Home » Review » Buku » Atheisme Sebuah Mode?

(Tulisan ini telah dimuat di Majalah Madina No. 2, Tahun 1, Februari 2008)

Salah satu yang mencuri perhatian industri buku di Amerika tahun lalu, di samping judul terakhir seri Harry Potter, adalah merebaknya sederet buku atheisme di daftar buku laris. Buku-buku atheis ini punya kekhasan: mereka lebihagresif, lebih “urakan”. Ciri lain, kebanyakan berbasis sains yang spesifik: teori evolusi terkini, terutama di bidang-bidang neuro science.

Atheisme Sebuah Mode?

Amazon.com, misalnya, mencatat sepuluh buku atheis paling top. Antara lain: The God Delusion oleh Richard Dawkins (menempati peringkat paling atas), God is Not Great: How Religion Poisons Everything oleh Christopher Hitchens, The End of Faith: Religion, Terror, and The Future of Reason dan Letter to a Christian Nation oleh Sam Harris, Atheist Manifesto: The Case Against Christianity, Judaism, and Islam oleh Michel Onfray, Atheist Universe: The Thinking Person’s Answer to Christian Fundamentalism oleh David Mills. Yang tak masuk daftar Amazon.com, tapi cukup terkenal juga, Breaking The Spell: Religion as a Natural Phenomena oleh Daniel C. Dennet.

Para penulis itu, terutama Dawkins dan Harris, laris manis sebagai pembicara dan narasumber di berbagai seminar serta talkshow di Amerika selama 2007. Majalah-majalah besar macam Time dan Newsweek pun tampak gandrung mengangkat pendapat-pendapat Dawkins dan Harris. Sementara Hitchens sejatinya memang seorang jurnalis, jadi tak punya kesulitan untuk merembes ke media-media besar Amerika. Terutama ketiga juru bicara atheisme ini lah yang memancarkan sebuah kualitas yang rupanya memikat saat ini: tanpa tedeng aling-aling, dan “urakan” terhadap kemapanan agama.

Kadang, urakan memang /sexy/. Ada masa dalam hidup kita, biasanya di masa muda, ketika yang mengguncang, yang liar, yang melawan, begitu menawan. “Kemudaan” tentu bisa berlanjut sampai mati. Norman Mailer yang wafat 10 November 2007, misalnya, adalah pahlawan anti kemapanan di bidang sastra hingga akhir hayatnya. Namun, tak selamanya perlawanan terhadap yang mapan tetap menarik dalam bentuk liarnya.

Itulah mengapa fenomena sederet buku laris bertema atheisme sepanjang 2-3 tahun belakangan dipandang dengan helaan napas panjang oleh beberapa pengamat. Kritikus sastra James Wood, misalnya, menanggapi buku /Letter to a Christian Nation/ karya Sam Harris sebagai sebuah genre yang mulai menjemukan. Pendekatan “genre” ini menarik. Wood, sebagai pengamat sastra, akrab dengan jatuh bangunnya teori genre –bahwa khasanah sastra bisa dibedah secara taksonomis.

Risalah-risalah anti-Tuhan, sejak /Why I Am Not a Christian/ karya Bertrand Russel hingga karya Harris itu, dengan jenial dimasukkan Wood sebagai sebuah genre sastra yang khas. Sebagai genre, tentu ada aturan-aturan. Salah satunya, seperti diujar Wood: “sang atheis pertama-tama harus menyingkirkan segala rasa hormat yang mungkin ada terhadap kepercayaan agama.” Ini mengakibatkan dalam buku-buku anti-Tuhan itu selalu ditonjolkan “kedunguan-kedunguan iman dan agama”. (Sebagai catatan: James Wood sendiri seorang atheis. Kalimat pertama ulasannya itu adalah: “Aku tak percaya pada Tuhan sejak usia lima belas, dan kini, di usia empat puluh, aku curiga bahwa telah terlambat bagiku untuk berubah.” Wood juga menulis novel, sebuah satire, judulnya: A Book Against God.)

Agar jurus ini berhasil, mau tak mau iman dan agama harus dijadikan karikatur lebih dulu –dicari-cari kelemahan mereka, direduksi, dilebih-lebihkan. Maka, contoh-contoh yang hadir sebagai “kedunguan” iman dan agama selalu dari wilayah kaum fundamentalis agama. Itulah yang dilakukan Russel, itu pula yang dilakukan Richard Dawkins dalam God Delusion, Christopher Hitchens dalam /God is Not Great/, serta dua karya Sam Harris, /The End of Faith/ dan /Letter to a Christian Nation/.

Terry Eagleton, seorang kritikus budaya terkemuka, membandingkan serangan Dawkins pada teologi seperti seorang yang hanya tahu /The Book of British Birds/ lalu merasa mampu menyerang sendi-sendi ilmu biologi. Dawkins, kata Eagleton, adalah pengkritik teologi yang paling miskin pemahamannya akan teologi. Repotnya, bagi Dawkins, sejak semula ia sudah beranggapan bahwa memang tak ada sesuatu yang berharga untuk dipahami lebih jauh soal teologi ini.

Terutama sepanjang 2007, buku-buku atheisme laris manis di Amerika. Seperti komentar majalah /Time/, “kaum atheis di Amerika mungkin banyak mungkin tidak, tapi yang jelas para penulis atheis semakin banyak.” The End of Faith telah diterbitkan terjemahannya di Indonesia, dan jelas ada ketertarikan sebagian penerbit untuk menerjemah juga The God Delusion. Kelarisan ini dipicu dua hal: (lagi-lagi) serangan 9/11 pada menara kembar WTC; dan meningkatnya minat terhadap evolusi Darwin.

Di Amerika, dunia pasca 9/11 adalah dunia dengan keberagamaan yang mengeras. Di satu sisi, perhatian dunia tertuju pada fundamentalisme Islam. Media-media Barat (ini sudah pengetahuan umum) menyuburkan stereotipe Islam = terorisme, dan ini juga memicu pengerasan sikap dari kaum beragama lain kepada Islam. Paling tidak, serangan itu memberi alasan bagi pemerintahan Bush untuk menerapkan kebijakan militeristis di dunia Islam dan mengentalkan identitas Kristianinya demi dukungan publik Amerika.

Kita lihat (buka saja internet secara acak), betapa fundamentalisme kemudian dilawan dengan fundamentalisme. Ketegangan ini jelas tak enak bagi kaum terdidik di Amerika. Tumbuh sayap kiri yang mengeras terhadap isu “perang atas terorisme” ala Bush, juga mengeras terhadap intoleransi beragama. Sebagian orang lantas memilih sekalian memusuhi saja agama secara keseluruhan dan total. Kaum evolusionis di Amerika lebih-lebih, sangat berkepentingan terhadap “perang budaya” ini.

Ada semacam pertempuran di ranah akademis dan ruang publik, perebutan lahan antara kaum evolusionis dan kaum kreasionis (para akademisi dan masyarakat umum yang percaya bahwa bukti-bukti sains justru bisa menjelaskan jejak penciptaan Tuhan, dengan teori “desain intelijen”). Evolusionis macam Dawkins, Harris, Daniel C. Dennet (/Breaking The Spell: Religion as a Natural Phenomena/), dan banyak lagi, merasa berang atas agresivitas kaum kreasionis. Kaum evolusionis itu lantas mengibarkan sains sebagai satu-satunya jawaban, dan agama sebagai satu-satunya akar kejahatan yang sejati.

Maka maraklah genre buku anti-Tuhan ini. Perspektif evolusionisme seolah memberi api baru terhadap atheisme mutakhir. (“Seolah”, karena sesungguhnya hal ini telah dilakukan oleh Thomas dan Aldous Huxley di akhir abad ke-19.) Berbagai riset mutakhir, di samping ilmu menulis kreatif yang mumpuni, membuat buku-buku berang ini punya aura “intelektual” sekaligus “cutting edge”.

Bayangkan, seorang yuppies bergaya hip dalam sebuah cocktail party atau pameran lukisan dalam galeri seni yang wangi, lalu dari mulutnya keluar celoteh menyebut-nyebut “evolusi”, “Dawkins”, “God-spot” –wah, pasti nilainya dalam pergaulan itu jadi tinggi. Yang tak disadari “atheis gaul” macam begini: prinsip dasar sains adalah kesementaraan kebenaran.

Dawkins dan kawan-kawan, dalam keberangan mereka, memutlakkan posisi sains dalam hidup manusia. Tapi abad ke-20, dengan dua Perang Dunia, ancaman nuklir, kerusakan alam, dan budaya junk food-nya, adalah saksi bahwa sains dan teknologi tak selalu arif. Keberangan Dawkins, dan kawan-kawan meniadakan peluang bagi kearifan agama sekecil apa pun –dan ini sungguh gegabah. Salah satu bentuk dasar dari kegegabahan itu adalah anggapan bahwa iman adalah dungu karena tak masuk akal (“incomprehensible”).

Anggapan ini sungguh naif dari segi hakikat bahasa (sebagai alat kita memahami kenyataan). Pertanyaan penting Wood terhadap genre buku anti-Tuhan ini adalah: “Bukankah adalah sejenis penghinaan terhadap bahasa, ketika kita begitu komprehensifnya melarang yang tak bisa dipahami?”

Tak heran jika dalam diskusi God Dilusion, God is Not Great, dan Letter to a Christian Nation di Freedom Institute pada Kamis, 20 September 2007 lalu, satu-satunya yang sangat kritis terhadap atheisme ketiga buku itu justru Goenawan Mohamad. Sebagai penyair, Goenawan akrab dengan keterbatasan dan batas-batas bahasa. Sedari awal, ia menggaris: atheisme lahir dari keterbatasan bahasa.

Kita mencoba memahami sesuatu –entah kenyataan, entah ide– dengan bahasa. Tuhan, misalnya, dipahami “ada” atau “tidak” oleh baik kaum teolog dan kaum atheis. Tapi, jika dipikir-pikir, apakah “ada”? (Dan pertanyaan inilah yang menginspirasi berbagai aliran filsafat dari zaman Yunani kuno hingga posmodern ini.) Jawaban seorang penyair macam Goen sangat khas: Tuhan ada di luar batas “ada” dan “tak ada”. Begitu Tuhan dipahami “ada”, maka Dia langsung berada dalam hukum-hukum manusiawi tentang “ada”. Begitu Dia dipahami di luar “ada”, Tuhan menjadi sumber kearifan sejati –sebuah Misteri Akbar yang tak pernah selesai ditafsirkan.

Boleh Anda pusing kepala atas lanturan filosofis/puitis ini, tapi inilah paham yang jauh lebih bersedia menerima kearifan iman daripada analisa karikatural Dawkins dan kawan-kawan. Dan, bisa jadi, tak kalah fashionable-nya. ***

Komentar