Home » Review » Berita » Agar Bumi Tak Makin Rusak, Tokoh Lintas Agama Buat Fatwa sampai Produksi Mobil

Agar Bumi Tak Makin Rusak, Tokoh Lintas Agama Buat Fatwa sampai Produksi Mobil

Perubahan iklim dan kerusakan lingkungan hidup yang semakin nyata akhirnya menggugah para pemuka agama untuk ikut serta mengkampanyekan penyelamatan bumi. Pada 21 September 2015 mereka pun mendeklarasikan Indonesia Bergerak Menyelamatkan Bumi (Siaga Bumi), yang dilanjutkan dengan Rembug Nasional Tokoh Lintas Agama Menanggapi Perusakan Lingkungan Hidup dan Laju Perubahan Iklim, pada Kamis, (15/10) di Balai Kartini, Jakarta.

Enam majelis agama tergabung dalam gerakan ini yaitu: Mejelis Ulama Indonesia (MUI), Konferensi Waligereja Indonesia (KWI), Persekutuan Gereja Indonesia (PGI), Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI), Perwakilan Umat Budha Indonesia (Walubi), Majelis Tinggi Agama Khonghucu Indonesia (Matakin). Tergabung juga ormas Islam terbesar di Indonesia Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah, selain  organisasi lingkungan WWF dan beberapa universitas.

Din Syamsuddin, mantan Ketua Umum Muhammadiyah yang menjadi penggagas gerakan ini berharap gerakan ini menjadi gerakan masyarakat madani Indonesia dalam masalah lingkungan. Gerakan ini akan melakukan pendekatan agama secara persuasif kepada setiap umat beragama sehingga menumbuhkan kesadaran di masyarakat.

“Dengan mendasarkan pada nilai-nilai moral dan etika agama, saya yakin setiap kita mampu melakukan perubahan untuk mengembalikan relasi yang bersahabat antara kita dan alam untuk kesejahteraan dan kemaslahatan seluruh umat,” jelas Din.

Sebagai imbauan kepada pemeluk agama Islam, MUI sendiri saat ini sudah mengeluarkan beberapa fatwa terkait pelestarian lingkungan. Antara lain: Fatwa tentang Pelestarian Satwa Langka untuk Menjaga Keseimbangan Ekosistem, Fatwa tentang Pengelolaan Sampah, dan Fatwa soal Pertambangan Ramah Lingkungan. Menurut Din, fatwa-fatwa itu telah disosialisasikan melalui khotbah-khotbah Jumat di masjid seluruh Indonesia. Bahkan disebar juga ke beberapa perguruan tinggi.

“Biasanya kalau MUI sudah mengeluarkan fatwa langsung tersosialisasikan melalui khotbah-khotbah  Jumat di seluruh Indonesia,” ujarnya.

Sebagai bentuk keseriusan MUI terhadap masalah-masalah lingkungan hidup ini, sejak lima tahun lalu MUI juga sudah membentuk lembaga khusus yang menangani ini. Yaitu, Lembaga Pemuliaan Lingkungan Hidup. “Lembaga itu saat ini diketuai oleh Dr. Hayu Prabowo. Ia juga yang saat ini menjadi Ketua Tim Penggerak Siaga Bumi,” papar Din.

Menurut Din, agar kesadaran melakukan pemeliharaan terhadap lingkungan tumbuh lebih besar di masyarakat, gerakan ini akan terus digulirkan. Dalam waktu dekat Siaga Bumi akan mencanangkan Eco Rumah Ibadah.

“Tanggal 31 Oktober nanti kami akan mencanangkan Eco Rumah Ibadah. Kami mulai dari kalangan Budha atau Eco Vihara. Kerena merekalah yang saat ini sudah punya role model. Yaitu, vihara di Ciapus,” ujar Din.

Tidak hanya MUI dan Walubi yang telah bergerak melakukan pelestarian lingkungan, beberapa majelis agama lain juga sudah mulai melakukannya. Antara lain PGI. Menurut Pendeta Nurkiana Simatupang, PGI saat ini sudah mempunyai program Gereja Sahabat Alam yang disederhanakan menjadi program 5S dan 4R.

S pertama adalah Solidarity yang bermakna kesatuan di antara orang yang memiliki kepedulian terhadap isu perubahan iklim dan perusakan lingkungan hidup. S yang kedua Save. Bermakna orang Kristen yang telah diselamatkan oleh Allah melalui Tuhan Yesus Kristus dan mereka bertugas untuk menyelamatkan bumi yang dipercaya Allah untuk dikelola dan dipelihara.

S yang ketiga Share. Bermakna berbagi dan berkontribusi aktif secara pribadi maupun kelompok. S yang keempat Shift yang berarti mengubah pemikiran, kebijakan, dan gaya hidup. S yang kelima Stability. Artinya, mengusahakan kelestarian alam untuk kelangsungan hidup.

Sementara empat R, menurut Nurkiana, sebagai berikut: R yang pertama Reuse. Artinya, menggunakan berulang-ulang bahan yang ada di sekitar kita. R kedua Reduce. Mengurangi pemakaian dan memaksimalkan sumber daya yang ada. R ketiga Replace. Mengganti bahan atau barang yang merusak dengan bahan yang ramah lingkungan. Dan R keempat adalah Recycle. Mendaur ulang barang atau bahan-bahan bekas pakai.

“Semoga ini tidak menjadi wacana saja, tapi sungguh-sungguh menjadi program dari seluruh gereja-gereja yang ada di Indonesia demi keselamatan bumi yang dipercayakan Tuhan kepada kita,” harap Nurkiana.

Program pelestarian lingkungan juga sudah dijalankan oleh Muhammadiyah. Menurut Sekretaris Umum PP Muhammadiyah, Abdul Mu’ti, secara kelembagaan Muhammadiyah telah bergerak menyelamatkan bumi dari yang sifatnya penguatan fikih sampai berbagai program yang sifatnya implementasi.

“Dalam konteks fikih, ada tiga buku fikih yang sudah dibuat oleh Muhammadiyah: fikih tentang lingkungan, fikih air, dan fikih bencana. Ketiga-tiganya merupakan satu landasan yang memberikan dasar bagi warga Muhammadiyah untuk bergerak menyelamatkan bumi. Ini merupakan panggilan iman dan bagian dari wujud komitmen kita untuk melestarikan alam semesta sebagai bagian dari ibadah kita kepada Allah SWT,” jelas Mu’ti.

Ia melanjutkan: “Sekarang adalah waktunya untuk kita berbuat. Sekecil apapun yang kita lakukan akan punya makna yang besar terhadap terjadinya perubahan. Apalagi kalau kita lakukan secara bersama-sama,” imbuh Mu’ti.

Untuk program implementasi, Muhammadiyah sudah mulai dengan membentuk green school dan green university. “Sudah ada beberapa sekolah Muhammadiyah yang menjadi green school. Untuk tingkat universitas yang sudah menjadi green university ada di kampus di Kalimantan Tengah. Saat ini kami juga sedang membangun gerakan peduli lingkungan dengan gerakan 4R: Reduce, Reuse, Recycle dan Reproduce,” ucapnya.

Muhammadiyah juga saat ini sudah melangkah lebih jauh dengan memproduksi mobil bertenaga matahari: solar car. Program tersebut sudah diluncurkan oleh Mendikbud bersama Ketua Umum Muhammadiyah saat itu, Din Syamsuddin.

“Sudah ada SMK Muhammadiyah yang memproduksi mobil tenaga surya. Yaitu, SMK Gondang Legi di Malang dan SMK di Indramayu,” ujar Mu’ti.

Saat ini Muhammadiyah juga sedang mengembangkan Universitas Muhammadiyah Malang sebagai the real green university. Di mana nanti tidak boleh ada kendaraan bermotor di lingkungan kampus. Hanya ada sepeda dan mobil bertenaga surya yang diproduksi oleh Muhammadiyah.

“Inilah, saya kira, langkah kami untuk bisa terus bersama-sama dengan seluruh elemen bangsa bersatu dan bergerak untuk menyelamatkan bumi. Menyelamatkan bumi adalah menyelamatkan kehidupan. Menyelamatkan kehidupan itu tugas dari semua agama. Apapun agama yang ada, termasuk agama Muhammadiyah,” selorohnya.[]

Warsa Tarsono

Komentar