Home » Review » Berita » Membela Pemimpin Non-Muslim, Ustad Maulana Jadi Sasaran Caci Maki

Membela Pemimpin Non-Muslim, Ustad Maulana Jadi Sasaran Caci Maki

Ustad Maulana kini menjadi sasaran caci maki. Pendakwah yang setiap pagi tampil dengan gaya lucu, bersahaja, dan santai di program Islam itu Indah (Trans TV) dituduh menyesatkan umat. Ada pemuka agama yang menuduh dia ustad gadungan. Majelis Ulama Indonesia Bogor meminta dia bertaubat.

Nur Maulana –nama lengkap si ustad– dicaci karena ia menyuarakan pandangan pluralis ketika bicara soal kepemimpinan. Yang mencacinya bukan hanya masyarakat biasa, tapi sejumlah tokoh agama konservatif yang tidak bisa menerima pandangan berbeda dari Maulana.

Saat berdakwah di Trans TV pada Senin (9/11/15), Maulana menyatakan bahwa kepemimpinan itu tidak ada sangkut pautnya dengan agama. Baginya, yang terpenting dalam soal kepemimpinan bukan agama sang pemimpin melainkan kemampuan memimpin. Dia juga mengatakan tidak masalah perempuan menjadi pemimpin, yang penting dia mampu.

“(Ada yang bilang) mana mungkin perempuan bisa menjadi pemimpin? Enggak usah jelek-jelekin begitu. Perempuan dan laki-laki sama sepanjang dia bisa memimpin,” ucapnya.

Maulana melanjutkan: “Tidak usah berbicara agama, sebab kepemimpinan itu tidak bicara masalah agama. Memangnya kau tidak mau naik pesawat kalau pilotnya beragama lain? Masa kau mau tanya sama pramugari, pilotnya siapa atau agamanya apa? Tidak usah seperti itu,” tuturnya, disambut gelak tawa audiens di acara tersebut.

Maulana juga mengatakan, ia menduga bahwa mereka yang membawa-bawa agama ketika bicara kepemimpinan sebenarnya sedang melakukan kampanye hitam. “Ada yang tujuannya black campaign. Kampanye hitam, terselubung, menjelek-jelekkan orang, buat sensasi, buat kerusuhan, buat jelek-jelekkan nama orang. Jangan coba-coba seperti itu,” paparnya.

Pernyataan itu ternyata langsung menimbulkan kemarahan. Apalagi Maulana bicara semacam itu di saat sebagian kelompok Islam giat berkampanye jangan memilih pemimpin non-muslim menjelang Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Serentak yang akan berlangsung sebentar lagi.

Caci maki tersebut bisa kita baca di media-media Islam yang memang selama ini menyuarakan pernyataan-pernyataan ustad-ustad berhaluan keras, seperti Cholil Ridwan atau tokoh-tokoh Front Pembela Islam (FPI), Forum Umat Islam (FUI), MUI, dan lainnya. Beberapa media tersebut antara lain panjimas.com, dakwahmedia.org, eramuslim.com, arrahmah.com, dan voa-islam.com.

Panjimas.com memberitakan peristiwa ini dengan mengutip pernyataan Cholil Ridwan dengan judul berita: Kyai Cholil Ridwan: Pernyataan Ustad Maulana Menyesatkan, Bertentangan dengan Al-Quran. Tulisan lain panjimas.com mengutip pernyataan pengurus MUI Bogor Ustad Wiliyuddin AR. Dhani dengan judul: MUI Bogor: Sampaikan ke Maulana agar Ia Bertobat. Tulisan yang sama dan judul yang sama persis dimuat juga oleh dakwahmedia.com.

Di berita tersebut Willyuddin AR mengatakan bahwa Maulana bukanlah ustad melainkan artis. Kalaupun ustad, dia itu ustad gadungan. “Tolong sampaikan kepada  ustad gadungan tersebut agar segera taubat dan membuat pernyataan di TV yang sama untuk mencabut ceramah ngawurnya, dan meminta maaf kepada umat Islam sebelum Allah melaknat dia di akhir hayatnya, atau Allah balikkan kepalanya jadi kaki dan kakinya jadi kepala,” maki Willyuddin seperti dikutip panjimas.com.

Dengan nada menghina eramuslim.com menyebut Maulana sebagai ‘komedian’ di judul beritanya: Komedian Nur Maulana Bilang soal Kepemimpinan Tak Perlu Bawa-bawa Nama Agama. Sumber beritanya berasal dari fanpage Facebook FPI.

Setali tiga uang dengan media Islam konservatif lainnya, Arrahmah.com memberitakan peristiwa ini dengan nada hujatan atau penghinaan. Beritanya berjudul: MUI Bogor Minta Ustad Gadungan itu Bertaubat.

Sementara voa-islam.com memberitakan peristiwa ini dengan memuat penuh tulisan Ustad Arifin Ilham yang dimuat di fanpage-nya. Dalam tulisannya, Arifin Ilham menyindir Maulana dengan mengatakan bahwa suatu kebodohan memisahkan kepemimpinan dengan agama.

Terjemahan yang Tak Akurat

Baik Cholil Ridwan, Wallyuddin AR. Dhani dan FPI menyandarkan argumen untuk membantah pernyataan Maulana setidaknya pada dua ayat Al-Quran. Kedua ayat itu berbunyi:

“Janganlah orang-orang mukmin mengambil orang-orang kafir menjadi wali/pemimpin dengan meninggalkan orang-orang mu’min. Barangsiapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah, kecuali karena (siasat) memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka. Dan Allah memperingatkan kamu terhadap diri (siksa)-Nya. Dan hanya kepada Allah kembali (mu).” (QS Ali Imran: 28).

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.” (QS Al Maidah: 51).

Kedua ayat itu, menurut mereka, secara tegas melarang umat Islam untuk memilih pemimpin yang bukan beragama Islam.

Namun tentu saja tak semua ulama berpikiran serupa. Misalnya, kita bisa merujuk pada pendapat Akhmad Sahal, Wakil Ketua Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama Amerika-Kanada.

Sahal memang tidak bicara soal Maulana. Namun pada 16 Agustus lalu, ia sempat menulis untuk Majalah Tempo soal kontroversi pemimpin non-muslim.

Menurut Sahal, terdapat perbedaan tafsir di kalangan ulama mengenai ayat-ayat yang sering dijadikan rujukan terkait pemimpin non-muslim. Kesalahan terjadi, lanjutnya, karena kata ‘auliya’ dalam ayat itu  di Indonesia sering diterjemahkan sebagai ‘pemimpin-pemimpin’. Padahal banyak penafsir Al-Quran menerjemahkan kata tersebut dalam makna berbeda.

Dalam The Meaning of the Holy Qur’an karya Yusuf Ali kata ‘auliya’ diterjemahkan dengan teman dan pelindung. Muhammad Asad dalam The Message of the Qur’an dan M.A.S Abdel Haleem dalam The Qur’an sama-sama menerjemahkannya sebagai sekutu.

Sementara Muhammad Marmaduke Pickthal dalam The Glorious Qur’an mengalihbahaskan kata ‘auliya’ menjadi kawan. Begitu juga N.J. Dawood dalam The Koran dan MH. Shakir dalam The Qur’an. Sedangkan berdasar The Qur’an terjemahan T.B. Irving, ‘auliya’ diartikan sebagai pendukung (sponsor).

Menurut Sahal, agak mengherankan ketika dalam terjemahan Indonesia pengertian ‘auliya’ disempitkan, kalau bukan didistorsikan, menjadi “pemimpin”, yang maknanya mengarah pada pemimpin politik.

Dalam tulisan itu, Sahal menduga bahwa salah tafsir tersebut terjadi karena kata ‘auliya’ tersebut dianggap berasal dari akar kata ‘wilayah’, yang memang artinya kepemimpinan atau pemerintahan. Tapi, tulis Sahal lagi, cara menafsirkan semacam itu tidak tepat.

Kalau memang kata ‘auliya’ bertolak dari kata ‘wilayah’, tulis Sahal, mestinya kata itu disertai dengan preposisi “‘ala”. Kalau saja QS 5:51 itu berbunyi ba’dhuhum auliya’ ‘ala ba’dh, maka kata auliya’ pada ayat tersebut bermakna pemimpin. Tapi ternyata redaksi ayat tersebut berbunyi ba’dhuhum auliya’u ba’dh, tanpa kata ‘ala setelah auliya’. “Jadi tidak pas kalau akar katanya wilayah. Yang tepat adalah wala.’ Singkat kata, penerjemahan auliya’ sebagai pemimpin terbukti tak berdasar,” tulis Sahal.

Menurut Sahal, mewacanakan pengharaman terhadap pemimpin non-muslim bukan hanya berbahaya karena membawa kita selalu berkubang dalam isu SARA yang berpotensi memecah-belah Indonesia. Lebih problematik wacana tersebut ternyata tidak punya pijakan yang kokoh dari kacamata Islam itu sendiri, karena pedomannya adalah terjemahan ayat yang tidak akurat. Bagi Sahal, itu adalah penafsiran yang sempit dan penerapan yang salah alamat.[]

Warsa Tarsono

Komentar