Home » Review » Berita » Belajar dari Ahmadiyah tentang Menyayangi Mereka yang Membenci
Pengurus Jemaat Ahmadiyah Indonesia (JAI) menjenguk KH. Ma'ruf Amin

Belajar dari Ahmadiyah tentang Menyayangi Mereka yang Membenci

Jemaat Ahmadiyah Indonesia (JAI) adalah salah satu kelompok minoritas yang belum merasakan kemerdekaan di negara ini. Anggota Jemaat Ahmadiyah kerap menjadi korban kebencian, hujatan, kebengisan, bahkan pengusiran hanya karena keyakinan mereka yang berbeda.

Pelakunya bukan hanya pemuka agama dan ormas radikal, tapi juga pemerintah pusat dan daerah.

Alih-alih membenci dan menyimpan rasa dendam kepada mereka yang intoleran, Jemaat Ahmadiyah justru menunjukkan sikap yang mungkin tidak bisa ditunjukkan banyak orang, yaitu memaafkan. Lebih jauh, Jemaat Ahmadiyah bahkan menampakkan rasa simpati dan ikut mendoakan kala pelaku intoleransi itu tengah terbaring sakit.

Setidaknya ada dua peristiwa yang menguatkan asumsi itu. Pertama, kehadiran Pengurus Besar Jemaat Ahmadiyah untuk membesuk dan mendoakan Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat KH. Ma’ruf Amin yang dirawat di RS Pusat Otak Nasional, Jakarta, pada 20 Juli lalu.

Kabar kehadiran Pengurus Besar Jemaat Ahmadiyah itu diketahui dari foto yang diunggah akun Facebook Warta Sejuk sehari setelahnya. Posting-an yang diberi judul “Cinta Melampaui Prasangka Agama” itu disukai para penggiat dan pendukung kebebasan beragama dan berkeyakinan dan sudah dibagikan sebanyak 410 kali.

Ma’ruf Amin adalah salah satu nama penting yang terlibat atas lahirnya fatwa sesat Ahmadiyah yang dikeluarkan MUI Pusat pada Musyawarah Nasional (Munas) MUI VII pada 2005. Pada kesempatan itu, Ma’ruf tercatat sebagai ketua Komisi C Bidang Fatwa.

Dalam fatwa itu ada 3 poin yang dinyatakan. Dua di antaranya adalah “Aliran Ahmadiyah berada di luar Islam, sesat dan menyesatkan, serta orang Islam yang mengikutinya adalah murtad (keluar dari Islam)”. Poin selanjutnya, “Pemerintah berkewajiban untuk melarang penyebaran faham Ahmadiyah di seluruh Indonesia dan membekukan organisasi serta menutup semua tempat kegiatannya.” (baca: Wikileaks Ungkapkan Bukti Saudi Menekan pemerintah dan MUI untuk menghabisi Ahmadiyah)

Fatwa sesat terhadap Ahmadiyah yang dikeluarkan MUI Pusat itu dikampanyekan Ma’ruf di berbagai forum, termasuk ke lembaga Negara seperti MPR. Mantan Anggota Dewan Pertimbangan Presiden Bidang Hubungan Antar Agama itu pun mendesak pemerintah pusat untuk membubarkan Ahmadiyah.

Fatwa MUI dan kampanye Ma’ruf itu jelas berdampak buruk bagi Jemaat Ahmadiyah. Di sejumlah daerah Jemaat Ahmadiyah diancam, diserang secara fisik, dan dirusak propertinya oleh massa dari berbagai ormas Islam. Beratnya tekanan dan kesan bahwa negara tidak berbuat banyak untuk melindungi, sebagian Jemaat Ahmadiyah meninggalkan kampung halamannya dan mencari keselamatan di tempat pengungsian. (baca: Akibat Fatwa MUI, Ratusan Umat Islam Menderita di Transito).

Fatwa sesat MUI tadi diduga memicu massa dari berbagai ormas Islam melakukan kebengisan terhadap Jemaat Ahmadiyah. Mereka juga berlindung di bawah fatwa itu dari jeratan hukum. Meski Ma’ruf menyatakan MUI anti kekerasan dan anti anarkisme, tapi Ma’ruf tidak terdengar melakukan sesuatu untuk menghentikan tindakan anarkisme yang mengarah pada Jemaat Ahmadiyah.

Kedua, kunjungan Pengurus Jemaat Ahmadiyah Bangka untuk membesuk sekaligus mendoakan Bupati Bangka Tarmizi Saat yang dikabarkan dirawat di salah satu rumah sakit di Pangkal Pinang, Bangka Belitung, akibat serangan stroke dan gagal ginjal, pada 13 Agustus lalu.

Kabar kunjungan itu diketahui dari foto yang diunggah akun Facebook salah satu Pengurus Besar Jemaat Ahmadiyah Kandali Achmad Lubis. Sayangnya, upaya itu belum berhasil karena Tarmizi belum diizinkan menerima tamu.

Tarmizi Saat adalah aktor utama di balik usaha pengusiran Jemaat Ahmadiyah dari Srimenanti, Bangka, pada awal Februari lalu. Pengusiran itu dilakukan secara resmi dengan kop surat Pemerintah Daerah Bangka setelah sebelumnya Tarmizi tidak berhasil menekan Jemaat Ahmadiyah Bangka untuk meninggalkan keyakinan mereka yang dianggap sesat.

Tarmizi bahkan memberi karpet merah kepada kelompok intoleran untuk melakukan kebengisan dengan menyatakan tidak akan menjamin keselamatan dan keamanan Jemaat Ahmadiyah Bangka bila tidak keluar dari Srimenanti sebelum tanggal 5 Februari 2016. (baca: Pengusiran Jamaah Ahmadiyah Bangka dan Ketegasan Pemerintah Pusat)

Untuk menghindari bentrokan dengan kelompok intoleran, perempuan dan anak-anak Jemaat Ahmadiyah Bangka diungsikan di luar Srimenanti. Tak sampai satu bulan, para pengungsi tadi dipulangkan setelah situasi diyakini sudah kondusif. (baca: “Setelah Terusir Dua Pekan, Jemaat Ahmadiyah Bangka Kembali Pulang)

Kelapangan hati yang ditunjukkan pengurus Jemaat Ahmadiyah di atas bukan tanpa sebab. Kelapangan hati itu dilandasi oleh satu keyakinan yang selama ini mereka pegang erat, yaitu Love for All Hatred for None.

Keyakinan ini diperkenalkan pertama kali oleh Khalifah Ketiga Ahmadiyah, Hadhrat Mirza Nasir Ahmad saat meresmikan pembangunan masjid pertama di Spanyol pada 9 Oktober 1980.

Nasir Ahmad menyatakan bahwa Islam adalah agama damai. Islam, sambungnya, juga agama yang berupaya menegakkan prinsip-prinsip perdamaian saling mencintai, kasih sayang, dan sikap kerendahan hati.

Love for All Hatred for None mengandung arti kita tidak memiliki permusuhan, tidak ada kedengkian, dan tidak ada dendam pada siapapun di dalam hati kita,” kata Nasir Ahmad.

Keyakinan Love for All Hatred for None berangkat dari pengalaman pahit yang diterima Nasir Ahmad di negerinya sendiri, Pakistan. Putusan Mahkamah Agung Pakistan yang negatif terhadap Ahmadiyah telah mendorong penindasan yang terus-menerus kepada pengikut Ahmadiyah.

Yang mengagumkan, dalam situasi yang tidak menyenangkan itu, Nasir Ahmad justru menganjurkan pesan perdamaian kepada para pengikutnya melalui Love for All Hatred for None.

Tidak hanya setia pada pesan cinta dan perdamaian, Jemaat Ahmadiyah juga setia menjadi warga Indonesia yang baik dan taat hukum. Jemaat Ahmadiyah terus berkiprah untuk mendukung dan mengisi kemerdekaan Indonesia.

Karena itu, banyak kerja-kerja sosial yang dilakukan Jemaat Ahmadiyah untuk membantu masyarakat yang tertimpa bencana dan sebagai bentuk kepedulian terhadap sesama.

Yang tercatat antara lain adalah relawan Jemaat Ahmadiyah ikut membantu pasca Tsunami Aceh pada 2004. Lalu Tsunami Pangandaran (2006), Tsunami Padang (2009), Letusan Gunung Merapi (2010), dan Banjir Bangka 2016.

Palang Merah Indonesia mencatat Jemaat Ahmadiyah aktif dalam Gerakan Donor Darah Nasional dan beberapa nama anggota Jemaat Ahmadiyah mendapat penghargaan dari Presiden sebagai pendonor darah aktif.

Bank Mata Indonesia pada 2016 mencatat organisasi Jemaat Ahmadiyah sebagai organisasi dengan jumlah calon Donor Mata Terbanyak di Indonesia.

“Ahmadiyah akan terus bekerja nyata mengisi kemerdekaan dalam pemberdayaan masyarakat dan kegiatan sosial kemasyarakatan di tengah situasi apapun dengan semangat LOVE FOR ALL HATRED FOR NONE sebagai wujud cinta pada bangsa dan negara Indonesia, sebagai bagian dari keyakinan akan ajaran Islam Rahmat untuk seluruh alam,” kata Juru Bicara & Sekretaris Pers JAI Yendra Budiana dalam siaran pers dalam rangka menyambut HUT RI ke-71.

Karena itu, tidak pernah sedetik pun para pengurus Jemaat Ahmadiyah berpikir untuk mengkhianati republik ini. Apalagi menggulingkan pemerintahan yang sah.

Padahal sampai kini anggota Jemaat Ahmadiyah masih mendapat perlakuan diskriminatif dari negara melalui aparatusnya, seperti tidak mendapat jaminan kebebasan beribadah dan berkeyakinan, penyegelan masjid, KTP yang tidak kunjung diberikan, penelantaran anggota Jemaat Ahmadiyah di pengungsian, dan seterusnya.

Sikap dan kiprah Jemaat Ahmadiyah di atas sangat kontras dengan sikap dan tindakan sebagian kelompok Islam yang terang-terangan malah ingin meruntuhkan negara ini dan menganggapnya sebagai negara setan (thagut). Sementara mereka merasakan indahnya hidup di Indonesia dan tidak mengalami gangguan seperti yang dialami anggota Jemaat Ahmadiyah.

Saya kira, dengan rendah hati kita perlu mengakui bahwa dalam sikap dan tindakan Jemaat Ahmadiyah tadi tampak citra Islam yang damai dan citra Islam yang cinta pada tanah air. Dan karena itu, tidak ada salahnya jika kita belajar pada Jemaat Ahmadiyah.[]

Komentar