Home » Review » Berita » Mempelai itu Dipaksa Bersyahadat di Hari Pernikahannya
(Ilustrasi: merdeka.com)

Mempelai itu Dipaksa Bersyahadat di Hari Pernikahannya

Akibat tekanan keluarga mempelai, seorang pria beragama Kristen terpaksa mengucapkan kalimat syahadat.
 
Kejadian ini berlangsung di saat pernikahan pria tersebut dengan istrinya yang beragama Islam di Jakarta (Minggu, 3  Mei 2015).
 
Bukan saja ada pemaksaan bersyahadat, dalam kasus itu juga terjadi tindak kekerasan fisik berupa pemukulan terhadap pegiat kerukunan antar umat beragama, Ahmad Nurcholish yang selama ini dikenal sebagai aktivis Indonesian Conference on Religion and Peace (ICRP).
 
Pernikahan pasangan berbeda agama berlangsung di sebuah hotel di bilangan jalan Sudirman, Jakarta. Pasangan yang telah membangun jalinan cinta selama kurang lebih tiga tahun itu memutuskan untuk menikah secara resmi di hadapan keluaran. Ada sekitar 50 hadirin datang dalam acara itu.
 
NBA2Nurcholish saat itu berposisi sebagai penghulu. Namun penulis  Menjawab 101 Masalah Nikah Beda Agama itu, sudah terlibat dalam proses pernikahan sejak awal. Ia melakukan konseling pranikah, membantu penyiapan dokumen, memfasilitasi proses akad nikah, pemberkatan dan pencatatan nikahnya. Peran Nurcholsih ini dilakukannya mewakili Harmoni Mitra Madania
 
Pernikahan itu sendiri sudah direstui para orangtua kedua mempelai. Nurcholish  sudah mengantongi izin tertulis dari orangtua,  baik dari pihak pria maupun wanita.  
Acara hari Minggu itu semula berjalan lancer. Terlihat agak tegang di awal, namun kemudian suasana perlahan mencair. Tapi saat pelaksanaan akad nikah, salah satu pihak keluarga pihak  mempermasalahkannya dan berupaya membatalkan pernikahan beda agama itu.
 
Nurcholish berupaya mendekati mereka dengan baik-baik dan menjelaskan alasan teologis nikah beda agama itu.
 
“Saya coba jelaskan ke mereka. Tapi mereka tidak puas. Mereka tidak terima dan marah,” ujarnya.
 
Karena mereka bukan orangtua mempelai, akad nikah pun segera akan dilangsungkan.  Tapi di sela itu, lanjut Nurcholish, terjadilah kericuhan dan aksi kekerasan.
 
“Mereka marah dan teriak-teriak. Kemudian merampas dokumen-dokumen pernikahan yang saya bawa. Termasuk mau mengambil handphone dan tablet saya,” jelasnya.
 
Tak berhenti di situ, ia sempat mendapat bogem mentah dari salah satu pihak keluarga. 
 
NBA

(Ilustrasi: teruskan.com)

“Mereka membekap dan memukuli saya sambil teriak-teriak Allahu Akbar. Untung ada pihak keluarga lain yang menyelamatkan saya,” tuturnya.

 
Setelah dilerai, beberapa orang itu tetap menghalangi jalannya akad. Mereka mengatakan pernikahan boleh dilanjutkan dengan satu syarat.  
 
“Mempelai yang beragama Kristen harus mengucapkan syahadat terlebih dahulu,” cerita Nurcholsih, menirukan para pengancamnya.
 
Bagi Nurcholish, ini adalah pertamakali ia mendapat tindak kekerasan saat membantu pernikahan. Ia telah memperjuangkan hak warga negara untuk melakukan pernikahan beda agama sejak 2004. Kasus ini sebenarnya adalah pasangan ke 628 yang dibantunya.
 
Silahkan isi alamat Email untuk berlangganan update artikel dari MadinaOnline.id.

Komentar