Home » Review » Berita » Duet Ma’ruf Amin-Said Aqil Siradj Ibarat Rem dan Gas
Foto: liputan6.com

Duet Ma’ruf Amin-Said Aqil Siradj Ibarat Rem dan Gas

Harapan dan kekecewaan mengiringi keputusan Muktamar Nahdlatul Ulama ke-33. Salah satu hasil pertemuan akbar itu adalah terpilihnya KH Ma’ruf Amin sebagai Rais Am dan Said Aqil Siroj sebagai Ketua Tanfidziyah atau Ketua Umum Pengurus Besar NU. Duet keduanya ibarat rem dan gas.

Tapi tak semua warga NU setuju dengan keputusan itu. Setelah sempat ricuh saat sidang pleno, mundurnya KH Mustafa Bisri (Gus Mus) sebagai Rais Am terpilih,  pengunduran diri KH Salahuddin Wahid (Gus Sholah) sebagai calon Ketum PBNU, kabar “muktamar tandingan,” tak sedikit yang mengapresiasi sembari berharap kemajuan NU dan Islam Nusantara ke depan.

Di tengah perseteruan ini, beberapa kalangan menganggap adanya sinyalemen perpecahan di tubuh NU. Tapi banyak warga NU yang mengademkan suasana dan mengingatkan tujuan utama organisasi Islam terbesar di Indonesia itu. Banyak pelajaran yang dapat kita petik dari Muktamar NU itu.

KH Hasyim Muzadi mengingatkan pengurus wilayah dan cabang yang kecewa dengan panitia dan proses Muktamar NU agar tidak menggelar muktamar luar biasa atau pengurus NU tandingan.

“Kalau bikin NU tandingan atau muktamar luar biasa itu NU akan pecah,” katanya di depan ratusan pengurus wilayah dan cabang yang menginginkannya menjadi Rais Am di Pesantren Tebu Ireng, Jombang, Jawa Timur (5/8/15). “Kalau terbelah, akibat yang ditimbulkan sangat berat baik untuk NU maupun Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI),” jelasnya.

Hal senada juga diungkapnya putri almarhum KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Zannuba Ariffah Chafsoh Rahman Wahid. Ia memohon agar tak ada muktamar tandingan dan berharap agar kesatuan NU tetap terjaga.

“Dengan segenap kerendahan hati saya memohon agar tidak terjadi muktamar tandingan di Tebuireng,” kata wanita yang akrab disapa Yenny Wahid  ini  (5/8/15). “Segala perbedaan dan ketidakcocokan mohon dibicarakan secara baik-baik,” ujar Yenny.

Pengurus Wilayah NU Jawa Tengah, Muhammad Adnan, dengan tegas menyatakan tak akan membuat pengurus NU tandingan, meski ia dan kubunya sangat kecewa dengan proses muktamar yang ia anggap melanggar AD/ART.

“Saya tegaskan tidak ada NU tandingan,” kata Wakil Rais Syuriah PWNU Jawa Tengah ini seperti dilansir Tempo (6/8/15). Ia juga menambahkan, NU Jawa Tengah bersama 27 pengurus wilayah yang kecewa akan melayangkan protes atas proses muktamar yang menyalahi aturan itu.

Dalam akun Facebook milik kader NU yang juga dosen Dosen IAIN Syekh Nurjati Cirebon, Mahrus EL-Mawa, mengingatkan agar jangan sampai warga NU tertelan dengan isu-isu politis dan melupakan gagasan Islam Nusantara.

“Islam Nusantara sebagai gagasan besar seperti tertelan situasi politis. … Sekarang saatnya membenahi NU dengan paradigma baru Islam Nusantara,” tulisnya.

Akhlak NU

Banyak pelajaran dari proses berjalannya Muktamar NU ke-33. Salah satunya apa yang disebut peneliti The Wahid Institute, Ahmad Suaedy, sebagai ‘kembalinya akhlak NU.’ Hal ini dapat dilihat dari sikap Gus Mus yang rendah hati dan tak punya ambisi kekekuasaan.

Gus Mus mengundurkan diri sebagai Rais Am yang dipilih tim Ahlul Halli wal Aqdi (Ahwa) yang terdiri dari sembilan kiai sepuh (khash). Setelah Gus Mus mundur, Kiai Ma’ruf yang menggantikan posisinya.

“Sudah lama tidak terdengar di masyarakat kita, termasuk di dalam NU, orang yang menolak diberi jabatan dan dirayu-rayu dan bahkan dibujuk-bujuk oleh ulama paling sepuh untuk menempati jabatan tertinggi di suatu organisasi berpengaruh dan gurih: Rais Am Nahdlatul Ulama. Semoga era ini benar-benar menjadi momen bagi kembalinya akhlak NU,” tulis Direktur Eksekutif Abdurrahman Wahid Centre Universitas Indonesia ini di akun Facebook miliknya.

Tak hanya Gus Mus, Kiai Ma’ruf juga mendapat apresiasi serupa dari kader NU yang juga Direktur Eksekutif International Center for Islam and Pluralism (ICIP), Syafiq Hasyim.

“Saya tahu Kiai Ma’ruf Amin rawoh ke muktamar bukan bertujuan menjadi Rais Am. Beliau adalah salah satu sesepuh dan fakih handal yang dimiliki NU. Kini Rais Am diamanahkan ke Kiai Maruf tanpa beliau minta. Dan Gus Mus adalah seorang Zahid terbesar abad ini yang dimiliki NU. Tradisi pemilihan Rais Am kembali lagi,” tulis Syafiq di akun Facebooknya .

Suaedy menambahkan, terlepas dari kritik yang sangat tajam dari Gus Sholah dan Kiai Hasyim Muzadi terkait pelaksanaan muktamar yang dianggap tak fair, kearifan dan akhlak NU muncul di situ.

“Yaitu, mengundurkan diri dari calon dan mencegah terjadinya tandingan,” ujarnya.

Kendati demikian, Suaedy mengingatkan bahwa berbagai masukan terkait pelaksanaan muktamar juga kritik kolektif atas kesenjangan pelayanan dari Jawa luar Jawa dan Indonesia barat dan timur harus menjadi pecut bagi pasangan KH Ma’ruf dan Kang Said.

“Pelaksanaan program nanti harus lebih adil dan merata. Jangan hanya terkonsentrasi di Jawa dan Indonesia barat,” tuturnya.

Duet Ma’ruf-Said

Duet Kiai Ma’ruf dan Kang Said cukup menarik. Yang pertama sebagai representasi pandangan keislaman model Majelis Ulama Indonesia (MUI). Adapun yang kedua dianggap mewakili kalangan ‘liberal.’

Kiai Ma’ruf memang dikenal sebagai wakil ketua umum MUI. Salah satu produknya adalah fatwa haram terhadap pluralisme, liberalisme, dan sekularisme. Kang Said sendiri beberapa kali diminta mundur mundur sebagai Ketum PBNU oleh beberapa kalangan karena pandangan liberalnya. Salah satunya Rhoma Irama (Baca: Partai Idaman dan Rekam Jejak Rhoma Irama).

Suaedy mengisahkan, dalam setiap rapat syuriah, Kang Said –waktu itu belum menjadi Ketum PBNU, masih Rais Syuriah– adalah orang yang selalu berdebat dengan Kiai Ma’ruf. Ia ingin agar NU selalu mengikuti fatwa-fatwa MUI. Dan usaha Kiai Ma’ruf selalu gagal.

“Pasangan ini semacam GAS dan REM sekaligus dalam arah yang berlawanan,” ujarnya.

Kendati berbeda pandangan, keduanya tetap menjalin hubungan baik dan kini keduanya berduet menakhodai NU secara bersama sebagai Rais Am dan Ketua Tanfidziyah.

“Itulah NU dan itulah Islam Nusantara yang selalu di tengah dan berdebat. Tidak bisa dipaksa minggir di kanan maupun di kiri,” kata Suaedy.

Di tangan keduanya harapan akan kemajuan NU juga Islam Nusantara, sebagaimana tema utama muktamar NU kali ini “Meneguhkan Islam Nusantara untuk Peradaban Indonesia dan Dunia.”[]

Komentar