Home » Review » Buku » Agar Umat Islam Indonesia Siuman
Peluncuran buku "Islam dalam Bingkai Keindonesiaan dan Kemanusiaan" karya Ahmad Syafii Maarif. Foto: baranews.co

Agar Umat Islam Indonesia Siuman *Oleh Muhammad Husnil

Memblejeti sejarah tanpa tedeng aling-aling sebagai bahan pelajaran. Istikamah memperjuangkan Islam berlandaskan keindonesiaan dan kemanusiaan.  

Sejarah, bagi Ahmad Syafii Maarif, adalah jembatan penghubung masa lampau dengan masa kini dan sekaligus menunjukkan arah ke masa depan. Karena itu, pada Islam dalam Bingkai Keindonesiaan dan Kemanusiaan Buya Syafii, panggilan karibnya, memblejeti sejarah Islam saat lahir di Timur Tengah, dan lalu kaitannya dengan Islam dan kemanusiaan di Indonesia.

Foto: mizanstore.com

“Dalam sejarah kepahitan harus dikatakan dan dibongkar secara berani dan bertanggung jawab, sekalipun menelanjangi diri sendiri,” tulis guru bangsa ini.

Dalam soal penyebaran Islam di Indonesia ini, misalnya. Buya Syafii melihat bahwa ada dua pendekatan dalam penyebaran Islam di Indonesia. Pertama, secara kultural. Dengan pendekatan ini Islam mampu merembes dan berkembang secara damai dalam keseharian masyarakat di Nusantara. Hampir tak ada gejolak yang terjadi ketika Islam diperkenalkan melalui jalur budaya. Kita bisa melihat bagaimana Sunan Kalijaga memperkenalkan dakwah Islam melalui wayang, misalnya.

Namun, Guru Besar Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta ini menilai bahwa Islam pernah juga menjadi pemicu peperangan. Yaitu ketika Islam berkelindan dengan kekuasaan. Inilah pendekatan kedua. Dalam konteks ini Buya Syafii tak keberatan mengakui bahwa Islamisasi di Nusantara ini juga menggunakan pedang. Malah, pendekatan kedua inilah yang mendorong penguasa muslim sama busuknya dengan penguasa non-Muslim yang gemar menumpahkan darah.

“Aroma busuk ini justru lebih dahsyat dalam perebutan kuasa antara sesama muslim, seperti yang terbaca dalam berbagai periode sejarah umat Islam,” tulis Buya Syafii. Menurutnya, orang tidak boleh menutup mata jika kekerasan itu memang terjadi.

Di antaranya, ia menyebut, Sultan Iskandarsyah Muda (1607-1636) yang membantai semua orang kaya karena diduga akan merongrong takhta dan mencuri milik negara. Akibatnya, dan ini ironis, selama tiga generasi setelah Iskandar tiada kesultanan Aceh diperintah para Sultanah yang justru mudah dipengaruhi orang kaya generasi berikutnya yang muncul ke panggung kembali setelah Iskandar wafat. Tak hanya itu, beberapa kerajaan bercorak Islam di Nusantara justru saling berperang, seperti pertarungan kekuasaan di kerajaan Mataram.

Tak berhenti menelaah Islam di Nusantara, Buya Syafii juga menggugat pendapat Mohammad Yamin yang mengatakan bahwa usia Indonesia ini sudah berabad-abad. Indonesia baru berusia 70 tahun pada 2015 ini. Sebagai bangsa, Indonesia mulai hadir di benak anak-anak muda pribumi seperti Tan Malaka, Muhammad Hatta, dan Ali Sostroamidjojo sejak awal abad 20-an. Dan sebagai negara, Indonesia lahir pada 17 Agustus 1945.

“Yang tua itu bukan bangsa Indonesia, tetapi cikal bakal bangsa Indonesia berupa suku-suku bangsa dengan mozaik kultur yang kaya, adat-istiadat, dan bahasanya masing-masing,” tulisnya di halaman 37.

Dalam kaitan Islam dengan Indonesia, Buya menyatakan bahwa mestinya muslim Indonesia sudah tak lagi berdebat tentang bentuk negara. Menurut mantan ketua umum Muhammadiyah ini, Pancasila, sebagai dasar negara, adalah pilihan yang tepat. Dan, demokrasi sebagai sistem negara adalah pilihan jitu.

Tulisnya, “Umat Islam Indonesia tidak menemui kesulitan apa pun dalam menyesuaikan ajaran Islam dengan prinsip-prinsip demokrasi. Adapun beberapa penulis yang buta peta sebagai penentang demokrasi, tidak perlu terlalu dirisaukan karena bobot dan posisi argumennya terlalu ringan untuk dipertimbangkan, di samping logikanya kacau.”

Toleransi dan Keadilan

Selama ini Buya Syafii dikenal sebagai tokoh yang istikamah memperjuangkan kemanusiaan sebagai ladang dakwahnya. Baginya, kemanusiaan adalah hal yang paling penting. Dan, salah satu inti kemanusiaan adalah toleransi. Islam, karena itu, sangat menjunjung tinggi toleransi. Tak hanya terhadap yang berbeda agama, tapi juga kepada orang yang tak beragama sekalipun.

“Kaum atheis berhak hidup di muka bumi. Kalau mereka tidak beriman, jangan dipaksa. Beriman itu baik, kalau mereka tidak mau, jangan dipaksa, jangan diadili,” katanya. Dalam bukunya, Syafii menjabarkan lebih lanjut bahwa tidak ada dalil yang kuat dalam Alquran untuk memaksa agar orang-orang beriman kepada Allah. Dengan menelusuri tafsir ayat 256 Surah Al-Baqarah dari Ahmad Hassan, Guru Utama Persatuan Islam (Persis), dan Hamka, mantan Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI), Buya Syafii semakin mantap dengan kesimpulannya tersebut.

Selain toleransi, nilai kemanusiaan yang juga penting untuk diperjuangkan adalah keadilan. Sejak lahir, Islam menentang ketidakadilan dan mendorong umatnya untuk berbuat adil. Secara bahasa, adil adalah meletakkan sesuatu pada tempatnya. Agar terjadi keseimbangan. Dalam hal ekonomi, misalnya, jika kekayaan terpusat hanya pada segelintir orang maka jurang ketidakadilan akan terbuka lebar. Kezaliman dan kemiskinan akan mudah ditemui.

Fakta ini terjadi ketika Islam lahir di Makkah ribuan tahun lalu. Islam, dalam penelusuran Buya Syafii, selalu bergumul dengan perniagaan. Saat Nabi lahir dan beranjak dewasa Mekkah merupakan salah satu daerah yang sangat hidup dengan jual-beli. Namun, kata Buya Syafii, ketimpangan ekonomi sangat besar di sana. Nabi Muhammad membawa Islam dengan semangat keadilan untuk semua. Selama tiga belas tahun Nabi Muhammad berdakwah di Mekkah tentang keadilan, persamaan, toleransi dan juga ketuhanan. Inilah yang menjadi pangkal perlawanan kaum Quraisy yang menguasai perekonomian Makkah saat itu.

Terdiri dari lima bab berisi beragam tema seperti sejarah, Islam, demokrasi, dan Indonesia, Buya Syafii menulis buku ini agar umat Islam Indonesia siuman dari ketidaktahuan mereka tentang sejarah. Sebagai penduduk mayoritas, muslim Indonesia memiliki tanggung jawab besar untuk mewujudkan peradaban yang asri. Demi bisa menjelmakan wajah seperti itu Buya Syafii menitikberatkan kepada kualitas muslim Indonesia. “Posisi mayoritas tunakualitas akan menjadi beban Islam sebagai agama yang ingin membangun peradaban asri yang berkualitas tinggi di muka bumi ini,” tulisnya.

Jalan itu, tiada lain, melalui pendidikan. Namun, pendidikan itu jangan mengacu kepada formalitas belaka. Tapi lebih berfokus kepada pembangunan karakter seorang muslim. Dalam hal ini, ia mengikuti filsafat Muhammad Hatta bahwa umat Islam supaya memakai ilmu garam: terasa tapi tidak kelihatan. Bukannya ilmu gincu, kelihatan tapi tak terasa. []

Judul: Islam dalam Bingkai Keindonesiaan dan Kemanusiaan

Penulis: Ahmad Syafii Maarif

Terbit: April 2015

Penerbit: Mizan, 405 halaman (termasuk indeks)

 

 

Komentar