Home » Review » Buku » Klarifikasi Menanggapi Respon Mun’im Sirry “Apakah “Muhammad” Nama Nabi?

Klarifikasi Menanggapi Respon Mun’im Sirry “Apakah “Muhammad” Nama Nabi? Oleh Azam Bahtiar (Anggota Redaktur Wacana Mizan)

Setelah membaca respons Bung Mun’im Sirry di Madinaonline.id, “Apakah Muhammad Nama Nabi? Respons terhadap Pengantar Redaksi Buku Kontroversi Islam Awal”, kami merasa perlu memberikan klarifikasi secukupnya, meski terbilang terlambat.

Sebelum yang lain-lain, tulisan ini sama sekali tak bermaksud untuk memperdebatkan tanggapan Bung Mun’im atas Kata Pengantar yang kami tulis untuk buku tersebut. Sebaliknya, klarifikasi ini bermaksud mendudukkannya dalam konteks apresiasi kami kepada karya yang amat penting ini. Sebenarnya kami pun telah yakin bahwa pembaca Kata Pengantar Redaksi tidak akan gagal menangkap apresiasi kami yang amat besar, di awal dan akhir, terhadap buku Kontroversi Islam Awal.

Selanjutnya beberapa poin dalam tanggapan Bung Mun’im yang perlu kami klarifikasi:

Pertama, konteks Kata Pengantar. Meski judulnya “Kritik atas Kritik terhadap Historiografi Muslim Awal”, pengantar yang kami tuliskan memang bukan dalam konteks mengkritisi gagasan buku ini, “konteks argumen utama”, atau “jantung argumen” dalam istilah Bung Mun’im. Namun hanya terkait contoh-contoh atau argumen pelengkap yang diajukan penulis.

Kami pun tidak menyatakan bahwa Bung Mun’im tidak menyuguhkan kritik sama sekali. Di halaman 99-100 penulis telah mengajukan serangkaian kritik, tapi – seperti kami tuliskan– penulis lebih “memanfaatkan argumen-argumen dialektis” dalam kritiknya dan, karenanya, menjadi tidak berimbang. Semoga istilah ini dipahami dengan baik.

Di sini kami tidak sedang dalam posisi mengafirmasi bahwa “Muhammad” adalah proper name. Namun, kami tunjukkan data-data yang menginformasikan, atau dapat melahirkan tafsir bahwa “Muhammad” adalah proper name. Sebagai bukti atas absennya sikap afirmatif kami, di footnote nomor 9 secara jelas kami tuliskan bahwa Hisyam Ja’aith –yang kredibilitas dan otoritasnya dalam disiplin ini diakui luas– menyebut bahwa nama asli Muhammad adalah Qutsam.

Alasan lain adalah karena penulis dalam menyuguhkan pandangan kaum revisionis radikal dan skeptis, tidak banyak menampilkan respons kritis dari sejarawan-sejarawan Muslim kontemporer. Penulis lebih banyak merujuk pada kritik-kritik yang dikembangkan oleh kaum moderat (Barat), seperti Fred Donner dan yang lain.

Dalam batas tertentu, bagi pembaca yang tidak memiliki latar belakang yang cukup, hal ini dapat mengesankan ketiadaan sumber-sumber Islam dalam diskursus ini. Padahal, baik Jawad Ali maupun Ja’aith, misalnya, telah mengkritik sumber-sumber Barat itu secara cukup serius. Dalam responsnya, Bung Mun’im memang menyarankan referensi dari sejarawan Muslim. Tapi sayangnya bukan dari sarjana Muslim kontemporer, Bung Mun’im justru menyebut-nyebut nama Ibn Sa’d dan Ibn Duraid. Padahal, Ibn Duraid adalah seorang linguis dan penyair, bukan sejarawan.

Kedua, tentang judul buku Jawad Ali. Yang kami tuliskan sudah benar. Yang kami rujuk adalah Tarikh al-‘Arab fi al-Islam (1969), bukan Tarikh al-‘Arab qabla al-Islam (8 jilid, 1956-1960) maupun Al-Mufashshal fi Tarikh al-‘Arab qabla al-Islam (10 jilid dengan indeks, 1968-1974). Juga bukan Al-Mufashshal fi Tarikh al-‘Arab fi al-Islam (manuskrip). Jika bacaan kami tidak salah, tidak ada satupun dari buku-buku Jawad Ali –jebolan Universitat Hamburg dan visiting professor di Harvard– ini yang dirujuk oleh Bung Mun’im.

Ketiga, tentang Aloys Sprenger. Benar bahwa kami tidak membaca buku Sprenger. Namun, konteks pengantar sesungguhnya tidak sedang menjelaskan pandangan Sprenger, tetapi Louis Cheikho (selain kritikus sastra, ia juga penulis sejarah kesusastraan), yang juga banyak memanfaatkan karya Sprenger. Dan konteks kutipan kami bukan soal apakah kata “Muhammad” itu proper name atau bukan, tapi lebih pada persoalan bahwa kata “Muhammad” sudah pernah secara praktis digunakan sebagai “nama” (proper name) di masa Pra-Islam.

Ini kutipan dari pengantar kami secara verbatim:

“Selain itu, laporan-laporan kesusasteraan menetapkan bahwa kata “Muhammad” telah digunakan sebagai nama oleh sejumlah orang sebelum kelahiran Nabi Muhammad. Louis Cheikho, pakar sastra Arab dari ordo Jesuit-Chaldean dan pendiri Jurnal Al-Machriq, dalam Al-Nashraniyyah wa Adabuha bayna ‘Arab al-Jahiliyyah menyebut beberapa tokoh Kristen bernama “Muhammad” (1989: 126, 148-149, 251, dan 476); suatu upaya yang sebelumnya sudah ditunjukkan oleh Aloys Sprenger dalam Das Leben und die Lehre des Mohammad (1869).”

Selanjutnya:

“Jika argumen ini kita terima, bukan saja ia mengafirmasi bahwa kata “Muhammad” sudah lumrah dipakai sebagai nama pada masa pra-Islam, namun sekaligus meruntuhkan mitos di kalangan umat Islam sendiri bahwa nama ini belum pernah dipakai oleh seorang pun sebelum Nabi Muhammad.”

Asumsinya, jika “Muhammad” sebagai nama Pra-Islam sudah lumrah, maka penamaan Muhammad sebagai “Muhammad” bukanlah sesuatu yang baru dan aneh, juga bukan merupakan peminjaman dari predikat Yesus yang kemudian dipakai sebagai nama oleh Muhammad setelah berhijrah meninggalkan Makkah ke Madinah.

Terakhir, seperti Bung Mun’im, lepas dari soal proper name maupun epithet, kami akan tetap mengucapkan shalla Allahu ‘alaihi wa alihi wa sallam saat menyebut kata Muhammad. Wa-Allahu a’lam. []

 

Komentar