Home » Review » Berita » Perempuan Muslim-Kristen Bangun Toleransi di Semarang
Peserta "Jumpa Hati Perempuan Lintas Agama" berfoto bersama di depan Masjid Jami' Istiqomah. Foto: Beritasatu.com

Perempuan Muslim-Kristen Bangun Toleransi di Semarang

Hubungan Kristen dan Islam cenderung naik-turun. Terkadang ketegangan dua agama yang berasal dari rumpun yang sama itu terasa dan tampak terbuka, tapi tak jarang babak sejarah menunjukkan bahwa hubungan keduanya harmonis dan saling mendukung (baca juga: 5 Fakta Hubungan Baik Nabi Muhammad dan Umat Kristen).

Di Indonesia upaya untuk menyuarakan semangat toleransi dan persaudaraan antara Kristen dan Islam tidak surut dilakukan. Ada yang dilakukan melalui individu-individu dan ada pula yang dilakukan oleh lembaga. Contoh yang dilakukan oleh lembaga, salah satunya, adalah seperti yang dilakukan Paroki Kristus Raja Ungaran, Semarang, Jawa Tengah.

Rabu (9/3) Paroki Kristus Raja Ungaran menyelenggarakan acara bertajuk “Jumpa Hati Perempuan Lintas Agama”.  Ratusan perempuan-perempuan berkerudung berkumpul dari kalangan Muslim, biarawati dari berbagai ordo, dan perempuan Katolik bermantila menjadi pemandangan yang menarik pada hari itu.

Acara yang baru pertama dilakukan itu diisi sejumlah kegiatan. Berkenalan dan berdialog antarpeserta adalah mata kegiatan utama dalam acara itu. Untuk mencairkan kebekuan antarpeserta, seni suara dan seni tari dipentaskan oleh perwakilan masing-masing peserta.

Ketua Komisi Hubungan Antaragama dan Kepercayaan Keuskupan Agung Semarang, Aloysius Budi Purnomo mengaku senang para perempuan lintas agama bisa hadir jumpa hati bersama. Ia berharap kaum perempuan mampu mengeksplorasi diri. Mengingat secara kuantitas keberadaan mereka selama ini cukup mendominasi di segala elemen kehidupan.

“Dunia ini sebagian besar diisi oleh perempuan. Mereka punya semangat untuk mewujudkan perdamaian di tiap keluarga, komunitas maupun saat mengurus rumah tangga,” kata Romo Budi yang juga menjabat sebagai Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Semarang, seperti dikutip rappler.com.

Santi Dewi, penggiat Nasyiatul Aisyiyah Muhammadiyah Solo, mengaku senang terlibat dalam acara itu. Berkat acara itu, ia menjadi lebih banyak teman dari komunitas agama yang berbeda. “Saya takjub melihat para biarawati meresapi lantunan lagu-lagu rohani sementara saya sebagai orang Muslim begitu khidmat berdoa tatkala menunaikan salat lima waktu,” katanya.

Di tengah-tengah acara dibacakan sebuah deklarasi yang memuat empat pokok tujuan pertemuan tersebut. Pertama, bersyukur karena telah mengalami perjumpaan yang menggembirakan dan saling meneguhkan, dengan hati menembus ruang dan waktu, merobohkan sekat-sekat pemisah, demi mewujudkan persaudaraan sejati antarumat manusia.

Kedua, bertekad terus bergerak menjadi promotor perdamaian sesuai iman, agama dan kepercayaan masing-masing. Mengajak siapa saja untuk mewujudkan perdamaian dalam kehidupan bersama.

Ketiga, bertekad akan terus belajar saling memahami dan mengamalkan ajaran agama dan kepercayaan masing-masing dengan sebaik-baiknya, hidup rukun, baik dan benar secara pribadi dalam keluarga, komunitas, masyarakat dan bangsa.

Keempat, akan terus merajut dialog dan kerjasama dalam gerakan kebudayaan dan kemanusiaan yang kian meluas dengan siapa saja di tengah masyarakat, terutama para perempuan beriman, sesuai dengan agama masing-masing, demi mewujudkan dan membangun peradaban kasih bagi masyarakat Indonesia dan dunia yang sejahtera, bermartabat, dan beriman, apapun agama dan kepercayaannya dalam sikap saling menghormati dan menghargai.

Pada puncak acara, para peserta diajak berkunjung ke Masjid Jami’ Istiqomah. Lokasinya tepat berada di seberang jalan Gereja Kristus Raja Ungaran.

Di masjid itu, para peserta disambut langsung oleh Ketua Yayasan Istiqomah, KH. Ahmad Thoha. Dalam kata sambutannya, KH Ahmad Thoha mengatakan bahwa hidup yang rukun dan damai sangat penting diupayakan. Menurutnya, suasana-suasana hidup yang rukun harus terus dipupuk dan dikembangkan di masa depan.

“Kami senang dan bahagia bahwa silaturahmi ini terjadi. Para perempuan selalu akan menjadi pendidik utama dalam keluarga dan komunitas. Para Suster juga menjadi pendidik untuk siapa saja. Para Ibu menjadi pendidik untuk anak-anak dalam keluarga. Para Suster dan para Ibu menjadi pendidik untuk masyarakat,” kata KH. Ahmad Thoha seperti dikutip beritasatu.com.

Perlu Tindaklanjut

Anggota Pengurus Alimat, kumpulan penggiat dan lembaga yang peduli pada isu perempuan dan keluarga, Nur Rofiah, mengapresiasi kegiatan perempuan berkerudung lintas agama tersebut. Baginya, keterbukaan satu komunitas agama untuk belajar dan bersahabat dengan komunitas agama lain layak disambut dan didukung.

Karena, menurutnya, tidak semua orang mau dan bersedia untuk mendatangi rumah ibadah komunitas agama lain. Apalagi dalam pertemuan itu disertai dengan kegiatan yang lebih dari sekadar mengunjungi rumah ibadah.

Doktor lulusan Ankara University, Turki, itu menyatakan bahwa inisiatif mempertemukan dua komunitas agama yang berbeda dalam satu pertemuan adalah hal bermanfaat yang diperlukan untuk mencairkan kebekuan psiko-sosial yang mungkin selama ini menghalangi persahabatan antarkomunitas agama yang berbeda. Tanpa satu sama lain merasa khawatir keyakinannya akan tergerus.

“Orang yang berani bersahabat dengan komunitas agama lain adalah orang yang percaya diri dengan imannya. Dia tidak takut dan yakin bahwa tidak akan terjadi apa-apa dengan imannya hanya karena dia bekerjasama dengan komunitas agama lain,” kata Nur Rofiah ke Madina Online via telepon, Kamis (17/3).

Mengingat pertemuan itu baru langkah awal, yang perlu dipikirkan selanjutnya adalah kegiatan setelah itu. Penyelenggara maupun peserta “Jumpa Hati Perempuan Lintas Agama” perlu duduk bersama untuk  merumuskan kegiatan lanjutan yang bisa dilakukan di kemudian hari.

Itu penting agar kegiatan yang sarat dengan pesan perdamaian itu tidak berhenti pada seremoni belaka. Dengan begitu, sikap toleransi yang sudah ditunjukkan para perempuan dari komunitas Muslim dan Katolik itu lebih bergema lagi pesannya.

Ada sejumlah aksi kemanusiaan, lanjut Nur Rofiah, yang bisa dilakukan. Dalam konteks relasi umat beragama, misalnya, menyelenggarakan kegiatan-kegiatan yang bertujuan untuk mengikis atau, minimal, mengurangi rasa saling curiga di antara dua komunitas agama. Dalam kegiatan itu bisa diselipkan materi-materi yang mendorong agar perbedaan dipahami secara benar dan bijak.

Kegiatan itu seperti pertukaran perwakilan untuk tinggal sementara waktu di tempat komunitas yang lain. Komunitas Muslim mengutus perwakilannya untuk tinggal di seminari. Pun komunitas Kristen mengutus perwakilannya untuk tinggal di pesantren. Program semacam ‘pertukaran pelajar’ itu sudah pernah dilakukan sebelumnya di sejumlah pesantren dan seminari.

Di luar itu, menyelenggarakan kegiatan-kegiatan yang menjadi titik temu keprihatinan bersama. Contohnya, dalam isu akses pendidikan yang belum terbuka kepada kelompok masyarakat miskin. Kekerasan terhadap perempuan, baik atas nama agama maupun atas nama yang lain. Atau kekerasan kepada kelompok minoritas.

“Ada banyak agenda yang bisa dipikirkan untuk dilakukan sebagai langkah berikutnya dari kegiatan kemarin itu,” papar Dosen UIN Jakarta itu.

Lebih jauh, Nur Rofiah menjelaskan perbedaan perlakuan yang ditampakkan laki-laki dan perempuan dalam merespons permasalahan atau konflik. Dan itu bisa dilihat bagaimana laki-laki dan perempuan dididik di tengah masyarakat dalam merespons permasalahan atau konflik.

Laki-laki, umumnya, dididik untuk menjadi sosok yang tegas, keras, dan macho. Pola pendidikan seperti itu berdampak pada bagaimana laki-laki merespons konflik. Sebaliknya, perempuan dididik untuk bersikap lembut. Itu sebabnya perempuan ketika menghadapi konflik atau korban konflik cenderung lebih empatik.

Kesimpulan itu diambil Nur Rofiah berdasarkan pengalamannya terlibat dalam kegiatan pengkaderan ulama perempuan yang diselenggarakan Rahima dalam beberapa tahun ini. Lembaga yang didirikan pada Agustus 2000 itu adalah lembaga swadaya masyarakat yang fokus pada pemberdayaan perempuan dalam perpektif Islam.

Dalam satu sesi, peserta pengkaderan ulama perempuan diajak untuk mendatangi lokalisasi seks komersil. Yang menarik, tiba di tempat, peserta dan pekerja seks komersil itu tidak bicara. Mereka langsung saling berpelukan dan menangis. Hal yang sama juga ditemui ketika peserta diajak untuk mendatangi tempat penampungan korban konflik komunal berbasis agama.

“Perempuan itu kadang-kadang tidak perlu bicara. Dia akan merespons konflik dengan caranya sendiri yang lebih empatik,” ungkap Nur Rofiah.

Dalam menyelesaikan konflik, perempuan bisa melengkapi peran laki-laki. Sebab, selain meniscayakan ketegasan, kelembutan juga dibutuhkan sebagai strategi penyelesaian konflik. Dan kelembutan itu bisa berasal perempuan. []

Komentar