bukunya dibajak atau tidak. Ia lebih merisaukan jika bukunya dijual dengan harga terlalu mahal sehingga tak bisa dijangkau pembeli (Pikiran Rakyat, 12/3/2006).

Kitab, revolusi, “chic-lit Islami”
Menerbitkan buku Islam memang seksi. Buku Syekh Qarni hanya salah satu dari janji sukses di bidang ini. Sejak 1970-an, industri buku Islam mengalami pertumbuhan menarik. Mulanya, buku-buku Islam yang laris adalah versi ringkas kitab klasik macam petikan kitab IhyaUlumuddin Al Ghazaly. Buku-buku semacam ini dicetak secara murah, di­sebarkan di toko-toko kecil atau masjid-masjid.

Namun, seperti yang sempat dicatat Nurcholis Madjid, pada saat yang sama juga muncul buku-buku Islam akademis atau semi-akademis. Penerbit Bulan Bintang dan Dewan Dakwah Islam (DDI) adalah dua yang cukup rajin menerbitkan buku-buku jenis ini. Pada masa ini pula populer seri tafsir Al Azhar yang ditulis Buya Hamka. Menurut Cak Nur (Kompas, 15/11/2003), fenomena penerbitan ini adalah salah satu konsekuensi lahirnya kaum terpelajar di kalangan kaum santri Indonesia.

Revolusi Iran 1979 membawa kegairahan penerbitan buku-buku Islam jenis lain di Indonesia pada awal hingga pertengahan 1980-an: buku-buku gerakan Islam, mulanya dari para pemikir pendukung revolusi Iran seperti Kalim Ash-Shidiqui, Hamid Algar, dan Ali Syariati. Buku-buku ini banyak diserap oleh kalangan kampus dan pelajar. Dari “demam” Revolusi Iran, segera saja buku-buku gerakan Islam dari para pemikir Ikhwanul Muslimin (dan yang se-“fikrah” atau sepaham) seperti Sayid Qutb, Muhammad Qutb, Hasan al-Banna, Yusuf Qardhawi, Fathi Yakan, dan Abul A’la Maududi.

Pada masa ini, lahir penerbit Shalahuddin Pers (Yogyakarta), Mizan dan Pustaka Salman (Bandung, berbasis di ITB), serta Gema Insani Pers (GIP) dan Pustaka Firdaus (Jakarta). Mizan dan GIP terus berkembang hingga kini. Mizan, yang lebih intelektual, dan membuka diri pada berbagai aliran pemikiran Islam. Buku Abul A’la Maududi (Khilafah dan Kerajaan) dan Muhammad Qutb (Jahiliyah Modern) diterbitkan bersama buku-buku Ziaudin Sardar, Ali Syariati, Anne Marie Schimmel, atau Murtadha Mutahari.

Pada akhir 1980-an hingga 1990-an, Mizan bahkan membentuk trend pemikir­an Islam lokal yang merambah ke bidang filsafat, politik, dan budaya. Penulis-penulis macam Haidar Bagir (juga pendiri Mizan) Jalaludin Rahmat, Kuntowijoyo, Emha Ainun Najib, Farid Gaban, Fachry Ali, Yudi Latif disemai popularitas mereka di lini pemikiran Islam Mizan. Terakhir, Mizan mencuat­kan Quraisy Shihab sang pakar tafsir. Karyanya, Membumikan Qur’an hingga kini laris lebih dari 80.000 eksemplar.

Sementara GIP lebih condong pada aliran pemikiran model Ikhwanul Muslimin, dan lebih populis (menerbitkan buku fiqh dan syariah praktis). Buku-bukunya banyak diserap pelajar SMA, para aktivis harakah, yang kemudian jajaran para da’i dan mubaligh muda yang mengisi mimbar-mimbar khutbah Jumat di Jakarta sejak 1990-an.

Pada 2000, terjadi pergeseran menarik. Buku-buku Islam praktis dan buku-buku sastra Islam(i) populer meningkat pasarannya secara fenomenal. Mizan menerbitkan Quantum Learning, lewat lini Kaifa yang khusus menerbitkan buku-buku “how to”. Sukses buku ini bisa diukur dari lahirnya banyak sekali buku yang mencantum judul “Quantum”. Mizan juga menjaring sebuah gejala penulisan sastra pop yang menarik: para penulis Forum Lingkar Pena, yang dipelopori dwi-bersaudari Helvy Tiana Rosa dan Asma Nadia.

Kedua penulis ini adalah alumni majalah “indie” Annida, yang khusus berisi cerita-cerita remaja. Bisa dibilang, Annida adalah Anita Cemerlang dengan jilbab dan “Assalamu ‘alaykum”. Cerita-cerita di dalamnya pop, melodramatis, umumnya bersemangat dakwah dan jihad yang diterjemah menjadi kisah-kisah thriller atau romantis ala chic lit.

Percobaan ini sukses di kalangan remaja muslim “anak musholla”, di sekolah-sekolah seluruh Indonesia. Helvy, Asma, dan para penulis lain di majalah itu melahirkan formula yang mengilhami gelombang penulisan sastra populer Islami. Pada 2000-an, gelombang ini, dalam bentuk organisasi penulis Forum Lingkar Pena (FLP, dipuji oleh Taufik Ismail sebagai organisasi penulis paling berhasil di Indonesia), merembes ke berbagai penerbit. Karya-karya mereka kemudian disebut genre “novel remaja Islam” (“Nori”).

Pasar Nori agak jenuh pada 2004-2005. Namun perkembangan lanjutan yang fenomenal adalah terbitnya Ayat-ayat Cinta karya Habibburrahman El-Shirazy pada 2004 oleh Penerbit Republika. Novel ini seperti kuda hitam penerbitan Islam, lahir dari pengarang yang belum dikenal sebelumnya dan oleh Penerbit relatif baru saat itu (anak perusahaan surat kabar Republika). Dalam tiga 3 tahun, novel ini tercatat sudah terjual 160.000 eksemplar.

Lagi-lagi, buku laris ini melahirkan banyak peniru. Misalnya kelahiran penerbit Diva Press, yang memfokuskan diri pada penerbitan novel-novel model Ayat-ayat Cinta. Bahkan nama penulisnya saja ada yang dibuat mirip nama Habibburrahman El-Shirazy, yakni Taufiqurrahman El-Azizy, yang menulis Makrifat Cinta, Musafir Cinta, dan Syahadat Cinta. Ada yang menambal genre ini sebagai “sastra pesantren”. Dari segi isi, novel-novel ini sebetulnya semacam Nori, tapi untuk orang dewasa. Pakem penulisan seperti chic lit, tapi dalam bahasa simbol Islam.  

Generasi baru penerbit Islam
Pada 2002, anggota IKAPI yang merupakan penerbit buku-buku Islam mencakup 30%. Tak heran, IKAPI lantas berinisiatif mengadakan pameran buku khusus Islam. Pameran tahunan setiap Maret ini mulanya diikuti oleh 24 penerbit, dan kini sudah ratusan penerbit. Dalam pesatnya perluasan pasar buku Islam ini, mau tak mau keragaman menjadi tuntutan.

Buku-buku Islam semakin beragam temanya: politik, sosial, ekonomi & bisnis, ibadah praktis, filsafat, sastra, bahkan kesehatan. Menilik trend mutakhir, sebagian penerbit Islam membaca pasar sebagai sebuah pergeseran dari minat terhadap buku-buku pemikiran menuju minat terhadap buku-buku ringan, how to, praktis. Namun, jika kita lebih teliti, para peminat buku-buku pemikiran bukannya tak lagi ada. Mereka bergeser sejak pertengahan 1990-an ke buku-buku pemikiran (filsafat, studi kebudayaan) macam yang diterbitkan Bentang dan penerbit-penerbit Yogya lainnya.

Penerbit Bentang didirikan Buldanul Khuri pada 1994. Dengan latar desainer grafis dan pernah membantu penerbitan Shalahuddin Press, Buldan punya ketajam­an membaca pasar buku-buku budaya dan desain sampul memikat dan “nyeni”. Bentang dianggap jadi lokomotif dunia penerbitan Yogya yang marak dan khas hingga kini. Namun mismanajemen dan belitan hutang membuat Bentang merugi sebagai perusahaan, dan diambil alih kelompok Mizan. Ciri sebagai penerbit umum dipertahankan, namun selera Buldan tak lagi jadi pertimbangan.

Bentang versi Mizan ini lantas melahirkan sebuah kuda hitam lain penerbitan buku Islam, Laskar Pelangi karya Andrea Hirata, pada September 2005. Novel yang merupakan sekuel pertama tetralogi ini telah dicetak lebih dari 10 kali, dan kini sudah mencapai tiras 100.000 eksemplar. Saking populernya, sejak 2006 ada milis “Andreanis”, yang merupakan milis khusus penggemar Andrea dan ingin jadi penulis seperti Andrea. Menurut rencana, Maret 2008, novel ini akan difilmkan oleh sutradara terkemuka Riri Riza.

Laskar Pelangi adalah sebuah novel “umum”, tak dengan tegas memuat simbol-simbol Islam. Namun ia dipilih jadi semacam “bacaan wajib” oleh Muhammadiyah, karena hakikatnya buku ini juga sebuah ode untuk guru Andrea dan kawan-kawan sewaktu kecil, di sebuah sekolah Muhammadiyah nun di Pulau Belitong sana. Filmnya sendiri, seperti kata Hanung Bramantyo, jadi proyek kedua Muhammadiyah di bidang film. Dan ini menandai trend buku-buku Islam yang menampilkan diri sebagai “buku umum”.

Penerbit-penerbit Islam sendiri tampak mulai serius menggali pasar buku-buku umum. Penerbit Serambi, misalnya, sukses dengan menerbitkan karya Dan Brown, The Da Vinci Code. Menariknya, Serambi juga menerbitkan banyak karya-karya sastra dunia dari Orhan Pamuk, Amin Maalouf, Toni Morrison, Tim O’Brien, Peter Carey, Jeffrey Eugenides –sederet nama-nama besar dalam sastra dunia kontemporer– di samping pengarang populer Amerika macam Patricia Cronwell, Han Nolan, atau John Sanford. Seolah, penerbit ini jadi hibridasi antara penerbit Bentang dan penerbit Gramedia.

Jurus Serambi ini agaknya diserap juga oleh beberapa penerbit baru berlatar Islam, seperti Q Press, Diwan Publishing, Penerbit Nun, Penerbit Ufuk (salah satu yang paling sukses), dan penerbit Dastan. Di samping jenis buku yang sangat beragam, mutu penerbitan mereka pun sangat beragam –dari penerbit-penerbit yang sangat memerhatikan unsur penerjemahan dan desain sampul macam Serambi hingga mereka yang agak abai terhadap mutu penerjemahan dan editing­.

Maklum, cukup banyak penerbit ge­ne­rasi baru itu lahir dari sebuah latah: ingin untung cepat, dari penerbitan formulaik yang ada.

Kita masih menunggu, latah ini akan membentuk wajah Islam macam apa dalam lima tahun ke depan. v

Komentar