Home » Review » Berita » Bahkan Saat Ramadan pun Fitnah Disebarkan
Ibu Saeni menjadi sasaran fitnah setelah mendapat simpati karena warungnya dirazia Salpol PP Serang

Bahkan Saat Ramadan pun Fitnah Disebarkan

Beberapa hari ini saya sering bertanya-tanya, benarkah 15 hari yang saya lalui ini adalah hari-hari di bulan Ramadan? Saya tidak sedang meracau. Pertanyaan itu saya munculkan karena saya melihat ada banyak fitnah yang disebar di sosial media pada paruh pertama bulan yang konon dimuliakan itu.

Beberapa hari yang lalu, misalnya, saya menemukan satu akun Facebook di linimasa akun Facebook saya yang posting-annya dengan sengaja menyebar fitnah dan menyiratkan kebencian. Yang menjadi korbannya adalah Ibu Saeni, pemilik warung kecil di Kota Serang yang dirazia dan disita dagangannya oleh Satpol PP Kota Serang karena membuka warungnya di siang hari Ramadan.

“Ini Lho rumahnya Ibu Saeni Pemilik Warteg yg dpt sumbangan IBA 170 juta….,” posting pemilik akun Facebook yang mengaku alumni salah satu universitas Islam negeri itu pada 17 Juni lalu. Ia melengkapi posting-annya itu dengan tautan berita dari Tempo.co yang berjudul Intip Rumah Miliyaran Pengusaha Warteg di Kampungnya.

Semula saya mengabaikan posting-annya itu. Terlebih beberapa kali posting-annya yang saya baca cenderung intoleran. Yang mendorong saya untuk memperhatikan posting-an itu lebih jauh adalah adanya tautan dari Tempo. Saya penasaran apa isi berita Tempo itu memang benar-benar mengenai Ibu Saeni. Lalu saya klik tautan itu.

Setelah terbuka, saya menemukan kejanggalan. Berita itu tertulis dimuat pada 28 Maret 2015. Itu artinya, berita yang diturunkan Tempo itu setahun sebelum peristiwa razia Satpol PP Kota Serang yang kontroversial itu. Saya tidak puas sampai di situ. Saya baca keseluruhan isi berita itu.

Lagi-lagi saya menemukan kejanggalan. Berita yang dimuat Tempo itu ternyata sama sekali tidak mengulas tentang kekayaan Ibu Saeni.

Yang benar, berita itu mengulas kisah sukses pengusaha warteg yang menekuni usahanya di Jakarta. Bagi pedagang yang sukses, sebagian dari penghasilan kotor usahanya itu (Rp 3 juta-5 juta per hari) digunakan untuk membangun rumahnya di kampung yang memakan biaya sekitar Rp 500 juta hingga Rp 1 miliar.

Jadi, sudah bisa saya pastikan bahwa pemilik akun Facebook itu telah melakukan fitnah terhadap Ibu Saeni. Tautan dari Tempo itu saya duga digunakan hanya untuk mendukung tindakan fitnahnya itu. Karena posting-an itu bisa dikategorikan kemungkaran, saya pun ambil langkah.

Saya menegurnya di kolom komentar posting-an itu. “Janganlah buat opini yang menyudutkan begitu. Ini berita tahun lalu dan isinya pun enggak ada kaitan dengan Ibu Saeni. Ini Ramadan, bro. Jangan kotori dengan perbuatan tidak baik,” tulis saya bertindak.

Tak berapa lama dia merespons komentar saya itu. Alih-alih mengakui kekeliruannya itu dan meminta maaf kepada mereka yang membaca posting-an itu bahwa itu adalah fitnah, dia malah menulis, “Wak wooowwww….” yang bisa diartikan you are punk’d. Melihat sikapnya yang seperti itu, saya pun malas menanggapinya lebih jauh.

Menurut saya apa yang dilakukan orang itu jelas fitnah, bukan lelucon. Dan kalaupun itu tetap dianggap lelucon, bagi saya itu lelucon yang sangat tidak lucu sama sekali.

Kemalangan yang dialami Ibu Saeni itu rupanya tidak mengetuk nurani kemanusiaan banyak pihak. Sekelompok orang justru menganggap Ibu Saeni adalah simbol pelanggaran (mungkin juga pembangkangan) terhadap tegaknya peraturan daerah (perda) syariah yang melarang warung makan dibuka di siang hari Ramadan.

Bagi kelompok ini perda syariah itu harus ditegaknya bagaimana pun caranya. Melanggar perda syariah itu dianggap pelanggaran terhadap syariah itu sendiri. Karena itu, mereka tidak menerima bila ada pihak-pihak yang mendukung dan bersimpati kepada Ibu Saeni, sang pelanggar perda syariah itu.

Merasa tidak puas dengan derasnya dukungan dan simpati kepada Ibu Saeni, kelompok yang mengaku pendukung perda syariah itu justru menggunakan cara tercela dan nista untuk menyerang pihak-pihak yang dituding pelanggar perda syariah. Cara tercela dan nista itu, misalnya, terlihat ketika kelompok ini tidak sungkan-sungkan menyebarkan fitnah yang menyerang kehidupan pribadi Ibu Saeni.

Fitnah itu antara lain mengatakan bahwa kehidupan Ibu Saeni itu tidak sesusah yang digambarkan media-media yang bersimpati. Menurut fitnah itu, Ibu Saeni itu justru kaya raya karena memiliki 3 warung makan lainnya di lokasi yang berbeda. Dan yang jauh lebih jahat lagi, fitnah itu mengatakan bahwa suami Ibu Saeni adalah seorang bandar judi benama Alex. Sungguh fitnah yang keji.

Fitnah terhadap Ibu Saeni itu massif tersebar karena diamplifikasi media-media spesialis penyebar fitnah, baik yang menggunakan atribut keislaman maupun yang sekuler. Contoh media kategori ini yang bisa disebut adalah newsmedia.co.id, pos-metro.com, eramuslim.com, portalpiyungan.com, dan lain sebagainya. Belakangan merdeka.com memuat berita yang serupa.

Jika ditarik ke belakang, sebelum Ibu Saeni ada korban lain yang menjadi sasaran fitnah yang disebarkan di awal-awal bulan mulia ini. Korban fitnah lain yang saya maksud adalah Amalia Ayuningtyas, salah satu pendiri relawan ‘Teman Ahok’.

Amalia difitnah tidak tulus mengenakan kerudung. Menurut fitnah itu, Amalia mengenakan kerudung hanya untuk mengelabui pemilih Muslim agar memilih calon bakal Gubenur DKI Jakarta yang diusung Teman Ahok, yaitu Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok.

Akibat fitnah itu, Amalia menjadi korban hujatan dan makian. Meski begitu, Amalia berusaha tegar menerima fitnah itu. Ia bahkan memaafkan si pembuat fitnah itu.

“Terlalu banyak fitnah yang sudah kita alami, tapi karena ini bulan Ramadhan, kita berharap fitnah ini dapat diluruskan supaya tidak lebih banyak yang berdosa karena prasangka” kata Amalia sebagaimana tertulis di situs Teman Ahok, Selasa (7/6). Teman Ahok sendiri melalui akun Twitternya merilis tagar RamadhanTanpaFitnah untuk melawan fitnah yang berkembang itu.

Fitnah yang menyasar Amalia itu bermula dari posting-an salah satu akun di Facebook yang bernama Zeng Wei Jian. Seperti yang diberitakan situs beritagar.id, akun itu mengunggah satu foto perempuan tanpa kerudung dan berkacamata yang diidentifikasi sebagai Amalia Ayuningtyas.

Padahal foto perempuan tanpa kerudung dan berkacamata itu adalah Amelia Ayuningthias, bukan Amalia Ayuningtyas. Dari foto yang yang diunggah, sepintas Amelia Ayuningthias memang mirip dengan Amalia Ayuningtyas. Apalagi keduanya sama-sama mengenakan kaca mata.

“Saya berasumsi, Amalia mengenakan hijab dengan tujuan mendulang suara kelompok floating mass moslem untuk mendukung “gubernur kafir” dengan index prestasi jeblok,” tulis akun yang belakangan menghilang itu, Senin (6/6).

Fitnah itu tentu saja memberi amunisi baru bagi situs-situs web spesialis penyebar fitnah. Portal Piyungan, misalnya, segera memuat berita berita berjudul Taktik Hijab Teman Ahok Mendulang Suara Umat Islam. Belakangan berita itu tidak ditemukan lagi. Pengelola Portal Piyungan tampaknya ingin cuci tangan begitu saja dari tersebarnya fitnah itu.

Akun-akun bodong di Twitter pun seturut dengan portal yang dikelola kader Partai Keadilan Sejahtera itu. Akun @Restyies (11 ribu pengikut), misalnya, terpantau rajin me-retweet sejumlah foto perempuan tanpa kerudung, yang disebut-sebut sebagai Amalia Ayuningtyas.

Berangkat dari dua kasus di atas, paradoks dengan sendirinya muncul. Bagaimana mungkin perbuatan yang tercela itu bisa dilakukan di bulan yang diyakini sebagai bulan penuh cinta, empati, dan ampunan?

Terlebih dengan mudah teridentifikasi bahwa yang memproduksi dan menyebarkan fitnah itu adalah kalangan Muslim sendiri. Kalangan yang diperintahkan untuk lebih menahan diri dari perbuatan tercela saat Ramadan ini melalui ibadah puasa.

Melihat banyaknya fitnah yang diproduksi dan disebar kalangan Muslim sendiri, saya teringat salah satu hadis Nabi Muhammad tentang Ramadan yang cukup terkenal. Dalam riwayat Bukhari dan Muslim disebutkan bahwa Nabi Muhammad bersabda,”Apabila datang Ramadan, maka pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, dan setan-setan dibelenggu.”

Setan yang disebut dalam hadis di atas tentu bukan setan yang tampak, seperti Valak dalam film Conjuring 2. Setan yang dimaksud dalam hadis itu adalah metafor dari prilaku-prilaku yang tercela, keji, dan bengis. Salah satunya memproduksi fitnah dan menyebarkannya.

Melalui hadis itu Nabi Muhammad sebenarnya ingin mengatakan satu hal. Hendaknya segala ibadah yang dikerjakan komunitas Muslim selama Ramadan berdampak pada menguatnya prilaku-prilaku positif dalam diri setiap Muslim seraya melemahnya prilaku-prilaku negatif.

Namun, jika kita sebagai Muslim tetap tidak bisa menahan diri dari perbuatan tercela selama bulan Ramadan, maka sudah saatnya kita merenung. Apakah puasa yang kita lakukan ini benar-benar puasa? Jangan-jangan puasa yang kita lakukan hanya sebatas menahan dahaga dan lapar, puasanya orang awam, seperti yang disabdakan Nabi Muhammad. []

Komentar