Home » Review » Berita » Pembongkaran Masjid Amir Hamzah Bukan Kebijakan Anti Islam
Suasana salah satu ruang di basement I Teater Kecil yang digunakan sebagai pengganti Masjid Amir Hamzah sementara menjelang pelaksanaan Salat Jumat (23/12).

Pembongkaran Masjid Amir Hamzah Bukan Kebijakan Anti Islam

Benarkah pembongkaran masjid Amir Hamzah di Taman Ismail Marzuki (TIM) adalah kebijakan Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta yang bersifat anti Islam?

Pertanyaan ini memang bukan pertanyaan baru yang pernah diajukan. Tapi pertanyaan ini layak diajukan lagi mengingat peristiwa pembongkaran Masjid Amir Hamzah kembali ramai dihembuskan belakangan ini melalui media sosial dan aplikasi pengirim pesan, seperti What’s Apps.

Pada pertengahan Desember yang lalu, misalnya, beredar informasi berjudul “Ini Daftar Kesalahan Ahok Yang Dilindungi Rezim Bobrok” di dunia maya. Dalam salah satu daftar itu disebutkan bahwa Gubenur DKI Jakarta non-aktif Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok telah menggusur Masjid Amir Hamzah.

Informasi itu berasal dari materi yang di-posting­ page Facebook atas nama Habib Muhammad Rizieq Shihab, Lc, MA, DPMSS (@habibrizieqcom) pada 12 Desember lalu. Dalam posting-an itu terlihat materi tadi juga dimuat dalam satu flyer.

Tentu dengan mudah bisa ditebak apa maksud dari penyebaran informasi itu. Apa lagi kalau bukan ingin menggambarkan Ahok sebagai tokoh yang anti Islam sambil menggembosi dukungan publik kepadanya dalam Pemilihan Gubenur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta pada Februari 2017 dan mendelegitimasi kepemimpinan Jokowi sebagai Presiden RI.

Masjid Amir Hamzah diresmikan pertama kali oleh Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin pada 28 Januari 1977, bertepatan dengan Jumat 8 Safar 1397. Dalam 25 Tahun Pusat Kesenian Jakarta TIM yang diterbitkan pada 1994 dikatakan peresmian itu turut dihadiri Menteri Agama Mukti Ali, Ketua Majelis Ulama Pusat Buya Hamka, dan Ketua Dewan Dakwah Indonesia Moh. Nasir.

Posisi Masjid Amir Hamzah berdiri di antara dua gedung. Bila acuannya gedung Galeri Cipta III atau XXI TIM, posisi Masjid Amir Hamzah tepat di belakangnya. Tapi bila acuannya adalah gedung Art Cinema Fakultas Film dan Televisi Institut Kesenian Jakarta (IKJ), maka posisi Masjid Amir Hamzah tepat di depannya.

Pada Agustus 2013 Masjid Amir Hamzah dibongkar. Pembongkaran Masjid Amir Hamzah dimaksudkan untuk pengembangan gedung IKJ.

Meski sudah dikatakan bahwa pembongkaran Masjid Amir Hamzah sudah dikomunikasikan dan disetujui oleh stakeholder TIM terutama civitas akademi IKJ, namun sejumlah media, khususnya milik kalangan Muslim konservatif, menganggap pembongkaran Masjid Amir Hamzah adalah insitiatif Ahok (saat itu Wakil Gubenur DKI Jakarta) yang sarat kebencian kepada umat Islam.

Tuduhan ada sentimen anti Islam yang ditunjukkan Ahok di balik pembongkaran Masjid Amir Hamzah terus dihembuskan sampai hari ini. Di Google Trends, misalnya, terlihat bahwa kata kunci “Masjid Amir Hamzah” tetap menjadi pembicaraan sejak dibongkar sampai sekarang, meski cenderung fluktuatif.

Dari data Google Trends juga terlihat ada 3 momen ketika pembicaraan tentang Masjid Amir Hamzah terjadi peningkatan. Momen pertama pada 13-19 Oktober 2013. Momen kedua pada 3-9 Agustus 2014, setelah pemilihan presiden. Momen ketiga 11-17 Desember 2016. Momen pertama paling tinggi intensitas pembicaraannya dibandingkan momen kedua dan ketiga.

Yang menarik, ada 3 topik teratas terkait tentang Masjid Amir Hamzah yang dicatat Google Trend. Basuki Tjahaja Purnama menempati posisi ketiga, sementara posisi pertama dan kedua ditempati TIM dan masjid.

Master Plan TIM

Kepala Unit Pengelola Pusat Kesenian Jakarta (UP PKJ) TIM Imam Hadi Purnomo menyatakan bahwa pembongkaran Masjid Amir Hamzah adalah bagian dari peremajaan tata ruang TIM. Adapun rencana peremajaan itu sudah diagendakan sejak 20 tahun yang lalu.

Peremajaan tata ruang TIM sudah dicanangkan kala Soerjadi Soedirdja menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta pada 1996. Namun karena ada perubahan desain dan kendala teknis lainnya, rencana peremajaan itu belum bisa terrealisasi.

Titik terang kelanjutan rencana peremajaan tata ruang TIM mulai tampak ketika Jokowi-Ahok terpilih menjadi Gubernur dan Wakil Gubernur DKI. Peremajaan tata ruang TIM dibuatkan master plan-nya dan menjadi bagian dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) 2012-2017 pemerintah provinsi (pemprov) DKI Jakarta.

Master plan ini mencakup pembangunan seluruh wilayah di dalam TIM, mulai dari pengembangan IKJ yang terletak di bagian belakang TIM sampai area depan TIM. Dalam master plan itu juga disebutkan rencana pembangunan Masjid Amir Hamzah yang baru.

Berhubung kampus IKJ ingin dikembangkan pembangunannya, maka Masjid Amir Hamzah terpaksa dibongkar. Dan lahan yang sebelumnya berdiri Masjid Amir Hamzah dialihfungsikan untuk pengembangan kampus IKJ.

“Kenapa dimulai dari belakang, kampus IKJ? Kenapa tidak dimulai dari gedung yang lain? Kalau pembangunan dimulai dari area yang di depan dikhawatirkan bisa mengganggu dan menghambat aktivitas secara umum di sini (TIM; red),” kata Imam Hadi saat ditemui Madina Online pada Jumat (23/12) di TIM.

Imam juga mengungkapkan di atas lahan yang semula berdiri Masjid Amir Hamzah dan kini dijadikan lahan parkir sementara bagi mahasiswa IKJ itu juga berdiri bangunan yang lain. Selain Masjid Amir Hamzah, di atas lahan itu juga ada teater terbuka, wisma seni, dan tempat parkir.

“Jadi, di atas lahan itu bukan hanya Masjid Amir Hamzah saja. Luas Masjid Amir Hamzah sendiri hanya 384 M dan satu lantai,” papar Imam.

Agar tidak mengganggu hak umat Islam untuk beribadah, unit pengelola TIM menyediakan masjid sementara di basement I Teater Kecil atau yang juga dikenal Gedung Kaca. Selain itu, ada juga musala di dalam gedung Planetarium.

Imam menepis tudingan yang menyatakan bahwa pembongkaran bangunan Masjid Amir Hamzah adalah bentuk kebijakan Pemprov DKI Jakarta yang anti Islam. Menurutnya pembongkaran Masjid Amir Hamzah tidak ada kaitannya dengan sentimen untuk memojokkan kelompok agama tertentu, dalam hal ini umat Islam.

“Mana mungkin kebijakan itu (pembongkaran masjid; red) anti Islam? Pak Gubernur sendiri orang Islam. Saya juga orang Islam,” tegas Imam.

Dihubungi terpisah, Anggota Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) Hikmat Darmawan juga menepis tudingan bahwa pembongkaran Masjid Amir Hamzah adalah kebijakan yang anti Islam. Menurutnya pembongkaran Masjid Amir Hamzah adalah murni bagian dari pembangunan kembali TIM.

“Anti Islam dari mana? Namanya juga hoax,” kata Hikmat sambil tertawa gemas kepada Madina Online pada Selasa (27/12) via telepon.

Kepastian bahwa pembongkaran Masjid Amir Hamzah tidak ada kaitannya dengan sentimen anti Islam didengar mantan aktivis Rohis itu sendiri dari keterangan unit pengelola TIM. Dari keterangan yang didengarnya itu dikatakan bahwa Masjid Amir Hamzah yang baru akan dibangun lebih besar lagi.

Adapun soal pembangunan kembali Masjid Amir Hamzah yang belum tampak tanda-tandanya, Hikmat melihat hal itu bukan disengaja. Sebab, banyak juga gedung-gedung di TIM yang direncanakan untuk dibangun belum terwujud.

“Mungkin terkendala dari sisi anggaran dan perencanaan pembangunannya. Tapi yang saya tangkap, Masjid Amir Hamzah yang baru diharapkan bisa digunakan tidak hanya untuk pengunjung TIM dan mahasiswa IKJ saja,” tandas pengamat budaya pop itu.

Masjid Amir Hamzah Baru

Imam Hadi menyatakan ada 6 tahap dalam master plan tata ruang TIM yang baru. Tahan pertama adalah perencanaan yang dilaksanakan pada 2012. Tahanpan kedua adalah kontruksi IKJ yang dilaksanakan pada 2013. Tahapan selanjutnya kontruksi bangunan yang lain, termasuk pembangunan sarana penunjang. Salah satunya adalah Masjid Amir Hamzah.

Dalam master plan tata ruang TIM yang baru, posisi Masjid Amir Hamzah digeser ke area yang lebih strategis, yaitu di atas lahan yang sekarang menjadi kantin di TIM. Adapun posisi Masjid Amir Hamzah yang lama berada di belakang.

Dengan memindahkan ke area yang lebih strategis, diharapkan yang bisa memanfaatkan Masjid Amir Hamzah sebagai sarana ibadah tidak terbatas bagi pengunjung TIM dan mahasiswa IKJ saja. Orang yang  kebetulan melintas di daerah Cikini juga bisa memanfaatkan Masjid Amir Hamzah untuk beribadah.

“Masjid Amir Hamzah yang baru akan dibangun dua lantai. Masing-masing lantai luasnya 200 M,” sambung Imam.

Jika Masjid Amir Hamzah digeser ke lahan yang saat ini dijadikan kantin, lalu bagaimana dengan nasib kantin dalam master plan yang baru?

Keberadaan kantin tidak akan dihapus. Dalam master plan yang baru, Masjid Amir Hamzah berdiri di antara kios-kios yang ada. “Kalau setelah atau sebelum salat, para jamaah haus, mereka bisa minum atau ngopi-ngopi dulu,” kata Imam.

Imam menanggapi kesan yang muncul di tengah masyarakat bahwa pembangunan Masjid Amir Hamzah tidak kunjung dimulai. Menurutnya, ada sejumlah hal teknis yang menyebabkannya.

Pertama, ada kebijakan dari pemprov DKI Jakarta untuk mengubah penanggungjawab pengelolaan TIM. Sebelumnya, penanggungjawab pengelolaan TIM adalah badan pengelola (BP) yang diisi oleh orang swasta non-PNS. Pada 2014 BP dibubarkan berdasarkan Peraturan Gubernur Nomor 109 Tahun 2014.

Sebagai gantinya, ditunjuklah unit pengelola (UP) TIM yang diisi oleh para PNS. Sejak 2015, UP bertanggungjawab dalam hal pengelolaan TIM.

“Satu tahun pertama adalah masa transisi. Kami membangun sistem pelayanan masyarakat dalam hal penggunaan tempat di sini. Sampai sekarang pun kami masih beradaptasi. Selain itu, proyek-proyek yang besar memang belum sempat dilanjutkan. Mungkin pada RPJMD 2018 master plan bisa dilaksanakan,” terang Imam.

Kedua, dalam master plan tata ruang TIM yang baru dikatakan bahwa tempat parkir kendaraan tidak lagi di atas tanah. Seluruh kendaraan diparkirkan di basement 1 dan 2. Karena itu, tidak mungkin dibangun Masjid Amir Hamzah terlebih dahulu, sedangkan basement yang ada di bawahnya dibangun menyusul.

Dalam master plan itu juga tergambar bagaimana Pemprov DKI Jakarta di bawah Jokowi-Ahok yang kemudian dilanjutkan Ahok-Djarot menginginkan Jakarta menjadi kota besar yang memiliki gedung pementasan seni dengan standar Internasional. Layaknya Singapura yang memiliki Esplanade dan Australia yang memiliki Sydney Opera House.

“Pak Gubernur ingin agar orang Indonesia tidak melulu datang ke Singapura dan Australia untuk menonton pertunjukkan seni yang bagus. Kalau perlu, orang Singapura dan Australia yang datang ke Jakarta karena Jakarta juga bisa menyelenggarakan dan punya gedung pertunjukkan yang bagus,” pungkas Imam. []

Komentar