Home » Review » Berita » Mengapa Ahok-Djarot Kembali Unggul dari Dua Pasangan Lain?
Suasana debat Calon Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta 2017-2022 yang diselenggarakan KPUD Jakarta pada Jumat (13/1).

Mengapa Ahok-Djarot Kembali Unggul dari Dua Pasangan Lain?

Beberapa hari menjelang hari pencoblosan pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta periode 2017-2022 ada banyak kejutan yang tidak disangka-sangka yang bisa disaksikan. Salah satunya adalah tren kenaikan perolehan suara bagi kandidat petahana Basuki Tjahaja Purnama-Djarot Syaiful Hidayat (Ahok-Djarot).

Tren kenaikan pasangan nomor urut dua itu bahkan mengungguli pasangan nomor urut 1 Agus Harimurti Yudhoyono-Sylviana Murni (Agus-Sylvi). Padahal elektabilitas pasangan terakhir ini sempat unggul dari pasangan lain menurut hasil temuan berbagai lembaga survei selama November dan Desember 2016.

Jika ditarik ke belakangan, khususnya sebelum November dan Desember 2016, elektabilitas Ahok-Djarot jauh meninggalkan pasangan Agus-Sylvi dan pasangan nomor urut tiga Anies Baswedan-Sandiaga Uno (Anies-Sandi). Pada awal Oktober (1-9), misalnya, menurut temuan survei Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) elektabilitas pasangan nomor 2 mencapai 45,5 persen. Lalu medio Oktober (13-19) menurun menjadi 43,5 persen.

Bandingkan dengan dua pasangan yang lain pada periode yang sama. Elektabilitas Agus-Sylvi pada Oktober awal hanya 22,4 persen. Lalu pada medio Oktober naik sedikit menjadi 23,5 persen. Adapun Anies-Sandi pada awal Oktober dipilih hanya 20,7 persen dan pada medio Oktober naik sedikit menjadi 23,3 persen.

Melorotnya elektabilitas Ahok-Djarot tentu tidak bisa dilepaskan dari sejumlah demonstrasi yang membawa jargon-jargon keislaman untuk menjegal pasangan itu. Demonstrasi yang dimaksud adalah apa yang dinamakan “Aksi Bela Islam”. (baca: Mempertanyakan Kejujuran MUI dalam Kasus Ahok dan Al Maidah 51)

Demonstrasi itu bermula dari tuduhan bahwa Ahok telah melakukan tindakan penistaan agama saat memberikan sambutan dalam kunjungan kerjanya di Pulau Panggang, Kepulauan Seribu, pada akhir September lalu. Ucapan Ahok yang menyitir al-Maidah 51 dalam sambutannya itu dinilai musuh-musuh politiknya telah menistakan agama.

Ahok sempat mencoba membela diri dengan menyatakan bahwa ucapannya itu tidak bermaksud untuk menistakan agama. Dia bahkan menyampaikan permintaan maaf di sejumlah kesempatan. Tapi itu tampaknya tidak terlalu berguna karena opini yang dibangun bahwa Ahok telah menistakan agama cukup berhasil membuat sebagian umat Islam marah dan menuntut agar dia dipenjara.

Tak bisa dipungkiri tekanan yang begitu kuat membuat kepolisian terpaksa menabrak aturan. Padahal Peraturan Kapolri yang dikeluarkan pada masa kepemimpinan Badrotin Haiti sangat jelas: menghentikan segala proses hukum yang berkaitan dengan pasangan calon yang sudah diresmikan KPU agar meredam manuver politik oleh pihak-pihak tertentu selama masa pemilu.

Buntut dari tekanan massa dan dilanggarnya Peraturan Kapolri di atas, Ahok ditetapkan sebagai terdakwa. Elektablitasnya terus merosot. Menurut temuan survei SMRC, pada periode 10-17 November elektabilitas Ahok-Djarot turun menjadi 35,9 persen. Pada periode 6 sampai 14 Desember terjun bebas menjadi 28,8 persen.

Setiap Selasa Ahok diwajibkan untuk menghadiri sidang kasusnya itu. Sejauh ini sudah tujuh kali sidang yang dihadiri Ahok. Karena hal ini, kesempatannya untuk berkampanye dan menyapa warga Jakarta tidak sebanyak calon gubernur yang lain.

Badai Mulai Berlalu

Masa murung bagi Ahok-Djarot berangsur sirna. Pasangan ini mengalami kenaikan signifikan selama Januari 2017. Menurut rilis survei terbaru SMRC, elektabilitas Ahok-Djarot mencapai 34,8 persen. Sementara Agus-Sylvi 22,5 persen dan Anies-Sandi 26,4 persen.

Temuan hasil survei bertajuk “Debat dan Elektabilitas Paslon Pilkada DKI” yang dirilis pada Jumat (27/1) itu dilakukan pada 14 sampai 22 Januari. Survei itu melibatkan 641 responden asli (80,1 persen) dari 800 warga yang terpilih sebagai sampel. Survei ini menggunakan metode stratified multistage random sampling dengan margin of error kurang lebih 3,9 persen dan tingkat kepercayaan 95 persen. Survei ini dibiayai oleh SMRC sendiri.

Lalu, apa yang membuat Ahok-Djarot menjadi lebih unggul dibandingkan dua pasangan lain menurut survei ini?

Peneliti survei SMRC Deni Irvani menyatakan kenaikan perolehan suara Ahok-Djarot tidak lepas dari sikap warga Jakarta terkait acara debat untuk mengetahui dan menilai program kerja para kandidat. Mayoritas warga Jakarta menilai acara debat itu sangat penting (45 persen) dan cukup penting (43 persen).

Dari mayoritas warga Jakarta yang menilai acara debat itu penting, 62 persen menyaksikan acara debat yang diselenggarakan KPUD Jakarta pada Jumat (13/1). Lalu, warga Jakarta yang menyaksikan acara debat itu menyatakan 42 persen menilai Ahok-Djarot lebih unggul dibandingkan kandidat yang lain dalam debat itu.

“Debat calon di tv punya dampak elektoral terhadap masing-masing calon. Bila calon dinilai lebih baik dibanding calon yang lain dalam debat, maka calon bersangkutan punya peluang lebih besar untuk dipilih,” kata Deni dalam presentasinya.

Hal lain yang juga membuat Ahok-Djarot lebih unggul dibandingkan pasangan yang lain adalah evaluasi warga Jakarta terhadap kinerja petahana dan kondisi Jakarta. Jumlah warga Jakarta yang menilai kondisi ekonomi saat ini lebih baik dibandingkan tahun lalu lebih banyak dibandingkan yang menilai tidak ada perubahan apalagi lebih buruk.

Selain itu, mayoritas warga Jakarta menilai berbagai pelayanan dan fasilitas publik di Jakarta sangat positif. Pelayanan dan fasilitas publik yang dimaksud adalah kondisi rumah sakit/puskesmas, kondisi gedung sekolah, pengadaan jaringan listrik, pelayanan pemerintah di kelurahan dan di kecamatan bagi warga, ketersedian air bersih bagi warga, kondisi jalan-jalan di sekitar tempat tinggal, kondisi jalan raya, kondisi kebersihan dan pengelolaan sampah, kondisi keamanan, dan kondisi saluran air dan daerah resapan air untuk mencegah banjir.

Adapun penilaian yang masih negatif adalah keteraturan pedagang kaki lima dan kondisi kelancaran transportasi.

Pelaksanaan pemerintahan juga dinilai baik oleh mayoritas responden. Begitu juga dengan kinerja Ahok sebagai gubernur. Yang sangat puas (12 persen) dan cukup puas (62 persen).

Tren peningkatan perolehan suara Ahok-Djarot juga terungkap dalam survei bertajuk “Efek Debat dan Rasionalitas Jakarta Jelang Pilkada” yang dirilis lembaga survei Indikator Politik pada Rabu (25/1). Temuan survei itu menyebutkan bahwa elektabilitas Ahok Djarot sebesar 38,2 persen. Sementara Agus-Sylvi dan Anies-Sandi bersaing ketat: 23,6 persen dan 23,8 persen.

Survei yang dilakukan sejak 12 sampai 20 Januari itu melibatkan 697 responden asli (86,3 persen) dari 808 warga yang terpilih sebagai sampel. Survei ini menggunakan metode stratified multistage random sampling dengan margin of error kurang lebih 3,8 persen dan tingkat kepercayaan 95 persen.

Selain penampilan Ahok-Djarot yang dinilai baik warga Jakarta dalam acara debat yang diselenggarakan KPUD Jakarta pada 13 Januari, ada beberapa faktor yang membuat unggul Ahok-Djarot dari dua pasangan lain menurut temuan Indikator.

Pertama, warga Jakarta yang percaya bahwa Ahok telah melakukan penistaan agama semakin berkurang. Sementara warga Jakarta yang tidak percaya Ahok melakukan penistaan agama semakin bertambah.

Pada November 2016, warga Jakarta yang percaya bahwa Ahok telah melakukan penistaan agama mencapai 62 persen. Pada Desember 2016 berkurang menjadi 54 persen, lalu Januari 2017 terus berkurang menjadi 47 persen. Adapun tren warga Jakarta yang tidak percaya adalah November 2016 (18 persen), Desember 2016 (26 persen), dan Januari (34 persen).

Selain itu, warga Jakarta yang mengaku mengetahui bahwa Ahok sudah meminta maaf atas pernyataannya yang diduga melakukan penistaan agama semakin bertambah. Pada November 2016 sebanyak 81 persen, selanjutnya 86 persen (Desember 2016), dan 87 persen (Januari 2017).

Yang juga tidak kalah penting adalah warga Jakarta yang meyakini permintaan maaf Ahok itu tulus sehingga harus dimaafkan terus membesar. Pada November 2016 (50 persen), Desember 2016 (59 persen), dan Januari 2017 (61 persen).

Warga Jakarta juga percaya lembaga pengadilan akan mengadili kasus dugaan penistaan agama yang menyeret nama Ahok secara adil cukup tinggi (69 persen). Konsekuensi dari sikap ini adalah mayoritas warga Jakarta yang akan menerima apapun keputusan pengadilan. 72 persen pada Desember 2016 dan angka ini stabil pada Januari 2017.

Kedua, Ahok lebih unggul di 4 sifat kepemimpinan yang harus dimiliki seorang pemimpin. 4 sifat kepemimpinan ini adalah sifat-sifat yang paling dipilih responden di semua kesempatan survei. 4 sifat itu secara berurutan adalah jujur, bisa dipercaya dan bersih dari korupsi; mampu memimpin DKI Jakarta; perhatian pada rakyat; dan tegas dan berwibawa.

Responden yang melihat Ahok jujur, bisa dipercaya dan bersih dari korupsi adalah 68 persen. Sementara Agus (50 persen) dan Anies (61 persen). Mampu memimpin DKI Jakarta, Ahok (75 persen), Agus (51 persen), dan Anies (56 persen). Perhatian pada rakyat, Ahok (68 persen), Agus (54 persen), dan Anies (63 persen). Tegas dan berwibawa, Ahok (86 persen), Agus (82 persen), dan Anies (67 persen).

Secara umum, persepsi warga Jakarta pada 4 sifat kepemimpinan yang harus dimiliki seorang pemimpin itu cenderung menguat pada diri Ahok.

Ketiga, ada kenaikan penilaian dari responden terhadap prestasi Ahok sebagai gubernur dan Djarot sebagai wakil gubernur dalam dua bulan terakhir. Persepsi responden terhadap Pemerintahan Ahok-Djarot yang bersih dari praktek korupsi dan suap juga menguat dalam dua bulan terakhir.

Responden yang menginginkan Ahok menjadi Gubernur DKI Jakarta periode 2017-2025 juga terus bertambah. Bila pada November 2016 angkanya hanya sekitar 32 persen, maka pada Desember 2016 menjadi 38 persen dan pada Januari 2017 menjadi 43 persen.

“Dalam dua bulan terakhir, penerimaan terhadap Ahok untuk kembali terpilih sebagau gubernur mengalami peningkatan yang stabil. Sebaliknya, resistensinya terus menurun,” kata Direktur Eksekutif Indikator Burhanuddin Muhtadi saat presentasi.

Kembali Berani Bersuara

Juru Bicara Tim Pemenangan Ahok-Djarot Raja Juli Antoni mengaku gembira dengan temuan hasil survei dua lembaga survei kredibel di atas. Tren positif ini membuat seluruh elemen yang terlibat dalam pemenangan Ahok-Djarot, baik dari lingkungan partai politik, relawan, dan pendukung setia optimistis pasangan petahana ini bisa memimpin kembali DKI Jakarta untuk periode selanjutnya.

Menurut Toni tren kenaikan perolehan suara bagi Ahok-Djarot adalah tanda bahwa para pendukung Ahok-Djarot kini mulai berani bersuara bahwa mereka adalah pendukung Ahok-Djarot. Sebelumnya, tekanan sosial yang luar biasa dengan menguatnya opini bahwa Ahok telah melakukan penistaan agama membuat sebagian pendukung Ahok-Djarot merasa khawatir kehidupan sosialnya akan terancam jika menyatakan dukungan politiknya itu secara terbuka.

Karena itu, sebagian pendukung Ahok-Djarot melakukan apa yang disebut political disengagement. Yaitu sikap menjaga jarak secara politik, menutup diri, bahkan tidak mau mengasosiasikan dirinya dengan Ahok.

“Saya kira itu yang terjadi dalam dua bulan terakhir terhadap sebagian pendukung Ahok-Djarot,” kata Seketaris Jenderal Partai Solidaritas Indonesia (Sekjen PSI) itu pada Madina Onlinedi Rumah Lembang, markas pemenangan Ahok-Djarot, di sela-sela acara nonton bersama debat kedua yang diselenggarakan KPUD DKI Jakarta.

Toni tidak bermaksud meragukan kerja-kerja survei yang dilakukan sejumlah lembaga survei yang kredibel. Tapi dia menilai fenomena political disengagement itu tidak mudah untuk ditangkap melalui survei dengan pendekatan kuantitatif. Sehingga survei-survei dalam dua bulan terakhir dirasa kurang mampu membuka hati dan pikiran responden untuk menyatakan apa yang mereka rasakan dan pikirkan.

Munculnya keberanian sebagian pendukung Ahok-Djarot untuk bersuara kembali dipicu oleh sejumlah peristiwa, terutama kejadian di ruang persidangan untuk mengadili kasus Ahok. Dalam persidangan itu nyatanya publik dipertontonkan kualitas mayoritas saksi pelapor yang tidak kredibel alias abal-abal. Publik kemudian membuat penilaian sendiri bahwa Ahok tidak bersalah dan kasus itu tidak layak untuk dilanjutkan.

“Saya melihat momentum itulah yang membuat rasionalitas publik kembali muncul dan mereka mulai berani dan dengan senang hati menyatakan bahwa kami adalah pendukung Ahok-Djarot,” tandas Mantan Ketua Umum Ikatan Remaja Muhammadiyah itu.

Untuk menjaga tren positif ini, Toni dan Tim Pemenangan Ahok-Djarot terus-menerus menyakinkan kepada relawan dan pendukung setia untuk tidak perlu takut lagi. Pilkada sebagai salah satu prosedur mengatur kekuasaan yang demokratis dijamin di dalam konstitusi. Dan hak untuk memilih adalah salah satu hak yang dijamin di dalam konstitusi. Karena itu, tidak diperbolehkan ada nuansa ketakutan dalam mengikuti proses pilkada.

Di sisi lain, seluruh elemen pemenangan Ahok-Djarot harus menyakinkan publik Jakarta bahwa pelayanan publik yang sudah sangat baik selama ini, seperti Kartu Jakarta Pintar (KJP) dan Kartu Jakarta Sehat (KJS) belum tentu ada lagi jika Ahok-Djarot tidak kembali memimpin Jakarta. Termasuk pelayanan publik lainnya.

“Apakah kita ingin Jakarta kotor lagi? Apakah kita ingin saudara-saudara kita yang sudah nyaman menjadi pasukan orange dan pasukan lainnya akan kembali menganggur? Apakah kita ingin Jakarta disesaki dengan mal-mal dan apartemen-apartemen elite lagi? Inilah ketakutan-ketakutan, dalam tanda petik, yang sekarang ini kami sampaikan ke publik,” tutup Toni. []

Komentar