Home » Review » Berita » Pelajaran dari Isbat Tahun Ini: Islam Memang Tidak Tunggal
Foto: merdeka.com

Pelajaran dari Isbat Tahun Ini: Islam Memang Tidak Tunggal

Bagi Indonesia, ada yang istimewa dengan Ramadhan tahun ini. Bukan saja karena tidak ada perbedaan tentang kapan dimulainya bulan suci Ramadhan di antara organisasi-organisasi terbesar, namun, yang lebih penting lagi, Muhammadiyah kembali menghadiri sidang isbat yang dilakukan pemerintah. Dan itu terjadi karena Menteri Agama yang menghargai keberagaman.

Dalam beberapa tahun terakhir, Muhammadiyah yang adalah salah satu organisasi Islam terbesar di Indonesia memang tidak bersedia datang ke sidang isbat untuk menentukan 1 Ramadhan di Kantor Kementerian Agama.

Sebagaimana dikutip Kompas.com (16/6), alasan penolakan Muhammadiyah adalah karena sikap Menteri Agama Suryadharma Ali di masa pemerintahan SBY yang cenderung memojokkan Muhammadiyah. “Muhammadiyah dari awal rapat isbat selalu ikut, kecuali pada satu masa dua atau tiga tahun lalu saat pak Suryadharma Ali menjadi Menteri Agama, Muhammadiyah mengirim surat untuk tidak ikut,” kata Ketua PP Muhammadiyah ujar Din Syamsuddin di Istana Kepresidenan.

Keputusan Muhammadiyah mengenai penetapan satu Ramadhan memang kerap berbeda dengan banyak organisasi Islam di Indonesia.

Muhammadiyah menganggap bahwa penentuan awal bulan Ramadhan ( dan Idul Fitri) dapat ditentukan dengan metode hisab, yaitu dengan perhitungan secara matematis dan astronomis untuk menentukan posisi bulan dalam menentukan dimulainya awal bulan menurut kalender Hijriyah.

Di sisi lain, banyak organisasi islam menganggap cara terbaik untuk menentukan awal bulan  adalah dengan metode rukyat, yaitu dengan mengandalkan terlihat tidaknya bulan sabit (hilal) setelah matahari terbenam. Rukyat dapat dilakukan dengan mata telanjang atau dengan alat bantu optik, seperti teleskop.  Cara ini tidak mudah karena intensitas cahaya hilal di masa itu sangat redup dan ukurannya sangat tipis.

Karena perbedaan tersebut, tidak jarang terdapat perbedaan dalam hal penentuan 1 Ramadhan dan 1 Syawal antara Muhammadiyah dan organisasi-organisasi lain.

Sidang isbat itu sendiri idealnya dilakukan pemerintah untuk menghindari kesimpangsiuran informasi mengenai penentuan awal bulan tersebut. Karena itu lazimnya, dalam sidang isbat, Menteri Agama mengundang para ulama dan perwakilan organisasi-organisasi Islam terbesar. Tujuannya bukan untuk menyeragamkam, meskipun di akhir sidang lazim pemerintah mengambil keputusan resmi.

Masalahnya, menurut Din, pada masa kepemimpinan Surydharma Ali, penetapan awal bulan Ramadhan terkesan dipolitisasi. Ia mendapat kesan, dalam sidang isbat itu pemerintah sengaja  menghadirkan para pakar yang mendiskreditkan Muhamamdiyah.

“Seolah pandangan Muhammadiyah itu tidak benar,” ujar Din.

Kini, Din menilai suasanaya sudah berubah sejak Lukman Hakim menjadi Menteri Agama.  “Sejak pak Lukman Hakim jadi menteri, beliau sengaja datang ke PP Muhammadiyah, lalu menyampaikan pandangan-pandangannya. Maka Muhammadiyah ikut lagi,” ujar Din.

Perkembangan ini menunjukkan bagaimana Islam di Indonesia memang tidak pernah tunggal dan tidak perlu tunggal.

Perbedaan penentuan 1 Ramadhan  lazim terjadi karena perbedaan metode perhitungan yang sama-sama dibenarkan. Karena metode pendekatan yang berbeda, hasilnya pun berbeda. Masing-masing pihak tidak bisa mengklaim mana yang lebih benar karena memang tidak ada kebenaran yang tunggal.

Tahun ini perhitungan Muhammadiyah ternyata menghasilkan kesimpulan yang sama dengan metode rukyat. Di lain waktu, itu bisa saja berbeda. Namun perbedaan tersebut seharusnya memang tidak perlu menimbulkan ketegangan karena perbedaan adalah alamiah dalam Islam.

Indonesia beruntung memiliki Lukman Hakim sebagai Menteri Agama. Kehadirannya menyebabkan umat Islam Indonesia tahun ini bisa memasuki Ramadhan dengan rasa kedamaian dan kebersamaan.

Semoga ini bisa dirawat bersama.

Komentar