Home » Review » Berita » Rizieq Shihab Tidak Hanya Sekali Pergi saat Persoalan Hukum Melilitnya
Sumber: geotimes.co.id

Rizieq Shihab Tidak Hanya Sekali Pergi saat Persoalan Hukum Melilitnya

Hampir satu bulan Rizieq Shihab meninggalkan Indonesia. Pimpinan Front Pembela Islam (FPI) itu pergi di tengah persoalan hukum yang melilitnya.

Kabar kepergian Rizieq dari Indonesia diketahui sejak akhir April lalu. Saat itu beredar sejumlah foto di sosial media yang menunjukkan keberadaan Rizieq di Arab Saudi.

Kepergian Rizieq ke Saudi untuk melaksanakan ibadah umroh diduga dilakukan Rizieq untuk menghindar dari sejumlah kasus hukum yang menjeratnya. Selain 5 kasus hukum yang dilaporkan sejumlah pihak, belakangan Rizieq juga dilaporkan kasus dugaan penyebaran konten bermuatan pornografi pada 30 Januari lalu.

Kasus ini terungkap setelah percakapan seks yang diduga melibatkan Rizieq dan Firza Husein tersebar di sosial media. Ada sejumlah pasal yang dilanggar terkait kasus ini, yaitu Pasal 4 ayat (1) juncto Pasal 29 dan/atau Pasal 32 Undang-undang Nomor 44 Tahun 2008 tentang Pornografi serta Pasal 27 ayat (1) juncto Pasal 45 ayat (1) Undang-undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE).

Rizieq sendiri sudah dijadwalkan untuk diperiksa pada 25 April lalu. Namun, Rizieq tidak hadir. Kepolisian kemudian melayangkan surat panggilan kedua pada 8 Mei atau dua hari sebelum hari pemeriksaan. Lagi-lagi Rizieq mangkir dari kewajibannya itu.

Awal pekan ini Rizieq diketahui berada di Malaysia. Namun baru beberapa hari di negeri jiran itu, Rizieq dikabarkan kembali lagi ke Arab Saudi. Sugito Atmo Prawiro, pengacara Rizieq, menyatakan kliennya tidak akan pulang selama Presiden Jokowi memimpin Indonesia. Sugito menuding kasus percakapan bermuatan pornografi yang melibatkan Rizieq itu dilakukan rezim Jokowi untuk mengkriminalisasi kliennya itu.

Kepala Divisi Hubungan Masyarakat Polri Inspektur Jenderal Setyo Wasisto menyatakan Rizieq harus bersikap sebagai warga negara yang baik dan taat hukum. Menurut Setyo yang dirugikan jika Rizieq tidak kembali ke Indonesia adalah Rizieq sendiri. Sebaliknya, jika Rizieq kembali dia bisa menjelaskan dan menolak semua informasi yang tidak betul.

Sebenarnya bukan kali ini saja Rizieq meninggalkan Indonesia kala ada kasus hukum yang melilitnya. Hal yang sama pernah juga dilakukannya lebih dari 10 tahun yang lalu.

Berdasarkan sejumlah laporan jurnalistik yang didapat Madina Online, Rizieq pernah meninggalkan Indonesia ketika ia berurusan dengan perkara hukum. Ada dua kasus hukum yang melilit Rizieq saat itu.

Pertama, kasus dugaan sweeping yang dilakukan anggota FPI ke pusat hiburan malam. Aksi penyerbuan dan pengrusakan itu menyasar tempat permainan bilyar GOR Kemakmuran di Jalan Hasyim Asyari, Jakarta Pusat, dan pusat hiburan lainnya. Pada saat itu juga puluhan anggota FPI berencana menuju Hailai, Ancol, namun tidak jadi. Aksi vandalistik itu terjadi pada Jumat malam (4/10/2002).

Kedua, kasus dugaan menebarkan kebencian, permusuhan, dan penghinaan pada pemerintah di muka umum. Hal itu dilakukan rizieq saat diwawancarai pada program Liputan 6 SCTV yang ditayangkan pada Sabtu (5/10/2002) dan program Kupas Tuntas di Trans TV yang ditayangkan pada Kamis (10/10/2002) terkait aksi sweeping di atas. Bahkan di program Kupas Tuntas Rizieq menyatakan, “Gubernurnya budek, DPRD-nya congek, dan polisinya mandul”.

Karena dua kasus itu Polda Metro Jaya menyerahkan surat panggilan kepada Rizieq sebagai tersangka. Rizieq diduga melanggar Pasal 160 (tentang delik penghasutan) jo Pasal  55 jo Pasal 170 KUHP beberapa hari setelah itu. Surat panggilan itu diterima salah satu anggota FPI yang sedang berada di rumah Rizieq.

Pada Rabu (16/10/2002) Rizieq ditahan Polda Metro Jaya. Keputusan penahanan dilakukan setelah penyidik Polda Metro Jaya memeriksa Rizieq lebih dari 13 jam. Kepala Dinas Penerangan (Dispen) Polda Metro Jaya saat itu, Komisaris Besar Anton Bachrul Alam, menyatakan Rizieq ditahan karena cukup bukti bahwa dia diduga melanggar Pasal 160 KUHP mengenai penghasutan, sebagaimana yang dikabarkan Harian Kompas.

Esok harinya Rizieq menolak menandatangani surat penahan atas dirinya. Rizieq berdalih tidak memberikan intruksi kepada anggota FPI atas aksi penyerbuan dan pengrusakan pada 4 Oktober 2002 itu. Rizieq menambahkan pada tanggal itu dirinya tidak berada di Jakarta.

Rizieq kemudian dibebaskan dari kurungan, tapi ditetapkan sebagai tahanan kota. Karena itu, secara berkala Rizieq dikenai wajib lapor.

Pada pertengahan April 2013 kepolisian mendapatkan kabar bahwa Rizieq tidak berada Indonesia. Kabar itu terungkap ketika Rizieq tidak hadir ke markas Polda Metro Jaya untuk memenuhi panggilan.

Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Polda Metro Jaya saat itu, Komisaris Besar Prasetyo, menyatakan kepolisian telah mengecek daftar penumpang yang berpergian ke luar negeri di sejumlah maskapai dalam sepekan terakhir. Itu dilakukan setelah mendapat kepastian bahwa Rizieq sudah meninggalkan Indonesia.

“Kami memperoleh informasi, Saudara Habib Rizieq berangkat dengan pesawat Merpati bernomor penerbangan M-2930, rute Jakarta-Kuala Lumpur. Jadi, dalam daftar penumpang pesawat itu jelas tercantum nama Habib Rizieq,” kata Prasetyo, sebagaimana yang dikutip Harian Kompas pada Jumat (11/4/2003).

Saat itu pihak kepolisian belum mengetahui persis Rizieq pergi ke negara mana. Namun, berdasarkan informasi yang didapat dari Ari Yusuf Amir, penasihat hukum Rizieq saat itu, Prasetyo menyatakan bahwa Rizieq mengantongi  visa ke Jordania.

Belakangan Rizieq dikabarkan terbang ke Irak setelah mendapat visa dari kedutaan Jordania. Rizieq dikabarkan terbang ke Irak untuk misi kemanusiaan.

Sebelumnya, FPI membuka posko untuk menyalurkan bantuan materi dan orang-orang yang mau berjihad ke Irak yang digempur pasukan AS dan Inggris karena Saddam Hussein diduga memiliki senjata pemusnah massal. Langkah FPI itu sendiri tidak mendapat respons positif dari tokoh-tokoh Muslim moderat, termasuk Menteri Agama saat itu Said Agil Husin Al Munawar.

Keruan saja polisi berang dan merasa kecolongan dengan kepergian Rizieq itu. Prasetyo menyatakan polisi kecewa dan meragukan surat pernyataan kepergian Rizieq ke Irak. Apalagi sudah diketahui berkas perkara Rizieq sudah P21 (berkas lengkap) dan siap dilimpahkan ke penuntut umum.

“Habib kan masih berstatus tahanan kota. Apapun alasannya, dia tidak boleh ke luar negeri. Kapolda sudah memerintahkan mencari (Rizieq) sampai ketemu,” kata Prasetyo sebagaimana dikutip majalah Tempo edisi 20 April 2003.

Menurut Prasetyo polisi masih mengecek kebenaran informasi kepergian Rizieq. “Benar-enggak dia pergi, atau jangan-jangan surat pernyataan itu hanya untuk menghindari penjemputan polisi,” katanya menambahkan.

Ari Yusuf Amir menyatakan pihaknya selaku penasihat hukum Rizieq sudah bertemu dengan tim penyidik dan menjelaskan bahwa kliennya memang sedang berada di Irak untuk misi kemanusiaan. “Klien kami telah berpesan bahwa dirinya tidak akan menghambat proses pemeriksaan,” kata Ari sebagaimana dikutip majalah Forum Keadilan nomor 50, 20 April 2003.

Kepergian Rizieq ke Irak dimungkinkan karena pada saat itu kepolisian tidak mengeluarkan surat permintaan pencekalan kepada pihak imigrasi. “Karenanya, tidak ada masalah dengan keimigrasian,” kata Kepala Humas Ditjen Imigrasi saat itu, Ade Endang Dahlan.

Pada Minggu (20/4/2003) Rizieq dikabarkan mendarat di Bandara Soekarno-Hatta dengan menggunakan pesawat Merpati dengan nomor penerbangan 931 dari Kuala Lumpur. Usai mendarat, Rizieq langsung dijemput paksa sekitar pukul 18.00 WIB.

Menurut Direktorat Kriminal Umum Polda Metro Jaya saat itu Komisaris Besar Andi Chaerudin penjemputan paksa Rizieq dilakukan karena ia tidak memenuhi dua kali panggilan di Mapolda Metro Jaya dan tidak melakukan wajib lapor sebanyak dua kali.

“Sekarang (Minggu malam), Rizieq sedang kami periksa. Ke mana saja, kok kewajiban hukumnya dilalaikan,” kata Andi sebagaimana dikutip Harian Kompas pada Senin (21/4/2003).

Di layanan pusat data Kompas tidak ditemukan laporan tentang hasil pemeriksaan terkait kepergian Rizieq ke Irak. Yang pasti, berhubung berkas dua kasus Rizieq sudah dinyatakan lengkap, kepolisian menyerahkan berkas dan Rizieq ke Kejaksaan Tinggi (Kejati) DKI Jakarta.

Ada insiden yang terjadi di kantor Kejati DKI Jakarta itu pada Senin (21/4/2003). Puluhan anggota FPI mendekati Rizieq dan membawanya pulang ke Petamburan. Sejumlah personil kepolisian dan aparat keaman kejati tidak bisa berbuat banyak untuk menghalau aksi anggota FPI itu. Sore hari, pada hari yang sama, Rizieq menyerahkan diri. Dia pun dibawa ke rumah tahanan (rutan) Salemba.

Singkat cerita, majelis hakim memvonis Rizieq dengan hukuman tujuh bulan penjara. Dalam pembacaan putusan di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Senin (11/8/2003), majelis hakim menyatakan, Rizieq terbukti secara sah dan meyakinkan telah melakukan penghasutan secara lisan dan tulisan di muka umum, serta telah menyebarkan permusuhan, kebencian, dan penghinaan terhadap pemerintah Indonesia.

Inilah kali pertama Rizieq tercatat sebagai narapidana. []

Komentar